episode 15/ Istri tak dianggap

‘’Sedang apa kamu disini, hah!’’ bentak kasar Daniel kala ia melihat Maryam sudah berdiri di sampingnya.

Maryam yang kaget kala mendengar bentakan dari Daniel, membuat gadis itu terdiam, ‘Baru kali ini aku di bentak oleh seseorang dan orang itu adalah suami ku sendiri,’

Daniel memukul tembok yang ada di sebelah nya dengan keras kemudian berlalu masuk ke dalam sana. Maryam menatap punggung suami nya dengan linangan air mata yang ingin jatuh namun berusaha untuk di tahan.

‘’Apa aku salah?’’ gumam Maryam yang masih tak mengerti kenapa suami nya bisa menjadi begitu marah, ia hanya berdiri di sebelah Daniel dan tak melakukan apapun, namun kenapa ceo dingin yang sudah resmi menjadi suami nya terlihat begitu benci.

Maryam menyeka air matanya, ‘’Ummi,’’

…..

Gadis itu kembali masuk ke dalam, ia melihat jika suaminya sudah tertidur di atas ranjang empuk mereka, Maryam yang masih dalam ketakutan akibat di bentak memilih untuk tidur di sofa di ujung sana, ia berusaha memejamkan mata dengan linangan air mata yang turun begitu saja, sama seperti di luar sana, hujan deras tengah mengguyur ibu kota.

‘’Apakah sesakit ini rasanya mencintai sepihak? Aku sudah resmi menjadi istri dari pria yang aku cintai, namun … aku seakan orang asing bagi nya,’’

Setelah satu jam, barulah Maryam bisa tertidur. Daniel yang berada di atas ranjang bangkit duduk di pukul 2 dini hari, ketika hendak turun ke dapur, ia melihat seorang gadis yang tengah tertidur di sofa.

‘’Aku baru sadar jika sudah menikah,’’ gumam Daniel yang melangkah turun ke dapur.

…..

Hanya butuh beberapa menit, pria itu sudah kembali melangkah ke kamar nya, ketika pintu terbuka, ia tak melihat jika adanya Maryam di sofa sana, kening Daniel berkerut, ia melangkah ke ruang kerja dan meletakkan kopi di atas meja.

‘’Kemana gadis itu perginya?’’ pikir Daniel.

Namun ketika hendak beranjak dari ruang kerja, dari ujung sana terlihat seorang gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melangkah kembali ke sofa kemudian merebahkan tubuh nya.

Daniel pun kembali melanjutkan pekerjaan nya, ada banyak berkas yang harus di selesaikan untuk siang ini, bekerja hingga pukul 4 dini hari membuat pria itu terlelap di ruang kerja nya dan baru terbangun pada pukul tujuh pagi.

‘’Siapa yang memberikan selimut ini?’’ gumam Daniel kala nyawa nya sudah terkumpul.

Pria itu kembali menguap, Ia bangkit berdiri dan tak melihat ada Maryam di dalam kamar, namun Daniel tak terlalu peduli, dirinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi karena masih memiliki rapat pada pukul Sembilan pagi.

…..

Maryam sedang berdiri di balkon kamar dengan memandang betapa indah nya pemandangan di luar sana, ia membuka ponsel kala sebuah pesan masuk ke aplikasi hijau nya, kening gadis itu berkerut kala mendapatkan nomor baru.

‘’Nomor siapa ini?’’ pikir Maryam.

‘’Ini … Tyler?’’ gumam Maryam.

[Selamat pagi Maryam.]

[Kamu masih ingat kan dengan aku?]

[Aku Tyler,]

‘’Pagi,’’

‘’Aku ingat, bagaimana kabar kamu?’’

[Aku baik, bagaimana dengan kamu?]

‘’Aku baik,’’

…..

Tyler, pria berusia dua puluh tujuh tahun, ia bertemu dengan Maryam di London kala gadis bercadar itu mendapatkan program pertukaran siswa/ siswi kala masih SMA. Mereka berdua bertemu karena kesalahan pahaman, hingga akhirnya Tyler dan Maryam saling dekat. Namun status keduanya hanya sebatas teman, namun pria itu menaruh rasa kepada Maryam.

