Kendrick pergi untuk mencari tahu alamat rumah Callie saat ini. Dan itu membutuhkan kurang lebih setengah jam untuk mengetahuinya. Bukan karena tidak mampu, tapi pihak lain sepertinya sengaja menghindari banyak pengawasan.
"Bos, sulit untuk menemukannya." Kendrick memberi tahu Elnathan.
"Bagaimana dengan pelacakan sinyal ponsel?"
"Aku akan meminta seseorang untuk mengetahui hal ini. Tapi pasti tidak akan mudah melacaknya."
"Biarkan tim kita untuk melacaknya. Aku ingin hasilnya segera," ucap Elnathan agak tidak sabar.
Kendrick mengangguk dan kembali sibuk lagi. Butuh waktu lebih dari satu jam bagi mereka untuk mencari tahu. Ponsel zaman sekarang dilengkapi dengan sistem pengamanan tinggi dari pabriknya.
Untungnya, mereka benar-benar menemukan jejak Clarish dari pelacakan sinyal ponsel baru yang sebelumnya diberikan oleh Elnathan.
"Saat ini, dia diketahui berada di jarak yang cukup jauh dari ibu kota. Harusnya ada di sisi ibu kota ..." Kendrick kurang yakin. "Apakah ingin seseorang memeriksa tempat itu dulu?"
"Tidak perlu." Elnathan sudah berpakain lengkap dan bersiap pergi.
Tentu saja jika Elnathan pergi, Kendrick harusnya pergi. Tapi kali ini, Sophia tidak ada yang menjaga jadi Kendrick tetap di rumah untuk mengawasi.
Rumahnya dijaga lebih ketat dari sebelumnya. Meski Elnathan yakin Lisardo tidak akan bergerak dalam waktu dekat, dia harus waspada.
"Jika ada sesuatu, hubungi aku," katanya.
"Ya, Bos."
Elnathan pergi dikawal oleh bodyguard nya menuju alamat rumah Callie.
Rupanya, wanita itu tinggal di perumahan sepi penduduk. Sedikit jauh dari perkotaan tapi juga tidak tinggal di pedesaan. Intinya, sangat tenang untuk beristirahat.
Setibanya di sana, Elnathan menekan bel rumah. Awalnya tidak ada pergerakan hingga ia menekan bel rumah lagi.
Di dalam rumah, Callie yang tengah sibuk meracik obat di rumah kerja pun terkejut. Dia memeriksa monitor kamera pengawas yang terpasang di depan teras.
"Kenapa dia menemukan tempatku?" tanyanya agak terkejut.
Mungkinkah Clarish meninggalkan jejak hingga pria itu berhasil menemukan rumahnya?
Walau pun Elnathan merupakan seorang mafia, kemampuannya tidak akan begitu hebat hingga menemukan tempat tinggalnya bukan?
Rumah ini bahkan dipilih organisasi untuk peristirahatannya setelah lelah bekerja. Di sisi lainnya juga untuk menghindari pelacakan yang tidak perlu.
Tanpa diduga, Elnathan juga melihat ke arah kamera pengawas. Callie seperti tidak bisa lagi bersembunyi dan bangkit untuk membuka pintu. Pria itu tampaknya tidak dalam suasana hati yang baik.
Mungkinkah kelainan Clarish diketahui olehnya?
"Sungguh merepotkan."
Kondisi Clarish belum membaik saat ini. Bukan hanya itu, bahkan belum ada perubahan meski bercak ungu kehitaman di kulitnya sudah banyak memudar.
Namun karena ini, gadis itu harus diinfus oleh obatnya sendiri agar tidak kelaparan. Berat badannya sudah banyak turun.
Ketika membuka pintu, Callie sedikit tidak senang.
"Apa yang membuatmu datang ke tempatku? Mungkinkah kamu butuh obat? Keracunan?" tebaknya asal.
"Di mana Clarish?"
"Kamu ke sini hanya untuk menanyakan dia?"
"Katakan saja di mana dia?"
"Tentu saja di sini. Masuklah." Callie bukan orang bodoh. Pria itu hanya datang untuk Clarish. "Sebenarnya apa yang membuatmu begitu peduli padanya? Bukankah dia hanya teman adikmu? Ekspresimu berlebihan, seperti pacar tua."
Elnathan menjilat bibirnya yang agak kering. "Apakah aku begitu tua?"
Bukankah kamu harusnya sadar diri tentang perbedaan usia? Batin Callie.
"Aku bahkan dua tahun lebih muda darimu. Berapa usia Clare saat ini? Bukankah jelas?"
Elnathan tidak menjawab. Ia memikirkan masalah ini lagi. Tapi, apakah usia begitu menghalanginya?
