Setelah makan malam, Agung kembali ke rumah sakit. Kepala perawat menggelengkan kepalanya saat melihat Agung di ruangannya.
“Pasien bandel ini...,” ujarnya.
Raditya yang tengah berbicara dengan Indra tertawa.
“Urgen banget, Suster...”
“Seurgen apa sih sampai mengabaikan kesehatannya sendiri?” Kepala Perawat menuliskan hasil pemeriksaan rutin di catatan rekam medis Agung.
“Dia harus jadi Power Ranger dulu demi menyelamatkan pujaan hati,” kata Indra sambil tertawa.
“Kok gak ada di medsos?” tanya Kepala Perawat.
“Gak semuanya harus ditampilkan di medsos kan? Ada kalanya jagoan beraksi tanpa ada kamera yang merekamnya,” Indra tersenyum lebar sambil melirik Agung yang tengah menyengir.
“Setelah beraksi, bagaimana kondisi tubuhnya?”
“Lemas, lemah, lunglai, tapi harus tetap terlihat cool dan strong karena ada pujaan hati di samping saya, Sus...”
Semuanya tertawa mendengar jawaban Agung.
“Bandel sih. Saya infus saja ya... “
“Nggak ah. Sekarang juga udah mulai enakan. Tadi makan banyak di rumah.”
“Pak Agung ini sebenarnya homesick ya? Sudah berapa lama menginap di rumah sakit terus menemani Pak Raditya?” Kepala Perawat bertubuh gemuk itu tertawa.
“Besok saya udah bisa pulang kan Suster?” Agung menatap penuh harap.
“Kenapa memangnya?” Kepala Perawat mengukur tekanan darah Agung.
“Demi kesehatan jiwa saya, Suster...”
Indra dan Raditya terkekeh.
“Maksudnya?” Kepala Perawat mengerutkan keningnya.
“Saya ingin makan mie ayam langganan saya, Suster. Mood booster saya, mie ayam yang di Jalan Indramayu.”
Indra dan Raditya tidak tahan lagi, tawa mereka meledak.
Kepala Perawat tampak shock dengan jawaban Agung.
“Ya Allah... Kirain ada apa pakai ngomong demi kesehatan jiwa segala...” Kepala Perawat ikut tertawa.
“Boleh ya Suster...”
“Keputusan ada di tangan dokter, bukan saya,” Kepala Perawat tersenyum lebar.
“Tapi kondisi saya baik kan? Jauh lebih baik daripada kemarin?”
Kepala Perawat mengangguk, sambil membuka alat pengukur tekanan darah digital.
“Nanti Suster tulis rekomendasi pulang untuk saya ya...”
Kepala Perawat meringis.
“Suster kan baik...”
“Hanya Reyhan yang baik...,” jawab Kepala Perawat sambil tersenyum.
“Eh, Suster, demam lagu Reyhan Itu Baik sudah lewat loh. Kabarnya sudah ganti dengan Agus...,” Indra menatap serius wajah Kepala Perawat.
“Loh, Tuan Indra tahu lagu itu?”
Indra tertawa.
Agung dan Raditya terbengong.
“Reyhan siapa? Agus siapa?” Raditya menatap Indra dan Kepala Perawat bergantian.
“Ah, susah jelasinnya. Skip aja deh,” Kepala Perawat mengibaskan tangannya membuat semuanya tertawa.
“Suster.....” Agung mengacungkan jari love pada Kepala Perawat yang membuat pipinya bersemu merah.
Tapi kemudian tangannya mengibas lagi.
“Jangan macam-macam, Pak Agung. Cewek berseragam SMA yang sewaktu hujan-hujan di taman itu, pacarnya Pak Agung kan?”
Agung menaikkan alisnya.
“Hari saat saya kehujanan?”
Kepala Perawat itu mengangguk.
“Dia bukan pacar saya. Dia calon isteri saya. Kami sudah bertunangan minggu lalu.”
“So sweet,” Kepala Perawat tersenyum, “Pada hari itu menjadi something interesting bagi saya. Touching heart moment.”
Indra penasaran. Dia bergeser untuk duduk di ujung kaki bed Raditya.
“Pada hari itu, Pak Agung bukan sekedar kehujanan biasa. Lebih tepatnya bengong di bawah hujan deras. Saya melihat semuanya dari dalam ruang perawat. Jendelanya menghadap taman.”
“Saat Pak Agung sepertinya sedang tertidur, dia menunggui Pak Agung lama. Duduk di samping Pak Agung.”
Mata Agung mengerjap. Ia teringat postingan Adinda di Ige-nya pada hari itu.
“Lalu beberapa saat setelah dia beranjak pergi, Pak Agung bangun. Itu pun gak langsung bangun Pak Agungnya. Mungkin seperti menyadari ada sesuatu yang berbeda atau apalah.”
“Pada saat itu saya harus memeriksa pasien di VIP 2. Saya berpapasan dengan gadis itu. Berjalan sambil menghapus air matanya. Sementara Pak Agung terdiam berdiri di bawah hujan deras. Wajah kalian berdua, benar-benar sedih.”
