episode 6/ Sekretaris baru Daniel

Episode 6/ Sekretaris baru Daniel.

Hari pertemuan keluarga besar.

Pagi ini keluarga besar Daniel dengan Maryam akan membahas dengan serius tanggal pernikahan mereka berdua, sekalipun keduanya masih belum saling kenal, namun kedua keluarga sudah begitu serius dengan hubungan anak mereka.

Dan seperti biasa Daniel akan berangkat ke kantor, pria itu tak memiliki rasa penat sedikit pun untuk bekerja, bahkan pria tampan yang sudah cukup umur untuk memiliki sebuah keluarga memilih mencinta pekerjaan nya di bandingkan dengan mencintai seorang wanita.

‘’Pa, Daniel berangkat dulu,’’ ujar Daniel setelah ia menghabiskan roti nya.

‘’Daniel, untuk hari ini kamu bisa libur bekerja,’’

Ucapan Papa membuat kening Daniel berkerut, ia menatap kepada Papa dengan heran, ‘’Maksud Papa bagaimana? Jika tidak ada Daniel di kantor, terus siapa yang memperhatikan semua karyawan bekerja?’’

Papa hanya tersenyum kecil, ‘’Untuk masalah itu kamu tenang saja dan tidak perlu khawatir, Papa sudah mempunyai asisten yang paling terbaik untuk kamu dan nanti untuk keperluan kamu di kantor, sekretaris baru itu juga lah yang akan mengurus semua pekerjaan kamu nantinya,’’

‘’Tidak bisa, Pa! lagian kenapa Papa masih ikut campur dengan urusan di perusahaan Daniel?’’ sela Daniel yang tidak suka ketika Papa nya akan selalu berbuat sepihak tanpa mendiskusikan terlebih dahulu dengan nya.

Daniel menghiraukan panggilan dari Papanya, ia langsung keluar rumah setelah pamit, di dalam mobil, dirinya berkali-kali memukul setir kemudi untuk melepaskan rasa kesal yang selama ini ia tahan.

‘’Kenapa Papa selalu mengambil semua keputusan seorang diri? Apakah aku sama sekali tak di anggap di perusahaan?! Papa selalu saja egois!’’

….

Di kantor.

Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ketika Daniel melangkah di koridor perusahaan, maka tak ada satu pun yang berani menatap pria tersebut.

Daniel sama sekali tak peduli, bagi dirinya yang paling terpenting, ia sudah masuk ke kantor, memeriksa pekerjaan, dan kembali pulang. Namun ketika ia hendak memasuki lift, dari kejauhan terlihat sebuah bayangan yang membuat ceo dingin itu menajamkan pandangannya, namun pintu lift sudah terlebih dahulu tertutup.

‘’Rasanya tidak ada karyawan di sini yang mengenakan pakaian aneh itu, atau aku salah lihat?’’ gumam Daniel.

Namun entah lah, Daniel tetap masuk ke dalam ruangan pribadi nya yang terletak di paling atas, namun lagi-lagi, sekilas dirinya melihat hal yang sangat menjengkelkan di kantor nya.

‘’Apa mungkin aku memiliki karyawan dengan pakaian seperti itu?’’ pikir Daniel.

Dirinya duduk di kursi kebesaran dan mulai memeriksa beberapa berkas untuk hari ini, namun baru beberapa menit, kembali terdengar suara ketukan.

Tok tok tok.

Daniel memeriksa janji temunya, seharusnya tidak ada namun siapa yang mengetuk pintu di luar.

‘’Masuk,’’ ujar Daniel.

Pintu segera terbuka dan terlihat seorang gadis dengan menggunakan cadar yang tengah berdiri di ujung pintu, kening Daniel berkerut, namun gadis bercadar yang tak lain adalah Maryam calon istrinya sendiri main masuk tanpa meminta izin apakah di perbolehkan masuk atau tidak.

‘’Selamat pagi, Pak Daniel,’’

Sapaan dari Maryam semakin membuat kening Daniel berkerut, sebenarnya kenapa bisa Maryam datang ke kantor nya, jangan bilang jika gadis bercadar ini yang akan menjadi sekretaris pribadi nya.

‘’Kamu tidak tahu sopan santun ketika masuk ke kawasan orang lain, Maryam?’’ ucap Daniel dengan memberikan sorot tajam nya.

