"Dari mana kamu?"
Mas Samudera duduk di sofa ruang tamu, lengannya yang kekar terlipat di depan dada bidangnya, sedangkan kakinya yang bersepatu bot disilangkan di atas lutut. Dan lagi-lagi mata gelapnya terpaku padaku, dan sosoknya nampak tegas. Tanpa ekspresi.
"Mas kenapa sudah ada di rumah?" Aku balik bertanya. "Bukannya Mas kerja?"
Mas Samudera bangkit dari tempat duduk lalu berjalan pelan, menghampiriku.
"Begitulah seharusnya."
"Mas, bisa mundur sedikit? Mas membuatku gugup." Kataku begitu dia berdiri dalam jarak sekitar satu kilan dari tubuhku.
Dengus napas Mas Sam terdengar di telingaku, agak panas dan membuatku merinding hebat. Bagaimana mungkin lelaki seperti dia akan memukul ku kan? Ah, tapi dia adalah abdi negara... dan bagaimana mungkin dia akan memarahiku hanya karena ketahuan keluar rumah? Itu agak sukar, karena dia memegang teguh pernikahan kami. Tapi sore ini, ya Tuhan, dia lagi-lagi memandangku seperti hewan buas!
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku. Dari mana kamu dengan dandanan seperti ini?" Dia kembali memandangku.
"Me-Memangnya ada apa dengan dandanan ku?"
"Kamu cantik," jawabnya lembut dan tidak terduga. "Cantik sekali."
Aku mengalihkan tatapanku ke dinding yang kelabu. Tuhan, lindungi aku dari segala hal yang berasal dari suamiku. Lindungi aku dari tatapan dan suara Mas Samudera yang memabukkan, bagai anggur.
Samudera itu memang terlihat sempurna, tugasmu adalah membuatnya jatuh cinta. Bukan kamu yang jatuh cinta dengannya. Laras menegaskannya padaku tadi siang.
"Aku memang selalu cantik," sahutku percaya diri. Menutupi kegugupan ini. "Terutama dihadapan Mas."
"Oh, kamu baik sekali. Mau kucium?"
Lemas kaki ku, laksana terkena serangan maut yang meluluhlantakkan pertahanan diriku yang hampir kokoh. Tapi aku harus dipaksa tenang, aku masih belum bisa memandang wajahnya, sementara Mas Sam enggan untuk mengacuhkan ku.
"Bersikaplah tenang, aku hanya bercanda," ucapnya.
Rupanya dia melihat sikapku yang gugup. Tapi yang lebih mengejutkan, dia dengan cepat berubah perasaan.
"Aku baru pulang ke rumah," katanya, "Tapi tak ada yang menyambut ku sama sekali. Kamu beruntung, karena pergi saat seluruh pekerjaan rumah sudah selesai. Karena aku mungkin akan menghukummu kalau pergi dengan melewatkan kewajibanmu."
Dia tersenyum lagi, sambil matanya terus menatapku, seakan sedang menyelidiki perasaanku dengan berbagai pertanyaan yang tersembunyi di dalam kepalanya.
Aku tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menunggu dia lebih tenang, sebab tidak mudah bagiku menghadapi pria sehebat ini. Dengan keluasan wawasan dan ketajaman pikirannya, dia telah mampu menangkap bahkan batas terjauh jalan pikiranku, bahkan setiap detail yang kurasakan. Tak ada pilihan lain selain diam menunduk dan tak melawannya, sebab bagaimana pun aku berkelit dan berbohong, dia seolah tahu yang dipikirkan otakku, memergoki ku sambil menyindir dan mengejek.
"Kenapa kamu diam saja? Kemana kamu tadi pergi?"
Aku tetap diam, hanya tersenyum simpul.
"Baiklah, kalau begitu kamu memang harus diberi hukuman."
Dia berbalik dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah buku yang digulung. Buku yang cukup besar tapi tidak terlalu tebal, yang membuatku gelisah adalah, agaknya Mas Sam sungguh akan menghukum ku dengan kekerasan. Dia tentara tentu akan bersikap tegas.
"Jangan pukul aku, Mas!"
"Siapa yang mau pukul kamu?!" hardiknya. "Aku membelikan kamu buku memasak bukan sebagai alat pukul. Itu sungguh bodoh! Aku sudah beli daging sapi, masakkan aku sesuai resep yang ada di buku ini."
Kuambil buku itu dari tangannya. 20 Menit Masak Daging, judul yang mantap. Kubuka halaman dua puluh yang berisi resep masakan sop buntut.
