"Clare, apakah kamu mendengarku? You're not dead, are you?" Nada bicara Sophia sedikit merengek.
Clarish yang setengah sadar di kursi kemudi, mengerang kecil. Seluruh tubuhnya sakit. Karena ia hanya fokus melindungi Sophia dan mobil yang dikendarai, ia tidak punya waktu untuk melindungi dirinya.
Jadi mau tidak mau, Clarish harus menahan sakit dari segala benturan.
Clarish mencoba untuk mengucapkan sesuatu, tapi agak sulit. "Baiklah." Hanya itu yang bisa dia katakan.
Namun Sophia sedikit tenang ketika Clarish masih menjawabnya. Bagus, bagus. Gadis ini masih hidup. Ia mencoba keluar dari mobil meski tubuhnya gemetar dan lemas. Ia harus memeriksa ke jalan raya.
"*Wait here, I'll be right back*!"
Untungnya medan tidak terlalu miring sehingga Sophia bisa sampai ke atas dengan cepat. Sesekali ia akan jatuh bangun karena tidak bisa berjalan seimbang. Belum lagi karena ia memakai gaun yang terbuka, tubuhnya kedinginan ketika angin berembus.
Kondisi di jalanan justru tidak seperti yang dibayangkan. Tidak ada api yang berkobar atau cahaya terang aneh apa pun. Hanya dua mobil hangus yang masih mengeluarkan kepulan asap.
"Terkutuk lah orang-orang jahat itu. Kenapa mereka suka sekali untuk menggangguku?"
......................
Di sisi lain, Elnathan yang sedang menuju ke tempat Sophia berada, sempai mendatangi bar bawah tanah. Tapi tidak menemukan keberadaan adiknya. Ia mengerutkan kening.
Dan Armen yang masih ada di sana, sedikit berkeringat dingin.
Elnathan terkenal kejam di kalangannya sengaja mafia. Ia pasti membawa pistol sepanjang hari bulan?
"Dia sudah pergi?" Elnathan merasa agak aneh.
"Ya, keduanya pergi setelah memenangkan taruhan. Aku bahkan telah kehilangan uang lebih dari setengah milyar dolar!" Armen merasa sakit hati.
Uang yang banyak ini, bagaimana dia akan menjelaskan semua pada orang tuanya.
Elnathan berpikir jika Sophia dan Clarish akan kembali setelah menguji mobil Lamborghini yang didapatnya dari hasil taruhan. Ini sudah cukup lama dan keduanya belum kembali.
Apakah mereka pulang dan mengambil jalan memutar?
"Tuan Nathan datang untuk menjemput keduanya?" tebak Armen.
Elnathan mengangguk. Jika keduanya sudah pulang, harusnya berpapasan dengannya di perjalanan.
Elnathan meminta anak buahnya untuk menghubungi pengawal di sisi Sophia. Tapi setelah beberapa kali mencoba menelpon, ponsel pihak lain tidak bisa aktif.
Kali ini Elnathan memiliki firasat buruk. Anak buahnya tidak akan begitu lancang mematikan ponsel. Jadi kemungkinan terbesarnya pasti ads yang salah.
"Ayo pergi!"
Elnathan meninggalkan bar bawah tanah dengan langkah lebat. Armen kebingungan. Pria itu tampaknya mengkhawatirkan sesuatu.
"Yang tadi itu adalah tuan muda Deminthor kan?" tanya salah satu rekannya.
Armen mengangguk. "Ya, benar. Jangan memprovokasi dia di masa depan jika masih menyayangi nyawamu sendiri.
Sementara itu di luar bar, Elnathan sudah ditunggu oleh para pengawalnya yang lain.
"Bos, menurut saksi mata, ada ledakan cahaya yang tak jauh dari sini. Apakah kita perlu memeriksanya?"
Ekspresi Elnathan tenggelam. "Pergi dan periksa! Cepat!"
Elnathan masuk mobil dan segera meninggalkan kawasan bar bawah tanah tanpa ragu sedikit pun.
......................
Sophia belum tahu jika Elnathan sedang mencarinya saat ini. Dia sibuk memeriksa mobil pengawal, para bodyguard sudah tergeletak di mana-mana.
Semua mobil pengawal milik keluarga Deminthor benar-benar rusak. Namun semua pengawal masih hidup. Ini mungkin merupakan berkah tersembunyi.
Sophia yang kebingungan hanya memikirkan kakaknya saat ini. Dia harus menghubungi kakaknya.
Ponselnya sendiri rusak. Jadi dia mencoba mencari ponsel milik salah satu pengawalnya.
Tepat ketika dia mencari ponsel, beberapa mobil hitam yang dikenal Sophia melaju dan berhenti tak jauh dari lokasi kejadian.
Sophia senang saat melihat pria jangkung berpakaian kantoran keluar mobil.