Semuanya terdiam mendengar cerita Kepala Perawat.
“Saat itu, bagi saya, berasa melihat adegan sedih di film India. Pakai soundtrack Tum Hi Ho...” Kepala Perawat mulai menyelesaikan catatannya di lembar rekam medis Agung sambil bersenandung lagu Tum Hi Ho.
Dia berpamitan dengan melambaikan tangannya ke semuanya. Lalu mendorong troli berisi peralatan medis sambil bernyanyi. Suaranya jernih.
“Hum tere bin ab reh nahi sakte_ Aku tak bisa hidup tanpamu_
Tere bina kya wajood mera_ Apalah aku tanpamu_
Tujhse juda gar ho jaayenge_ Jika aku terpisah darimu
Toh khud se hi ho jaayenge judaa_Maka aku juga akan terpisah dari diriku_
Kyunki tum hi ho_ Karena hanya kamu_
Ab tum hi ho_ Sekarang hanya kamu_
Zindagi ab tum hi ho_ Kehidupanku kini hanya kamu seorang_
Chain bhi, mera dard bhi_ Ketenanganku juga rasa sakitku_
Meri aashiqui ab tum hi ho_Cintaku sekarang adalah dirimu seorang_
Bahkan hingga pintu tertutup, suaranya masih terdengar. Mereka bertiga masih termangu. Tidak bergerak dari tempatnya.
“Gile bener....” Indra menggelengkan kepalanya.
“Mendengar dia bercerita tentang Agung dan Adinda, berasa dibacakan novel yang bisa kita bayangkan adegannya,” Raditya menekuk kakinya, “Suaranya keren.”
Agung dan Indra mengangguk setuju.
Tiba-tiba saja, Agung dilanda rasa kangen yang hebat pada Adinda. Ada banyak rasa bersalah yang terselip saat mendengar cerita Kepala Perawat itu.
Agung meraih gawainya.
Agung_Assalamu’alaikum, Din. Sedang apa?_
Centang satu abu-abu.
Biasanya Adinda cepat menjawab pesannya. Agung gelisah. Pesannya masih centang satu abu-abu.
Agung_Ma'afkan saya ya. Saya jahat banget ya ke kamu. Bikin kamu sedih saat saya meminta kita untuk tidak saling bertemu dulu, menjaga jarak. Ma’afkan saya, Din_
Centang satu abu-abu.
Agung_Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Saya memang bodoh dan egois. Ma’af sudah membuat kamu menangis dan melukai hati kamu_
Centang satu abu.
Agung_Kamu tahu kan perasaan saya ke kamu bagaimana? Rasa sayang saya ke kamu? Saya cinta kamu. Jangan pernah meninggalkan saya, ya. Saya gak mau yang lain untuk menyempurnakan separuh agama saya. Saya cuma mau kamu, Din, Adinda Puteri Rahmat binti Adang Rahmat_
Centang satu abu.
Sepertinya Adinda sudah tidur. Gawainya juga tidak diaktifkan.
Agung_Saya kangen banget ke kamu_
Agung menatap centang satu abu-abu. Jarinya menyentuh foto profil Adinda, tangannya yang memegang spatula kelinci yang dibelikan olehnya.
Melihat spatula kelinci,membuatnya teringat nyaris menjadi korban penusukan yang dilakukan oleh anak buah Tuan Thakur di tempat parkir toko peralatan dan bahan kue.
Agung memperhatikan centang satu abu-abu lagi. Hatinya serasa diremas.
Membuka galeri fotonya, ada beberapa foto candid Adinda. Tapi foto favoritnya adalah foto yang pertama kali ia ambil di gerai donat saat Adinda tersenyum lebar.
Pertama kalinya ia melihat senyum lebar Adinda. Adinda tersenyum dengan sorot matanya juga.
Pertama kali juga ia melihat dekik kecil di bawah mata Adinda. Ujung telunjuknya menyentuh layar gawai tepat di dekiknya. Agung sangat berharap bisa menyentuhnya secara langsung.
Agung menghela nafas. Rasa rindunya membuat Agung serasa diremat hatinya. Ada rasa dingin yang menusuk, jauh di dalam sana.
Suara tawa yang riuh dari bed sebelah membuatnya menoleh.
“Saya kalau diceritain cerita horor oleh suster tadi, mendingan nggak lah...” Raditya terkekeh.
“Nanti diakhir cerita, dia nyanyiin Lingsir Wengi atau soundtracknya Pengabdi Setan...” Indra tertawa.
“Apa gak bahaya tuh...” Agung menyela.
Ketiganya tertawa.
.
*bersambung*
🌺
Hayo... Yang langsung nyanyiin Tum Hi Ho, cung! 🤭
Berasa lagi baca surat cinta Agung buat Adinda. Isssssh 🤭😁
🌺
Jangan lupa like dan minta update 😏.
Yang belum pencet ❤➕ ataupun belum beri ⭐ 5, yuk ah.
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments