Sekarang Sophia sedikit merasa bersalah. Jika diculik, maka culik saja. Jangan libatkan Clarish. Jika sesuatu terjadi nanti dan Clarish menjadi korban, ia benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Ini bukan pertama kalinya dia mengalami penculikan. Tapi setiap kali diculik, kakaknya akan datang menyelamatkan.
Akhir-akhir ini, kakaknya sibuk. Jadi jarang pulang.
Bahkan Sophia tidak tahu jika Elnathan terluka dan hampir saja kehilangan nyawanya saat berada di gedung terbengkalai. Alasan kenapa Elnathan mengizinkannya untuk pergi ke bar bawah tanah, sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian adiknya.
“Hanya ada empat mobil yang mengejar kita? Ini lebih sedikit dari pada saat mereka mengincar kakakku,” ucap Sophia. “Mungkinkah mereka mengira jika kamu mudah ditangkap?”
“Karena aku masih muda, mereka tidak perlu repot untuk mengirim orang berpengalaman.”
“Bagaimana kamu tahu jika mereka tidak berpengalaman? Kamu bahkan belum melihat siapa saja mereka.”
“Intuisi.”
Intuisimu hebat, pikir Sophia kurang percaya.
Kemudian terdengar suara tembakan. Sophia sedikit takut jika peluru akan menembus mobil dan melubangi kepalanya. Namun Clarish masih santai. Ia bahkan tidak terkejut sama sekali.
“Clare, apakah kamu mendengar itu? Mereka menembak mobil kita.”
“Aku tahu. Tembakannya meleset,” jawab Clarish.
Sebenarnya, peluru itu dia belokan ke sisi lain sehingga tidak mengenai badan mobil sama sekali. Yang orang-orang itu incar adalah ban mobilnya.
"Clare, cepat kembali. Anak buah kakakku akan mengurus hal ini."
"Coba kamu hubungi mereka dulu. Apakah masih tersambung atau tidak." Clarish tidak yakin.
Sophia melupakan ketidaknyamanannya ketika mobil melaju sangat kencang. Dia mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi para pengawal yang mengikutinya ke bar sebelumnya.
Namun ponsel pihak lain tidak bisa dihubungi. Kali ini, Sophia memiliki tebakan.
“Mungkinkah mereka membunuh para pengawalku?” tanyanya sedikit sedih.
“Mereka masih hidup,” jawab Clarish.
“Bagaimana kamu tahu mereka masih hidup? Mungkinkah ini intuisimu lagi?” tebak Sophia merasa sedikit terhibur.
Kedua tangan wanita itu sudah lama kedinginan karena takut. Semakin dewasa dirinya, semakin ia tahu betapa pentingnya hidup.
“Ini ramalan.”
Pers*tan dengan ramalanmu, batin Sophia.
"Aku yakin mereka sepertinya sudah menangani anak buah kakakku!"
Melihat Clarish yang tidak memiliki banyak ekspresi, Sophia kesal. "Mungkinkah kamu sudah tahu tentang ini? Serius, bukan ramalan yang kuinginkan."
Gadis yang menyetir itu tersenyum polos. "Menurutmu, apakah para penculik itu begitu bodoh?"
"..." Tentu saja tidak, batin Sophia.
"Jangan khawatir, ini bukan pertama kalinya aku memergokimu diculik oleh mereka."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Clarish masih tersenyum santai. "Dulu aku masih di bawah umur jadi tidak bisa mengambil tindakan kekerasan. Kali ini aku sudah beranjak dewasa, tentu aku akan mengambil tindakan. Don't worry, as long as I live, you won't die."
Perkataan Clarish sedikit sombong ketika mengatakan selama dirinya masih hidup, Sophia tidak akan mati. Tapi ini fakta yang tersembunyi.
Sophia memiliki firasat buruk lainnya ketika mendengar kata-kata itu. Namun sebelum dia mengucapkan sepatah kata pun, Clarish sudah bersiap untuk bertarung di jalanan.
"Pegangan yang erat!" Clarish langsung tancap gas.
Sophia kembali berwajah pucat dan ia merasa gerbang neraka terbuka lebar di depan matanya.
"Clare! You're crazy!!" teriaknya.
Tapi seberapa histerisnya Sophia sekarang, ia tak bisa berbuat apa-apa. Wajahnya sudah pucat. Jalan di depan seperti buram di matanya. Entah itu berbelok atau lurus, kepalanya pusing.
Namun beberapa mobil yang mengejar mereka sepertinya tidak mau menyerah. Hampir mengejar.
