Pemadam kebakaran tiba tak lama kemudian. Dua unit mobil pemadam dikerahkan untuk memadamkan api yang melahap habis rumah Sean Conley. Untung api berhasil dijinakkan dan tidak merembet ke rumah-rumah yang ada di sekitarnya.
Polisi pun segera melakukan investigasi olah tempat kejadian perkara oleh Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk menyelidiki penyebab kebakaran. Dari hasil investigasi polisi, kebakaran berasal dari laboratorium milik Conley. Pemicunya adalah akibat ledakan tabung pemadam api ringan yang ada di dalam laboratorium menimbulkan reaksi antara bahan-bahan kimia yang terdapat di sana. Yang menjadi pertanyaan polisi, kenapa tabung itu bisa meledak? Apakah sekelas Sean Conley melakukan kecerobohan dengan membiarkan alat pemadam di rumahnya mengalami kadaluwarsa, sehingga menimbulkan luka di dalam tabung akibat serbuk kimia yang dibiarkan terlalu lama? Ataukah suhu di dalam laboratorium memicu suhu tabung APAR melebihi 49 °C atau turun sampai minus 44°C ?
.
.
Emma sedang berbicara dengan seorang pria di depan kamar rawat inap rumah sakit. Pria itu adalah Paul Alexander, pengacara keluarga Sean Conley. Sesekali ia memandang ke dalam kamar melalui kaca pintu. Terlihat Daniella masih tertidur pulas dengan selang infus terpasang di tangan kanannya. Perasaan iba terpancar dari sinar matanya. Anak majikannya yang sejak kecil ia jaga dan rawat, saat ini harus hidup sebatang kara. Setelah kematian tragis yang menimpa Sean Conley dan kekasihnya Anna Howard. Kebakaran yang terjadi di rumah Conley telah merenggut nyawa keduanya. Mereka di temukan tewas dengan kondisi tubuh tidak dapat dikenali.
"Jadi bagaimana kondisi Nona Daniella saat ini?"
"Menurut dokter yang merawatnya, kondisi Nona saat ini sudah lebih baik, Tuan Alex. Luka bakar yang dialami Nona Daniella sebanyak 10 %, sudah berangsur membaik. Kemungkinan beberapa hari lagi Nona sudah diperbolehkan pulang. Cuma aku di minta lebih memperhatikan kondisi kejiwaan Nona setelah kejadian itu."
"Hmm.. Aku mengerti. Peristiwa itu bisa menimbulkan rasa trauma yang mendalam yang akan berakibat buruk dikemudian hari. Apalagi hal itu dialami oleh Nona Daniella yang notabenenya masih di bawah umur." Pria 45 tahun itu kemudian menghela nafas.
"Emma."
"Ya Tuan."
"Bisa kita duduk di sana? Ada hal serius yang ingin aku sampaikan." Alex menunjuk ke kursi tunggu yang ada tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Tentu Tuan."
Alex berjalan mendahului Emma. Ia memilih kursi ketiga kemudian mendudukinya. Emma pun mengikuti pria itu dan memilih duduk berjarak satu kursi dari Alex.
"Jadi bagaimana, Tuan?"
"Begini, Emma. Apa yang akan aku sampaikan ini menyangkut masa depan Nona Daniella." Alex menghentikan ucapannya sambil menghela nafas. Ia menunggu reaksi dari wanita paruh baya itu. Namun Emma tidak mengeluarkan suara apapun selain menunggu Alex menyelesaikan ucapannya.
"Berdasarkan surat wasiat yang Tuan Conley buat bersamaku beberapa tahun yang lalu, beliau mewariskan seluruh harta yang ia miliki baik itu bergerak atau pun tidak kepada Nona Daniella. Tetapi warisan itu baru bisa dialih tangankan setelah Nona Daniella berusia 16 tahun. Di dalam surat itu tidak disebutkan, jika terjadi sesuatu pada dirinya, Nona Daniella akan dititipkan pada siapa."
"Apakah mendiang Tuan Conley masih memiliki keluarga, Tuan?"
"Setahuku mendiang berasal dari di California. Seluruh keluarga besarnya kemungkinan besar masih berada di sana. Aku tidak mengetahui dengan pasti hal itu."
"Bagaiman dengan keluarga dari pihak ibu Nona Daniella, Tuan?"
"Aku juga tidak mengetahui hal itu, Emma. Aku tidak mengenai ibu Nona Daniella apa lagi keluarganya. Mendiang tidak pernah membahas hal itu padaku. Saat itu dia datang menemuiku untuk mengurus surat wasiatnya. Emma kapan kau mulai bekerja di rumah mendiang Tuan Conley?"
