Bab 6. Patah Hati Berkali-kali

Langkah kaki kecil samar terdengar menyusuri lorong bawah tanah pada malam itu. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 11 malam. Terowongan yang menghubungkan laboratorium dengan rumah utama Sean Conley itu, hanya diberi penerangan seadanya dengan lampu-lampu kecil yang menempel di dinding lorong yang berjarak tiap dua meter.

Begitu tiba di ujung lorong, langkah kecil itu berhenti di depan sebuah pintu. Perlahan tangan kecil nan mungil itu mendorong pintu yang terbuat dari stainless. Bunyi cicitan tikus percobaan terdengar dari dalam balik daun pintu yang tersibak. Gadis kecil itu hanya mengintip dari sela pintu yang terbuka. Tak ada keberanian dalam hatinya untuk menerobos masuk.

"Daniella, apa yang kau lakukan di sana? Masuklah." Ucap Conley sambil menyuntikkan cairan bening pada seekor tikus putih yang ada dalam genggamannya.

"Iya, Ayah." Jawabnya pelan.

Daniella mengeluarkan sedikit tenaga untuk mendorong pintu. Dengan langkah ragu ia masuk ke dalam laboratorium, begitu pintu terbuka seukuran tubuhnya.

"Kenapa kau belum tidur ? Sudah jam berapa ini?" Tanya Conley begitu Daniella telah masuk ke dalam laboratorium. Conley meletakkan kembali binatang pengerat itu ke dalam tempatnya.

"A aku tidak bisa tidur, Ayah." Ucap Daniella dengan wajah tertunduk.

"Kenapa kau tidak bisa tidur?" Tanya Conley lembut.

"A aku merindukanmu, Ayah. " Dengan suara bergetar.

Conley melepaskan Safety Glasses yang dikenakannya dan meletakkan di atas meja. Kemudian melepaskan sarung tangan karet dari kedua pergelangan tangannya. Selanjutnya, melemparkan ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh dari sana.

"Oh Sayang. Maafkan Ayah." Conley memposisikan tubuhnya setinggi Dany. Kemudian dia menarik gadis kecil itu dalam pelukannya, selama beberapa menit.

"Ayah. Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" Bisik Dani dengan suara hampir tak terdengar.

Conley melepas dekapannya. Tertegun menatap wajahnya polos putri kecilnya. Matanya menyusuri manik indah milik Dani. Ia menemukan asa yang dalam di sana. Berharap Conley mengabulkan keinginannya. Ada rasa iba di hati Conley. Ia menyadari, sebagai seorang ayah dia belum bisa dikatakan ayah yang baik. Bahkan jauh dari kata baik. Tidak ingin melihat wajah kecewa putrinya, Conley memutuskan malam ini ia akan mengabulkan permintaan Dani.

"Baiklah sayang. Ayo kita tidur." Conley tersenyum tulus. Sambil melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kirinya

"Sudah pukul 11.42. Sudah larut ternyata. Ayo kita keluar dari sini."

Conley membimbing Dani keluar dari laboratorium seraya melepaskan jas putih yang ia kenakan, kemudian meletakkan pada tempatnya. Sambil berjalan ke luar, mata Dani tanpa sengaja memandang tikus putih yang tersimpan dalam kandang tembus pandang. Ia teringat pada kejadian pada saat awal datang menemui ayahnya.

"Ayah.. Apa yang tadi kau lakukan pada tikus putih itu?"

"Aku sedang menguji cairan obat yang telah aku temukan."

" Cairan obat apa Ayah?"

"Cairan awet muda, sayang."

"Awet muda itu apa Ayah?"

"Dengan menyuntikkan cairan itu, aku mengharapkan tikus itu tidak mengalami kerusakan jaringan tubuh yang menyebabkan ia mengalami penuaan. Dengan kata lain, ia akan terlihat lebih muda dibanding dengan usianya."

"Maksud ayah?"

Conley menghentikan langkahnya, begitu mereka tiba di depan pintu keluar. Kemudian membuka pintu dan membiarkan putrinya keluar terlebih dahulu. Setelah itu ia menutup dan mengunci pintu lab. Sambil menggenggam tangan Dani, ia melanjutkan penjelasannya.

"Hmmm. Kamu ingat kakek Adolf yang tinggal di ujung blok, sayang?"

" Ya aku ingat, Ayah."

"Ayah bermimpi suatu saat nanti, Ayah, kamu dan orang-orang yang ada di dunia ini tidak pernah menjadi tua seperti kakek Adolf itu."

"Apakah semua orang akan menjadi tua, Ayah?"

"Semua makhluk hidup pasti akan mengalami penuaan. Seluruh jaringan yang ada di tubuh kita ini lama kelamaan akan menjadi rusak karena proses alamiahnya. Apabila ayah berhasil menemukan cairan obat yang mampu menghambat proses itu, mungkin ayah tidak akan pernah menjadi seperti kakek Adolf."

"Oh, begitu ya.. "

"Ya begitulah kira-kira. Apakah kau sekarang mengerti sayang?"

"Mengerti Ayah."

"Good girl."

Dengan tetap bergandengan, mereka menapaki lorong menuju rumah utama. Ketika telah berada di depan kamar Daniella yang berada di lantai dua, saat Conley akan membuka pintu kamar, gadis kecil itu menarik tangan Conley yang berada dalam genggamannya. Dengan sebelah tangan masih menggenggam handle pintu, pria 40 tahun itu mengalihkan pandangan pada Dani yang juga sedang menatapnya.

"Ayah. Bolehkah malam ini aku tidur di kamarmu?"

Conley cukup terkejut dengan permintaan itu. Memang Daniella belum pernah sekali pun tidur di kamarnya. Selama ini ia seakan - akan membuat batasan area pribadi yang boleh atau tidak putrinya masuki, termasuk bilik tidurnya. Hal itu dikarenakan, Conley tidak ingin Daniella menemukan dirinya masih dalam dekapan wanita di pagi hari. Walau bagaimana pun juga, ia adalah lelaki normal yang masih membutuhkan sentuhan wanita. Ia tidak ingin kebutuhan biologisnya itu akan mempengaruhi perkembangan mental Daniella yang masih di bawah umur.

Conley berpikir sejenak, " Tentu saja sayang. Tapi untuk malam ini saja. Bagaimana?"

"Iya Ayah. Malam ini saja."

"Baiklah kalau begitu. Ayo.. " Sambil menarik sudut bibirnya.

Segumpal senyuman terukir di wajah polos Daniella mendengar penuturan Ayahnya. Dengan tetap menggenggam tangan Dani, Conley membimbing gadis kecil itu menuju kamarnya. Begitu pintu terbuka, Conley mengulurkan tangan menekan tombol lampu yang ada di dekat pintu. Ruangan yang gelap itu seketika menjadi terang benderang.

"Ayo, sayang masuklah."

Satu persatu langkah Dani memasuki kamar ayahnya. Terkesan ragu tapi dipenuhi dengan rasa ingin tahu.

"Kau naiklah ke tempat tidur, Ayah mandi dulu." Conley terus melangkah masuk ke kamar mandi.

"Baik, Ayah."

Matanya memandang sekeliling ruangan. Kamar tidur itu didominasi warna coklat muda. Warna yang terkesan maskulin di mata Dani. Ruangan yang tidak terlalu besar itu terlihat memang di desain untuk kepentingan penghuninya. Tidak ada lemari dengan deretan buku-buku di sana. Wardrobe pun dibuat sejajar dengan dinding kamar, sehingga kamar terkesan lebih luas. Meja pun tidak ada. Untuk meletakkan perkakas kecil, disediakan rak yang sengaja dibuat menempel di dinding. Daniella melangkah menuju tempat tidur yang bersih dan rapi itu, dengan kain penutup berwarna putih polos. Meletakkan tubuhnya di repi tempat tidur, telapak tangannya reflex mengusap matras tebal yang terasa dingin. Sekelebat siluet dua insan yang saling berhimpitan di dalam kamar pada malam itu, menari kembali dalam ingatannya. Ada rasa sesak di dada mengingat kejadian waktu itu. Daniella tidak mengerti apa yang ia rasakan. Pertanyaan muncul dalam benaknya. Apakah ia dan ayahnya akan melakukan hal yang sama seperti ia lihat pada malam itu?

