Suasana di rumah Shanum tampak sangat ramai. Hari ini merupakan hari dimana Shanum akan melepaskan masa lajangnya dan menikah dengan pilihan papanya.
Ada ratusan tamu undangan hadir, menduduki kursi yang telah disediakan. Semua orang yang ada di sana tampak berbahagia dengan hari besar itu. Terlihat senyum merekah dari orang-orang yang ada di sana.
Namun, tidak dengan Shanum. Mata berwarna hazel itu tampak sedih memandangi dirinya di depan cermin berukuran besar. Gaun berwarna putih yang indah berbalut swarovski hasil rancangannya sendiri melekat pada tubuh ramping gadis itu. Polesan make up dari perias terkenal membuat Shanum benar-benar terlihat cantik.
Di balik semua itu, ada hati pilu meratapi nasib yang akan ia jalani ke depannya. Entah bagaimana pernikahannya kelak, pria yang menjadi suaminya adalah pria yang telah menggores luka di masa lalunya.
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan pria paruh baya dengan beberapa helai rambut yang terlihat berwarna perak. Ia tersenyum melihat ke arah putrinya yang begitu cantik di hari besarnya ini. Membuat Shanum pun membalas senyuman itu dengan lebih lebar lagi.
"Putriku benar-benar sangat cantik hari ini," ujar Pak Bayu.
"Terima kasih, Pa. Papa juga terlihat tampan," balas Shanum.
"Tetaplah tersenyum, Pa. Dengan begitu, aku bisa lebih tenang. Meskipun hatiku menolak Arga, akan tetapi jika hal ini membuat papa senang, aku akan menerimanya," batin Shanum.
Di tempat yang sama, Arga tengah berdiri gagah dengan balutan tuxedo berwarna putih. Ia memandang keluar jendela, melihat banyak tamu undangan yang telah berdatangan mengisi kursi yang belum bertuan.
Drrrttt ...
Ponsel Arga bergetar. Ia mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya. Mengusap layar tersebut dan menempelkannya di salah satu daun telinga.
"Ada apa, Bi?" tanya Arga pada seseorang dari seberang telepon.
"Apa? Moza sakit?!" suara Arga terdengar sedikit lantang. Pria itu menyadarinya dan kembali bersuara pelan.
Arga tampak kebingungan. Sesekali memijit keningnya karena mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan itu.
"Apa jangan-jangan Moza hamil? Astaga, ini benar-benar diluar dugaan ku. Dalam hitungan menit aku akan mengucapkan ijab kabul. Bagaimana aku bisa pergi dan meninggalkan pernikahan ini begitu saja," batin Arga berkecamuk.
"Bi, tolong bawa Moza ke rumah sakit terlebih dahulu. Nanti setelah selesai, aku akan segera ke sana."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Arga langsung mematikan ponselnya. Ia kebingungan, di satu sisi Moza adalah suatu hal yang ia cintai. Di sisi lainnya, ia juga harus melaksanakan pernikahan ini.
Pak Dendi memanggil Arga untuk keluar. Itu pertanda acara akan dimulai. Arga pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Ia menatap bilik yang ada di sebelahnya baru saja terbuka. Memperlihatkan wanita yang paling cantik di acara ini tengah keluar bersama dengan ayahnya.
Pak Bayu berjalan menuju ke Arga. Ia pun menyerahkan putrinya pada pria yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai menantu.
"Berjalanlah ke bawah bersama dengan Shanum. Mulai hari ini, papa menyerahkan Shanum sepenuhnya kepadamu," ucap Pak Bayu.
Mendengar ucapan Pak Bayu, membuat Arga merasa mempunyai tanggung jawab yang baru, yaitu Shanum. Gadis yang pernah menjalin hubungan dengannya dulu.
Arga menatap sekilas ke arah wajah cantik Shanum, lalu beberapa detik kemudian pandangannya kembali ke depan.
"Berjalanlah ke bawah. Semua orang sudah menunggu," bisik Pak Dendi, sembari menyentuh pelan bahu putranya.
Kedua mempelai itu pun berjalan menuruni anak tangga. Menuju ke sebuah kursi, tempat dimana ijab kabul akan dilangsungkan. Pak Bayu menduduki kursinya, menjabat tangan Arga untuk menikahkan putrinya itu.
Arga mengucapkan lantang ijab kabul tersebut dengan sekali helaan napas. Para saksi pun mengesahkan pernikahan mereka. Shanum menyambut tangan Arga, yang kini telah menjadi suaminya. Arga mencium kening Shanum, meskipun agak ragu-ragu mengingat tentang perjanjian pra nikah yang diajukan oleh Shanum sebelumnya. Namun, mengingat poin terakhir di perjanjian tersebut, membuat Arga pun tetap menyentuh kening Shanum dengan bibirnya.
Setelah prosesi ijab kabul selesai, mereka pun lanjut ke resepsi. Arga dan Shanum bak raja sehari duduk di atas pelaminan.
Arga kembali mengeluarkan ponselnya. Ia melihat pesan WhatsApp yang belum terbaca.
Moza tidak ingin ke dokter, Tuan.
Setelah membaca isi pesan tersebut, membuat Arga kembali mengusap keningnya. Mustahil ia meninggalkan acara ini dengan kondisi yang ramai seperti ini.
"Ada apa?" tanya Shanum.
"Moza sakit," jawab Arga.
Shanum mengerutkan keningnya. Ia ingin bertanya lebih jauh, siapa sebenarnya Moza. Namun, kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Arga membuat Shanum syok.
"Dia gadis kesayanganku. Sepertinya dia hamil. Ini semua salahku," ucap Arga.
Shanum hanya membeku mendengar penuturan Arga. Jadi, selama ini Arga memiliki seseorang yang dicintainya. Lantas, mengapa ia menikah dengan Shanum.
"Tunggu saja sebentar lagi. Acara tidak akan lama lagi selesai," ujar Shanum.
Arga mengangguk, sembari menunggu acara selesai dengan hati yang berkecamuk. Raganya berada di sini, akan tetapi hati dan pikirannya berada di tempat lain.
Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya acara pun telah selesai. Arga langsung meninggalkan Shanum begitu saja. Sementara Shanum menatap punggung Arga yang semakin menjauh.
"Arga, kamu kembali menyakitiku lagi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Niwayan Padmini
shanum hanya ingin berbakti pd ortunya dg mengorbankan kebahagiaannya,,
2024-08-28
1
Dina Aurelia
arga knp udh py kekasih mau aja dijodohin kshn shanum udh 2 x dsktn...
2024-07-13
0
RossyNara
pak bayu kenapa gak selidiki Arga dulu yang jelas ini sih namanya nyerahin anak gadis nya ke lubang penderitaan.
2024-06-28
0