Langkah kaki kecil samar terdengar menyusuri lorong bawah tanah pada malam itu. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 11 malam. Terowongan yang menghubungkan laboratorium dengan rumah utama Sean Conley itu, hanya diberi penerangan seadanya dengan lampu-lampu kecil yang menempel di dinding lorong yang berjarak tiap dua meter.
Begitu tiba di ujung lorong, langkah kecil itu berhenti di depan sebuah pintu. Perlahan tangan kecil nan mungil itu mendorong pintu yang terbuat dari stainless. Bunyi cicitan tikus percobaan terdengar dari dalam balik daun pintu yang tersibak. Gadis kecil itu hanya mengintip dari sela pintu yang terbuka. Tak ada keberanian dalam hatinya untuk menerobos masuk.
"Daniella, apa yang kau lakukan di sana? Masuklah." Ucap Conley sambil menyuntikkan cairan bening pada seekor tikus putih yang ada dalam genggamannya.
"Iya, Ayah." Jawabnya pelan.
Daniella mengeluarkan sedikit tenaga untuk mendorong pintu. Dengan langkah ragu ia masuk ke dalam laboratorium, begitu pintu terbuka seukuran tubuhnya.
"Kenapa kau belum tidur ? Sudah jam berapa ini?" Tanya Conley begitu Daniella telah masuk ke dalam laboratorium. Conley meletakkan kembali binatang pengerat itu ke dalam tempatnya.
"A aku tidak bisa tidur, Ayah." Ucap Daniella dengan wajah tertunduk.
"Kenapa kau tidak bisa tidur?" Tanya Conley lembut.
"A aku merindukanmu, Ayah. " Dengan suara bergetar.
Conley melepaskan Safety Glasses yang dikenakannya dan meletakkan di atas meja. Kemudian melepaskan sarung tangan karet dari kedua pergelangan tangannya. Selanjutnya, melemparkan ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh dari sana.
"Oh Sayang. Maafkan Ayah." Conley memposisikan tubuhnya setinggi Dany. Kemudian dia menarik gadis kecil itu dalam pelukannya, selama beberapa menit.
"Ayah. Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" Bisik Dani dengan suara hampir tak terdengar.
Conley melepas dekapannya. Tertegun menatap wajahnya polos putri kecilnya. Matanya menyusuri manik indah milik Dani. Ia menemukan asa yang dalam di sana. Berharap Conley mengabulkan keinginannya. Ada rasa iba di hati Conley. Ia menyadari, sebagai seorang ayah dia belum bisa dikatakan ayah yang baik. Bahkan jauh dari kata baik. Tidak ingin melihat wajah kecewa putrinya, Conley memutuskan malam ini ia akan mengabulkan permintaan Dani.
"Baiklah sayang. Ayo kita tidur." Conley tersenyum tulus. Sambil melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kirinya
"Sudah pukul 11.42. Sudah larut ternyata. Ayo kita keluar dari sini."
Conley membimbing Dani keluar dari laboratorium seraya melepaskan jas putih yang ia kenakan, kemudian meletakkan pada tempatnya. Sambil berjalan ke luar, mata Dani tanpa sengaja memandang tikus putih yang tersimpan dalam kandang tembus pandang. Ia teringat pada kejadian pada saat awal datang menemui ayahnya.
"Ayah.. Apa yang tadi kau lakukan pada tikus putih itu?"
"Aku sedang menguji cairan obat yang telah aku temukan."
" Cairan obat apa Ayah?"
"Cairan awet muda, sayang."
"Awet muda itu apa Ayah?"
"Dengan menyuntikkan cairan itu, aku mengharapkan tikus itu tidak mengalami kerusakan jaringan tubuh yang menyebabkan ia mengalami penuaan. Dengan kata lain, ia akan terlihat lebih muda dibanding dengan usianya."
"Maksud ayah?"
Conley menghentikan langkahnya, begitu mereka tiba di depan pintu keluar. Kemudian membuka pintu dan membiarkan putrinya keluar terlebih dahulu. Setelah itu ia menutup dan mengunci pintu lab. Sambil menggenggam tangan Dani, ia melanjutkan penjelasannya.
"Hmmm. Kamu ingat kakek Adolf yang tinggal di ujung blok, sayang?"
" Ya aku ingat, Ayah."
"Ayah bermimpi suatu saat nanti, Ayah, kamu dan orang-orang yang ada di dunia ini tidak pernah menjadi tua seperti kakek Adolf itu."
"Apakah semua orang akan menjadi tua, Ayah?"
"Semua makhluk hidup pasti akan mengalami penuaan. Seluruh jaringan yang ada di tubuh kita ini lama kelamaan akan menjadi rusak karena proses alamiahnya. Apabila ayah berhasil menemukan cairan obat yang mampu menghambat proses itu, mungkin ayah tidak akan pernah menjadi seperti kakek Adolf."
"Oh, begitu ya.. "
"Ya begitulah kira-kira. Apakah kau sekarang mengerti sayang?"
"Mengerti Ayah."
"Good girl."
Dengan tetap bergandengan, mereka menapaki lorong menuju rumah utama. Ketika telah berada di depan kamar Daniella yang berada di lantai dua, saat Conley akan membuka pintu kamar, gadis kecil itu menarik tangan Conley yang berada dalam genggamannya. Dengan sebelah tangan masih menggenggam handle pintu, pria 40 tahun itu mengalihkan pandangan pada Dani yang juga sedang menatapnya.
"Ayah. Bolehkah malam ini aku tidur di kamarmu?"