Suara gemericik air yang terdengar dari kamar mandi memecah lamunan Dani. Matanya kembali menyapu sekeliling kamar yang baru kali ini ia masuki. Dalam kekosongan jiwanya, Dani berharap malam ini ia akan mendapatkan kata cinta dari ayahnya melebihi wanita nakal itu.

"Kenapa belum tidur?" Conley keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Tetesan air satu persatu menetes dari sela rambutnya.

"Aku menunggumu, Ayah."

"Kalau begitu, tunggulah sebentar."

Conley mengeringkan rambutnya dengan handuk lain yang ia ambil dari dalam lemari. Setelah itu ia mengenakan sebuah celana tidur pendek berwarna kelabu dan sebuah kaos oblong warna putih. Kemudian naik ke tempat tidur dan meletakkan tubuhnya di sisi kiri.

" Sayang, sini tidur di dekat Ayah." Sambil merentang tangan kanannya, sementara tangan kirinya menepuk lengan atas kanan memberi tanda di mana Dani harus berbaring.

Dengan malu-malu Dani naik ke atas kasur dan meletakkan kepalanya di lengan atas Conley. Pria itu langsung mendekap erat tubuh Dani begitu gadis kecil itu berbaring di dekatnya.

"Selamat malam, sayang. Mimpi indah, ya..." Bisik Conley di telinga Dani sambil mengecup lembut pucuk kepalanya.

Degup jantung Dani berdetak lebih cepat. Berada dalam dekapan pria yang telah membesarkannya merupakan keinginan terdalamnya selama ini. Bisa mencium aroma tubuh pria itu sangat dekat bukan lagi hanya angan semu. Hati Dani dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran di pagi hari. Dani merespon tindakan Conley dengan balas mendekap erat tubuh pria itu.

Hembusan nafas halus dan teratur, terdengar tak lama kemudian. Bunga-bunga yang bermekaran di hati Dani, perlahan mulai layu. Kenapa pria itu tidak menekan dan menghimpitnya seperti yang ia lakukan pada wanita malam itu ? Dani ingin sekali mendengar ucapan cinta dari Conley sebelum tidur setelah mereka mengeluarkan suara-suara aneh yang sangat lama. Kenapa Conley begitu memilih kepada siapa kata cinta itu akan dia berikan?Sebegitu tidak berartinya kah dirinya dibandingkan dengan wanita genit yang baru saja Conley kenal?

Tidak sedetik pun mata Dani terpejam. Sepanjang malam ia berharap Conley akan bangun dan melakukan hal itu padanya. Sampai pagi menjelang, hanya dekapan, kecupan dan ucapan selamat malam yang ia dapat dari Conley. Dani patah hati untuk yang kesekian kali pada ayahnya.

.

.

.

Terpopuler

Comments

adi_nata

adi_nata

lagipula kenapa Anna tidak mencoba mengambil hati Daniella dan mengambil peran sebagai Ibu bagi Dani.

2024-11-25

0

adi_nata

adi_nata

bagaimana dengan istri Sean Conley ? sudah meninggal ?

2024-11-25

0

ramanda

ramanda

astaga .. pikiran polos anak. kemana ibu daniella ?

