Episode 3/ Suami istri?
Daniel pun menceritakan semua hal tentang gadis bercadar bernama Maryam, ia pun tak mengerti kenapa papanya begitu kekeh menjodohkannya dengan gadis tersebut.
‘Bro, bro. gue pikir orang se tampan dan se kaya lo akan menikah dengan model, namun malah menikah dengan gadis seperti ini! Lihat, bahkan wajahnya saja tak terlihat, hanya kedua bola mata saja yang bisa lo banggakan jika memiliki kunjungan pekerjaan,’’ ujar Tyler ketika Daniel menunjukkan fotonya Maryam.
Daniel hanya terkekeh, ‘’Lagian siapa juga yang akan membawa gadis itu untuk semua kunjungan pekerjaan gue? Yah, enggak lah. Mungkin status gadis itu akan berubah menjadi istri gue di hadapan keluarga besar gue namun tidak dengan pekerjaan dan relasi gue,’’
Tyler hanya memicingkan sebelah matanya ketika melihat senyuman menyeringai dari Daniel.
……
Maryam tengah berada di sebuah panti yang ia dirikan dengan uang sendiri, gadis bercadar ini pun sudah terbiasa untuk bekerja sambil belajar, ketika masa kuliah pun dirinya terbiasa bekerja sambil kuliah, semua kebutuhan sudah di tanggung seorang diri, bahkan dengan hasil jerih payah Maryam, gadis bercadar itu berhasil mendirikan sebuah panti yang begitu ia impi-impikan dari lama.
‘’Kak Maryam!’’ pekik anak-anak yang berlarian ketika melihat seorang gadis bercadar maroon melangkah mendekat dengan membawa oleh-oleh berupa buah.
Sepuluh anak panti itu satu persatu menyalami Maryam dengan penuh sopan, mereka pun melangkah masuk ke dalam, ruangannya memang masih sederhana, namun gadis bercadar itu jelas bangga dengan semua ini.
‘’Eh, Maryam sudah datang ….’’ Lirih seorang wanita dewasa yang menjadi ibu panti dan merawat ke sepuluh anak panti.
Maryam pun menyalami Bu Ijah yang sudah berusia mendekat lima puluh tahun, mereka semua menuju meja makan yang terbuat dari kayu sederhana, memang tidak mewah namun penuh dengan cinta.
‘’Kak Maryam kenapa udah jarang main kesini? Kak Maryam udah nggak sayang lagi yah sama kami semua? Atau karena kami semua nakal?’’ tanya seorang gadis kecil yang duduk di sebelah Maryam.
Maryam menanggapi semua celotehan anak-anak panti dengan tersenyum di balik cadar, lalu kemudian tangan halus itu mengelus kepala semua anak panti dengan penuh cinta sembari berkata, ‘’Maaf yah Adik-adik, Kakak sedang sibuk sekali dengan kuliah nya Kakak, jadi nggak sempat deh main setiap hari,’’
…..
Di rumah Tuan Baskoro.
Daniel baru saja kembali setelah menyelesaikan masalah di kantor, dan seperti biasa dirinya akan pulang pada pukul Sembilan malam, memastikan semua pekerjaan selesai untuk hari ini, dan setiba nya di rumah ia akan membersihkan tubuh dan istirahat.
‘’Daniel!’’ panggil Tuan Baskoro.
Daniel menoleh dengan menyahut panggilan papanya.
‘’Duduk!’’ titah Tuan Baskoro.
Daniel menghela nafasnya, ia sudah begitu capek dengan semua pekerjaan nya di kanto dan sekarang papanya pasti akan kembali membahas pernikahannya dengan gadis bercadar bernama Maryam.
‘’Ada apa lagi, Pa? Daniel sudah sangat lelah dan butuh istirahat, jika hanya ingin membahas masalah pernikahan dengan gadis asing itu, atur saja sesuka Papa!’’ ujar Daniel yang masih berdiri.
‘’Daniel, kamu kenapa tidak pernah menghargai apapun? Yang ada di pikiran kamu hanya uang, uang, uang dan uang terus! Kamu ini sudah semakin dewasa Daniel, sudah seharusnya kamu memiliki seorang pendamping, memangnya kamu mau menjadi bujang lapuk, hah!’’ kesal Tuan Baskoro kepada putra semata wayangnya yang selalu lebih memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya.
Daniel hanya tersenyum menyeringai dan kemudian berkata, ‘’Papa atur saja semuanya, toh yang ingin Daniel menikah dengan gadis asing itu kan Papa, Papa yang terus bersikeras untuk menjodohkan Daniel dengannya!’’
