Betty manarik kuat tangannya yang dicengkeram Cindy, hingga terlepas kembali. Kemudian secepat kilat ia mendorong tubuh Cindy hingga menghantam dinding.
Dukkk..
"Aduh !!!" Cindy meringis kesakitan. "Kurang ajar!!" Cindy yang emosi langsung membalas perbuatan Betty padanya. Sambil menahan rasa sakit di punggungnya, sekuat tenaga Cindy mendorong tubuh Betty hingga terdorong ke belakang beberapa langkah. Mendapatkan serangan tiba-tiba, Betty oleng. Pijakannya yang tidak sempurna, tak mampu menahan bobot tubuhnya.
Bruk...
Terdengar suara benda terjatuh. Disusul dengan jeritan kesakitan seorang anak perempuan.
"Ahhh.... !!!"
Teriakan itu menarik perhatian seorang guru yang sedang mengajar di kelas yang bersebelahan dengan tangga. Guru itu segera berlari keluar kelas begitu mendengar suara teriakan, disusul oleh beberapa orang anak muridnya.
"Astaga...!!"
Guru wanita itu menemukan Betty tergeletak di anak tangga bawah. Sedangkan, tidak ada orang lain lagi yang berada di tempat itu. Dengan sigap guru tersebut menuruni tangga, kemudian ia duduk bersimpuh di samping tubuh Betty.
"Nak. Nak... Apakah kau mendengarkan aku?" Guru itu memanggil-manggil Betty sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya. Namun tidak ada respon apapun dari Betty. Kemudian ia memeriksa nadi Betty di lehernya. Menempatkan dengan kuat jari telunjuk dan jari tengah ke salah satu sisi leher, tepatnya di bawah rahang dan di sebelah batang tenggorokan.
"Masih hidup." Gumamnya. Tanpa sengaja matanya menangkap genangan warna merah yang berasal dari daerah kepala.
"Ya Tuhan. Dia berdarah." Tanpa ragu ia meletakkan kepala Betty di atas pangkuannya, sembari menekan sisi kepala yang mengeluarkan darah dengan saputangannya.
Beberapa orang siswa terpaku di tempat begitu melihat semua pemandangan itu di depan mata.
"Seseorang panggilkan paramedis..!! " Teriak guru itu.
"Tidak ada yang membawa ponsel di sini, Miss." Jawab salah seorang siswa. Tentu saja hal itu benar adanya, karena semua siswa di sekolah itu tidak diperbolehkan membawa ponsel.
"Minta Tolong pada guru yang sedang mengajar di kelas sebelah. "
"Baik, Miss." Siswa itu segera berlari melaksanakan perintah gurunya. Tidak beberapa lama kemudian, siswa tadi kembali bersama dengan seorang guru pria.
"Miss Clara, apa yang sedang terjadi? " Tanya guru itu, ketika mendapatkan rekan sejawatnya duduk bersimpuh sembari memangku kepala seorang siswi di tangga bawah
"Cepat hubungi paramedis. Anak ini mengeluarkan darah."
"Baiklah. Tunggulah sebentar. "
Guru yang bernama Peter itu mengambil ponsel dalam saku celananya. Dengan cepat ia memanggil nomor darurat 911.
Paramedis datang tidak beberapa lama kemudian. Melihat keadaan Betty, mereka sangat hati-hati menanganinya. Karena dampak yang terjadi akibat jatuh dari ketinggian, tidak hanya dapat menimbulkan luka, tetapi juga dapat menyebabkan cedera organ yang mungkin tidak tampak dari luar.
Melansir pada Health and Safety Executive ( HSE), jatuh dari ketinggian merupakan penyebab terbesar terjadinya kondisi cedera yang fatal dan mengancam nyawa. Pertolongan pertama yang telah dilakukan oleh Miss. Clara, merupakan langkah penting yang harus segera dilakukan. Tindakan paling sederhana sekalipun bisa menghindarkan korban dari risiko cedera permanen atau bahkan kematian.
Setelah membebat luka di kepala Betty dan memasangkan penyangga leher, mereka memindahkan tubuh Betty ke atas tandu. Dengan menggunakan ambulans Betty segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani penanganan lebih lanjut.
.
.
Suara isakan tangis tertahan sayup terdengar dari salah satu ruang di toilet sekolah. Perhatian semua orang saat itu, masih tertuju pada kejadian yang menimpa Betty. Sehingga tidak seorang pun menyadari ada seorang anak yang duduk meringkuk di dalam toilet. Tubuhnya menggigil ketakutan setelah apa yang baru saja ia saksikan. Pekikan lirih Betty menyadarkan ia akan sesuatu. Ketakutan membawa dirinya berdiam diri di tempat itu. Karena hanya di sanalah tempat terdekat yang bisa ia capai.
