Awan hitam menggantung di langit, disertai rintik hujan mengiringi pemakaman Betty Friedan di kompleks pemakaman umum, Minnesota. Mendung yang menggantung di wajah sendu Carl seakan diamini oleh semesta. Tangisnya pecah begitu peti jenazah Betty diturunkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Hatinya hancur. Putri yang selama ini ia jaga, rawat dan didik dengan penuh cinta, sehingga tumbuh menjadi anak yang cerdas dan baik hati, harus pergi dengan cara yang mengenaskan.
"Maafkan aku, Layla. Aku gagal menjaga anak kita." Ratap Carl seraya bersimpuh di depan makam mendiang istrinya yang bersebelahan dengan makam mendiang Betty.
Masih segar dalam ingatan Carl,12 tahun yang lalu, saat itu ia berdiri di tempat yang sama untuk memakamkan jenazah istrinya tercinta. Layla harus pergi untuk selamanya setelah berjuang melahirkan buah cinta mereka ke dunia. Dengan menggendong Betty kecil yang masih merah, Carl pada waktu itu berusaha tegar demi buah hati mereka yang berada dalam dekapannya. Namun saat ini, ia harus tegar untuk dirinya sendiri. Harus tabah menjalani hari-hari sepi seorang diri. Rasanya saat ini tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan hidup. Carl Friedan saat ini benar-benar berada dalam titik terendah hidupnya.
"Tuan, kami ikut berduka cita." Ujar Abraham dan putrinya Ruth, saat menyalaminya setelah prosesi pemakaman selesai dan para pelayat pun sudah berangsur pergi.
"Terima kasih,Tuan" Carl berusaha tersenyum.
"Kalau nanti ada yang kau butuhkan, jangan sungkan untuk menghubungiku. " Ucap Abraham kemudian.
"Baik Tuan. Tentu saja."
"Kalau begitu, kami permisi dulu."
"Silakan Tuan." Jawab Carl singkat. Abraham dan Ruth pun beranjak pergi. Tidak beberapa lama kemudian, Carl teringat akan suatu hal yang masih mengganjal hatinya. "Tuan Abraham."
"Ya Tuan." Abraham menghentikan langkahnya dan balik badan begitu mendengar Carl memanggil namanya.
"Apakah kau telah menerima paket dariku?"
Abraham terdiam sejenak. "Sudah Tuan. Paket itu telah tiba di rumah kami dua hari yang lalu."
"Syukurlah. Pagi sebelum kejadian, putriku sangat mengkhawatirkan masalah itu. Hal terakhir yang ia cemaskan sebelum kami berpisah, adalah buku milik putrimu." Abraham menoleh pada putrinya Ruth yang diam tertunduk. Carl kemudian melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dibalik peristiwa pada waktu itu. Tapi aku berkeyakinan orang yang ada di dalam rekaman kamera pengawas itu bukanlah anakku. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Karena aku membesarkan dan mendidiknya dengan tanganku sendiri. Dia anak yang baik dan berhati lembut. Mustahil ia melakukan hal seperti itu. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. Termasuk terakhir insiden yang telah merenggut nyawanya." Carl menatap tajam ke arah Abraham yang terlihat salah tingkah.
Beberapa saat tidak ada yang bersuara di antara mereka. Hanya terdengar bunyi hembusan angin yang menggerak-gerakkan dedaunan di ranting pohon yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Rinai hujan pun berlahan mulai mereda.
Merasa tidak perlu untuk mendebat hal itu, Abraham memutuskan mengakhiri pembicaraan mereka.
"Tuan Carl. Sekali lagi kami ucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Kami sangat menyesali kejadian ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku seandainya hal yang sama menimpaku. Kami berharap polisi akan mengusut tuntas kasus ini, sehingga Ananda Betty bisa beristirahat dengan tenang. Dan Anda pun bisa melanjutkan kehidupan dengan hati damai." Abraham menghela nafasnya. "Tuan Carl, aku minta maaf tidak bisa berlama-lama di sini. Untuk itu, kami mohon diri." Abraham menundukkan kepadanya sedikit, sebagai tanda permintaan izin untuk pamit dari tempat itu. "Ayo sayang." Dengan menggandeng tangan Ruth, Abraham pun berlalu dari tempat itu.
Pembicaraan kedua orang dewasa itu pun tak luput dari pengamatan dua orang pria berjas hitam. Kedua orang itu mendekati Carl yang terlihat masih sangat berduka, duduk di depan makam kedua orang yang sangat ia cintai.
"Selamat siang, Tuan Carl. " Salah seorang dari mereka menyapa terlebih dahulu. Carl yang sedang tertunduk, spontan mengangkat wajahnya.
