Langit siang terasa begitu teduh dengan awan putih menggantung. Walaupun matahari kini telah meninggi di tengah-tengah ufuk. Di halaman samping rumah aku duduk termenung, mataku terpaku pada pakaian yang terjemur menggantung. Pakaianku dan Mas Samudera.
"Mas pulang malam hari ini," kataku sambil menopang dagu di lantai kayu teras samping rumah. "Lebih baik aku mengunjungi Laras! kurasa ini tidak masalah seperti kemarin, aku bisa pulang lebih awal setelah mengantarkan makan siang untuk Laras."
Setiap kali aku merenung sendirian, aku tenggelam dalam keharuan, tentang Laras yang bahkan tidur pun tak nyenyak di dalam bui sana, bahkan terakhir dia berkeluh kesah tentang penampilannya yang kurusan karena tak nafsu makan.
Aku segera beranjak, bersiap dan menelpon Abah Maimun untuk mengantarku ke kantor polisi. Hampir sekitar 30 menit, klakson motor Abah sudah berbunyi di depan rumah. Asap dari kenalpot motornya yang cempreng bahkan sudah akrab di telingaku.
"Seperti biasa neng?" tanyanya.
"Ya, bah." kataku.
Sampai di kantor polisi, penjaga lapas menyambut ku dengan gayanya yang khas. "Hari ini datang tepat waktu, Mbak. Sekalian antar makan siang ya?" ia berdiri dari meja dan menuntunku ke meja pojok khusus pengunjung.
Aku menjawabnya dengan senyuman. Dan mengikuti langkahnya dari belakang. Setelah duduk di kursi kayu yang keras, ku buka kotak makan yang kubawa agar Laras bisa langsung memakannya.
"Berlian?"
Laras datang padaku setelah diantar penjaga, ketika aku sedang menunggunya bersama makanan ini.
Aku segera memeluknya, dan dia pun membalas demikian, menggambarkan gairah kerinduan yang sama hebatnya dengan yang kumiliki.
"Aku datang bawakan kamu makan siang," ujarku, kemudian kami kembali duduk. "Makanlah, supaya kamu gemuk."
"Menemui aku terus begini, apa tidak akan mencurigakan? Suamimu tidak tahu apa-apa kan?"
"Tidak," jawabku sambil tersenyum. "Mas Sam kerja dan pulang nanti malam. Jadi, aku akan baik-baik saja walau menemui kamu di sini."
"Oh, baguslah." Jawabnya acuh tak acuh. Kemudian langsung meraih makanan yang kusiapkan untuknya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja," jawab Laras sambil mengunyah. "Aku harap ini bukan kabar buruk yang merusak selera makan ku."
"Tidak sama sekali. Aku yakin kamu pun akan senang mendengarnya." Ujarku sambil membayangkan saat Mas Sam memelukku semalam, dan dia membisikkan; buatlah aku jatuh cinta, Berlian. Hmm... dia ingin membuka hatinya untukku.
"Kalau begitu katakanlah." minta Laras padaku dengan nada sedikit penasaran.
"Mas Sam semalam bilang padaku, dia ingin membuka hatinya untukku. Bahkan dia sendiri yang minta agar aku membuatnya jatuh cinta. Ini kabar yang sangat baik, kan? dengan begitu usahaku untukmu bisa berjalan lebih mulus."
Ia terdiam sejenak, lembut menatapku.
"Bagus Berlian, kamu memang saudariku yang paling pintar. Bahkan kamu bisa merebut hati Samudera dalam waktu yang sangat singkat, di luar perkiraanku. Aku sangat senang dan bangga padamu, dengan begitu kamu tidak perlu terlalu lama pula menjalani hidup berumah tangga dengan Sam."
"Hmm," gumamku sambil menatap wajahnya lekat-lekat. Kemudian ku alihkan pandanganku, rasanya begitu hampa dan perih. Entah mengapa tiba-tiba aku tak berani membayangkan hidup tanpa dia. Tidak bisa. Dan seandainya bisa, aku belum tahu caranya.