2024-11-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Keluarga Anthony Chavez
2 Bab 2. Gonggongan Bella Si Golden Retriever
3 Bab 3. Racun Sianida
4 Bab 4. Sean Conley Sang Ilmuan Biologi
5 Bab 5. "Cinta" Pertama Terasa Menyakitkan
6 Bab 6. Patah Hati Berkali-kali
7 Bab 7. Cinta Mania?
8 Bab 8. Aku Lakukan Ini Untukmu Ayah
9 Bab 9. Rumah Sakit (1)
10 Bab 10. Rumah Sakit (2)
11 Bab 11. Buku Ruth Hilang
12 Bab 12. Bukan Aku Pelakunya
13 Bab 13. Perundungan
14 Bab 14. Kecelakaan Yang Disengaja?
15 Bab 15. Pemakaman Betty Friedan
16 Bab 16. Analisis Eksperimental
17 Bab 17. Prototype GenX
18 Bab 18. "Pekerjaan" Membawa Petaka
19 Bab 19. Pindah Ke Ramsey
20 Bab 20. Pengintaian (1)
21 Bab 21. Pengintaian (2)
22 Bab 22. Pengintaian Yang Sia-Sia?
23 Bab. 23. Menuju Ramsey (1)
24 Bab 24. Menuju Ramsey (2)
25 Bab 25. Hari Pertama Di Ramsey
26 Bab 26. Menjauh Dari Rumah
27 Bab 27. Semoga Kau Baik-Baik Saja Dwayne
28 Bab 28. Dia Kekasihku (?)
29 29. Jiwa Paramedisku Menolak Meninggalkan Dia Di Sana
30 Bab 30. Godaan Danau Kecil Di Belakang Rumah
31 Bab 31. Daniella, Bagaimana Kau Melakukannya?
32 Bab 32. Sean Conley Profesor Misterius ?
33 Bab 33. Menuju Minnesota
34 Bab 34. Safe Deposit Box Untuk Alyssa
35 Bab 35. Di Tantang Bruno Kawe
36 Bab 36. Bruno Kawe Paling Oke
37 Bab 37. Jangan Main Api, Mia
38 Bab 38. Interogasi Cindy Davis (1)
39 Bab 39. Interogasi Cindy Davis (2)
40 Bab 40. Rencana Pemanggilan Ke 2
41 Bab 41. Nafsu Membawa Sengsara
42 Bab 42. Uang Damai ?
43 Bab 43. Panggilan Darurat
44 Bab 44. Di Kantor Sheriff
45 Bab 45. Don Pria Yang Dapat Diandalkan
46 Bab 46. Semesta Mengajak Bercanda Atau Sedang Bermain Petak Umpet ?
47 Bab 47. Benarkah Bukan Julian ?
48 Bab 48. Pulang
49 Bab 49. Daniella Demam ?
50 Bab 50. Bagaimana mungkin ?
51 Bab 51. Dwayne Ingat Kejadian Malam Itu?
52 Bab 52. 'Sesuatu' Yang Begitu Menggoda
53 Bab 53. Terlanjur Berjanji
54 Bab 54. Harga Diri Yang Tercabik
55 Bab 55. Kesedihan Dan Penyesalan
56 Bab 56. Akankah Semesta Merestui ?
57 Bab 57. Kapan Giliranku ?
58 Bab 58. Tidak Boleh Tidur Sekamar
59 Bab 59. Tamu Dari Minnesota (1)
60 Bab 60. Tamu Dari Minnesota (2)
61 Bab 61. Hari Pertama Sekolah
62 Bab 62. Akhir Perjalanan Bruno Kawe (1)
63 Bab 63. Akhir Perjalanan Bruno Kawe (2)
64 Bab 64. Seandainya Alyssa Mau Sedikit Bersabar
65 Bab 65. Hak Anak Yang Terabaikan
66 Bab 66. Kecewa Pada Polisi
67 Bab 67. Cheers
68 Bab 68. Anonymous (1)
69 Bab 69. Anonymous (2)
70 Bab 70. Menyerah Dengan Keangkuhan Hati
71 Bab 71. Persimpangan Naas
72 Bab 72. Keinginan Alyssa
73 Bab 73. Kunjungan Dokter (1)
74 Bab 74. Kunjungan Dokter (2)
75 Bab 75. Firasat Emma
76 Bab 76. Perkembangan Kasus-kasus
77 Bab 77. Akhir Perjalanan Badut Sulap
78 Bab 78. Teman Gak Ada Akhlak
