Shanum berlari terengah-engah mengejar Arga. Pasalnya pria tersebut dengan sengaja mempercepat lajunya agar Shanum bisa mengejarnya.
"Aku lelah, huh!" keluh Shanum memilih untuk berhenti. Ia mengelap peluh yang ada di kening hingga lehernya menggunakan handuk kecil.
Arga menoleh, melihat istrinya yang sudah tertinggal jauh. Pria itu pun segera kembali untuk menghampiri Shanum.
"Kenapa berhenti?" tanya Arga.
"Aku lelah. Jika kamu mau tetap berlari, silakan saja. Aku ingin pulang!" tukas Shanum dengan napas yang terengah-engah.
"Dasar lemah! Kamu tidak boleh malas, apalagi semalam sudah makan mie instan. Ayo lari dan bakar lemakmu!" ajak Arga sembari menarik tangan Shanum.
Shanum hanya bisa pasrah mengikuti Arga. Ia melirik ke arah tangannya yang digenggam oleh Arga. Entah mengapa ia merasa dejavu. Ingatan tentang dirinya di masa putih abu-abu kembali terulang.
Kala itu Shanum hampir saja terlambat ke sekolah. Namun, dengan cepat Arga mengajak Shanum berlari dan menggenggam tangannya agar mereka dapat melewati gerbang sekolah yang hampir tertutup itu.
Arga beberapa kali membujuk satpam tersebut karena mereka terlambat sepersekian detik saja. Hingga akhirnya, satpam itu pun kembali membuka gerbang tersebut membuat Arga dan juga Shanum berhasil masuk. Disitulah awal dari segala cerita mereka, yang pada akhirnya membuat Shanum pun terkesima dan jatuh hati pada Arga.
"Hei! Kenapa kamu diam saja?" tanya Arga yang langsung membuat lamunan Shanum langsung buyar.
"Hah? Ada apa?!" Shanum balik bertanya. Ia baru sadar saat ini dirinya tengah berada di sebuah warung.
"Aku tanya kamu mau minum apa? Tapi malah diam saja sedari tadi," ucap Arga.
"Aku ... air mineral saja," jawab Shanum.
Saat Arga membelikannya air minum, Shanum merutuki dirinya karena sempat-sempatnya mengingat tentang masa lalu bersama Arga.
"Ayolah Shanum! Kamu tidak boleh mengingat masa lalu. Ingat saja bahwa Arga adalah pria br*ngsek, pria yang pernah menyakiti hatimu," gumam Shanum pelan.
....
Keesokan harinya, Shanum bersiap untuk pergi ke butik. Setelah beberapa hari menikah dan menghabiskan waktu dengan pertengkaran-pertengkaran kecil bersama Arga, membuat Shanum merindukan suasana di butik.
Shanum keluar dari kamarnya. Ia melihat Arga yang juga baru keluar dari kamar dengan mengenakan setelan kerjanya.
"Nanti kamu berangkat bersamaku saja," ujar Arga sembari merapikan dasinya.
"Tidak perlu. Aku naik taksi saja," ketus Shanum yang langsung menuruni anak tangga.
Arga hanya bisa mengendikkan bahunya. Ia pun ikut menuruni anak tangga, menuju ke meja makan untuk sarapan.
Shanum telah menduduki kursinya. Ia mengambil selembar roti dan mengolesnya dengan selai coklat. Wanita itu tak mempedulikan keberadaan Arga di depannya. Arga yang melihat hal tersebut tentu saja ingin mencari gara-gara pada Shanum. Tidak membuat istrinya marah sehari saja, membuat hidup Arga terasa kurang sempurna.
Sembari menyantap rotinya, Arga mengetikkan pesan singkat pada seseorang. Ia tersenyum licik setelah mengirimkan pesan singkat itu.
"Dasar aneh!" cecar Shanum melihat Arga tersenyum. Ia tidak tahu jika senyum Arga tersebut memiliki sebuah arti yang nantinya akan menyusahkan wanita itu.
"Kamu yang lebih aneh, sudah tahu benci tetapi mengajakku untuk menikah," celetuk Arga sembari menyambar secangkir kopi yang menjadi pelengkap sarapannya.
"Atau ... jangan-jangan kamu masih mencintaiku," lanjut Arga.
"Uhukkk ...."
Shanum langsung tersedak saat mendengar ucapan Arga. Ia meraih air minum yang ada di dekatnya untuk mendorong laju makanannya yang tersangkut di tenggorokan.
"Mencintaimu? Hah! Yang benar saja! Aku mau menikah denganmu karena papa yang menjodohkan aku! Lagi pula kita menikah karena suatu syarat, yaitu perjanjian kontrak. Jadi, kamu jangan sama sekali berpikir bahwa aku menikah denganmu karena rasa cinta!" tegas Shanum memberikan jawabannya dengan suara yang cukup lantang.
Brakkk ...
Tak jauh dari sana, terdengar suara benda jatuh. Ternyata, Pak Bayu dan juga Bu Lina sedang berkunjung ke kediaman Arga. Tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan dari kedua pasangan suami istri yang tengah berdebat itu. Membuat Bu Lina tanpa sengaja menjatuhkan kantong plastik berisikan buah-buahan yang ada di tangannya.
"Mama, papa, ...." Shanum dan Arga bergumam saat melihat pasangan paruh yang tak jauh dari mereka memasang wajah syok.
"Apakah kami tidak salah dengar? Jadi, kalian menikah kontrak?" tanya Bu Lina menatap putrinya, seolah menginginkan jawaban langsung dari Shanum.
Shanum hanya bisa menunduk tanpa menjawab. Tentu saja hal itu seakan membenarkan apa yang didengarnya tadi.
Arga menjadi tidak enak pada kedua mertuanya itu. Dilihatnya Pak Bayu tampak kesakitan sembari memegangi dadanya.
"Papa!" seru Arga langsung mendekat ke arah Pak Bayu, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Shanum juga berteriak, ia menangis sejadi-jadinya saat melihat ayahnya kembali drop. Arga langsung mengangkat tubuh Pak Bayu, memasukkannya ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Ani Ani
ITU yang Kau nak kan Ambika lah
2024-04-02
1
M Nabil Anisa
astagah sanum 😥😥😥😯😯😯😯😯😌😌😔😔😔
2023-12-15
1
Desilia Chisfia Lina
nah lo shanum
2023-12-15
1