‘’Daniel, kamu kenapa tidak pernah mau menerima pemberian dari orang lain? Its okay jika kamu tidak mau menerima pemberian dari Papa, namun tidak dengan pemberian calon mertua kamu sendiri,’’
Daniel hanya focus pada layar laptop nya, bahkan ketika makan pria itu masih sibuk bekerja.
‘’Daniel, kamu tidak mendengarkan Papa yah?’’ kesalnya kala Daniel malah sibuk bekerja.
‘’Hmm,’’ sahut Daniel.
Papa pun langsung merampas laptop yang ada di hadapan Daniel, ‘’Daniel, bisa tidak kamu ini ketika Papa sedang bicara, kamu jangan sibuk terus!’’
‘’Pa, ini proyek besar, wajar jika Daniel berusaha memberikan yang terbaik!’’ sahut Daniel dengan santai.
‘’Dan kamu pikir pernikahan kamu ini tidak penting? Ingat Daniel, uang itu bisa datang dan pergi dengan cepat dan kamu tahu kan jika uang tidak akan selamanya setia kepada kamu, jadi Papa mohon berhenti untuk satu bulan atau keberatan hanya untuk beberapa minggu, beberapa hari saja, apakah tidak bisa?’’
Daniel menatap kepada wajah iba itu, ia menghela nafas, ‘’Hmm, nanti Daniel coba cek dan atur ulang semuanya, dan sekarang jangan ganggu Daniel dulu Pa. Daniel harus bisa mendapatkan proyek besar ini dan tentang rumah Papa maupun Abi nya Maryam tidak perlu susah susah untuk mencarinya,’’
‘’Papa harap kamu tidak menyesal nantinya, Nak.’’
Tak ada lagi pembicaraan antara Daniel dengan Papanya di meja makan, hanya denting garpu dan sendok yang saling bersahutan.
…..
Daniel sudah berada di ruangan pribadi, ia kembali berkutik dengan laptop seperti biasa dan tiba-tiba ponsel nya berdering, ia segera mengangkat panggilan yang masuk.
‘’Hmmm, ada apa lagi Maryam? Kamu sepertinya tidak akan pernah bosan untuk terus menghubungi saya!’’ kesal Daniel.
‘’Assalamualaikum,’’ sahut suara dari seberang sana.
‘’Waalaikum salam, cepat katakan, sekarang apa yang kamu inginkan?’’ tanya Daniel dengan langsung pada intinya.
‘’Cih, sama calon istri sendiri, bicara nya masih jutek. Ini Abi mau ngomong sama kamu Mas Daniel yang super super sibuk,’’ ucap Alesia.
Daniel menghela nafasnya, ia langsung menutup laptop dan mematikan sambungan telepon dari Maryam.
‘’Cih! Dasar pria yang kesibukan nya dari pagi sampai malam! Nggak ucap salam, udah langsung matiin telfon saja!’’ kesal Maryam yang menggerutu crush nya tersebut.
….
‘’Hah, Mas Daniel melakukan panggilan video?!’’ kaget Maryam.
Ia bergegas turun dari atas ranjang, bahkan saking kagetnya ia terjatuh ketika hendak mengenakan gamis dan cadar, hari ini Maryam tak ada kegiatan dan ia lebih memilih untuk istirahat di kamar dan hanya mengenakan pakaian kurang bahan ketika sedang berada di dalam sana.
Ponsel masih terus berdering, dan Alesia masih sibuk mengenakan hijab panjang dan cadar nya.
‘’Tumben sekali dia ingin video call, tadi panggilan ku di putus begitu saja, dan pasti nih dia akan marah karena aku lama mengangkat telepon nya,’’ gerutuk Maryam yang meraih ponsel nya namun ketika itu dering ponsel sudah tak terdengar lagi.
Maryam yang hendak menelepon balik seketika terhenti ketika calon suaminya itu sedang mengetik, [Sudahlah, kamu pasti hanya berbohong dengan saya saja, sama seperti yang kemarin, tidak terlalu penting namun kamu justru malah menelepon saya,]
Maryam yang kesal dengan ucapan Daniel lantas membalas pesan tersebut.
[Ya sudah, terserah kamu saja! Lagian besok jangan salahkan aku jika kamu langsung di marahi oleh Papa kamu nantinya dan juga abi ku,]
Daniel yang membaca pesan dari Maryam hanya mengerutkan kening nya, [Apa maksud gadis ini sebenarnya,’’
[Bye, assalamualaikum. Dan maaf jika belakangan ini aku mengganggu bahkan merepotkan kamu,]
‘’Cih, dia malah ngambek, yah palingan ngambek cuman hari ini saja, kan semua wanita seperti itu, jika tidak di turuti kemauan nya, maka mereka akan menggunakan jurus pamungkas, yah dengan ngambek seperti yang sedang di lakukan oleh Maryam,’’ gumam Daniel.