Ia yang sadar diri jika penghalang nya terlalu tinggi, kala itu Tyler masih menjadi seorang ateis, terlahir dari keluarga kristiani namun lebih memilih tak memeluk agama manapun dan kemudian di pertemukan dengan Maryam.

Tyler yang terpesona dengan kecantikan Maryam membuat nya berusaha mengenal islam, kala di London lima tahun yang lalu, gadis itu belum memakai cadar, ia hanya menggunakan hijab.

‘’Huh,’’

Tyler tengah berdiri di balkon kamar, ia sudah berada di Jakarta karena urusan bisnis, sudah sangat lama dirinya tak berkomunikasi dengan Maryam.

‘’Kamu masih gadis yang sama, hanya beberapa menit online terus kemudian pesan yang aku kirimkan hanya akan centang satu,’’ gumam Tyler yang menatap lekat pesan untuk Maryam.

[Maryam, aku ingin jujur … sejak awal pertemuan kita di London, aku sudah menaruh hati pada kamu. Namun … aku tahu kamu pasti akan menolak karena aku bukan seorang muslim, dan sekarang … aku sudah disini, apakah kita bisa bertemu?]

Tyler menghapus pesan yang belum terbaca oleh Maryam dan mengirimkan pesan kembali.

[Aku sudah di Jakarta karena urusan bisnis, bagaimana dengan kabar Pendidikan kamu? Apakah kamu ingin melanjutkan Pendidikan di London?]

Pria itu menghela nafas berat nya dan memasukkan ponsel genggam tersebut ke saku celana kemudian melangkah masuk ke dalam untuk bersiap-siap.

Tyler meraih sebuah album foto dengan tersenyum, di sana terdapat foto nya dengan Maryam lima tahun yang lalu, pria itu bersiap-siap dan melangkahkan kaki untuk pertama kali di Jakarta.

….

Untuk kali pertamanya Maryam dan Daniel duduk di meja yang sama, semua keluarga Daniel tidak terbiasa makan bersama di meja yang sama, jadi Maryam sengaja menunggu suami nya untuk makan bersama, namun ketika ia melangkah turun ke bawah, dirinya heran ketika tidak ada satu pun orang di meja makan.

‘’Tidak usah heran, di keluarga ini semua nya tidak ada yang manja! Jika lapar yah makan sendiri, dan kamu sendiri kenapa tidak langsung turun? Kenapa harus menunggu saya?’’ sahut Daniel yang mendadak tiba dari belakang.

Maryam hanya tersenyum kecut, ia ikut melangkah turun ke bawah mengikuti langkah suami nya yang dengan cepat sudah berada di meja makan dan sudah mengambil nasi seorang diri.

‘Cih, padahal aku ingin mengambilkan nasi untuk dia, namun … hmm lupakan saja,’ batin Maryam yang langsung menjadi tidak mood untuk sarapan pagi.

Daniel seperti biasa menghabiskan sarapan nya dengan cepat, namun melihat Maryam yang hanya terdiam membuat pria itu menghentikan suapan nya sembari melirik dan bertanya, ‘’Kenapa kamu tidak ikut sarapan? Tidak lapar? Apa tidak susah dengan masakan ini?’’

Maryam langsung mengambil nasi dan beberapa lauk sementara Daniel kembali melanjutkan sarapan nya dengan cepat, bahkan saking cepat nya ceo dingin itu makan, ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dan bangkit berdiri, ‘’Saya sudah harus bekerja, kamu lambat sekali! Nanti kamu ke kantor nya di antar saja sama Mang Ujang, saya permisi!’’

Maryam hanya bisa menghela nafas, ‘’Bahkan ketika dia berangkat kerja, pria itu tidak ingin bersalaman dengan aku yang sekarang sudah menjadi istrinya,’’

….

Bersambung.

Follow akun Instagram @ Zadreammi untuk melihat visual pemain

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!