"Itu bukan mobil sport atau sejenisnya. Kenapa mereka bisa mengejar kita?" tanyanya dengan suara agak bergetar. Kali ini, tangan dan kakinya dingin.
Clarish hanya memperhatikan mobil di belakang dari kaca spion. Ia tidak menjawab tapi tahu alasannya.
Selain mesin mobil mereka yang dimodifikasi, tampaknya juga ada bantuan misterius. Clarish tidak menduga jika kali ini, orang-orang yang ingin menculik Sophia meminta bantuan dari seorang esper.
"Itu orang-orang esper," gumamnya.
"Huh? What did you say?" Sophia tidak mendengar jelas.
"It is nothing."
Karena itu bukan orang biasa, Clarish juga tidak ragu untuk menyelimuti seluruh badan mobil dan aura supernatural. Ia sendiri merupakan seorang esper.
Di mata orang lain, hanya orang biasa. Bahkan Sophia tidak tahu tentang identitas sejatinya. Namun baginya, Sophia tidak perlu tahu karena bukan seorang esper.
"Bersiaplah," katanya.
"Prepare for what?" Sophia tampak tegang.
Clarish tersenyum dan duduk dengan nyaman. "Tentu saja untuk menguji mobil ini," jawabnya.
Seketika, Clarish memutar setir berulang kali hingga mobil mengeluarkan suara berdecit ketika melakukan belokan tajam.
Tentu Clarish berniat untuk putar balik, menghadapi beberapa mobil hitam yang mengejarnya.
Mengetahui rencana ini, Sophia bahkan lebih tegang kali ini. Ia benar-benar yakin jika ajalnya sudah ada di depan mata.
"Clare, apakah kamu yakin tidak ingin melakukan ledakan bunuh diri?" tanyanya hampir ingin menangis.
"Yakinlah, kita akan baik-baik saja. Sayang sekali, mobil ini mungkin hanya sekali pakai saja."
“Ini bukan waktunya kamu peduli dengan mobilnya, Clare. Apakah mobil ini lebih penting dari pada nyawa kita?” Sophia sangat marah.
“Agak disayangkan saja. Mobil ini bahkan belum sehari aku dapatkan dan surat-surat kepemilikan juga masih berada di tangan mantan pacarmu. Jadi bagaimana mungkin tidak merasa disayangkan?”
Sophia benar-benar ingin menangis dan menamparnya. “Diamlah dan pikirkan cara agar kita bisa selamat!”
Clarish hanya tertawa ringan dan tidak lagi menggodanya. Tentu saja nyawa lebih penting.
Mobil Lamborghini ini sungguh tidak terlalu bagus. Bahkan jika ia sudah menyelimutinya dengan aura supernatural, efeknya tidak terlalu bagus.
......................
Di sisi mobil lawan, apa yang dilakukan Clarish sungguh di luar dugaan. Seorang pria berkacamata hitam yang menyetir mengerutkan kening.
"Apa yang dilakukannya? Apakah ini bunuh diri?"
"Tidak mungkin! Teman dari wanita itu bukan orang biasa. Kita salah informasi!" Orang yang duduk di kursi belakang seketika pucat.
"Ada apa?" tanya si pria yang mengemudi itu.
Pria di belakang hanya menggelengkan kepala. "Seorang Esper. Lebih kuat dariku. Bahkan lebih kuat dari orang-orang yang ada di atasku. Sejak kapan keluarga Deminthor memiliki Esper sekuat ini?!" Dia mengutuk diam-diam, mengucapkan beberapa kata kotor.
"Apa??! Bukankah itu tidak mungkin?!"
"Cepat menghindar! I don't want to die!"
Pria yang duduk di belakang adalah esper dengan kemampuan yang bisa menambah kecepatan. Tapi dia bahkan tidak tahu kemampuan lawan seperti apa. Apa pun itu, jelas lebih kuat darinya.
Namun sayang sekali, mereka terlambat. Ketika mobil Lamborghini yang dikendarai Clarish melaju ke arah mereka, gravitasi di sekitar mereka langsung berubah tajam.
Wajah pria yang duduk di belakang langsung pucat pasi. Ini kekuatan astrokinesis, pengendali gravitasi, elektromagnetik dan radiasi. Ini jelas kekuatan mengendalikan gravitasi.
Seketika, mobil yang ditumpanginya tidak lagi melaju di jalanan, tapi melayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Raisyah Al Lila
keren
2025-01-31
0
Diah Susanti
aq bukan orang yang berpendidikan tinggi, gk ngerti bahasa Inggris/Frown//Frown//Frown/
2024-12-26
0
" sarmila"
selalu ok.n tegan
dan selalu menegang kn👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
2024-07-03
0