"12 tahun yang lalu, Tuan."
"Apakah ketika datang, Nona Daniella sudah lahir? "
"Sudah, Tuan. Pada awalnya, aku datang ke rumah Tuan Conley dipekerjakan sebagai babysitter untuk merawat Nona Daniella. Setelah Nona agak besar, dan sudah bisa ditinggal, aku mulai membantu pekerjaan rumah seperti bersih-bersih dan memasak."
"Bagaimana dengan ibunya Daniella? Apakah mendiang menjelaskan keberadaannya padamu?"
"Tidak. Tuan Conley hanya mengatakan bahwa ibu Nona Daniella sudah meninggal dunia dan ia tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh. Sehingga aku tidak berani untuk mempertanyakan hal tersebut." Emma menghela nafasnya. Kemudian ia melanjutkan ucapannya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Selama ini, Tuan Conley tidak pernah menunjukkan kalau dia tidak menyayangi Nona Daniella. Ia bahkan memberikan pendidikan yang terbaik bagi putrinya. Setiap harinya sebelum bekerja, dia selalu mengingatkanku agar memperhatikan semua kebutuhan Nona Daniella. Walaupun ia terlihat seperti seorang ayah yang acuh dan kurang perhatian, tetapi alasannya selama ini bisa ditolerir. Karena kesibukan yang menyita sebagian besar waktunya."
Kemudian mereka sama-sama terdiam. Untuk beberapa saat tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Tuan.. "
"Ya Emma. "
"Bagaimana dengan nasib Nona Daniella selanjutnya ? Siapa yang akan merawatnya?"
"Itu yang ingin aku bahas denganmu. Menurut pendapatku, sebaiknya kau titipkan Nona Daniella di panti asuhan. Aku akan membantu mengurus segala keperluan yang dibutuhkan agar Nona Daniella bisa tinggal di sana. Kebetulan aku mempunyai seorang teman, dia merupakan kepala panti asuhan putri di pinggir kota Minnesota. Di sana nanti Nona Daniella akan mendapatkan tempat tinggal dan pendidikan yang layak."
"Aku tidak mungkin melakukan itu, Tuan. Aku sangat menyayangi Nona Daniella seperti anakku sendiri. Aku tidak akan sampai hati meninggalkannya di panti asuhan."
" Di sana ia akan di jaga dan dirawat dengan baik. Aku hanya menyarankan padamu hal terbaik yang bisa kau lakukan. Karena sejak kejadian kemarin, otomatis tidak ada lagi yang bisa membayar gajimu. Membesarkan anak seorang diri bukan perkara mudah. Emma.."
"Aku tahu, Tuan."
"Kalau kau tidak menyetujui dengan pendapatku, apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku berfikir akan membawa Nona Daniella ke kampung halamanku di Ramsey."
"Apa kau yakin ? Apakah keluargamu tidak akan mempermasalahkan hal itu?"
"Aku seorang singel parent, Tuan. Suamiku telah lama meninggal dunia. Kedua anak lelakiku sudah dewasa. Walaupun mereka belum menikah, tapi mereka berdua sudah berkerja dan mandiri. Ladang gandum peninggalan suamiku sudah aku serahkan pada kedua anak lelakiku untuk dikelola. Dan aku bersyukur, mereka berdua melakukannya dengan baik. Jadi, aku rasa mereka tidak akan keberatan dengan keputusanku ini, Tuan."
"Dari mana kau akan memperoleh penghasilan untuk menghidupi, Nona Daniella?"
"Aku berencana akan membuka toko kelontong, Tuan. Aku bekerja dengan Tuan Conley, sebenarnya bertujuan untuk mengumpulkan modal, membuka toko kelontong di kampung halamanku. Selain tentu saja untuk mengisi waktu luangku dengan pekerjaan yang aku kuasai."
"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku mendoakan agar semua berjalan dengan lancar." Alex mengambil dompet dari saku dalam jasnya. Selanjutnya mengeluarkan sebuah kartu yang kemudian ia serahkan pada Emma.
"Ambillah, ini kartu namaku. Jika ada yang bisa aku bantu, hubungi aku di nomor yang ada di sini."
"Terima kasih, Tuan Alex. Aku pasti akan menghubungimu. Terimakasih atas kebaikan hatimu. Semoga Tuhan memberkati."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
ramanda
apakah daniella sebenarnya adalah patricia caves ?
2024-11-09
0
໓աiɛ🌸
jadi smpai usia 16 tahun warisan tersebut msh disimpan oleh pengacaranya yah
2024-01-17
7
໓աiɛ🌸
apa Daniella sebenarnya bukan anak kandung Conley kah..
2024-01-17
3