Di butik, Shanum duduk merenung di dalam ruangannya. Ia menutup wajahnya, lalu kemudian menangis sesegukkan. Pikirannya tertuju pada ayahnya yang masih berada di rumah sakit.
"Andai saja aku tidak ceroboh, pasti papa tidak akan kembali drop seperti ini. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan," gumam Shanum sembari menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya.
Pandangannya teralihkan pada pintu yang baru saja diketuk. Tak lama kemudian, Arga muncul dari balik pintu. Shanum membuang muka, ia masih marah pada Arga, karena suaminya itu yang memancing pertengkaran hingga akhirnya membuat Pak Bayu mendengar semua pembicaraan mereka.
"Sebaiknya kamu pergi. Aku tidak mau melihatmu!" Shanum mengusir suaminya itu, berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.
Arga mengabaikan ucapan istrinya. Ia melangkahkan kakinya mendekat pada wanita yang saat ini bahkan enggan menatapnya.
"Kabari aku jika ingin pulang. Aku sudah berbicara dengan papa. Dia memintaku untuk membawamu bersamaku nanti," tutur Arga.
Mendengar penjelasan dari sang suami, membuat Shanum pun langsung mengarahkan pandangannya kepada Arga.
"Apakah papa sudah sadar? Bagaimana kondisinya?" tanya Shanum.
"Papa sudah sadar dan kondisinya sudah mulai membaik. Untuk saat ini, mari kita berdamai terlebih dahulu di depan papa. Aku tahu kamu teramat membenciku, tetapi ku harap kamu bisa menahannya dan meluapkannya nanti, setelah papa benar-benar pulih," jelas Arga.
Shanum mengangguk pelan. Ia menuruti ucapan suaminya itu untuk kali ini. Bagaimana pun juga, ucapan Arga ada benarnya. Shanum harus tetap terlihat baik-baik saja dengan Arga agar ayahnya juga merasa tenang.
Setelah mengucapkan semua yang hendak ia katakan. Arga pun melangkah pergi dari ruangan Shanum. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara dari arah belakang.
"Terima kasih."
Arga menghentikan langkahnya sejenak, lalu kemudian berbalik menghadap istrinya.
"Terima kasih karena telah mengkhawatirkan papa," lanjut Shanum lagi.
Arga hanya merespon Shanum dengan menarik segaris senyum di bibirnya. Pria itu pun kembali melangkahkan kakinya, menutup pintu ruangan tersebut.
Shanum benar-benar merasa lega mendengar ayahnya telah siuman. Ia tak sabar ingin pulang dan menemui ayahnya untuk meminta maaf secara langsung.
....
Arga tiba di kantor. Ia pun langsung masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh gadis berparas cantik dan berambut panjang. Gadis tersebut tak lain adalah Tia, yang telah bekerja dengan Arga selama 4 tahun.
"Semua jadwal sudah saya cancel, Pak." Tia berucap setelah Arga duduk di kursi kebesarannya.
"Baguslah. Apakah kamu sudah mengatur ulang semuanya?" tanya Arga.
"Sudah, Pak."
Tia mulai membacakan satu persatu jadwal yang telah ia atur ulang untuk Arga. Pria itu pun mendengarkan secara seksama dan mengangguk paham.
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh kembali ke meja kerjamu!" titah Arga.
Tia menundukkan kepalanya, pamit undur diri dari hadapan atasannya itu. Sepeninggal sang sekretaris, Arga beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap ke jendela kaca yang memperlihatkan suasana jalanan dari atas sana. Ia menghela napasnya, lalu kemudian pandangannya beralih pada cincin nikah yang melingkar di jari manisnya.
....
Siang pun telah berganti sore hari. Shanum memandangi ponselnya. Ia beberapa kali mengetikkan pesan singkat untuk Arga, akan tetapi wanita itu lagi dan lagi menghapusnya.
Jemput aku! (dihapus)
Tolong jemput aku! (dihapus)
Jemput aku, Arga. (dihapus)
Shanum meletakkan kembali ponselnya. Bahkan hanya mengetikkan pesan untuk minta jemput pada suaminya saja ia enggan. Sebenarnya bukan enggan, lebih tepatnya ia bingung.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Shanum melihat kontak dengan nama 'Pria Menyebalkan' tertera di layar ponselnya. Siapa lagi jika bukan Arga. Ia sengaja memberikan nama demikian karena memang sikap Arga sangat menyebalkan.
"Halo," ucap Shanum mengangkat panggilan tersebut.
"Jika sudah selesai, keluarlah! Aku menunggu di depan."
Baru saja Shanum hendak menyahuti ucapan Arga, tiba-tiba panggilan tersebut langsung diakhiri sepihak oleh pria itu. Shanum langsung mendecak sebal sembari memandangi layar ponselnya.
"Pria ini benar-benar ...." Wanita itu menghela napasnya, mencoba untuk tetap bersikap tenang. Apalagi setelah ini ia akan meminta maaf pada ayahnya, yang pastinya harus berdamai terlebih dahulu dengan Arga meskipun itu hanya sesaat saja.
Shanum keluar dari butik. Benar saja, mobil Arga sudah terparkir di depan gedung tersebut. Wanita itu berjalan, mencoba membuka mobilnya. Namun, tampaknya mobil itu masih terkunci dari dalam membuat Shanum mengetuk jendela kaca.
"Ada apa dengannya?" geram Shanum yang tak kunjung direspon oleh Arga.
Wanita itu berjalan menuju pintu di sebelahnya. Arga langsung menurunkan kaca mobilnya saat melihat Shanum melambaikan tangan dari balik kaca tersebut.
"Kenapa belum masuk?" tanya Arga.
Shanum melipat kedua tangannya. Entah mengapa rasanya sangat sulit jika harus berdamai dengan Arga. Sikapnya selalu membuat Shanum naik darah.
"Bagaimana aku bisa masuk jika kamu masih menguncinya dari dalam," ujar Shanum penuh penekanan.
"Benarkah?" Arga berekspresi bak seseorang tanpa dosa. Saat ia menekan tombol yang ada di sampingnya, ia pun langsung tersenyum.
"Maaf, aku lupa membukanya," ucap pria itu sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Shanum mendecih, ia berjalan menuju ke pintu sebelahnya sembari mengoceh, " Ingin sekali aku mencekik pria itu!!" geram Shanum yang kemudian masuk ke dalam kendaraan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
sharvik
shanum bisa kn brsikap msa bodoh sja jka emg msh sgt benci . .tdk perlu ngomel2 entr ujg2 y blang tdk bsa mlupakan
2024-10-19
0
Ani Ani
marah aja lah kamu
2024-04-02
1
Uthie
Benci-Benci tapi rindu nanti 😁😁
2024-03-07
2