Episode 7/ Maaf ala Ceo sombong

Maryam masih membahas di halte bus, hingga membuat Daniel semakin kesal, seperti sore ini kala ceo itu di perintahkan papa untuk menjemput calon istri, di sepanjang perjalanan Maryam selalu membahas masalah cemburu nya Daniel.

‘’Maryam, kamu bisa berhenti tidak untuk berbicara hal itu lagi!’’

Maryam terdiam, namun detik berikutnya gadis itu justru menggeleng dan membuat Daniel merem secara mendadak.

‘’Jika begitu turun sekarang! Bisa-bisa budek saya kala mendengar suara cempreng kamu itu!’’ ancam Daniel.

Gadis itu langsung terdiam, ‘’Iya, iya maaf. Gitu aja ngambek,’’ sahut Maryam yang terdiam dan menoleh ke luar jendela.

Daniel menghela nafas, ia setiap kali bertemu dengan Maryam maka selalu merasa berhadapan dengan anak kecil yang sangat menyebalkan, sulit di atur terlebih keras kepala. Ketika pria itu focus mengendarai mobil nya sementara Maryam sudah tertidur dengan pulas, namun tiba-tiba ponsel Maryam beberapa kali berdering.

‘’Siapa yang mengirimkan pesan kepada Maryam? Bukankah sekarang hari libur?’’ pikir Daniel.

Tanpa pikir panjang pria itu langsung memarkirkan mobil nya di sudut jalanan, memastikan jika Maryam sudah tertidur.

‘’Maaf Maryam jika saya membuka ponsel kamu tanpa izin, ini hanya untuk mengurangi indikasi kamu berselingkuh nantinya,’’ gumam Daniel yang diam-diam mengambil ponsel Maryam.

Dan dengan mudah bagi Daniel untuk membuka ponsel Maryam, tak terkunci.

‘’Cih, memang gadis kecil ini terlalu ceroboh, bisa-bisanya ponsel tidak di kunci, bagaimana jika dicuri oleh orang lain? Kan bisa bahaya, bagaimana jika ada banyak data penting di dalam ponsel ini. Namun ada baik nya ketika tidak dikunci, aku tidak perlu memutar otak untuk mengetahui siapa yang mengirimkan kesan kepada Maryam,’’

Daniel tidak menemukan adanya pesan mencurigakan di aplikasi hijau Maryam, hanya beberapa pesan baru dari beberapa grup kelas, namun sorot matanya tertuju kepada salah satu nomor kontak di dalam grup.

‘’Tidak ada pesan mencurigakan juga,’’ gumam Daniel.

Pria itu menutup kembali ponsel Maryam dan meletakkan nya kembali ke tempat nya, ia menatap lekat kepada gadis yang masih tertidur dengan pulas, dirinya teringat apakah memang sudah salah sangka kepada Maryam?

Namun Daniel masih terlalu gengsi untuk meminta maaf atas semua tuduhan yang pernah ia berikan kepada Maryam bahkan ketika gadis itu sudah mengatakan hal panjang lebar namun pria ini masih tak percaya dan masih mencurigai jika pria yang ia lihat di halte itu adalah kekasih Maryam.

….

Daniel melajukan kembali mobil nya ke sebuah restoran mahal yang terdapat pantai menawan karena beberapa kali Maryam selalu meminta di ajak untuk bisa berkunjung ke pantai, pria itu tiba-tiba mendapatkan sebuah ide, dan berhubung dirinya tidak ada pekerjaan yang harus di kerjakan hari ini.

‘’Maryam,’’ panggil Daniel.

Bukan nya terbangun justru Maryam malah semakin mendengkur yang membuat Daniel kaget, ia memang sudah dua kali melihat wajah cantik di balik cadar tersebut, pertama karena tak sengaja dan yang kedua adalah ketika berkunjung langsung ke rumah Maryam dan menyampaikan niat baik untuk menikahi nya.

‘’Cih, cantik cantik begini ternyata tidur nya mendengkur bagaikan kerbau!’’

…..

‘’Maryam, bangun!’’