"Hei!" Laras memanggilku lagi.
Aku tersadar dari lamunan mendengar hal yang mengejutkan tadi, Laras berkata seolah menganggapku membenci pernikahan kami dan aku menjalankan pernikahan hanya demi dirinya saja, Laras mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, persis seperti saat kesepakatan kami dulu. Hanya bedanya sekarang, perkataannya malah membuatku sedikit pilu.
"Kenapa diam? Selain itu tadi, apalagi kabar yang bisa ku dengar di keluarga barumu itu? Bagaimana soal mantan kekasihku dan sahabatku yang telah berkhianat?"
"Ah, Maaf. Aku kurang fokus." kataku pelan. "Bagaimana tadi? kamu bertanya apa?"
"Aku tanya bagaimana kabar keluargamu? Ibu Kania dan suaminya? Atau mantan kekasihku, Angkasa dan istrinya?"
"Oh,Mama dan Papa sehat-sehat saja, tapi terakhir yang kudengar mereka baru saja pulang kampung ke rumah kakek bersama Mbak Rania yang baru pulang dari Ambon, minggu kemarin. Tapi sekarang mereka sudah kembali ke rumah." Jelas ku, "Kalau Mas Angkasa dan Mbak Aina, hmm Mereka akan menjadi orang tua, kemarin malam mereka mampir ke rumah kami dan mengabari kalau Mbak Aina sedang mengandung."
"Aina hamil?" Tanya Laras padaku dengan ekspresi masam dan nada yang marah. Sementara aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Baiklah, kalau begitu aku punya permintaan padamu, Berlian. Aku tahu kamu harus bagaimana sekarang."
"Bagaimana? Aku memang butuh bimbinganmu, agar rencana kita berjalan seiras dan tidak berantakan."
Laras mendekatkan bibirnya ke telingaku. Wajahnya yang sekuning rembulan begitu dekat dengan wajahku. Ia masih berbisik lembut, beberapa helai mahkota kepalanya menyentuh pipiku, sementara matanya melirik mataku, seperti tengah memberi isyarat bahwa ini adalah rencana yang benar-benar paten untuk dirahasiakan.
"Membuat Aina keguguran?" Kataku membelalak. Rasanya aku tak salah mendengar tentang bisikan Laras yang diterima telingaku barusan.
"Ssstttt!" Laras menutup mulutnya dengan jari telunjuk, memperingatkan ku untuk memelankan suara.
"Kamu sudah gila, Ras?" Kataku pelan namun juga sedikit menekan. "Mbak Aina itu hamil! kita memang mau balas dendam dengan mereka semua, tapi bayi dalam kandungan Mbak Aina itu tidak salah apa-apa, Ras!"
"Maaf. aku tahu mungkin sekarang pikiranmu telah dipenuhi prasangka buruk tentangku. Biar ku jelaskan semuanya agar kamu tidak salah paham."
Ekspresi menolak kutampakkan di wajah dengan jelas. "Aku tidak bisa, Ras!"
"Berlian, kamu sendiri yang berjanji padaku untuk membalaskan dendam. Aku tahu anak mereka tidak salah, tapi pada intinya aku menginginkan mereka menderita persis seperti yang aku alami. Dan anak itu, sekarang adalah sumber bahagia mereka. Apalagi yang mau ditunda? Itu setimpal, Berlian! Mereka tidak boleh bahagia, selagi aku masih menderita di sini, sungguh tidak adil untukku."
Dengan air mata, Laras berujar padaku. Aku tahu ini bukan nurani hatinya, sebab Laras yang ku kenal memanglah perempuan baik dan pekerja keras. Meski mungkin dia sedikit blak-blakan dan pantang menyerah, tapi dengan sikap seperti itulah yang membuatnya mampu menempuh hidup.
