"Lalu mengapa kamu bisa memiliki obat ini?"
Tubuhku gemetar hebat saat kulihat jamu penggugur kandungan itu tiba-tiba berada di tangan Mas Samudera. Sejak kapan? Benda itu kusimpan baik-baik di saku celana, setelah tadinya urung kupakai.
Dengan hati-hati Mas melepas tanganku. Lalu diangkatnya wajahku, disorongkan ke wajahnya.
"Tatap aku, dan jawablah!"
"Kenapa Mas bisa mendapatkan jamu itu?"
"Aku bertanya padamu, jawab aku. Bukan berikan aku pertanyaan balik."
Tersentak aku ketika Mas Sam berkata seperti itu. Dia berucap dengan nada bicara yang terdengar lebih dalam daripada biasanya, membuat kaki ku nyaris tidak mampu ku rasai. Terlalu dingin, sampai aku tak tahu apakah kaki ku masih ada atau tidak.
"Begitu sulitkah untukmu menjawab pertanyaanku, Berlian? Aku hanya butuh penjelasan mengapa kamu bisa memiliki obat ini di saku celanamu?"
Aku benar-benar tidak habis fikir soal itu. Mungkinkah Mas Samudera mengambilnya diam-diam dari saku celana ku? Tapi kapan? Dari tadi kami tak ada kesempatan untuk dekat, Aku masak dan Mas Sam di kamar, hanya makan tapi Mas Sam sibuk dengan kacang hijau sepanci, selesai makan aku cuci piring sedangkan Mas Sam menonton TV. Oh, mungkinkah barusan? Saat aku sibuk mengoleskan minyak angin dan menggosok perutnya? --- bodoh, sungguh aku bodoh sampai tak menyadari pergerakan Mas Sam di sampingku.
"Kamu tahu obat ini?" ujar Mas Sam lagi, dan itu terlalu menakutkan untuk ku yang pertama kali mendengar nada bicaranya yang tinggi seperti ini. "Andai ada wanita hamil yang mengkonsumsinya, ada nyawa yang bakal melayang! Kamu tahu?!Jawablah dengan apa adanya, maka aku tak akan marah."
"Aku tahu!" Jawabku.
Kami pun saling bertatapan lagi, tatapanku bertemu mata Mas Sam yang menyiratkan kecurigaan dan kemarahan yang sama saat membayangkan kemungkinan yang bisa terjadi jika jamu itu kutuangkan dalam sepanci bubur kacang hijau buatan Mama.
Aku berusaha tenang, tetap tenang, kucondongkan tubuh ini ke dekat Mas Sam dan memeluknya erat-erat. "Aku minta maaf Mas. Aku tahu kamu masih sangat mencintai Mbak Aina...."
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu kamu masih sangat mencintai Mbak Aina, Mas. Tapi ini memanglah kenyataan yang tidak mungkin akan kamu percayai. Karena itu, tolong rahasiakan ini dari siapa pun... "
"Tidak." Tatapan Mas Sam mencari-cari kebenaran dariku. "Satu kali kuulangi, tidak perlu bahas tentang perasaanku pada Aina. Katakan tentang obat ini, cukup itu. Mengapa kamu bisa memiliki ini?"
Aku menatap lurus-lurus bantal di ranjang sebelum kembali menatap Mas Sam. "Aku mencuri obat ini dari Mbak Aina sendiri... "
Ucapanku yang menyertakan nama Mbak Aina dan memfitnahnya membuat tatapan Mas Sam makin tajam. Rahang Mas Samudera mengertak, seolah mengisyaratkan kemarahannya semakin menjadi, namun dengan susah payah ia tahan agar tak menyakiti siapa pun di depannya saat ini.
"Kamu masih mau membohongi ku? ---- masuk akal kah Aina ingin menggugurkan kandungannya sendiri?"
"Aku tidak bohong Mas---"
Aku tidak bisa meragukan bagaimana perasaan benci Mas Sam padaku sekarang. Aku tahu dia tak akan mempercayai kebohongan ku dengan mudah, apalagi untuk wanita yang masih sangat dia cintai. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kalaupun Mas Sam meragukan ku, apakah itu berarti aku harus mengaku?
Betul Mas, Aku yang membeli jamu itu atas perintah saudariku. Aku mau Mbak Aina merasakan rasanya karma karena telah menyakiti hati perempuan lain! Aku menggumam, jelas tidak mungkin kan ku katakan demikian! Belum sekarang waktunya aku untuk mengakui apa pun.
Yang harus kulakukan sekarang adalah tetap berkelit walau penuh kebohongan dan kecurigaan Mas Samudera yang tentu akan sulit ku taklukan.
"Mas Aku tidak bohong... " Kuulangi lagi kata-kataku. Tapi Mas Sam diam, hanya menatapku sendu. Seolah tengah menanggung beban kecewa yang tak dapat ia bendung dalam waktu yang sama.
