“Kakak!” seru Ivan menyongsong wanita muda yang baru datang.
Hans dan Agung makin terperangah. Hans yang tetap duduk di tempatnya dengan punggung tegak dan Agung yang sudah berdiri dari kursinya menatap tak percaya.
“Kinanti?” Agung menyapa sekaligus bertanya.
Adinda mendongak, menatap bergantian antara Agung dan Kinanti. Dia tahu, Kinanti adalah anak buah Agung yang terang-terangan menaruh hati padanya.
Hans diawal terlihat terkejut namun selanjutnya ia mengangguk lega. Potongan puzzle yang selama ini mengganggu benaknya sudah ditemukan.
Wajah panik dan ketakutan Kinanti saat dia menekan Kinanti untuk tidak menyebarkan rumor tentang Agung dan Adinda di lingkungan perusahaan Sanjaya Group. Biang gosip divisi accounting.
Rumor Agung menyalahgunakan jam kerja untuk berpacaran karena ada Adinda yang sedang mampir di ruangannya. Juga gosip-gosip murahan terkait hubungan Agung dan Adinda lainnya.
Pada saat itu Hans merasa pernah melihat raut wajah itu pada seseorang. Deja vu. Tetapi ia lupa wajah siapa.
Dan sekarang, ingatannya terbuka. Wajah Ivan saat diciduk oleh Shadow Team atas perintah dan komandonya sendiri. Hans memakai masker dan kacamata hitam saat itu. Begitu pula Man.
Memberi pelajaran kecil pada Ivan sambil memberitahu apa yang sudah anak buahnya lakukan pada Adinda di gang belakang gerai donat.
Sekarang, baru diketahui, ternyata Kinanti yang terlihat jelas menyukai Agung adalah kakak dari Ivan yang menyukai Adinda. Ah, terdengar lucu namun juga rumit.
“Pak Agung?” Kinanti terkejut, kemudian menatap Adinda.
Kinanti tersenyum.
“Wah, sungguh hal yang diduga sama sekali ya. Adinda ternyata ada juga di ruangan ini. Kenakalan remaja ya? Ck..ck..ck..” Kinanti menggelengkan kepalanya dengan dramatis sambil menatap Adinda dengan tatapan meremehkan.
Wajah Mami dan Bunda memerah. Layla menepuk-nepuk lengan Mami untuk menyabarkan.
“Jaga mulutmu, Mbak!” Bunda maju ke arah Kinanti, “Anda baru saja datang tiba-tiba langsung main tuduh anak orang. Tidak mengerti duduk permasalahannya apa, tidak bertanya dulu pada para guru, langsung mengambil kesimpulan!”
“Mbaknya kakaknya Ivan? Sebaiknya duduk dulu dan jangan berkata apapun yang akan memperumit masalah. Tunggu orang tua atau wali murid lainnya datang, nanti akan kami jelaskan, ” seorang guru menengahi.
Ayah menghela nafas.
“Sudah Mam.. Sudah diwakili oleh Bunda.. Calm down Mam...” Layla menenangkan Mami.
“Saya tidak menyangka kamu berpikiran sepicik itu, Kinan,” Agung menatap Kinanti dengan sorotan mata dinginnya.
Kinanti terdiam. Dan saat ia duduk di kursi yang disediakan, berseberangan dengan kursi Agung dan Adinda, dia baru menyadari ada Hans, anak pertama Tuan Alwin Sanjaya dan suaminya, ada istri dari Direktur Keuangan juga suami istri Gumilar.
Tangannya gugup saling meremat. Berarti, yang bicara dengannya tadi adalah ibunya Pak Agung? Orang yang seharusnya ia dekati dengan bermanis-manis untuk mengambil hatinya sebagai calon menantu!
Adinda menatap Kinanti kesal. Ujung telunjuknya disentuhkannya ke siku Agung membuat Agung berjengit.
“Ada apa?” Agung menoleh.
“Saya boleh pulang duluan gak Om?”
“Kenapa memangnya?” Agung mengambil selembar rambut di atas jilbab Adinda. Gerakannya seperti sedang membelai kepala Adinda.
Kinanti dan Ivan yang melihatnya langsung membuang pandangan.
“Saya capek, Om.”
“Tunggu sebentar lagi, ya. Sabar ya. Kita selesaikan dulu masalah ini hingga tuntas.”
“Tapi saya ngantuk banget, Om. Ditambah mata saya perih terkena sampo dan sabun...”
“Ada yang bawa obat mata?” Agung bertanya pelan pada Mami dan Layla, “Mata Dinda iritasi terkena sampo dan sabun tadi...”
Mami dan Layla menggeleng. Leon juga. Bunda tidak membawa apalagi Ayah. Hans merogoh saku depan jasnya. Lalu mendekati Adinda.
“Saya atau om kamu nih yang teteskan obat matanya. Jangan kamu sendiri. Tangan kamu habis nyambelin mereka, nanti malah mata kamu ikutan pedih...” Hans menunjukkan obat tetes mata dari sakunya.
“Abang bawa obat mata kemana-mana kenapa?” tanya Adinda.
“Mata saya sering kering, Din. Mungkin terlalu sering melihat layar monitor...”
