Elnathan tidak menolak ketika Clarish membantunya kembali ke kamar. Setelah tiba di kamar, pria itu duduk sebentar di tepian tempat tidur. Clarish membuka gorden yang masih tertutup.
Ketika cahaya dari luar jendela masuk, suasana di kamar tidak lalu terlalu suram. Elnathan bisa melihat sosoknya yang kurus dan menawan meski hanya pemandangan bagian belakangnya saja.
"Aku akan mandi," kata pria itu.
Clarish terkejut dengan perkataannya. Wajahnya kembali memanas. "Kalau begitu aku akan keluar. Apakah perlu kupanggil pelayan untuk membantumu?"
"Tidak perlu. Aku tidak lumpuh," katanya. "Bantu aku mengoles salep penghilang bekas luka nanti."
Elnathan bangkit dan berjalan ke dalam kamar mandi. Dia tidak mengusir Clarish sama sekali. Jadi gadis itu juga tidak sopan untuk melihat beberapa buku di rak.
Semua buku itu berbahasa asing yang tidak ia mengerti. Clarish malas untuk membacanya. Hanya membuat matanya sakit. Jadi dia memilih untuk membaca buku lainnya.
Di dalam kamar Elnathan terdapat satu pot tanaman hias yang lumayan besar, daunnya berwarna hijau segar dan berbunga putih.
Tanaman hias itu seperti memancarkan gelombang energi pada Clarish untuk memberi tahunya sesuatu.
"Ada apa?" gumamnya seraya menghampiri tanaman hias tersebut.
Gelombang energi yang dipancarkannya semakin kuat. Clarish berusaha untuk mencernanya sebelum tahu apa yang terjadi.
Mungkin karena pot yang diletakan jauh dari dari jendela, sehingga tidak ada sinar matahari yang cukup.
"Kamu ingin pindah ke sana?" tanya Clarish.
Tanaman hias itu menggerakkan sedikit daunnya. Jika orang lain melihat ini, mungkin hanya mengira itu tak sengaja digerakan oleh angin.
Clarish melihat ke sisi jendela yang menurutnya cocok untuk dipajangi pot bunga. Jadi dia memindahkannya ke sana. Tanaman hias itu sangat senang hingga tanpa sadar aroma bunga yang lembut menguar dari dirinya.
Kemudian, Clarish tidak memedulikannya lagi. Dia kembali menghampiri rak buku dan melihat-lihat. Mungkin ada sesuatu yang bisa menarik perhatiannya.
Tanpa diduga, ia menemukan beberapa majalah pria dan wanita.
"Buku majalah model?" Clarish tertarik. Dia mengambil beberapa dan pergi ke sofa untuk membaca.
Majalah model tidak terlalu tebal tapi kualitas kertas yang dipakai sangat bagus, licin dan jernih. Ada beberapa model pria di dalamnya, dalam berbagai pose, ekspresi dan jenis pakaian.
Saat ini, beberapa jenis pakaian akan diiklankan dengan cara seperti ini. Dan kebanyakan dari pakaian yang diperlihatkan merupakan edisi terbatas.
Clarish tidak menyadari jika saat ini Elnathan sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tergantung di bahunya. Ia melihat sosok gadis itu tengah melihat-lihat majalah seraya menggumamkan sesuatu.
"Ck, seksi sekali. Jika Elnathan menjadi model sampul majalah, pasti bagus, bukan?" gumamnya.
"Siapa yang terlihat bagus dalam sampul majalah?" Suara Elnathan tepat berada di belakangnya.
Clarish terkejut hingga dia langsung membuang buku majalah itu. Dia menoleh dan mendapati Elnathan menatapnya dengan mata elangnya yang khas. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa dia tidak menyadarinya?
Ia buru-buru menjawab tapi tatapan matanya menghindari pria itu. "Oh, bukan apa-apa. Para model pria di buku majalah itu bagus."
"Apa bagusnya? Hanya tinggi dan berotot layaknya pria berolahraga lainnya. Sebagian dari mereka juga simpanan wanita kaya." Nada bicaranya sedikit kesal.
"Benarkah? Mereka bisa menjadi simpanan wanita kaya?" Clarish sedikit bersemangat hingga matanya menyipit.
Jika dia punya pria simpanan yang bisa menyegarkan mata, bukankah itu bagus?
Elnathan tertegun sejenak. Dia sepertinya menyesali apa yang baru saja dikatakan. Ia lupa jika gadis ini agak tidak normal dalam beberapa hal.
"Kenapa? Apakah kamu tertarik mengambil satu?"
"Kenapa tidak? Aku juga wanita kaya."