‘’Calon istri kamu itu punya nama yah Daniel, dan namanya Maryam!’’
Daniel hanya memberikan anggukan kecil, Ia kemudian melangkah menaiki tangga yang kamarnya berada di lantai dua, bahkan pria tampan tersebut mengabaikan panggilan dari papanya sendiri.
‘’Hati kamu itu sudah sekeras batu, Daniel. Namun … Papa yakin Maryam bisa membuat kamu luluh padanya, karena sekeras nya batu akan tetap hancur jika di timpa oleh tetesan air, dan Papa sangat yakin jika Maryam adalah gadis pilihan terbaik untuk kamu,’’ gumam Tuan Baskoro yang menatap punggung putranya.
….
Di kamar Daniel.
Pria tampan tersebut baru saja selesai bersih-bersih, ia melangkah ke lemari besar untuk mencari baju tidur dan setelah itu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dengan menengadahkan kepala ke langit-langit, membuat Daniel terpikir akan satu hal.
‘’Kenapa Papa sangat bersikeras untuk menjodohkan aku dengannya? Bukannya ia tahu alasan aku lebih memilih untuk tidak menikah karena ….’’
Daniel memejamkan matanya seraya meremas tangannya dengan kasar, ‘’Wanita iblis itu! Iblis yang meninggalkan kami ketika Papa sedang bangkrut!’’
Drtt drtt drtt.
Ponsel Daniel mengacaukan semua lamunan tentang masa lalu, ia menghela nafas dan terdapat nomor asing yang tengah menghubungi dirinya.
Kening Daniel berkerut ketika nomor asing tersebut terus-menerus menghubungi dirinya, dan ini sudah panggilan yang ketiga kali.
‘’Halo, siapa ini?’’ tanya Daniel dengan dingin.
[Assalamualaikum Mas Daniel …]
‘’Hei, siapa kamu hah! Kenapa seenak nya kamu memanggil saya dengan sebutan Mas, kamu bisa saya tuntut akan hal ini, paham!’’ kesal Daniel.
Namun ketika ia hendak mematikan sambungan telepon, terdengar gadis yang memanggil nya dengan Mas tengah menangis, akhirnya Daniel menghela nafas dan berkata, ‘’Ada apa? Kenapa kamu menelpon saya malam-malam begini?’’
[Mas … eh Pak Daniel mengenal saya?]
‘’Jelas saya mengenal kamu, kamu Maryam kan? Gadis bercadar yang datang ke rumah pagi ini,’’
[Iya,]
‘’Sekarang katakan, apa yang kamu mau dari saya? Saya mau istirahat, jika tidak penting maka akan saya matikan sambungan telepon ini!’’
[Abi …. Hiks ….]
Akhirnya Daniel mendengarkan perkataan Maryam melalui telepon, pria tersebut lantas bergegas mengenakan jaket hitamnya dan langsung turun ke lantai bawah, padahal sudah hampir pukul dua belas malam, namun karena gadis bercadar itu meminta bantuan kepada Daniel, pria itu lantas bergegas ke parkiran mobil.
Tuan Baskoro yang tengah duduk di balkon kamarnya sembari menyeruput teh hangat, ketika melihat mobil Daniel keluar dari pekarangan rumah, kening nya pun berkerut dan penuh tanda tanya.
‘’Mau kemana Daniel malam-malam begini? Tidak biasanya dia masih berkeliaran di luar sana,’’ pikir Tuan Baskoro yang tidak terlalu ambil pusing, ia pun sudah sangat hafal dengan karakter putranya sendiri.
‘’Hmm, biarlah. Mungkin Daniel butuh tempat dan waktu untuk menenangkan diri dan menerima dengan baik tentang pernikahan nya dengan Maryam, lagian tidak mungkin juga dia pergi ke klub, itu bukan tempatnya,’’ gumam Tuan Baskoro yang menyeduh habis teh hijau kegemarannya dan melangkah masuk ke dalam kamar karena cuaca yang semakin dingin.
Tuan Baskoro tertegun sejenak, ‘’Daniel, maafkan Papa Nak …. Papa hanya tidak ingin kamu sendirian hingga masa tua, sama seperti yang di alami oleh Papa kamu ini, sudah bau tanah namun tidak ada yang menemani, mungkin jika mati pun tidak akan ada yang tahu,’’
Tuan Baskoro menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja.
….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
𝐈𝐬𝐭𝐲
danil trauma gara² ibunya..
2023-12-02
0