"Kakak! You finally came. Tahukah kamu betapa luar biasanya malam ini!" Sophia mulai cerewet.
Elnathan adalah pria jangkung berwajah tampan dengan garis rahang tegas, tatapan mata seperti elang dan bibir tipisnya yang menawan. Bahkan Sophia sendiri hanya setinggi bahunya ketika tidak memakai high heels.
Ia menatap adiknya yang sedikit pucat, rambut agak acak-acakan tapi tidak ada luka. Hanya lecet kecil di lengannya.
Untungnya dia baik-baik saja. Batu besar di hati Elnathan akhirnya terangkat.
"Kenapa kakimu gemetar?" tanyanya datar.
Sophia tanpa sadar melihat kakinya yang gemetar. "Oh ... Mungkin, mungkin terlalu syok."
Elnathan tidak menimpalinya. Sophia langsung teringat dengan Clarish yang masih ada di bawah.
"Wait here. Aku akan mengeluarkan temanmu dari sana.”
Sophia tidak bersikeras lagi. Sudah bagus kakaknya datang. Ia tidak bisa mengeluarkan Clarish sendiri dari bawah sana.
Langkah kaki Elnathan tidak cepat atau lambat. Dia segera menghampiri mobil Lamborghini yang tersangkut di batang pohon.
Kondisi badan mobil sedikit rusak. Elnathan tidak mempertanyakan kondisi mobil yang terlihat hanya terkena benturan beberapa kali. Ia segera membuka pintu mobil, melihat gadis yang setengah sadar di kursi pengemudi.
"Clare?" panggilnya.
Clarish hanya mengerutkan kening. Matanya masih terpejam tapi sayup-sayup mendengar seseorang memanggilnya. Ia mencoba untuk membuka mata, tapi sulit.
Pada akhirnya, Clarish hanya merasa tubuhnya dibawa keluar dari dalam mobil. Karena kakinya sedikit terjepit, ia mengerang kesakitan.
Elnathan menghentikan gerakannya. Lalu dia pergi ke atas dulu untuk mengambil sesuatu dari bagasi mobil. Baru kemudian kembali.
"Tahanlah sedikit," ujarnya pelan.
Elnathan tidak datang sendiri melainkan bersama salah satu anak buahnya. Kedua pria itu membantu mengeluarkan kaki Clarish yang terjepit. Perlahan-lahan, namun penuh kehati-hatian.
Akhirnya, setelah kaki gadis itu berhasil terbebas, Elnathan membopongnya ke atas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian.
Apa yang terjadi di jalan malam itu, tidak bisa disembunyikan sama sekali. Kerusakan pada sekitar tidak kecil. Terutama banyak pohon tumbang seperti dipatahkan oleh sesuatu yang besar. Bukan hanya itu, empat mobil yang terbakar dan hangus, memiliki korban.
Namun, pihak kepolisian tidak bisa memastikan penyebab pasti kematian mereka.
Ada saksi mata yang mengatakan jika mereka melihat cahaya yang sangat terang di kejauhan. Sebelum akhirnya menghilang. Kemudian terdengar ledakan.
Clarish dan Sophia yang juga berada di tempat kejadian, juga di interogasi. Sayangnya, Clarish tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ia hanya bisa berbaring dan setengah bersandar di ranjang rumah sakit.
"Clare, polisi memberiku banyak pertanyaan. Tapi jangan khawatir, aku sangat pandai mengatakan beberapa hal." Sophia diajar oleh Elnathan untuk tidak menceritakan apa yang terjadi secara menyeluruh.
"What did you say?"
"Katakanlah bahwa kita sedang menuju jalan pulang, lalu bertemu beberapa mobil yang terlibat perkelahian."
Entah kenapa, polisi tidak meragukannya. Tidak ada satu pun orang aneh hidup di dalam mobil itu. Belum lagi, mobil Lamborghini yang dikendarai Clarish juga menjadi korban.
Polisi menganggap jika keduanya beruntung masih hidup.
Clarish menyentuh kepalanya yang diperban tebal. "Lalu bagaimana dengan mobil itu? Belum dibuang kan?" tanyanya agak sedih.
Tanpa diduga, Sophia marah saat mendengar hal itu. Dia menjewer telinganya.
"Kamu benar-benar si*lan, Clare! Apakah mobil itu begitu penting?" Ia setengah berteriak.
"Money is everything. Mobil itu mahal," jawabnya polos, sedikit meringis karena telinga dijewer cukup keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
🍒⃞⃟🦅🟡Rivana84
mngkin cuma Sophia yg berani jewer telinga nya Clare deh/Facepalm//Facepalm/
2024-11-15
0
Fifid Dwi Ariyani
truscetia
2024-02-04
0
Lia muttaqin
money is everything ..😎👍👍
2024-01-25
0