Malam ini Agung tidak dapat tidur. Mereka hanya berdua malam ini. Tidak ada yang menemani.
Indra langsung pulang begitu ditelepon oleh Maminya. Ada tamu di rumah yang akan diperkenalkan kepadanya, kata Indra sambil cemberut.
“Bagaimana caranya gue bisa bicara ke Mami supaya berhenti menjodoh-jodohkan anak semata wayangnya yang ganteng banget?” tanyanya sebelum pulang, menatap bergantian kepada Agung dan Raditya.
“Ya bicara saja ke Mami,” saran Raditya sambil berjalan ke arah pantry.
Indra menggeleng.
“Sudah Pak. Tapi Mami tetap saja berusaha menjodohkan saya dengan anak gadis teman-temannya.”
“Mami sudah tahu tentang mimpi Lu kan Bang?” tanya Agung, dia menerima uluran kue potong dari Raditya.
Indra mengangguk.
“Sepertinya Mami gak terima kalau gue menikahi janda dengan 2 anak.”
“Namanya juga orangtua...,” Raditya kembali ke bed-nya.
“Saya hanya tidak mau membuat Mami tersinggung...,” Indra menekuri lantai.
“Bang, nelangsa amat sih? Kencengin do'a. Temuin dulu anak-anak dalam mimpi Lu supaya Lu bisa ketemu dengan ibunya. Seperti yang dibilang si Adek...”
“Kira-kira, Disti bisa kasih bocoran gak, gue bakal ketemu dimana dengan anak-anaknya?”
“Don’t know. Buruan, nanti Mami marah...”
“Pakai diingetin lagi. Gue kan jadi malas pulang kalau begini...,”Indra mencebik. Lalu berpamitan.
Agung dan Raditya terkekeh kecil. Keduanya membahas Indra sebentar, kemudian Agung mematikan lampu utama saat perawat selesai melakukan pemeriksaan rutin.
Agung menarik tirainya. Lampu tidur yang di tanam di head bed-nya membuat suasana jadi temaram.
Cahaya jingga dari lampu menemani malam sepinya. Dia kesepian. Dia merindukan Adinda.
Kalimat kepala perawat itu terngiang di benaknya. Perasaan bersalahnya makin besar.
Betapa dia sudah menghancurkan perasaan Adinda pada saat itu walau setelah itu Adinda bersikap biasa saja padanya. Menutupi lukanya sendiri.
[Ah, pria macam apa aku ini?] rutuknya dalam hati.
Bahkan sore tadi dia berbohong pada Adinda dengan mengatakan tidak melihat apa-apa padanya.
Padahal dia melihat apa-apa yang ada pada Adinda sore itu yang membuat dirinya tidak bisa berpikir, tidak bisa berbicara dan tidak dapat bergerak.
Pemandangan indah yang belum menjadi haknya. Saat kembali ke rumah sakit, sepanjang jalan yang dilamunkannya hanyalah Adinda dengan balutan handuk.
Adinda dengan rambut basahnya. Wajah polosnya yang terlihat segar. Adinda dengan kulitnya yang berwarna terang dengan titik-titik air pada pundak dan lengan atasnya. Juga pada betisnya.
[Astaghfirullah... Gak bener ini...] Agung menggeleng.
Satu hal yang merusak pemandangan sore tadi adalah bercak memar hijau kelabu bercampur ungu di pahanya. Mengingat itu membuat Agung berdecak kesal.
Agung meraih gawainya di laci nakas. Memeriksa pesan chat yang ia kirimkan untuk Adinda. Centang biru!
Seketika Agung duduk tegak. Mengecek apakah Adinda sedang online atau tidak.
Ternyata terakhir kali online, 10 menit yang lalu. Hal yang membuatnya tidak habis pikir adalah kenapa chat panjangnya tidak dibalas?
[Jadi seperti ini rasanya, status chatnya only read tapi gak dibalas?] Agung mengacak rambutnya.
Agung_Kok only read? Kenapa gak dibalas?_
Centang dua abu-abu.
Agung menghembuskan nafas dengan kuat. Gawainya ia masukkan lagi ke dalam laci.
Memikirkan tentang proyeknya dan B Group sambil mendawamkan Al Mulk yang sudah ia hafal di luar kepala.
“Gung, sudah tidur?” Raditya bertanya dari balik tirainya.