"Ayah.. Apa yang harus aku lakukan.. " Isaknya sambil menggenggam ponsel di telinganya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Nak?"
"Aku tidak tau, Ayah. Tiba-tiba gadis itu telah berada di tangga bawah."
"Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui hal itu. Sedangkan kau berada di sana saat kejadian." Suara Arthur Davis terdengar gusar. Di ruangannya Arthur mengusap kasar wajahnya. Membayangkan masalah pelik yang akan Cindy hadapi ke depannya.
"Sungguh Ayah, aku tidak tahu." Isakan Cindy semakin kencang mendengar suara keras Ayahnya.
"Hentikan tangisanmu. Suaramu akan memancing seseorang untuk datang mendekat. Kau tunggu saja di sana, sampai Ayah datang menjemputmu. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu, bahwa kau berada di sana ketika peristiwa itu terjadi." Suara berat dan tegas terdengar dari ujung telepon.
"Baik, Ayah. Aku akan menunggumu. Tapi berjanjilah kau akan datang secepatnya."
"Ayah harus memastikan keadaan aman terlebih dahulu. Kau mengerti?"
"Iya, Ayah. Aku mengerti."
Panggilan itupun terputus bersamaan dengan diketuknya pintu ruang kerja Arthur oleh seseorang.
"Ya. Silahkan masuk." Ujar Arthur sembari menyimpan ponsel ke dalam saku celananya.
Seorang pria paruh baya memasuki ruang kerja Arthur dengan wajah serius.
"Tuan. Bagaimana kalau kita memulangkan semua siswa lebih cepat. Karena sebentar lagi polisi akan segera tiba. Mereka telah meminta untuk mensterilkan lokasi dari para siswa, guna dilakukannya olah Tempat Kejadian Perkara." Lapor Mr. Jhonson, sebagai wakil kepala sekolah.
"Siapa yang telah melaporkan kejadian ini pada polisi !?" Tanya Arthur dengan nada tinggi.
"Aku tidak tahu, Tuan. Kemungkinan besar itu dilakukan orang tua siswi yang mengalami kecelakaan. Karena ketika Mr. Robert menghubungi orang tua siswi tersebut untuk mengabarkan kondisi anaknya, pria itu terdengar marah dan meminta pertanggungjawaban pihak sekolah."
"Astaga.." Arthur menghela nafasnya, kasar. "Ya sudah. Lakukanlah. Kumpulkan dahulu para siswa di lapangan, sambil menunggu wali mereka datang menjemput."
"Baik, Tuan."
Mr. Jhonson pun berlalu dari tempat itu, meninggalkan Arthur yang sedang dilanda kegundahan akan nasib putri kesayangannya.
.
.
Setelah mengalami koma selama dua hari, akhirnya nyawa gadis periang itu tidak dapat di selamatkan. Kematian Betty meninggalkan luka di hati ayahnya, Carl Frieden. Ditambah lagi tidak adanya bukti apapun di lokasi kejadian yang bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Kamera pengawas yang ada di tempat itu tidak bisa merekam karena hardisk mengalami kebingungan dalam penyimpanan disebabkan kapasitas memori yang penuh.
Dugaan sementara yang di keluarkan pihak kepolisian, Betty terpeleset setelah keluar dari toilet. Dalam hati kecil Carl, ia menolak kesimpulan itu. Pagi itu, ketika ia mengantarkan putrinya ke sekolah, kondisi Betty baik-baik saja. Dan ia pun berada dalam keadaan sehat. Toilet itu yang biasa Betty gunakan sehari-hari. Sehingga tidak mungkin putrinya, tidak mengetahui di mana letak tangga berada.
Atas permintaan penyidik, sehari sebelum disemayamkan, jenazah Betty terlebih dilakukan proses otopsi, untuk mengetahui sebab kematian. Dokter forensik dari kepolisian Minnesota diturunkan untuk membantu menyelidiki kasus ini.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
adi_nata
bukankah tadi Cindy yang mendorong Betty sampai jatuh dari tangga ?
2024-11-27
0
mom SRA
msh blm paham inti ceritanya dan judul cerita 🤦
2024-06-21
2
Monica Lora
apaka dani bisa mejelma seprti apa punn.apakah dani mulai memiliki kpribadian ganda.. ntah lh
2024-02-24
6