"Aku masih menunggu kamu untuk jujur, Berlian..."
"Aku jujur Mas. Aku sudah bilang dari awal; aku tahu kamu masih sangat mencintai Mbak Aina! Karena itu percuma saja aku berkata jujur! Kamu tidak akan pernah percaya denganku!"
Aku menatapnya, dengan mata berkaca-kaca. Ada rasanya sesak ketika kukatakan Mas Sam masih mencintai Mbak Aina. Kendati demikian bahwa itu lain hal untuk sekarang.
"Cukup! Aku sudah tegaskan padamu tadi, tidak usah bawa-bawa tentang perasaan, atau bahas antara aku dan Aina lagi!"
"Terus aku harus jawab apa Mas?! itu kenyataannya, aku melihat jamu itu di saku Mbak Aina saat kami masak tadi. Aku tidak tahu kenapa Mbak Aina bisa punya itu, jadi aku ambil diam-diam karena aku takut Mbak Aina akan berbuat aneh-aneh."
Mas Sam mendengus dengan suara yang bisa kudengar jelas. "Kamu lupa? saat Aina dan Angkasa datang ke rumah kita, bagaimana ekspresi mereka saat memberitahukan kabar gembira itu? Dari segi mana aku bisa percaya dengan ucapanmu, Berlian?"
"Mas kita tidak tahu isi hati orang lain, bisa jadi yang dia tunjukkan bahagia tapi di dalam hatinya ia berkata lain! Mungkin Mbak Aina belum siap---hamil sekarang---atau mungkin---" Kataku tergagap karena terlalu cemas. Sebelum Mas Sam memotong ucapanku.
"Oh, ya? Atau begini saja, dari mana kamu tahu kalau obat ini penggugur kandungan hanya dengan sekali lewat dari saku celana Aina?"
Mendadak mendung tebal di langit pecah dan hujan turun bagai badai. Angin menghambur dari jendela laksana amukan maut, menghatam kami dengan hebatnya, andai sekarang tak berada di kamar. Mas Sam marah besar, dia lalu mengusap mukanya dengan kedua telapak tangan, kasar.
"Aku cuma khawatir Mas, aku khawatir karena bentuknya memang mencurigakan. Sebelum kerja di toko kue Mama, aku juga pernah kerja di toko jamu tradisional, aku masih kenal botolnya... "
Air mata memenuhi mataku. Aku menundukkan kepala sambil mengusap kelopak mata dengan sapu tangan. Sementara hujan terus menderas, saksi kebohongan yang ku buat.
"Aku tidak mau Mbak Aina macam-macam, jadi kucuri itu darinya. Awalnya aku tidak ingin bahas ini ke siapa pun, termasuk Mas Sam. Bagaimana pun juga ini masih mengawang, aku tidak tahu kenapa Mbak Aina bisa punya obat seperti itu. Karena itu... aku berusaha untuk mencegahnya... "
"Mungkin karena ada orang yang berniat jahat dengannya." Sahut Mas Sam. Dia masih memandangku dengan sendu, seolah ia tahu segala yang ada dalam pikiran dan hatiku. Seolah ia tengah berada dalam situasi yang membuatnya kecewa berlebihan.
"Maksudmu aku?" Ujarku. "Kamu menuduh ku karena kamu mendapatkan obat itu dariku?"
Mas Sam memilih diam. Lantas kemudian dia bangkit dan berjalan meninggalkan ranjang. Des-ah napasnya tak karuan, dan aku paham bagaimana marahnya dia sekarang. Hanya aku akan tetap begini, teguh pada kebohongan dan sandiwara ku.
Maaf beribu maaf Mbak Aina, di atas segalanya, pada dasarnya aku memang hendak melaksanakan rencanaku. Tapi, di akhir waktu semua kuurungkan! Hatiku tak sampai untuk berbuat hal sekeji itu. Aku takut...
"Mau kemana kamu, Mas?"
Dari balik punggungnya, Mas Sam berujar. "Aku belum bisa menghadapi mu sekarang." Aku langsung terdiam di atas ranjang, memandang bahunya yang kokoh dan lebar. "Kamu tahu, Berlian?---Aku sungguh tak ingin mengkhianati janjiku. Kalau tidak, mungkin aku tak akan bisa berpikir lagi sekarang ..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Ilfa Yarni
Sam udah tau tujuan berlian cuma dia pengen tau sampai dmn berlian beetindak
2023-12-16
0
Teh Yen
janji apa.sam,, knp berlian bohong pada Sam,, Sam pasti tau sesuatu tentang berlian tp.dia ingin berlian jujur d mengatakan yg sebenarnya padanya bukan berbohong d memfitnah Aina begitu
2023-12-16
4
wulan romeo
benci kl nengok si berlian bodoh tapi degil,jahat
2023-12-15
1