79 Bab 79. Bullying
80 Bab 80. Daniella Bertahanlah
81 Bab 81. Aktivitas Rahasia Daniella
82 Bab 82. Rudapaksa ?
83 Bab 83. Human Error?
84 Bab 84. Trauma Healing
85 Bab 85. Konfrontir
86 Bab 86. Prom Night
87 Bab 87. Usil Dibayar Tunai
88 Bab 88. Daniella My Beloved Daughter
89 Bab 89. Terjebak Nostalgia
90 Bab 90. Absurd
91 Bab 91. Jebakan Membawa Petaka
92 Bab 92. Aku Tidak Bersalah (1)
93 Bab 93. Aku Tidak Bersalah (2)
94 Bab 94. Bagaimana Bisa Kau Tidak Menyadarinya, Daniella?
95 Bab 95. Leighton Castel (1)
96 Bab 96. Leighton Castel (2)
97 Bab 97. Rahasia Besar Keluarga Leighton
98 Bab 98. Ada Jalan Keluar
99 Bab 99. Guinevere Leighton
100 Bab 100. Fatamorgana ? (1)
101 Bab 101. Fatamorgana ? (2)
102 Bab 102. Kenapa Kau Menghindariku, Daniella ?
103 Bab 103. Kau Tertangkap Basah
104 Bab 104. Ulah Benzodiazepin ?
105 Bab 105. Amplop Coklat Ukuran Folio
106 Bab 106. Bagaikan Bertemu Dengan Hulunya
107 Bab 107. Ku Titipkan Daniella Conley Putriku
108 Bab 108. Kenyataan Yang Bertolak belakang
109 Bab 109. One Step Closer
110 Bab 110. Keberuntungan Atau Musibah?
111 Bab 111. Candaanmu Tidak Lucu Daniella
112 Bab 112. Pencuri Ciuuman Pernikahan
113 Bab 113. Consummate The Marriage.
114 Bab 114. Luka Tak Berdarah
115 Bab 115. Clementine Sang Asisten Eksekutor
116 Bab 116. Last But Not Least 1
117 Bab 117. Last But Not Least 2
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1. Keluarga Anthony Chavez
2
Bab 2. Gonggongan Bella Si Golden Retriever
3
Bab 3. Racun Sianida
4
Bab 4. Sean Conley Sang Ilmuan Biologi
5
Bab 5. "Cinta" Pertama Terasa Menyakitkan
6
Bab 6. Patah Hati Berkali-kali
7
Bab 7. Cinta Mania?
8
Bab 8. Aku Lakukan Ini Untukmu Ayah
9
Bab 9. Rumah Sakit (1)
10
Bab 10. Rumah Sakit (2)
11
Bab 11. Buku Ruth Hilang
12
Bab 12. Bukan Aku Pelakunya
13
Bab 13. Perundungan
14
Bab 14. Kecelakaan Yang Disengaja?
15
Bab 15. Pemakaman Betty Friedan
16
Bab 16. Analisis Eksperimental
17
Bab 17. Prototype GenX
18
Bab 18. "Pekerjaan" Membawa Petaka
19
Bab 19. Pindah Ke Ramsey
20
Bab 20. Pengintaian (1)
21
Bab 21. Pengintaian (2)
22
Bab 22. Pengintaian Yang Sia-Sia?
23
Bab. 23. Menuju Ramsey (1)
24
Bab 24. Menuju Ramsey (2)
25
Bab 25. Hari Pertama Di Ramsey
26
Bab 26. Menjauh Dari Rumah
27
Bab 27. Semoga Kau Baik-Baik Saja Dwayne
28
Bab 28. Dia Kekasihku (?)
29
29. Jiwa Paramedisku Menolak Meninggalkan Dia Di Sana
30
Bab 30. Godaan Danau Kecil Di Belakang Rumah
31
Bab 31. Daniella, Bagaimana Kau Melakukannya?
32
Bab 32. Sean Conley Profesor Misterius ?
33
Bab 33. Menuju Minnesota
34
Bab 34. Safe Deposit Box Untuk Alyssa
35
Bab 35. Di Tantang Bruno Kawe
36
Bab 36. Bruno Kawe Paling Oke
37
Bab 37. Jangan Main Api, Mia
38
Bab 38. Interogasi Cindy Davis (1)
39
Bab 39. Interogasi Cindy Davis (2)
40