Barulah gadis itu mulai terbangun, dengan perlahan ia mulai membuka matanya dan menatap ke sekeliling dan brakk! Tidak ada angin tidak ada hujan, Maryam malah menampar Daniel dengan keras.

‘’Awhg! Kenapa kamu malah menampar saya, hah!’’ kesal Daniel.

Maryam hanya terkekeh, ‘’Maaf, aku pikir kamu mau berbuat mesum kepada ku,’’

Daniel berdecak kesal, ia lantas turun sementara Maryam berkali-kali memukul kening nya, ia merasa sangat menyesal karena telah menampar keras pria itu.

‘’Hei, turun sekarang!’’

Gadis itu menurut dan ikut turun, namun matanya justru kaget kala berada di restoran dengan pemandangan pantai yang begitu indah, belum lagi sebentar lagi matahari terbenam akan muncul, hal yang paling menyenangkan bagi Maryam.

‘’Mas,’’

Namun ucapan Maryam keburu terpotong oleh Daniel, ‘’Sudah, sudah. Kamu jangan kepedean jika aku yang mempunyai ide untuk mengajak kamu ke tempat seperti ini! Ini semua perintah dari Papa, katanya kamu sedang stress dengan urusan di kampus, makanya dia menyuruh saya untuk mengajak kamu kesini, mengerti?!’’

Maryam hanya mengangguk pelan.

‘Lagian siapa juga yang ingin berkata seperti itu, padahal aku hanya mau berterima kasih saja.’

….

Kedua nya melangkah masuk ke dalam restoran yang cukup ramai, Daniel susah payah untuk mencari tempat yang kosong namun bagian dalam sana sudah penuh.

‘’Mas, bagaimana jika kita pesan yang bagian luar saja?’’ saran dari Maryam.

Daniel menoleh dan memberikan anggukan, keduanya melangkah kembali ke luar dengan duduk bersebelahan namun memberikan jarak sekitar sepuluh telapak tangan, keduanya saling memandang ke arah laut lepas.

‘’Kamu sangat suka dengan pantai rupanya?’’ ucap Daniel.

Gadis itu menoleh dan memberikan anggukan setuju.

‘’Hmm, bukan hanya pantai namun taman juga.’’ Sambung Maryam kemudian.

‘’Kenapa?’’ tanya Daniel heran.

‘’Memangnya ada yang salah?’’ tanya heran Maryam.

‘’Tidak, namun saya hanya penasaran saja.’’ Sahut Daniel.

Namun pesanan mereka berdua sudah datang, Daniel lagi-lagi menatap tak percaya dengan pesanan Maryam, menu yang paling murah di restoran tersebut.

‘’Kamu yakin dengan pesanan itu?’’ tanya Daniel memastikan.

‘’Hmm, lagian pasti semua menu di restoran ini sangat mahal, aku mana ada uang sebanyak itu untuk membayar nya,’’ sahut Maryam yang mendapatkan cercaan oleh Daniel.

‘’Hei, saya yang membawa kamu datang ke tempat ini jadi berarti saya akan mentraktir semua pesanan kamu. Sekarang pesan ulang, kamu mau makan apa, silahkan. Jangan sampai Papa berpikir jika saya ini pelit kepada kamu,’’

Maryam hanya menggeleng pelan, ‘’Tenang saja, aku tidak akan mengadu yang aneh-aneh kepada Papa nya Mas kok. Lagian kenapa Mas sangat takut dengan Papa? Padahal aku lihat …’’

‘’Kamu lihat bagaimana?! Jelas saya takut kepada Papa, bisa-bisa perusahaan saya di cabut izin nya nanti. Sudah, sudah. Sekarang kamu mau pesan apa?’’ sambung Daniel.

Gadis itu hanya kembali menggeleng, ‘’Tidak usah, Mas. Ini saja sudah cukup untuk saya dan …’’

‘’Dan apa?’’

Maryam tersenyum di balik cadar dengan berkata, ‘’Dan terima kasih karena sudah mau mengajak aku ke tempat yang indah ini,’’

‘’Hmm, sama-sama.’’ Jawab Daniel dengan datar.

Namun pada akhirnya senyuman manis pun terbit dari sudut bibir Daniel.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!