Agung mengubah posisinya. Menyibak tirai pembatas. Khawatir Raditya membutuhkan bantuan.
“Ada apa, Bang?”
“Nggak.. Gak ada apa-apa. Besok, jadi kan kita makan mie ayam?”
Agung turun dari bed-nya.
“Jadi dong. Ide si Adek buat naikin mood Kakaknya yang sempat berantakan,” Agung tertawa sambil berjalan ke arah pantry.
“Bang, mau air putih hangat gak?”
“Boleh, Gung.”
Agung membawa dua mug air hangat. Memberikan satu pada Raditya.
“Bang, ma’af tapi saya kepo...”
“Kenapa?” Raditya menerima mug dari Agung, “Mau menanyakan tentang Ayumi ya?”
“Eh, kok tahu?”
“Sudah bisa ditebak. Pertanyaan dengan kata pembuka kata ma’af, berarti akan menanyakan sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu yang tidak mengenakkan bagi orang yang ditanya,” Raditya tertawa.
“Terus bagaimana?”
“Jawaban jujurnya?” Raditya menatap Agung.
Agung mengangguk.
“Saya belum bisa move on. Ada rasa bersalah di sini...,” Raditya menunjuk dadanya, “Dia meninggal karena pekerjaan saya.”
“Ikhlaskan dia, Bang. Simpan di dalam hati Abang, di benak Abang. Tapi bukan berarti Abang berhenti melanjutkan hidup Abang.”
“Saya sudah ikhlas, Gung. Selama ini saya melanjutkan hidup tanpa dia. Saya ingin mengabdikan sisa hidup saya untuk pekerjaan saya. Mengabdi kepada negara.”
“Sekarang Abang bisa bicara seperti itu karena Abang masih di usia produktif. Tapi bagaimana nanti di usia pensiun?” Agung menatap Raditya yang sedang mengusap wajahnya.
“Mau, Abang hidup seorang diri tanpa ada yang menemani? Tidak ada tempat berbagi suka dan duka saat sendiri, saat di malam hari, saat sedang sakit...”
“Apakah negara dan tugas-tugas yang sudah Abang tunaikan akan bisa menemani Abang di saat-saat seperti itu? Apakah sebanding dengan cinta dan pengobanan Abang kepada itu semua?”
Raditya yang tadinya menatap tirai di depannya mendadak menoleh pada Agung.
“Okelah, mungkin Abang tidak akan merasa kesepian karena ada teman-teman Abang. Tapi teman-teman Abang juga tidak bisa berada 24 jam sehari bersama Abang. Mereka juga ada keperluan lain.”
“Maksud kamu bagaimana, Gung?” Raditya menggeser posisi duduknya.
“Abang mau pahala besar yang terus menerus, gak? Padahal Abang tidak merasa melakukan apa-apa, tidak berbuat apa-apa saat pahala itu mengalir kepada Abang?”
Raditya mengerutkan keningnya.
“Ya mau dong. Bagaimana caranya?”
“Menikah.”
“Saya sudah pernah menikah.”
“Tapi pernikahannya sudah selesai.”
“Bagi saya belum.”
Agung menatap Raditya yang menolak menatap matanya. Dari bed-nya, Agung bisa melihat mata Raditya yang mengembun.
“Bang, ma'af kalau percakapan kita ini terdengar terlalu kejam buat Abang.”
“Kamu gak tahu rasanya kehilangan orang yang kamu cintai, Gung.”
“Saya memang tidak tahu. Tapi saya hampir tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai.”
Raditya menoleh.
“Tahu tidak, ibadah yang paling lama, paling panjang dilakukan namun ada pahala yang mengalir bahkan di setiap helaan nafas kita?” Agung duduk di tepi bed-nya, menatap Raditya.
Raditya menggeleng.
“Pernikahan.”
Raditya bergeming.
“Kita tidak perlu melakukan apapun, pahala akan tetap mengalir terus menerus kepada kita. Bahkan bila kita sekedar bernafas sekalipun. Selama menjalani pernikahan itu dengan benar sesuai syari'at. Selama masih terikat dengan pernikahan itu di dunia dan akhirat.”
Raditya menunduk.
“Pernikahan Abang dengan Mbak Ayumi sudah berakhir saat maut memisahkan. Pahala yang terus menerus mengalir di dalamnya juga sudah terhenti. Kecuali pahala mendoakan mendiang Mbak Ayumi dan berbuat baik kepada kedua orangtua mendiang.”
