Sophia benar-benar tidak tahan. Sia-sia dia mengkhawatirkannya selama beberapa hari terakhir. Gadis itu hanya khawatir dengan mobil yang rusak!
Namun Sophia juga tidak tahu tentang nasib Lamborghini hasil taruhannya dengan Armen. Elnathan yang mengurus semuanya.
Bahkan ketika Clarish belum siuman hari itu, Armen datang untuk menyerahkan surat-surat pengalihan kepemilikan. Dan Elnathan pula yang mengurusnya.
"Aku akan bertanya pada kakakku nanti," katanya. "Lagi pula, kenapa kamu begitu khawatir dengan mobil itu? Kamu bisa membeli yang baru jika menginginkannya, bukan?"
"Tidak apa-apa. Hanya aku cukup menyukai mobil itu. Jika hilang maka hilang. Aku minta maaf pada tuan muda Armen karena masalah ini."
Sophia memutar bola matanya. "Tidak perlu meminta maaf padanya."
Menurut Sophia, Armen suka sekali menghamburkan uang. Tidak tahu berapa banyak uang yang melayang ke kantor banyak pihak termasuk pada para wanita yang dikencaninya. Ia pun tak terkecuali.
Memikirkan masa-masa itu, Sophia mendesah. Lupakan saja. Hubungan lama hanya kenangan yang tidak menyenangkan.
"Rumah sakit ini mahal. Who pays the fees?" tanya gadis itu lagi.
"... Tentu saja kakakku. Perawatan yang mahal juga merupakan yang terbaik. Aku tidak mungkin membiarkanmu berada di bangsal umum yang penuh sesak."
"Apakah ada diskon?"
"Tidak ada sayangku! Ini bukan Mall, ini rumah sakit. Apakah begitu manusiawi ketika seseorang meminta diskon untuk merawat diri mereka sendiri? Kamu bukan barang!"
Sophia menghela napas lagi. Benar saja, gadis itu sangat pelit. Kejadian itu terjadi karena dirinya. Keluarga Deminthor bukan orang jahat yang memeras rasa sakit orang lain.
Ketika orangtuanya tahu bahwa dia diburu lagi oleh musuh keluarga, mereka hampir ingin kembali dari luar negeri. Untungnya Elnathan menahan mereka, menjelaskan semuanya.
"Kamu istirahat saja yang baik. Lukamu tidak ringan. Setelah sembuh, aku akan mengantarmu mendapatkan SIM."
Sophia benar-benar khawatir jika gadis itu mengendarai mobil tanpa surat izin. Belum lagi, Clarish mahir mengemudikan mobil sport, jadi dia tidak akan khawatir di masa depan.
Clarish hanya mengangguk.
Pintu ruang rawatnya tiba-tiba saja dibuka. Keduanya melihat Elnathan masuk.
"Kakak, kamu di sini," ujar Sophia.
Elnathan datang dan memanggilnya Sophia keluar. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan adiknya. Sophia pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata pada Clarish.
Kali ini, bangsal VIP terlihat jauh lebih tenang. Clarish tidak bisa menggunakan kemampuan penyembuhannya sendiri secara tiba-tiba. Khawatir akan membuat dokter curiga dengan kelainan tubuhnya.
Karena bosan, dia menyalakan televisi.
Hanya berselang seperempat jam, Elnathan masuk sambil memegang nampan berisi sup kacang hijau dan potongan buah di mangkuk.
Clarish sedikit terkejut ketika melihatnya, lalu segera memalingkan wajah.
"Tuan Muda," ujarnya.
Elnathan hanya mengangguk. Dia sebenarnya akan lebih senang jika Clarish tidak terlalu sopan dengannya. Tapi ia sendiri tidak pandai bicara atau menyenangkan lawan jenis.
"Makanlah ini dulu. Makan siang masih cukup lama. Dokter tidak mengizinkanmu untuk makan sesuatu yang pedas." Elnathan duduk di kursi, meletakkan nampan di meja samping.
"Thank You." Clarish tidak sopan dengan ini.
Elnathan menyerahkan mangkuk berisi bubur kacang padanya. "Apakah tanganmu baik-baik saja? Perlu kubantu?"
"Tidak, tidak apa. My hand is fine." Clarish segera menggeleng dan mengambil mangkuk dengan cepat. Wajahnya sedikit memerah.
Pria itu hanya tersenyum ringan, tidak berdebat dengannya. Melihat Clarish mulai makan, ia bisa santai.
"Terima kasih untuk kali ini. Jika bukan karena kamu, adikku yang nakal itu mungkin sudah lama disandera."