Ia pun tak terlalu ambil pusing, Daniel justru kembali focus dengan pekerjaan nya, sementara di tempat berbeda, Maryam berkali-kali memukul bantal nya, lantas kemudian menghela nafas.
‘’Gini amat jadi pria tampan, dia pikir saya peduli juga jika dia bakal kena marah oleh papanya sendiri dan Abi, siapa yang peduli, I don’t care!’’
….
Tok tok tok.
‘’Eh, Ummi. Sejak kapan Ummi ada disini?’’ tanya Maryam dengan gelagapan karena ia ketahuan oleh Ummi.
Ummi hanya tersenyum dan melangkah masuk ke dalam, ‘’Maryam, kamu sedang kesal dengan siapa?’’
Maryam hanya terdiam, namun dengan perlahan ia berusaha menyembunyikan foto nya Daniel yang ia miliki dengan sembunyi-sembunyi.
‘’Tidak ada, Ummi. Hanya kesal dengan diri sendiri,’’ sahut Maryam kemudian.
Jawaban dari putrinya membuat Ummi menyentil gemas hidung mancung Maryam, ‘’Sedang benci dengan diri sendiri atau calon suami kamu, Nak?’’
Maryam langsung memberikan gelengan kepala, ‘’Tidak, Ummi.’’
‘’Jangan berbohong, Nak. Ummi tadi mendengar kamu mengumpat nama Daniel, kamu marah kenapa dengan calon suami kamu sendiri?’’ tanya Ummi yang duduk di ujung ranjang putrinya.
Maryam menghela nafas, ‘’Hanya sikap dingin pria itu yang Maryam tidak suka, Ummi. Padahal Maryam hanya mengabari tentang ucapan Abi pagi ini, namun …. Dia justru!’’
‘’Akh, sudahlah Ummi! Maryam sedang tidak mood membahas Mas Daniel! Pria itu benar-benar menyebalkan sekai!’’
…..
Di ruangan pribadi Daniel.
Pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaan nya untuk hari ini, ia membuka ponsel kembali dan memeriksa apakah ada pesan dari Maryam, calon istrinya.
‘’Hmm, tumben sekali gadis merepotkan itu tidak mengirimkan pesan dengan panjang kali lebar hari ini?’’ pikir Daniel.
Terlebih gadis itu sedang online, hingga menimbulkan kecurigaan dari Daniel.
‘’Sedang apa dia sekarang? Jangan bilang jika Maryam tengah berbicara dengan seorang pria, oleh sebab itu dia tak mengirimkan pesan kepada ku hari ini seperti biasanya,’’ curiga Daniel.
Namun ceo itu masih gengsi untuk mengirimkan pesan kepada Maryam, ‘’Cih, biarkan saja dia yang menelepon ku terlebih dahulu, toh biasanya juga begitu, kalo lagi ngambek hanya sebentar,’’
Namun sudah di tunggu lebih dari satu jam, namun tak kunjung ada pesan yang masuk ke ponsel nya, hingga membuat Daniel kesal sendiri. Dirinya membuka ponsel dan memeriksa aplikasi hijau dan terlihat di sana jika Maryam sedang online, pria itu memukul meja nya sendiri dengan keras, bahkan pekerjaan nya tak kunjung selesai karena berharap jika Maryam kembali mengirimkan pesan.
‘’Sedang apa gadis itu di sana sebenarnya?! Dia online namun tak juga mengirimkan pesan kepada ku!’’ kesal Daniel.
…..
‘’Assalamualaikum, apa?!’’ tanya Maryam dengan jutek ketika Daniel langsung menelepon dirinya.
‘’Waalaikum salam, kamu sedang berbicara dengan pria mana sekarang?!’’ tanya Daniel dengan to the poin hingga membuat kening Maryam berkerut.
[Maksud nya?]
‘’Cihh, tidak perlu berbohong lagi! Kamu online namun tidak mengirimkan pesan kepada saya, tadi katanya ada hal penting yang perlu di bicarakan oleh Abi dengan saya, atau … kamu berusaha mencari perhatian saya lagi, berharap saya datang kesana dan membelikan kamu bunga atau coklat untuk membujuk kamu yang sedang ngambek, begitu?’’
[What?!]
Maryam akhirnya mengirimkan beberapa foto dengan caption.
[Lihat sendiri yah Tuan Daniel yang terhormat, jika aku sedang ada zoom dan sedang mengerjakan tugas.]
‘’Cih, palingan kamu ngeles lagi!’’ sahut Daniel yang tak percaya.
[Nggak percaya juga tak masalah, lagian aku menyadari jika kamu itu senang di ganggu oleh aku, bukti nya kamu terus menguntit apakah aku online atau tidak, bukan begitu Mas Daniel?]
Tut tut.
Sambungan telepon langsung di matikan oleh Daniel.
~Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments