Begitu perasaan tenang membanjiri ku karena ucapan Mas Sam, Aku melepaskan pelukannya. Mata Mas Sam memerah seperti langit jingga yang terang.
Dengan sekali pandang dia mengamatiku, perempuan yang mungkin telah membuatnya kecewa setengah mati andai dia tahu kebohongan yang kusembunyikan selama ini. Tetapi, Mas Sam seolah ingin menangis untukku, di hadapan ku.
"Aku akan ambilkan air minum untukmu," katanya sambil mengusap wajah. "Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya, sebab aku benar-benar tak tahu bagaimana untuk memperbaikinya andai terjadi masalah besar."
Aku melirik sekilas ke arahnya, kemudian mengamati Mas Sam. "Maaf Mas."
Mas Sam hanya berlalu, tak memperdulikan permohonan maaf yang kuucapkan. Ketika Mas Sam pergi dari balik pintu, aku terdiam sambil memandang langit yang gelap, hujan masih terus mengguyur dari atas sana.
"Aku sungguh berdosa, Maafkan aku Mas, Maafkan aku Mbak Aina. Aku terpaksa berbohong, kalau bukan demi Laras, aku pun tak ingin menyakiti siapa pun." Kataku pelan.
Sekilas aku teringat pada kejadian di dapur saat aku memasak bubur kacang hijau tadi. Lebih tepatnya saat aku tinggal sendiri di dapur, dan hendak memasukkan jamu laknat ini ke dalam bubur yang tadinya sangat baik untuk Mbak Aina.
Mula-mula kupegang botol jamu yang ada di saku celanaku erat-erat, sementara tangan kanan ku mengaduk bubur. Kemudian setelah keadaan makin sepi dan aku yakin semua aman, mulai kuangkat botol itu keluar, ku buka tutupnya, lalu ketika ia berada di bibir panci... Ada sesuatu dalam hatiku... yang membuatku ragu-ragu.
Kamu harus buat Aina keguguran. Biarkan dia dan Angkasa tahu bagaimana rasanya kehilangan! Tiba-tiba datang bisikan, semacam suara Laras dalam pikiranku.
Tapi tak lama dari situ, muncul pula wajah Mbak Aina yang cantik dan dia tersenyum padaku dengan semangat positif yang diberikannya.
Berlian jangan terjebak kisah yang lalu ya, Aku dan Kak Sam tidak punya hubungan apa pun, jadi kami pun tidak akan terikat dengan perasaan macam cemburu atau yang lain. Sekarang kita sudah memiliki jalan cerita masing-masing. Bukankah sekarang semua ini berjalan sangat indah? Kita hidup berdampingan sebagai keluarga, dan saling mendoakan untuk kebaikan adalah salah satu bentuk kita menempatkan cinta ... Kuingat lagi bagaimana Mbak Aina berkata padaku tadi, saat mencuci piring. Sangat menyenangkan hatiku.
Bagaimana aku harus memutuskan?
Botol jamu yang kupegang jadi bergetar, ia heran melihat tuannya kebingungan.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, dan waktu ku semakin sedikit andai memang harus kulakukan kejahatan ini.
"Membalas dendam tidak harus dengan menghilangkan nyawa orang kan?" Pikirku. "Melakukan perbuatan yang tidak sesuai hati nurani, sama saja dengan mengkhianati diriku sendiri. Lalu apa bedanya aku dengan orang-orang yang jahat itu?"
Ku tarik lagi botol itu, menjauh dari panci.
Mbak Aina, sejahat apa pun dirimu pada saudariku, aku sungguh tak sanggup menyakiti kamu dan anakmu... Bagaimana caranya aku membencimu? sementara di pertemuan pertama kita, kamu sungguh baik hati mendukungku dan Mas Samudera.
"Tidak!" Kataku sambil menutup kembali jamu itu. "Tidak bisa, Bayi Mbak Aina tidak salah! Apanya yang buat mereka merasa kehilangan, Aku memang bilang mau membalas dendam, tapi itu bukan tugasku mencabut nyawa!"
Botol jamu kusimpan kembali di saku celana, dan kutinggalkan bubur kacang hijau di atas kompor sendirian.
Aku memikirkan kejadian yang lalu itu sampai Mas Sam akhirnya kembali lagi dari dapur membawakan aku air minum satu gelas.
"Kamu menangis lagi?" Kata Mas Sam, sehingga dengan cepat kuusap kedua pipi dan kelopak mataku dengan lengan baju.
