Pagi ini, Arga dan juga Shanum berjalan menyusuri pesisir pantai. Langkah kaki keduanya terlihat kompak, Shanum tertawa saat ia menyadari bahwa langkahnya dan Arga benar-benar sama.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Kita seperti sedang mengikuti baris berbaris. Langkah yang sama, dan yang maju juga kaki yang sama," jelas Shanum.
Arga tersenyum, " Kamu ada-ada saja."
Shanum memilih untuk menghentikan langkah kakinya. Ia duduk di hamparan pasir tersebut sembari memandangi ombak yang menerjang dari kejauhan sana. Arga yang melihat hal tersebut langsung duduk tepat di samping Shanum.
"Aku senang berada di sini. Meskipun ombak terkesan berisik, akan tetapi aku merasa seluruh bebanku lepas begitu saja," ujar Shanum tanpa mengalihkan pandangannya pada air yang ada di depannya.
"Namun, satu hal yang tidak dapat lepas dari pikiranku, yaitu papa. Aku bersyukur papa bisa pulih kembali setelah mengetahui tentang janji pranikah kita. Namun, ...." kali ini Shanum mengarahkan pandangannya pada pria yang ada di sampingnya.
"Namun apa?" tanya Arga yang merasa penasaran dengan kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut istrinya itu.
"Namun, aku takut papa akan kembali sakit jika aku memutuskan hendak berpisah denganmu," jelas Shanum.
Arga tertegun, ia tak menyangka jika kalimat selanjutnya adalah tentang pernikahan mereka. Arga takut, jika Shanum dengan cepat mengambil keputusan untuk berpisah darinya.
"Kalau begitu, kamu tidak perlu berpikir demikian. Bukankah yang utama adalah kesembuhan papamu?" tanya Arga.
"Memang iya. Aku awalnya menikah denganmu demi papa. Demi memenuhi keinginan papa. Tetapi aku juga masih ragu dengan diriku. Sampai kapan kita harus bersandiwara terus menerus seperti ini," ujar Shanum.
Arga cukup sakit mendengar ucapan Shanum. Ia hanya bisa menekuk bibirnya beberapa detik, lalu kemudian kembali menyunggingkan senyum.
"Sha, apakah saat ini kamu sedang merencanakan perceraian di usia pernikahan yang belum menginjak satu minggu?" tanya Arga sembari terkekeh.
"Ya ... bukan begitu juga. Aku ...."
"Meskipun nanti kamu tertarik dengan pria lain, silakan! Aku tidak akan melarangmu, tetapi ku mohon untuk tidak meminta pisah terlebih dahulu. Aku belum siap, Sha!" ujar Arga memotong ucapan Shanum.
"Aku belum siap jika nanti papamu kembali kambuh karena ulah kita," lanjut Arga.
Shanum mengehela napasnya dalam. "Baiklah, pikirkan masalah ini nanti. Sebaiknya mari kita bersenang-senang," ucap Shanum yang kembali berdiri.
Wanita tersebut meninggalkan alas kakinya, mendekat pada air pantai. Membiarkan kakinya basah diterjang oleh ombak-ombak kecil.
Arga juga beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri Shanum, memercikkan air ke dahi Shanum.
"Arga hentikan!" seru Shanum.
Namun, Arga mengabaikan peringatan dari Shanum. Dan akhirnya, Shanum juga ikut memercikkan air pada Arga. Mereka saling bermain air, baju yang dikenakan pun juga ikut basah.
Saat itu, tawa Shanum yang tak pernah lagi dilihat oleh Arga kini telah kembali. Istrinya itu bahkan memperlihatkan deretan gigi putihnya saat tersenyum. Sungguh manis sekali.
Setelah cukup lama bermain air, mereka pun memutuskan untuk kembali ke resort. Namun, sialnya tiba-tiba kaki Shanum menendang sebuah batu, membuat wanita itu tersungkur jatuh.
"Awww!" Shanum meringis. Ia merasakan perih pada lututnya.
Arga segera menolong Shanum. Melihat kaki Shanum yang mengeluarkan darah, membuat Arga pun langsung merobek baju yang ia pakai saat itu juga, membalutkannya pada luka Shanum.
"Tahan sedikit," ujar Arga saat membalutkan kain robekan bajunya itu.
Shanum cukup terkejut dengan sikap Arga. Baju dengan merk ternama itu harus berakhir menjadi pembalut luka.
"Seharusnya kamu tidak merobek bajumu. Itu kan merk ternama, pasti harganya sangat mahal," ujar Shanum.
"Tidak usah pedulikan tentang itu. Pikirkan saja dirimu dulu," balas Arga.
"Apakah kamu bisa berjalan?" tanya Arga.
Shanum mencoba untuk berjalan, akan tetapi rasa sakit pada kakinya itu membuat Shanum harus berjalan dengan sedikit pincang.
Arga berjongkok di depan Shanum, "Naiklah ke punggungku!"
"Tidak usah, aku bisa ...."
"Tolong, jangan keras kepala."
Mendengar ucapan Arga, Shanum pun langsung naik ke punggung Arga. Sebenarnya ia bisa menahan rasa sakit itu saat berjalan. Hal yang ia takutkan adalah ini. Sesuatu yang selalu Arga perlihatkan pada Shanum, membuat Shanum menjadi salah dalam mengartikannya.
"Kondisikan hatimu, Shanum. Dia juga pernah lebih perhatian dari ini, tetapi masih berakhir menjadi pria yang b*jingan juga," ujar Shanum di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Ponco Martoyo
sweet romantis,mbarai eling jman enom
2025-01-14
1
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
Shanum apa sebab yg kamu amat membenci Arga..Arga kan sudah jadi suami nya kamu.. kasihan juga aku sama Arga
2023-12-30
4