Mendengar perkataan Elnathan, Clarish sedikit menegang. Lalu sebagai lagi.
"It is nothing. Sudah seharusnya aku melakukan itu. Terima kasih karena sudah membiarkanku dekat dengan Sophia."
"Adikku sedikit keras kepala dan ceroboh. Kuharap kamu lebih bersabar dengannya. Omong-omong juga, terima kasih untuk malam itu karena menyelamatkanku," jelasnya.
"Malam itu?" Clarish sedikit bingung. Lalu ia ingat, mungkinkah malam saat dia menyelamatkannya di gedung terbengkalai?
Jadi, Elnathan tahu itu adalah dia.
Bukannya Clarish tidak menyadari perkataan Elnathan yang sedikit memberi isyarat, hanya saja dia tidak mau mengakuinya.
Sebagai seorang esper, Clarish selalu berhati-hati dalam setiap tindakan yang dilakukan. Secara alami, ia hanya diam-diam mengambil tembakan supernatural. Terutama saat berada dalam bahaya.
Ia tidak percaya jika Elnathan tidak tahu. Pria itu mungkin hanya tidak ingin membahasnya secara langsung.
Sedikit malu dan bingung harus menjawabnya bagaimana, Clarish hanya memberinya saran.
"lain kali, bawalah asistenmu untuk bepergian. Dia masih bisa diandalkan."
Karena setahu Clarish, asisten sekaligus kepercayaan Elnathan—Kendrick Isarius, juga seorang esper. Hanya saja kemampuannya diasah secara mendalam sehingga hanya tahu beberapa trik.
Meski demikian, Kendrick pasti menggunakan kemampuannya untuk membantu Elnathan selama ini.
"Aku tahu." Elnathan mengangguk.
Akhir-akhir ini, kelompok Geng Demonic menggunakan berbagai cara untuk menangkapnya. ia tahu mereka memiliki cara yang tidak masuk akal.
Dan Clarish memintanya membawa Kendrick ketika bepergian, sepertinya tebakannya benar.
Tidak banyak pembicaraan di antara keduanya. Setelah Clarish selesai makan bubur kacang, Elnathan mengeluarkan ponsel baru.
"Ponselmu rusak. Gunakan yang ini. Kartunya sudah kupindahkan. Beberapa file juga sudah disalin. Jika sesuatu terjadi di masa depan, langsung hubungi aku."
Clarish mengangguk. Lumayan, ponsel gratis. Dia tidak perlu membelinya. Namun, pikiran itu segera buyar ketika menanyakan sesuatu.
"Ponsel ini ... Tampaknya cukup mahal, kan?"
"Harganya tidak mahal. Aku membelinya dari saldo e-wallet yang kamu punya." Elnathan tertawa ringan saat melihat ekspresi Clarish yang membeku. "Hanya bercanda." Ia mengusap kepala gadis itu.
Clarish mendengkus ringan. Tapi wajahnya memanas. Elnathan yang dia tahu tidak pernah bertingkah seperti ini. Ada apa dengannya?
"Mobil yang kamu dapatkan dari Armen mengalami kerusakan yang cukup parah juga. Tidak bisa digunakan lagi. What are you going to do with it?"
Elnathan tahu jika Clarish adalah seorang pecinta uang.
"Apakah surat-surat pengalihan kepemilikan juga sudah diatasi?"
"Ya. Aku mengatasinya. Armen cukup terkejut ketika tahu mobil itu rusak lalu pergi dengan marah."
Elnathan tidak terlalu senang saat tahu Clarish dan Armen memiliki kontak. Pria itu seorang playboy. Cukup adiknya dulu tertipu. Gadis ini harusnya tidak mudah untuk ditipu.
"Tidak apa-apa. Apakah benar-benar tidak bisa diperbaiki?" Clarish masih berharap.
"Ya, bisa saja sebenarnya. Tapi butuh banyak uang."
"Jika dijual ... how much money?" tanyanya lagi dengan hati-hati.
"Lumayan. Tidak akan rugi." Elnathan menjawab dengan santai.
"Kalau begitu, jual saja."
"That's good." Pria itu seketika mengangguk dan bangkit. "Aku akan mengurus semuanya. Istirahat dengan tenang sampai luka-lukamu sembuh."
Kemudian dia pergi sebelum Clarish mengatakan sesuatu.
Kenapa rasanya ia sedang ditipu? Clarish merasa bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
" sarmila"
selalu top 👍👍👍👍👍😘😘😘😘😘
2024-07-03
0
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-02-04
0
dita18
😂😂😂 ternyata El bisa becanda jg ya 🙈hampir aja Clarish spot jantung gara2 uang😅
2023-12-03
2