"Tidak... " Jawabku sambil menyambut air minum yang diberikan olehnya. "Aku hanya merasa tak enak hati dengan kejadian yang baru terjadi di antara kita ini."
Lantas Mas Sam duduk di ujung ranjang dan kedua tangannya menyatu, menopang dagunya yang lonjong. "Sudahlah, setidaknya masalah yang paling buruk itu tidak terjadi."
Aku memilih diam, aku takut salah bicara. Dan hanya memperkeruh keadaan.
"Besok kita pulang, ya?"
"Besok?" Aku mengulangi ucapan Mas Sam. "Tapi kita di sini baru sehari, bukannya kita akan menginap sampai tiga hari di sini? Acara syukuran Mbak Aina juga belum di mulai, Mas?"
"Aku tahu, tapi aku berpikir mungkin lebih baik kita pulang lebih awal."
"Kamu masih marah denganku?"
Mas Sam menggeleng-geleng. "Tidak, itu lain hal."
"Jadi kamu masih meragukan aku, Mas? Maksudku kamu ingin kita pulang lebih awal karena kamu takut aku membahayakan Mbak Aina?"
Mas Sam memutar badannya, dan menatapku datar. Sorot matanya yang dalam, seolah mengisyaratkan padaku bagaimana pikirannya tentangku sekarang.
"Aku tidak menuduhmu, Berlian. Pantang bagiku menuduh orang lain tanpa bukti yang pasti. Tetapi... "
Kusimak tiap kata yang diucapkan Mas Sam, agar hatiku tak cemas ketakutan, atau bahkan berpikir berlebihan. Aku harus paham apa yang dijelaskan Mas Sam, dan aku harus tahu apa yang ia maksudkan.
"Tetapi kamu pun tak salah, aku hanya takut Aina dalam bahaya, jika kita terus di sini."
"Itu berarti kamu masih tidak mempercayai ku Mas?"
Mas Sam menghela napas, kemudian menjawab. "Bagaimana aku bisa percaya, sedangkan yang keluar dari mulutmu sepenuhnya adalah kebohongan? Sungguh niat ku baik padamu, Berlian. Tetapi, agaknya langkah ku sudah salah membawamu kemari."
"Mas---"
"Kalau kamu mau jujur dengan ku, segalanya akan lebih mudah." Mas Sam kembali bicara, anehnya walaupun ucapannya sungguh tengah menuduhku tetapi aku tidak tersinggung, atau meluap marah, takut atau gelisah seperti sebelumya.
Aku merasa seolah Mas Sam tengah memegangi tanganku, membimbing ku berjalan.
"Percayalah Berlian, Aku masih setia menunggu kejujuran darimu. Jauh dari yang kamu tahu... jauh dari kesadaranmu sendiri, kamu adalah gadis yang sangat berharga di hati seseorang, karena itu aku ingin menjagamu---dengan niat yang tulus."
Mas Sam, membuatku tersesat. Dia lebih pandai bersikap yang menunjukkan bagaimana ia lahir dan dibesarkan. Dan malam ini, dia menunjukkan itu di hadapan ku, kata-katanya jauh lebih menghanyutkan di banding segala kebohongan yang pernah kudengar dari mulut lelaki.
Aku pun beranjak dari tempat dudukku untuk menghampirinya. Kemudian, aku berlutut di hadapannya, meraih tangannya dan kucium dengan penuh khidmat. Ku telungkupkan wajahku di pahanya, lalu sekali lagi ku cium tangannya.
"Mas---" kataku terisak. "Maafkan aku, maaf karena sudah bicara kelewatan dari tadi. Maafkan segala salahku yang berani menjawab ucapanmu. Maafkan aku karena lantang bicara dengan nada tinggi padamu... "
Dia lantas memelukku, dan aku terbenam di dadanya, penuh haru. Ketika aku tenggelam dalam dekapannya yang hangat dan harum, ku dengar Mas Sam berbisik:
"Kumaafkan... "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Maizaton Othman
kebohongan mu itu ketahuan berlian...suami mu masih memberi peluang utkmu berubah,...jangan kedepan kan dendam yg kamu sendiri tidak tahu hujung pangkalnya.
2024-09-18
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sebaiknya berliana menyelidiki sendiri kejadian yg sebenarnya daripada termakan hasutan laras & menyesal kelak
2023-12-17
0
n4th4n14e4
😍😍😍
2023-12-17
1