“Mungkin karena udah tua juga, Bang...”
Jawaban Adinda sukses membuat Hans mencebik. Leon dan Layla tertawa pelan. Bunda yang tadi berwajah tegang jadi tertawa.
“Gung, nih Lu aja deh. Gue jadi mendadak badmood...” Hans menyerahkan obat tetes matanya kepada Agung.
“Bang..” Adinda menarik ujung depan jas yang dipakai Hans.
“Apa lagi?”
“Abang marah ya ke Dinda? Jangan marah-marah, nanti beneran cepat tuanya. Kasihan Baby Andra...”
“Hisssh!” Hans yang kesal berjalan lagi ke arah kursinya.
Agung tertawa lalu meneteskan obat mata pada mata Adinda.
“Ngambek beneran loh Bang Hans...”
Mata Adinda masih mengerjap.
“Masa sih?”
Mami membantu membersihkan obat mata di pipi Adinda dengan tisu.
“Masih perih gak matanya?”
“Alhamdulillah, mendingan Mam. Sudah agak sejuk..”
“Bang Hans...” bisik Adinda keras sambil mencondongkan tubuhnya ke depan supaya bisa melihat Hans.
Hans yang sedang menjawab pesan di gawainya agak malas-malasan menoleh ke arah Adinda.
“Apaan Din?” hanya sekejap menoleh pada Adinda selanjutnya menatap gawainya lagi.
“Abang beneran marah ke Dinda ya?”
“Hmmm.”
“Bang.. Ma'afin ya. Dinda cuma berchandyaa..”
“Kamu ngeselin kalau lagi tengil. 11 12 dengan Om kamu. Bareng Indra kalian bisa jadi trio tengil...” mata Hans tetap layar gawainya.
“Bang Hans!”
Hans menoleh.
Adinda membuat lengkungan ibu jari dan telunjuk kanan kiri lalu menyatukan keduanya membentuk bentuk hati. Hans tertawa.
Beberapa guru yang melihat interaksi mereka ikut tersenyum.
“Alhamdulillah, Adinda cepat pulih ya. Tidak berlarut-larut dalam kesedihan,” guru wali kelas Adinda tersenyum.
Bunda mengangguk. Bunda masih ingat dengan wali kelas Adinda yang pernah menjenguk Adinda di rumah sakit.
“Alhamdulillah. Para Abang dan Tetehnya sangat menyayangi Adinda. Jadi Adinda bisa cepat pulih karena berasa di lingkungan yang positif.”
Suara salam berturut-turut terdengar dari arah pintu masuk. Serombongan orangtua murid dan wali murid yang bermasalah datang.
Semua menjawab salamnya. Mereka bersalaman dengan para guru dan semua orang di dalam ruangan.
Saat mereka duduk di tempat yang disediakan bersama Kinanti, mata mereka menatap nyalang pada anak-anak mereka. Mereka sudah tahu mereka dipanggil karena apa. Kelakuan anak-anak mereka sendiri yang sudah seringkali membuat onar di sekolah.
Murid-murid semakin ramai berada di luar ruangan guru. Suaranya terdengar mengganggu hingga ke dalam ruangan.
Rambut Shaggy meminta ijin pada Pak Hasan untuk mengalihkan perhatian murid-murid supaya tidak mendengar dan melihat percakapan yang terjadi di ruang guru.
Rambut Shaggy didampingi Guru Olahraga berbicara dengan murid-murid di depan ruang guru. Mengajak para murid untuk mencari sebelah sepatu Adinda.
Selasar ruang guru mendadak senyap. Murid-murid mengikuti Rambut Shaggy ke arah belakang masjid tempat Manda menendang sepatu Adinda.
“Ma'af, sebenarnya yang tadi itu siapa?” Pak Hasan bertanya sambil memandang Agung dan Hans bergantian.
“Dia Briptu Yeni, yang sengaja ditugaskan oleh Pak Raditya untuk mengawal Adinda pada hari ini. Karena mengkhawatirkan keselamatan Adinda dan tidak mau kejadian yang dulu pernah menimpa Adinda terulang lagi oleh para pelaku yang sama.”
Para Guru dan Para Wali Murid pelaku bergumam.
“Briptu?” seorang guru bertanya, “Berarti...”
“Pak Raditya? Maksudnya Pak Raditya yang baru dilantik itu?” sejumlah guru bergumam kagum.
“Pak Raditya, salah satu abang Adinda,” Mami menjawab dengan santai.
Para wali murid terlihat panik wajahnya. Anak mereka menakali anak yang salah.
Agung melihat perubahan raut wajah mereka. Dia mendengus sebal.
.
*bersambung*
🌺
Tuh kan, nasi sudah menjadi bubur. Kinanti keselek bubur.
Eh, salah 🤭
🌺
Jangan lupa like dan minta update 😉
Yang belum pencet ❤➕ atau beri ⭐5, ayo dong...
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
keselek batu ulekan thor
2024-07-31
1
Ough See Usi
qqqqqq setelah pede lalu terhempas 🤣🤣🤭
2023-12-14
0
Tri Yoga Pratiwi
kinanti kepedean 🤭
2023-12-12
1