Bab 40. Rencana Pemanggilan Ke 2
41
Bab 41. Nafsu Membawa Sengsara
42
Bab 42. Uang Damai ?
43
Bab 43. Panggilan Darurat
44
Bab 44. Di Kantor Sheriff
45
Bab 45. Don Pria Yang Dapat Diandalkan
46
Bab 46. Semesta Mengajak Bercanda Atau Sedang Bermain Petak Umpet ?
47
Bab 47. Benarkah Bukan Julian ?
48
Bab 48. Pulang
49
Bab 49. Daniella Demam ?
50
Bab 50. Bagaimana mungkin ?
51
Bab 51. Dwayne Ingat Kejadian Malam Itu?
52
Bab 52. 'Sesuatu' Yang Begitu Menggoda
53
Bab 53. Terlanjur Berjanji
54
Bab 54. Harga Diri Yang Tercabik
55
Bab 55. Kesedihan Dan Penyesalan
56
Bab 56. Akankah Semesta Merestui ?
57
Bab 57. Kapan Giliranku ?
58
Bab 58. Tidak Boleh Tidur Sekamar
59
Bab 59. Tamu Dari Minnesota (1)
60
Bab 60. Tamu Dari Minnesota (2)
61
Bab 61. Hari Pertama Sekolah
62
Bab 62. Akhir Perjalanan Bruno Kawe (1)
63
Bab 63. Akhir Perjalanan Bruno Kawe (2)
64
Bab 64. Seandainya Alyssa Mau Sedikit Bersabar
65
Bab 65. Hak Anak Yang Terabaikan
66
Bab 66. Kecewa Pada Polisi
67
Bab 67. Cheers
68
Bab 68. Anonymous (1)
69
Bab 69. Anonymous (2)
70
Bab 70. Menyerah Dengan Keangkuhan Hati
71
Bab 71. Persimpangan Naas
72
Bab 72. Keinginan Alyssa
73
Bab 73. Kunjungan Dokter (1)
74
Bab 74. Kunjungan Dokter (2)
75
Bab 75. Firasat Emma
76
Bab 76. Perkembangan Kasus-kasus
77
Bab 77. Akhir Perjalanan Badut Sulap
78
Bab 78. Teman Gak Ada Akhlak
79
Bab 79. Bullying
80
Bab 80. Daniella Bertahanlah
81
Bab 81. Aktivitas Rahasia Daniella
82
Bab 82. Rudapaksa ?
83
Bab 83. Human Error?
84
Bab 84. Trauma Healing
85
Bab 85. Konfrontir
86
Bab 86. Prom Night
87
Bab 87. Usil Dibayar Tunai
88
Bab 88. Daniella My Beloved Daughter
89
Bab 89. Terjebak Nostalgia
90
Bab 90. Absurd
91
Bab 91. Jebakan Membawa Petaka
92
Bab 92. Aku Tidak Bersalah (1)
93
Bab 93. Aku Tidak Bersalah (2)
94
Bab 94. Bagaimana Bisa Kau Tidak Menyadarinya, Daniella?
95
Bab 95. Leighton Castel (1)
96
Bab 96. Leighton Castel (2)
97
Bab 97. Rahasia Besar Keluarga Leighton
98
Bab 98. Ada Jalan Keluar
99
Bab 99. Guinevere Leighton
100
Bab 100. Fatamorgana ? (1)
101
Bab 101. Fatamorgana ? (2)
102
Bab 102. Kenapa Kau Menghindariku, Daniella ?
103
Bab 103. Kau Tertangkap Basah
104
Bab 104. Ulah Benzodiazepin ?
105
Bab 105. Amplop Coklat Ukuran Folio
106
Bab 106. Bagaikan Bertemu Dengan Hulunya
107
Bab 107. Ku Titipkan Daniella Conley Putriku
108
Bab 108. Kenyataan Yang Bertolak belakang
109
Bab 109. One Step Closer
110
Bab 110. Keberuntungan Atau Musibah?
111
Bab 111. Candaanmu Tidak Lucu Daniella
112
Bab 112. Pencuri Ciuuman Pernikahan
113
Bab 113. Consummate The Marriage.
114
Bab 114. Luka Tak Berdarah
115
Bab 115. Clementine Sang Asisten Eksekutor
116
Bab 116. Last But Not Least 1
117
Bab 117. Last But Not Least 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!