Hari ini merupakan hari pertama Daniella kembali ke sekolah, setelah seminggu lamanya dirawat di rumah sakit. Begitu masuk kelas, Dani langsung menuju kursinya yang terletak paling belakang di barisan tengah. Seperti biasa, ia lebih suka berdiam diri di tempat duduknya dari pada berbaur dengan teman-teman sekelasnya yang lain.
Dari kursinya ia bisa melihat Ruth Handler, siswi populer di kelasnya sedang dikelilingi oleh beberapa orang siswi.
"Hei Ruth, kau sedang membaca apa?" Tanya Betty sembari mendekat ke arah Ruth. Ruth yang sedang asik dengan buku bacaannya, menoleh dengan senyum manis menghiasi wajahnya yang cantik.
"Ohh, ini Winni The Pooh. " Jawab Ruth sambil memperlihatkan sampul buku yang dibacanya berjudul When We Were Very Young.
"Wahh.. Aku belum baca seri yang ini." Ucap Betty sambil mengusap buku yang ada di tangan Ruth.
"Ini volume ke 4 yang belum aku baca dari 4 volume Vintage A Treasury of Winnie The Pooh, karya A. A. Milne. Ayahku baru saja kembali dari London. Ia membawakan buku ini sebagai oleh-oleh." Ujar Ruth bangga.
"Wahhh... Aku iri sekali. " Timpal anak yang lain.
"Kalian boleh meminjam setelah aku selesai membacanya. Tapi dengan satu syarat." Ruth memberi tanda satu dengan telunjuknya.
"Syaratnya apa, Ruth." Tanya Betty.
"Iya syaratnya apa? " Respon anak-anak yang lain.
"Syaratnya, kalian harus menjaga buku ini sebaik-baiknya. Karena buku ini pemberian ayahku yang berharga. Aku tidak ingin buku ini sampai hilang atau pun rusak."
"Tentu saja Ruth. Kami berjanji. " Ucap mereka bersamaan.
Gadis kecil berambut pirang yang bernama Ruth Handler itu memang cantik, ditambah dia juga ramah dan baik hati pada semua orang. Nilai plus lain dari Ruth, dia anak yang pintar. Di kelasnya selalu menempati peringkat teratas. Tak heran, banyak yang menyukai dan ingin berteman dekat dengannya.
Sedangkan Daniella di sekolah termasuk anak yang tidak terlalu menonjol. Di kelas dia juga biasa-biasa saja. Walaupun demikian, dia anak yang rajin. Setiap tugas yang diberikan oleh guru, tidak pernah ia lewatkan. Cuma satu kelemahan Daniella, ia terlalu pendiam dan tertutup. Lebih menyukai menyimpan semua yang dirasakan dalam hati. Setiap anak yang mencoba mengajaknya berbicara akan mati kutu sendiri, karena Dani tidak pintar untuk berkata-kata.
Sejak dari bangku taman kanak-kanak, Daniella selalu satu kelas dengan Ruth. Pemandangan yang tersaji di hadapannya itu, sebenarnya telah menjadi pemandangan biasa yang menjadi rutinitasnya sehari-hari di sekolah. Tapi mengapa hari ini hati Dani terasa panas. Selama ini, ia memang iri dengan segala keberuntungan yang dimiliki oleh Ruth. Keluarga yang sempurna, teman-teman yang selalu ada. Dibanding dengan dirinya, Daniella hanya memiliki seorang ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan teman, tidak seorang pun mau berteman dengannya. Daniella tidak tau rasanya punya teman. Ia juga tidak mengerti bagaimana caranya berteman.
Kehidupannya sangat bertolak belakang dengan Ruth. Salahkah ia jika rasa iri hinggap di hatinya? Ruth memang tidak memiliki kesalahan apa-apa dengannya. Gadis berambut pirang itu memang tidak pernah mengganggunya, tetapi saat ini Daniella merasa terganggu dengan segala keberuntungan gadis kecil itu.
.
.
Pada saat jam pelajaran olah raga berakhir, Ruth yang baru saja tiba di ruang kelas, berniat mengambil botol air minum yang ia simpan di dalam tas.Tiba-tiba, ia menangis histeris begitu menemukan buku pemberian ayahnya telah raib dari dalam tas. Tangisan itu menarik perhatian para siswa yang baru saja kembali dari lapangan.