"Kamu bukan wanita kaya, kamu gadis kecil kaya!" Elnathan meralatnya. Ini hanyalah alasan.
Berapa umur gadis itu sekarang?
Clarish tidak bisa memikirkannya. "Bukankah pria suka daging segar? Aku masih muda dan penuh vitalitas. Mereka tidak akan malu jika menjadi simpananku. Tidak, jadi saudaraku juga baik-baik saja."
Tiba-tiba saja Elnathan selangkah demi selangkah ke arahnya. Hingga jarak keduanya semakin sedikit. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit.
"Penuh vitalitas dalam hal apa?" tanyanya pelan.
Clarish sedikit menelan salivanya, tubuhnya kaku. "Dalam hal ... mengangkat beban berat dan mengalahkan orang ..." Dia langsung terkekeh malu.
Benar saja, gadis kecil adalah gadis kecil, pikirnya.
Elnathan mendesah kasar. "Jika kamu melakukan itu, mereka takut kamu akan mematahkan leher seseorang."
"Aku tidak bercanda. Apakah benar mereka bisa disewa sebagai gigolo?"
Elnathan akhirnya mendesah kasar lagi dan bersabar menghadapi pertanyaannya. "Tentu saja benar. Jika kamu benar-benar mau, tidak perlu jauh-jauh untuk melihat mereka. Aku sudah cukup untuk kamu coba."
"Hah? Kamu tidak bisa." Clarish terkejut.
"Kenapa tidak? Hanya karena aku bukan model seperti mereka?"
"Benar."
Baiklah, Elnathan tidak akan menang jika terus bicara dengannya.
Pria itu menyerahkan salep penghilang bekas luka padanya. "Bantu aku mengoleskan ini di punggung."
Kemudian dia duduk di kursi tanpa sandaran seraya menurunkan jubah mandinya hingga sebatas pinggang.
Punggung lebar yang tegap itu terlihat sedikit menakutkan. Ada bekas sayatan pedang yang cukup dalam dan panjang di sana. Clarish tidak terlalu terkejut. Dia mengoleskan salep itu secara merata tanpa mengubah ekspresinya.
Setelah selesai, Elnathan membenarkan kembali jubah mandinya lalu mengambil handuk kecil untuk menyeka rambut basahnya.
"Apa yang aku katakan tadi serius. Jika kamu mencari pria untuk menjadi simpanan, aku bisa jadi pilihanmu."
"Kenapa kamu sendiri mau jadi simpananku?"
"Mungkin karena aku tertarik dengan gadis kecil sepertimu. Kenapa harus cari yang jauh jika yang dekat mudah didapat?" Elnathan tersenyum menggoda.
"Siapa yang mudah didapat?!"
"Baiklah, kamu tidak mudah untuk didapatkan." Elnathan tidak ingin membuatnya kesal hingga pulang ke rumah.
Akhirnya Clarish ingat dengan pot bunga. "Aku memindahkan pot tanaman hias itu ke sisi jendela. Biarkan mendapatkan pencahayaan yang cukup."
Elnathan juga melihatnya. "Tidak apa-apa." Ia bahkan tidak peduli di mana pot bunga itu akan diletakkan. Yang jelas tidak menghalangi jalannya.
"Kalau begitu ... Aku akan keluar dulu!"
Clarish sangat malu hingga akhirnya dia langsung meninggalkan kamar Elnathan.
Elnathan terkekeh kecil dan berkacak pinggang. Lalu mengambil majalah model pria yang tergeletak di lantai. Senyum di wajahnya berubah dingin. Gara-gara buku sial yang dibeli adiknya ini dulu, gadis kecil itu jadi memiliki ide bengkok.
Dulu, Sophia sangat suka mengoleksi beberapa Bu majalah model pria. Namun semuanya disita oleh Elnathan dan tersimpan di rak bukunya. Siapa yang tahu ....
Elnathan memutuskan untuk membuang semua buku majalah itu. Termasuk beberapa majalah wanita yang dibeli Kendrick di masa lalu.
Kendrick selalu mengira jika dirinya menyukai pria sehingga membelikan beberapa buku majalah wanita seksi untuk dinikmati.
Apakah gadis itu juga melihat ini dan menganggapnya sebagai pria yang suka wanita seksi?
"Baik adikku atau asisten murahanku itu, tidak ada yang benar!" gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
zylla
iya El, iya. kamu aja yang bener.
2025-02-04
0
zylla
kalo suka ya ngaku aja, El 🤭
2025-02-04
0
🍒⃞⃟🦅🟡Rivana84
/Facepalm//Facepalm/
2024-11-23
0