"Aku dan kamu itu saudara. Tidak ada lagi yang bisa menopang kita, kalau bukan kita sendiri. Tidak ada lagi yang bisa kita percaya selain kita berdua saja, kalau ada salah satu dari kita terluka, hanya kamu yang bisa membantuku dan hanya aku yang bisa membantumu. Hatiku ini sudah terlalu sakit karena perbuatan Angkasa dan Aina, termasuk juga Samudera dan mertuamu. Penderitaanku yang bagaimana lagi harus kamu lihat, agar mau membela ku tanpa segan?" Laras menarik napas sejenak untuk kemudian melanjutkan kata-katanya.
Aku terdiam, seraya memikirkan betapa sulitnya mengikuti keinginan Laras. Tetapi, aku terpaksa. Karena bila tidak, aku khawatir akan menyesal.
"Lagi pula bayi itu belum memiliki nyawa," Lanjutnya, membuat dahiku mengernyit curiga. "Mereka akan memilikinya lagi nanti. Jadi, kali ini saja Berlian, tidak akan masalah. Kamu harus memberikan mereka pelajaran tentang bagaimana rasanya kehilangan dan menderita saat kebahagiaannya direnggut."
Aku begitu lemah jika mengingat tentang kami, Laras sudah menemani hampir seluruh perjalanan hidupku. Dia bahkan jauh lebih berharga di banding segala hal di dalam hidupku ini, dan saat dia berkata itu, aku merenung; "Permintaanmu cukup menyulitkan aku, Ras. Tapi, aku sudah terlanjur berjanji denganmu."
Ucapanku itu sepertinya memberikan angin segar untuk Laras. Aku tahu ini tidak akan cukup ditebus dengan apa pun. Tapi, bagiku lagi-lagi Laras benar, saat ini hanya dia yang ku miliki di dunia ini, dan hanya aku yang dia miliki, sudah sepatutnya kami saling melindungi dan membela di saat salah satu di antara kami terluka.
"Aku tidak memaksa, kalau memang kamu tidak mau menepati janjimu juga tidak masalah. Biarlah aku mendekam di penjara ini sepanjang hayat, lagi pula seperti yang kamu dengar apa yang ku rasakan biarlah menjadi garis takdirku, mungkin aku memang dilahirkan dengan penuh kemalangan dan biarlah aku mati tanpa keadilan."
"Baiklah," kataku beberapa menit kemudian. "Akan kuusahakan!"
Laras menyeka air matanya dan tersenyum. "Yeah, terima kasih Berlian. Aku berharap lebih padamu." Ia mengangkat sebelah tangannya dan mengacungkan jempol.
Aku menghembuskan napas yang sejak tadi terasa berat. Setelah berdiam cukup lama, dan polisi memanggil Laras untuk kembali ke sel, aku beranjak keluar, meninggalkan sejuta pikiran yang membenani ku tanpa kuharapkan. Dengan berat hati dan kecewa, aku akhirnya memutuskan untuk pergi.
"Ayo pulang, Neng!"
Abah Maimun menyambutku dengan tawanya yang ramah. Paling tidak itu membuatku sedikit kerasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
lili
teruskan saja Berliana balas dedammu dan pada akhirnya kamu menyesal sendiri,Laras itu yg jahat ....kamu yg polos bin bego terhasut omongan ...
2024-01-21
1
Haku
gak ada akal sama sekali itu org, orang tuh berubah, lah tau kesalahan masih saja. .. tidak patut
2023-12-11
0
Teh Yen
kamu itu bodoh apa terlalu polos sih berlian masa ucapan Laras yg jelas" menurut hati nuranimu salah d turutin jg ,, kapan kamu sadar kalo orang yg kamu sebut sodara angkat itu hatiny jahat dia jahat berlian dia hanya menjadikan kamu alat balas dendamnya
2023-12-11
0