Kening Maryam justru berkerut, ‘’Saya sekretaris Bapak,’’

‘’Tapi ….’’ Ucap Daniel yang terpotong.

‘’Saya ke sini pun juga ada urusan,’’ sela Maryam yang memberikan sebuah berkas kepada Daniel.

‘’Sejak kapan kamu menjadi sekretaris saya? Apakah sudah pasti kamu akan saya terima?’’ tanya Daniel yang berhasil membuat Maryam terdiam, ia pun tidak ingin sebenarnya menjadi sekretaris calon suaminya sendiri, namun mau bagaimana lagi untuk menjadi sekretaris pribadi adalah keinginan dari calon mertua nya sendiri.

Daniel terkekeh, ia melangkah mendekat. Maryam yang sangat ketakutan, lantas melangkah mundur, namun pintu ruangan yang sudah tertutup membuat ia tidak bisa kabur dari Daniel.

Bukk.

Tubuh mungil Maryam melabrak dinding ruangan Daniel, sorot mata dari calon suaminya memang sangat menakutkan sekali.

‘’Bapak jangan mendekat yah! Jika Bapak mendekat, maka saya akan berteriak!’’ ancam Maryam yang sok berani padahal ia sangat takut dengan Daniel.

Daniel kembali terkekeh dengan berkata, ‘’Jika ingin berteriak, silahkan … saya pun tidak melarang kamu untuk berteriak,’’

Maryam mendengus kesal, padahal ia tidak ada niatan jahat, jika gadis bercadar itu bisa memilih, maka sudah pasti ia akan menolak tawaran dari calon papa mertua untuk menjadi sekretaris calon suaminya sendiri.

…..

‘’Kamu di terima!’’

‘’Hah!’’ kaget Maryam, ia tak percaya dengan ucapan calon suaminya yang dingin seperti salju di kutub utara.

‘’Apanya yang hah? Kamu tidak mau bekerja menjadi sekretaris saya?’’ tanya Daniel yang menjauh, ia pun beranjak melangkah kembali ke kursi nya sementara Maryam masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.

‘’Kenapa masih berdiri di sana? Mana berkas yang harus saya tanda tangani?’’ ucap Daniel dengan datar, setelah itu Ia sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun kepada Maryam, hingga gadis itu merasa sangat bosan harus berbuat apa di ruangan yang besar dan rapi itu.

‘’Kenapa hanya berdiri? Apakah kaki kamu tidak capek untuk berdiri?’’ tanya Daniel yang melirik sekilas dan kemudian ia kembali focus kepada hal yang tengah ia kerjakan di meja kerja nya.

‘’Yahh, aku tidak di tawarkan untuk duduk,’’ sahut Maryam dengan jujur.

Daniel tersenyum kecil namun gadis bercadar itu tidak bisa melihat senyuman langka ceo dingin tersebut.

‘’Ya sudah, silahkan duduk!’’

….

Kening Daniel lagi-lagi berkerut ketika Maryam, calon istrinya justru duduk di tempat ia berdiri bukannya duduk di sofa atau kursi yang di sediakan justru duduk di lantai.

‘’Kamu ini bodoh apa bagaimana, Maryam? Kamu tidak duduk karena tidak saya izinkan duduk dan sekarang saya sudah memberikan kamu izin untuk duduk, namun kamu malah duduk di lantai,’’ ucap Daniel yang justru membuat Maryam tersenyum seakan ada maksud di balik cadar yang ia gunakan.

Maryam bangkit berdiri, ia kemudian melangkah ke sofa panjang yang berada di seberang sana, Daniel hanya geleng-geleng kepala menghadapi sikap calon istrinya yang begitu berbeda dari gadis pada umum nya.

Daniel sesekali melirik kepada Maryam yang tengah duduk di seberang sana, gadis itu sama sekali tidak bisa diam, ada saja barang yang di pegang nya dan sekarang gadis bercadar itu tengah berangsur-angsur ke rak besar milik nya yang berada di ujung sana.

‘’Sih, apakah Papa tidak salah dalam memilih calon istri untuk ku? Yah kali calon istri ku petakilan seperti Maryam?’’ gumam Daniel yang sesekali melirik kepada Maryam dan memperhatikan gerak gerik calon istrinya.

‘’Jangan sentuh buku itu!’’

Bersambung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!