"Selamat siang." Jawab Carl singkat.
"Aku Letnan Troy Oswald dan ini rekanku Letnan Andre Sayegh. Apakah anda masih ingat, kita pernah bertemu di rumah sakit. Tepatnya di depan ruang IGD."
"Ohh Letnan Troy. Tentu saja aku masih mengingatmu."
"Sebelumnya, kami ikut berduka cita atas kepergian putri anda, Betty."
"Terima kasih, Letnan."
"Tuan Carl, ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Apakah anda ada waktu?"
"Tentu Letnan. Ada yang bisa aku bantu?"
"Kami tadi tidak sengaja mencuri dengar pembicaraanmu dengan pria tadi. Kalau boleh kami mengetahui, siapakah dia, Tuan?"
"Oh. Itu Tuan Abraham Handler dan putrinya, Ruth. Teman sekelas mendiang putriku."
" Oh begitu. Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Carl kemudian menceritakan asal mula malapetaka yang telah menimpa Betty dan keanehan yang ia rasakan terhadap peristiwa itu. Letnan Sayegh mencatat hal-hal penting dari penuturan Carl ke dalam buku catatan kecil.
Letnan Troy terlihat berfikir sejenak. "Tuan Carl, Anda kan sangat mengenal putri Anda. Pasti ada alasan, kenapa mendiang Betty menolak keras tuduhan yang di alamatkan padanya? Apakah Anda sudah menanyakan alasannya pada mendiang?"
Carl tertunduk mendengar pertanyaan yang diajukan Letnan Troy. "Itulah kesalahan yang telah aku lakukan, Letnan. Aku tidak pernah menanyakan pada putriku, alasan dia menolak mati-matian rekaman kamera pengawas itu."
"Satu lagi hal yang aneh menurutku, Tuan Carl?"
"Apa itu, Letnan? "
"Siapa sebenarnya yang telah Betty temui sebelum kejadian itu? Kalau seandainya mendiang Betty yang telah melakukannya, tentu saja dia mengetahui siapa orang itu dan ada apa saja yang mereka bicarakan? Apakah ada hubungannya dengan kasus hilangnya buku milik Ruth atau tidak? "
"Kau memang benar letnan. Kenapa aku tidak menanyakan hal itu langsung pada Betty. Kenapa aku tidak mencari kebenarannya isi rekaman kamera pengawas itu terlebih dahulu?" Ucapnya lirih.
"Tuan Carl, apakah Anda memiliki rekaman CCTV saat peristiwa hilangnya buku Ruth? "
"Tidak Letnan. Aku pikir mungkin saat ini rekaman itu masih ada pada Mr. Robert, wali kelas putriku."
"Kalau begitu, nanti akan aku coba tanyakan padanya."
"Oh iya Letnan. Apakah hasil otopsi putriku sudah keluar? "
"Sudah Tuan."
"Kalau begitu, apakah sudah ada kemajuan dari investigasi yang telah polisi lakukan? "
"Tuan Carl, sangat sulit untuk membuktikan penyebab sebenarnya dari jatuhnya korban dari lantai dua hanya berdasarkan hasil otopsi dan penyelidikan bukti-bukti tidak langsung. Untuk itu kami meminta kesabaran Anda. Kami akan terus menyelidikinya. Sehingga kita bisa mengetahui penyebab pasti kematian putri Anda. Begitu ada perkembangan yang berarti, kami pasti akan mengabarkannya pada Anda."
"Baiklah Letnan. Aku akan menunggu kabar baik dari kepolisian. Aku harap itu tidak terlalu lama."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
໓աiɛ🌸
Siapa yg tidak hancur.. setelah khilangan istrinya kini Carl juga harus kehilangan anak semata wayang nya...😭😭
Hidupnya pasti hancur, kasihann....😭😭
Betty harus meninggal dgn nama yg masih blm dibersihkan krn difitnah pula..
2024-01-11
5
Kᵝ⃟ᴸℝ𝕒𝕪𝕚𝕚☠ᵏᵋᶜᶟ🍂
Yang tabah Papa Carl,jangan lupa terus usut kasusnya..
jadi penasaran siapa yang merencanakan dari awal pencurian buku itu,,Apakah Daniella?
2023-12-18
3
ㅤㅤ💖 ᴅ͜͡ ๓ᵕ̈✰͜͡v᭄ ᵕ̈💖
takutnya cctv udah di lenyapkan kepala sekolah😩😩😩😩😩
karna untuk menghilangkan bukti terakhir Cindy 😌
2023-12-17
1