Sementara itu di suatu tempat yang terpencil, Damon masih memulihkan semua luka-lukanya. Ia benar-benar mengalami cedera yang tidak ringan setelah bertarung dengan gadis itu.
Beberapa anak buahnya yang lain juga khawatir tentang bosnya.
"Bos, kenapa tidak memanggil kami malam itu untuk membantu?" tanya salah satu dari mereka.
Damon dalam suasana hati yang buruk saat ini. Beberapa kali terlihat percikan listrik di tubuhnya sehingga anak buahnya tak berani membantu mengobatinya. Mereka khawatir tersengat.
"Kupikir pihak lain bukan sesuatu yang harus dipusingkan. Tapi aku tidak tahu jika gadis itu sangat kuat."
Damon terbatuk lagi dan kali ini batuk darah. Cedera internalnya harus segera diobati, jika tidak, ia mungkin akan mengalami kecacatan aura.
"Apakah kalian menemukan seorang esper dengan kemampuan vitakinesis?" tanyanya.
Mereka menggelengkan kepala. "Bos, orang dengan kemampuan pengobatan sangat jarang. Kami bahkan tidak bisa menemukannya di ibu kota."
Damon terdiam. Ia diberi tugas oleh pemimpinnya sendiri untuk datang ke sini dan mencari beberapa bakat untuk dibawa. Akan bagus jika ada esper dengan bakat pengobatan. Kelompok dark esper sangat mementingkan bakat ini.
Ia pun mengeluarkan bola kristal seputih susu dari saku jaket dalamnya dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu.
"Beberapa di antara kalian, pergilah ke dermaga untuk mengantarkan barang ini. Aku akan mengirim pesan pada seseorang untuk menjemputnya di sana. Ingatlah untuk pergi melalui hutan dan jangan sampai bertemu siapa pun."
"Apakah kami harus mengantarkannya sekarang?"
Damon menggelengkan kepala. "Mari antarkan beberapa hari lagi setelah situasinya aman."
ia juga harus memastikan jika gadis itu tidak akan datang menyerangnya lagi dalam waktu dekat. Barulah dia bisa yakin dengan keputusannya.
Mungkin, tuannya akan sangat senang dengan informasi ini. Gadis itu memiliki bakat langka. Dia curiga jika pihak lain mungkin seseorang yang selama ini tuannya cari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga hari kemudian, seperti yang dikatakan Callie, Clarish memang telah sembuh total. Dia kembali seperti kondisi sebelumnya, lalu makan dan minum sepuasnya.
Sebelum akhirnya Callie segera memintanya pergi karena dia sendiri harus pergi bekerja.
Clarish tanpa malu mengosongkan isi kulkas sebelum pergi. Rupanya ia mengambil semua yogurt tanpa terkecuali. Ini membuat Callie ingin memukul orang.
"Gadis tak kenal aturan! Aku tidak akan membiarkanmu datang lain kali!" Callie menutup pintu kulkas dengan marah.
Sementara itu, Clarish yang dimarahi Callie diam-diam sudah sampai di rumah keluarga Deminthor. Kembalinya gadis itu membuat Kendrick lega.
"Kamu pergi begitu lama. Apa yang kamu lakukan, Nona Clarish?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, diajar saudara perempuanku."
"Dokter Callie memang kelihatan cukup galak," gumam Kendrick.
Clarish tidak mengatakan apa-apa.
"Nona muda sudah lama menanyakanmu. Dia hampir kesal sampai mati karena tidak diizinkan keluar kamar oleh tuan muda. Pergilah dan hibur dia."
Kendrick merasa telinganya mati rasa setiap kali memasuki kamar Sophia. Wanita itu mengomel sepanjang hari.
"Baiklah. Lalu di mana tuan muda?"
"Di ruang belajar, mengurus urusan perusahaan meski kondisinya kurang sehat."
"Apakah dia sakit?"
"Baiklah, tiba-tiba sakit. Hal normal. Dia juga mabuk sebelumnya."
Clarish tidak terkejut jika Elnathan menyentuh alkohol saat tubuhnya terluka. Kebiasaan ini sepertinya sudah berkembang sejak lama. Namun mungkin jarang diperlihatkan kepada orang luar.
Ia pergi menemui Sophia lebih dulu. Wanita itu cerita tentang betapa jelek dan cemburunya kekasih Lisardo hingga berani meracuninya.