Mata Raditya basah.
“Abang gak ingin punya keturunan yang bisa mendoakan Abang nanti?”
“Saya hanya ingin punya anak dari Ayumi.”
“Mbak Ayumi sudah meninggal, Bang.”
“Dia masih ada di sini..” Raditya menunjuk dadanya, “Juga di sini,” menunjuk kepalanya.
“Itu artinya Abang belum ikhlas melepasnya. Kasihan Mbak Ayumi, masih terbebani di dunia...”
“Saya ikhlas!” Raditya menatap marah pada Agung.
Agung turun dari bed-nya. Menepuk bahu Raditya. Lalu duduk di tepi bed.
“Abang pasti tahu kan surat al Ikhlas?”
Raditya mengangguk.
“Di dalam surat tersebut, ada nggak kata ikhlas yang disebut?”
Raditya menggeleng.
“Abang tahu kenapa?”
Raditya menggeleng lagi.
“Karena ikhlas tidak butuh diucapkan. Ikhlas itu tentang perbuatan dan tentang hati.”
Raditya memejamkan matanya.
“Saya rasa, Bang Radit bisa mencerna ucapan saya. Saya tidak meminta Bang Radit untuk mencari pengganti Mbak Ayumi. Karena Mbak Ayumi itu tak tergantikan.”
Mata Raditya terbuka lalu menunduk.
“Saya hanya meminta Bang Raditya untuk membuka diri, membuka hati kepada wanita yang memang pantas menjadi istri Bang Radit.”
Agung menghela nafas lagi.
“Saat Bang Radit sudah menemukannya, jangan minta ia untuk menjadi pengganti Mbak Ayumi. Kasihan dia karena akan selalu berada di bawah bayangan Mbak Ayumi yang Mas Radit ciptakan.”
“Ikhlas, berarti Abang harus percaya bahwa kepergian Mbak Ayumi karena takdir Allah. Buka hati lalu menikah. Agar Bang Radit mempunyai keturunan yang kuat dan sholeh/sholeha, yang bisa membangkitkan ghirah beragama dalam menghadapi akhir jaman.”
Agung bangkit dari duduknya. Menepuk-nepuk punggung Raditya yang sedang termenung.
“Tidurlah Bang. Istirahat. Besok, kita bicara lagi. Maafkan ya bila ada kalimat saya yang melukai Abang.”
Raditya menghela nafas. Mengangguk dan tersenyum.
Agung menutup lagi tirai pembatas. Mengusap wajahnya, berpikir lagi apakah tindakannya tadi keterlaluan untuk masuk ke dalam ranah pribadi Raditya.
Agung menggeleng. Dia melakukan semua ini karena baginya, Raditya adalah saudaranya. Terlepas dia pejabat atau tidak, Agung sudah menganggapnya sebagai keluarga.
Keluarga akan selalu saling jaga dan saling mengingatkan kan?
Agung mengecek gawainya lagi. Pesannya dibalas Adinda.
Adinda_Kan besok juga kita ketemu. Jadi kan makan mie ayamnya?_
Adinda_BTW, Om Agung kenapa? Kenapa minta maaf lagi? Kan udah dimaafin saya tempo hari..._
Agung tersenyum. Bahkan dia menggigit-gigit bibirnya karena merasa senang sekali mendapat balasan chat dari Adinda.
Agung_Dinda_
Centang satu abu-abu.
Agung menatap layar gawainya dengan hati yang galau. Benaknya dipenuhi oleh Adinda lagi.
Malam ini, Adinda hadir dalam mimpinya. Menyodorkan sebelah sepatunya yang terbakar di tepinya. Tetapi Adinda dalam balutan handuk mandi dan rambut yang masih basah.
Daebak!
.
*bersambung*
🌺
Bang Radit kira-kira besok pagi saat bangun tidur bagaimana ya?
Bang Agung, sepatu Adinda mau diapain dalam mimpinya Bang?
🌺
Jangan lupa like dan minta update🌷
Yang belum ❤➕ atau belum beri ⭐5, please... 🙏🏼
Maafkan tersendat 🙏🏼🙏🏼
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Tri Yoga Pratiwi
buruan di halalkan 🤣
2024-01-05
1