"Mas sengaja beli buku ini? Untukku?" tanyaku.
"Lebih tepatnya untuk diriku sendiri." Tukasnya. Dia membetulkan posisinya berdiri dengan berjalan sedikit menjauh dariku. Aku merasa kikuk, namun itu kini tak lagi menjadi masalah. Dia menarik napas pelan-pelan, tersenyum simpul dan memejamkan mata, kemudian memandangku dengan saksama.
"Kamu menatapku saja sering ketakutan," ujarnya dengan napas yang berat. "Lalu bagaimana caranya kamu akan melawanku?"
Aku gemetar mendengar suaranya. Aku membisu, makin kikuk. Dihantui kata-katanya yang setiap detik seolah tengah memperingatkan aku, membuatku selalu bertanya-tanya, adakah yang dia ketahui tentangku? Adakah yang dia sembunyikan dariku?
"Kamu memiliki wajah yang sangat lucu saat ketakutan begitu. Tingkahmu sangat polos, Berlian." Tegasnya sambil tertawa Kecil. "Karena itu jadilah dirimu sendiri. Untuk sekarang, bahkan alat tempurku bermain lebih baik dari pada kamu."
Kusimak tiap detail suara dan tawanya saat itu, tersimpan sejuta makna yang aku sendiri pun bahkan tak tahu tentang apa.
"Mas---"
Dia mendengar panggilan ku, tepat saat itulah pula pintu depan berbunyi karena ada yang mengetuk. Dengan sigap Aku segera berjalan menuju pintu depan menyelamatkan diriku yang gelisah tak tertahan.
Seorang wanita berambut panjang berdiri di depan pintu, rambutnya yang kecoklatan berkilauan tergerai lurus sampai ke punggung. Kulitnya putih bening dengan bibir berbentuk hati. Cantik sekali, sampai aku pun tak mampu memalingkan perhatian selain padanya. Rupanya tak hanya aku, reaksi tak terduga pun juga di perlihatkan Mas Samudera. Matanya membulat lebar meski jauh di dalam situ kesedihan terpancar saat bayang wanita ini masuk ke dalam sorot mata legamnya yang selalu menatapku membara.
"Na?"
Dialah, Aina Maura. Kakak Ipar yang hampir seumuran denganku. Istri Mas Angkasa, sekaligus mantan kekasih suamiku sendiri, Mas Samudera.
"Kak Sam, Berlian." Sahutnya sangat ramah. "Maaf mengganggu malam-malam, Aku dan Kak Asa baru pulang dari rumah sakit. Jadi mampir sebentar ke sini."
"Masuklah, Na. Di mana Angkasa?" Lagi-lagi Mas Sam memberikan ekspresi grogi dan salah tingkah, reaksi yang membuatku tiba-tiba menjadi sangat iri. Sebab Mas Samudera tak pernah menampakkan itu padaku.
"Kak Asa masih memarkirkan mobil, Kak." Jawabnya.
"Kamu kenapa bengong begitu, Berlian!" Mas Sam menegurku di muka pintu. "Bantu buatkan Aina dan Angkasa air minum."
Aku mengangguk cepat. Meski jauh di dalam hatiku tersimpan kemarahan dan rasa iri yang menjamak menggerogoti isi kepalaku. Mas Sam, membuatku tersesat, sejenak ia memainkan ku ke sini, tapi sejenak setelah ia bertatap mata kembali dengan Aina. Lenyaplah tawanya yang selalu mengejekku.
Dia menunjukkan sesuatu, yang tak pernah ia berikan padaku. Sial, kenapa aku malah ingin menuntut!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Endah Setyati
Laras,,,adakah yg ditutupi Laras pada Berliana?? masih tanda tanya,kenapa dia bilang dia di khianati angkasa dan di penjarakan Samudra?? padahal Samudra yg kehilangan kekasih buat saudaranya sendiri,,,dan Sam kaenya dia tau niat Berliana dr kata katanya yg tersirat 🤔🤔🤔,,😂😂sok tau banget ya q,,padahal baru mulai baca 😂😂
2024-04-29
0
Deuis Lina
berlian semoga hatimu seperti namamu berlian
2023-12-10
0
Sri Rahayu
kamu sih hati mu ga bersih seperti Naina, kamu menikah dgn Sam karena ingin balas dendam utk Laras pdhal kamu tdk tau kebenaran yg terjadi...lanjut Thorr 👍👍👍😘😘😘
2023-12-10
0