Sophia tidak tahu jenis racun apa yang masih ke tubuhnya. Namun setelah disuntik racun itu, tubuhnya kesakitan. Kakaknya berkata, untuk mengeluarkan racun tersebut, ia bahkan memanggil dokter spesialis. Obatnya bahkan juga mahal.
Jadi Sophia dianggap buang-buang uang oleh Elnathan.
Tapi Clarish tahu jika ini adalah rasa sayang pria itu pada adiknya.
"Sayangku, ketika aku bangun, kamu bahkan tidak ada di sampingku. Aku sangat kecewa. Tapi kakak bilang jika kamu masih di rumah sakit. Aku lupa jika kamu parah tulang kaki sebelumnya."
Alasan ini bagus, batin Clarish.
"Lalu bagaimana dengan kakimu sekarang?"
"Sudah tidak apa-apa."
"Baguslah, bagus. Tapi ... Apakah patah kaki memang sembuh secepat itu?"
Sophia kebingungan. Ia melihat jika Clarish sama sekali tidak berjalan pincang. Tidak ada perban di tubuhnya. Bekas luka bahkan tidak ada. Gadis itu berjalan dengan santai seolah-olah baru saja bangun tidur pagi ini.
Clarish memikirkan alasan lain. "Tidak, tubuhku hanya lebih istimewa. Dokter berkata bahwa semuanya normal."
"Kalau begitu aku juga memeluknya tanpa khawatir menekan lukamu." Sophia langsung memeluknya seolah-olah Clarish adalah boneka beruang.
"... Lepaskan!"
"Tidak!"
Lebih baik tidak masuk ke sini sebelumnya, pikir gadis itu.
Setelah berhasil lepas dari cengkeraman Sophia yang lengket, Clarish meninggalkan kamar wanita itu. Dia belum melihat tanda-tanda Elnathan keluar ruang belajar. Sehingga ia berani mengetuk pintu.
Namun salah satu pelayan yang lewat berkata jika tuan muda pergi ke ruang olahraga. Jadi Clarish datang ke sana.
Benar saja, pria itu ada di sana, berjalan di treadmill dengan kecepatan yang lumayan. Memakai celana selutut dan bertelanjang dada, keringat memenuhi tubuhnya.
Ternyata benar apa yang dikatakan Callie sebelumnya. Ada banyak bekas luka di tubuh pria itu. Dulu, Clarish bahkan tidak repot-repot memperhatikannya. Lagi pula, itu urusan pria.
Mengetahui jika seseorang datang, Elnathan tidak peduli. Tapi ketika orang itu tampaknya tidak berniat masuk sama sekali, ia kesal.
Awalnya Elnathan ingin marah-marah karena suasana hatinya sedang tidak mood untuk apa pun. Saat menoleh, ia melihat Clarish hanya linglung di sana.
Elnathan turun dari treadmill dan mengambil handuk kecil, mengelap keringat di wajahnya.
"Kenapa kamu tidak masuk?" tanyanya masih dengan nada dingin biasanya.
Clarish akhirnya tersadar dari pikirannya dan melangkah maju. Wajahnya sedikit panas.
"Kendrick bilang bahwa kamu tidak enak badan akhir-akhir ini? Apakah Tuan Muda sudah minum obat?"
"Tidak apa-apa, hanya sakit ringan di hari kerja." Elnathan tidak terlalu memikirkan hal ini.
Bukankah karena gadis itu juga dia menjadi seperti ini? Namun Elnathan tidak mengungkapkannya. Dia terbiasa menyembunyikan perasaan terdalam di hatinya.
Elnathan memperhatikan jika Clarish sudah sembuh seperti sedia kala. Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya sakit sama sekali. Ini sangat kontras dengan apa yang dilihatnya tiga hari lalu.
Tiba-tiba saja Elnathan batuk beberapa kali hingga wajahnya sedikit pucat. Ia terhuyung sedikit.
Clarish buru-buru menahan tubuhnya dengan ekspresi khawatir. "Tuan Muda, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Elnathan yang hanya pura-pura pusing menggelengkan kepala. Sentuhan dari kulit ke kulit membuat tubuh Elnathan mati rasa. Dia mencoba berusaha keras untuk menahan godaan liar di kepalanya.
Pada akhirnya, Elnathan hanya memejamkan mata untuk menenangkan pikiran itu. Tapi di mata Clarish, Elnathan sedang kesakitan.
"Aku akan membantumu kembali ke kamar," kata gadis itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Diah Susanti
ponakan aq yang umur 3 thn juga suka yogurt,
2024-12-27
0
risa nisa
bisa ae tuan muda 🤣
2024-09-05
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-02-04
0