Conley cukup terkejut dengan permintaan itu. Memang Daniella belum pernah sekali pun tidur di kamarnya. Selama ini ia seakan - akan membuat batasan area pribadi yang boleh atau tidak putrinya masuki, termasuk bilik tidurnya. Hal itu dikarenakan, Conley tidak ingin Daniella menemukan dirinya masih dalam dekapan wanita di pagi hari. Walau bagaimana pun juga, ia adalah lelaki normal yang masih membutuhkan sentuhan wanita. Ia tidak ingin kebutuhan biologisnya itu akan mempengaruhi perkembangan mental Daniella yang masih di bawah umur.
Conley berpikir sejenak, " Tentu saja sayang. Tapi untuk malam ini saja. Bagaimana?"
"Iya Ayah. Malam ini saja."
"Baiklah kalau begitu. Ayo.. " Sambil menarik sudut bibirnya.
Segumpal senyuman terukir di wajah polos Daniella mendengar penuturan Ayahnya. Dengan tetap menggenggam tangan Dani, Conley membimbing gadis kecil itu menuju kamarnya. Begitu pintu terbuka, Conley mengulurkan tangan menekan tombol lampu yang ada di dekat pintu. Ruangan yang gelap itu seketika menjadi terang benderang.
"Ayo, sayang masuklah."
Satu persatu langkah Dani memasuki kamar ayahnya. Terkesan ragu tapi dipenuhi dengan rasa ingin tahu.
"Kau naiklah ke tempat tidur, Ayah mandi dulu." Conley terus melangkah masuk ke kamar mandi.
"Baik, Ayah."
Matanya memandang sekeliling ruangan. Kamar tidur itu didominasi warna coklat muda. Warna yang terkesan maskulin di mata Dani. Ruangan yang tidak terlalu besar itu terlihat memang di desain untuk kepentingan penghuninya. Tidak ada lemari dengan deretan buku-buku di sana. Wardrobe pun dibuat sejajar dengan dinding kamar, sehingga kamar terkesan lebih luas. Meja pun tidak ada. Untuk meletakkan perkakas kecil, disediakan rak yang sengaja dibuat menempel di dinding. Daniella melangkah menuju tempat tidur yang bersih dan rapi itu, dengan kain penutup berwarna putih polos. Meletakkan tubuhnya di repi tempat tidur, telapak tangannya reflex mengusap matras tebal yang terasa dingin. Sekelebat siluet dua insan yang saling berhimpitan di dalam kamar pada malam itu, menari kembali dalam ingatannya. Ada rasa sesak di dada mengingat kejadian waktu itu. Daniella tidak mengerti apa yang ia rasakan. Pertanyaan muncul dalam benaknya. Apakah ia dan ayahnya akan melakukan hal yang sama seperti ia lihat pada malam itu?
Suara gemericik air yang terdengar dari kamar mandi memecah lamunan Dani. Matanya kembali menyapu sekeliling kamar yang baru kali ini ia masuki. Dalam kekosongan jiwanya, Dani berharap malam ini ia akan mendapatkan kata cinta dari ayahnya melebihi wanita nakal itu.
"Kenapa belum tidur?" Conley keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Tetesan air satu persatu menetes dari sela rambutnya.
"Aku menunggumu, Ayah."
"Kalau begitu, tunggulah sebentar."
Conley mengeringkan rambutnya dengan handuk lain yang ia ambil dari dalam lemari. Setelah itu ia mengenakan sebuah celana tidur pendek berwarna kelabu dan sebuah kaos oblong warna putih. Kemudian naik ke tempat tidur dan meletakkan tubuhnya di sisi kiri.
" Sayang, sini tidur di dekat Ayah." Sambil merentang tangan kanannya, sementara tangan kirinya menepuk lengan atas kanan memberi tanda di mana Dani harus berbaring.
Dengan malu-malu Dani naik ke atas kasur dan meletakkan kepalanya di lengan atas Conley. Pria itu langsung mendekap erat tubuh Dani begitu gadis kecil itu berbaring di dekatnya.
"Selamat malam, sayang. Mimpi indah, ya..." Bisik Conley di telinga Dani sambil mengecup lembut pucuk kepalanya.
Degup jantung Dani berdetak lebih cepat. Berada dalam dekapan pria yang telah membesarkannya merupakan keinginan terdalamnya selama ini. Bisa mencium aroma tubuh pria itu sangat dekat bukan lagi hanya angan semu. Hati Dani dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran di pagi hari. Dani merespon tindakan Conley dengan balas mendekap erat tubuh pria itu.
Hembusan nafas halus dan teratur, terdengar tak lama kemudian. Bunga-bunga yang bermekaran di hati Dani, perlahan mulai layu. Kenapa pria itu tidak menekan dan menghimpitnya seperti yang ia lakukan pada wanita malam itu ? Dani ingin sekali mendengar ucapan cinta dari Conley sebelum tidur setelah mereka mengeluarkan suara-suara aneh yang sangat lama. Kenapa Conley begitu memilih kepada siapa kata cinta itu akan dia berikan?Sebegitu tidak berartinya kah dirinya dibandingkan dengan wanita genit yang baru saja Conley kenal?
Tidak sedetik pun mata Dani terpejam. Sepanjang malam ia berharap Conley akan bangun dan melakukan hal itu padanya. Sampai pagi menjelang, hanya dekapan, kecupan dan ucapan selamat malam yang ia dapat dari Conley. Dani patah hati untuk yang kesekian kali pada ayahnya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
adi_nata
lagipula kenapa Anna tidak mencoba mengambil hati Daniella dan mengambil peran sebagai Ibu bagi Dani.
2024-11-25
0
adi_nata
bagaimana dengan istri Sean Conley ? sudah meninggal ?
2024-11-25
0
ramanda
astaga .. pikiran polos anak. kemana ibu daniella ?
2024-11-08
0