"Ada apa Ruth?" Tanya Ace, sang ketua kelas.
" Bu, Buku ku.. Huuu.. " Jawab Ruth di sela tangisnya.
"Kenapa dengan buku mu?"
"Buku Winni ku hilaaaaang.. huu huu huu. "
" Hilang? Memangnya kamu taruh di mana?"
"Tadi, aku simpan dalam tas ku. Di sini. " Ruth menunjuk laci utama tasnya. "Sekarang sudah tidak ada lagi. Huuu.. "
"Cari dulu, siapa tahu kamu salah taruh." Hibur Ace
"Salah taruh gimana? Nih tak ada.. " Ruth mengeluarkan semua isi tasnya ke atas meja. "Tidak ada kan?"
"Apa mungkin ada seseorang yang telah mengambilnya? Wah berat ini kasusnya. Sebaiknya urusan ini di selesai oleh wali kelas saja. " Gumam Ace.
"Adam. Cepat kau panggil Mr. Robert. " Perintah Ace pada salah sorang temannya.
"Baik, Ace."
Anak laki-laki yang bernama Adam itu segera berlari menemui wali kelasnya, Mr. Robert Delwyn. Sementara itu, satu per satu siswa mulai masuk ke dalam kelas. Ada yang berkerumun dekat Ruth, ada yang memilih duduk di kursi masing-masing.
Tak beberapa lama kemudian, Mr. Robert Delwyn datang dengan langkah lebar diikuti oleh Adam di belakangnya.
"Apa yang telah terjadi?" Tanya Mr. Robert ketika ia mendapatkan Ruth sesenggukan di tempat duduknya.
"Buku milik Ruth hilang, Mr. " Jawab Ace.
"Hilang bagaimana?"
Ace pun menceritakan kronologi kejadian yang telah menimpa Ruth. Setelah memahami situasi yang sedang terjadi, Mr. Robert meminta semua siswa untuk kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Anak-anak. Mengambil sesuatu yang bukan milik kita itu adalah perbuatan yang tidak baik. Buku teman kita, Ruth hilang dari dalam tasnya. Mr beri kesempatan bagi siapa yang merasa mengambil buku itu, untuk berani mengakui perbuatannya. Dan segera mengembalikan buku itu pada pemiliknya."
Mr. Robert mengamati seisi kelas. Memandang wajah-wajah polos siswanya satu persatu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Sepuluh detik di tunggu, tak ada seorang siswa pun yang mengacungkan tangannya.
"Kalau tidak ada yang mau mengaku, Mr. akan melakukan penggeledahan. Silahkan kalian taruh tas di atas meja masing-masing, kemudian keluar dengan tertib. Tunggulah di luar kelas."
"Baik, Mr. " Jawab para siswa.
Satu persatu siswa keluar dengan tertib mengikuti arahan wali kelas mereka. Begitu semua siswa telah keluar dan kelas menjadi kosong, Mr Robert mulai menggeledah satu persatu tas para siswa. 20 menit berlalu ia belum menemukan apa yang dicarinya. Kemudian ia memerintahkan para siswanya untuk kembali masuk ke dalam kelas.
"Kalian bisa kembali ke kursi masing-masing. Duduklah dengan tertib. Mr keluar sebentar."
"Baik, Mr." Sahut anak-anak.
"Mr.... Bagaimana dengan buku ku?" Tanya Ruth pada Mr. Robert yang baru saja berjalan beberapa langkah.
"Kau tunggu saja di kelas. Percayalah, Mr akan menyelesaikannya."
"Baik, Mr. " Jawab Ruth pelan. Dengan langkah lesu ia kembali ke tempat duduknya bergabung dengan teman-temannya lain yang telah lebih dahulu masuk ruangan.
Guru pria itu pun menjauh. Ia menuju suatu tempat untuk mencari tahu kebenaran dibalik kasus yang jarang terjadi di kelasnya itu.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ
karena kamu terlalu tertutup Dani, cobalah membuka diri mungkin banyak teman yang akan kamu punya
2024-02-10
3
໓աiɛ🌸
hhmmm sepwrtinya sisi buruk Dani muncul nih
2024-01-04
4
໓աiɛ🌸
Kenapa Dani...padahal berteman itu sangat baik, carilah teman yg se frekuensi denganmu
2024-01-04
4