"Bagaimana kamu menemukan tempatku?" tanya Callie pensaran.
"Clarish membawa ponselnya, bukan?" Elnathan justru bertanya balik.
Callie mengangguk. "Mungkinkah kamu melacaknya dari ponsel?"
"Ya."
"Tidak heran. Kenapa tidak minum teh dulu dan mengobrol?"
Callie ingin menawarinya minum teh atau sesuatu tapi Elnathan menolak. Ia hanya ingin tahu tentang kondisi Clarish saat ini.
"Kenapa terburu-buru, duduklah dan minum sesuatu. Gadis itu tidak akan lari ke mana pun. Lalu bagaimana dengan kondisi adikmu saat ini?"
"Terima kasih, berkatmu, adikku bisa selamat dari kematian."
"Sepertinya kamu tidak terkejut saat tahu bahwa saudara perempuanku bukan orang biasa. Apakah kamu membiarkan dia dekat dengan adikmu hanya karena kemampuan spesial nya?" Callie bertanya dengan tatapan menyelidik.
Jika keluarga Deminthor hanya membiarkan Clarish berteman dengan Sophia untuk menjadi pelindung gratis, maka ia tak bisa terima. Ia tidak ingin Clarish dimanfaatkan kemudian dibuang ketika tidak dibutuhkan.
"Itu salah satu alasan tapi aku tidak sekejam itu." Elnathan tidak mengelak.
"Kamu—"
Elnathan menukas sebelum Callie memarahinya. "Jika dia orang biasa dan dibiarkan berteman dengan Sophia, maka nyawanya dalam bahaya. Musuh-musuh ku tidak akan berbelas kasihan. Aku tidak ingin Sophia menjadi trauma lagi karena temannya menjadi korban lagi dan lagi."
Callie terdiam.
Elnathan akhirnya duduk dulu untuk menceritakan masa lalu. Callie pun menyajikan teh untuknya sebagai bentuk kesopanan menjamu tamu.
"Tidakkah kamu menyembunyikan urusan adikmu dariku? Kenapa kamu begitu percaya diri untuk menceritakan adikmu padaku?" Callie merasa heran.
"Cepat atau lambat kalian mungkin bertemu satu sama lain. Dan kamu juga kakak perempuan Clarish, tidak masalah."
Sophia, sejak kecil bukan gadis kecil yang periang. Setiap anak seusianya yang berteman dengannya, pasti akan mengalami bencana. Entah itu diculik untuk mengancam keluarga Deminthor dan sebagainya.
Karena itu, lambat laun, orang tua yang tahu bahwa anak mereka mulai berteman dengan Sophia, pasti akan langsung memutuskan hubungan. Mereka akan menjauh seolah-olah Sophia adalah penyebab bencana.
Keluarga Deminthor tidak tahan dengan putri mereka yang murung dan enggan pergi ke sekolah. Elnathan sebagai kakak laki-laki juga tidak tahan melihatnya.
Kemudian, ayah mereka mendapat informasi jika ada sebuah panti asuhan yang dibentuk oleh organisasi misterius. Panti asuhan itu tidak bisa disentuh oleh musuh mereka karena alasan tertentu.
Karena itu, orangtuanya mengajak Sophia dan Elnathan ke panti asuhan, bertemu dengan pengurus di sana.
Ternyata panti asuhan itu sangat miskin karena organisasi misterius hanya membuat izin serta melindungi keselamatan mereka. Tapi tidak memberikan modal untuk membiayai anak-anak.
Alhasil, banyak anak-anak tidak memiliki pendidikan sekolah.
"Kamu juga tahu bahwa keluargaku sebenarnya mampu untuk menyekolahkan semua anak di panti asuhan itu. Tapi apakah kamu tahu kenapa kami tidak melakukannya?" Elnathan mendesah pelan.
Callie menebak. "Mungkinkah karena keluargamu khawatir anak-anak di panti akan menjadi sasaran musuhmu juga?" tebaknya.
"Itu benar. Karena itu, kami hanya bisa memberikan sedikit dana dari tahun ke tahun dan mendatangkan beberapa guru untuk mengajar mereka di panti asuhan."
Clarish adalah salah satu dari anak panti yang belajar mandiri. Dia termasuk anak yang pintar sehingga beberapa guru bahkan jarang memberinya pelajaran dari buku biasa.
Pertama kali ketika Elnathan melihat Clarish mungkin saat kunjungan ke beberapa kali bersama orang tuanya.
Kala itu, ia melihat Sophia tampak penasaran dengan Clarish yang tampak malas dan tidak suka berbaur dengan anak-anak lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabsr
2024-02-04
0
dita18
😂😂😂kalo u/ seusia Clarish kmu memang sdh tua Elnathan🙈😅
2023-12-07
2