Mereka santap siang di rumah. Agung menaiki tangga menuju kamarnya. Kamar dengan pintu bertuliskan A1 besar seukuran pintu.
Sementara kamar dengan pintu bertuliskan A2, di seberang kamarnya sekarang ditempati Adinda. Dulu itu kamar adiknya, Adisti.
Memandangi kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan, membangkitkan banyak kenangan dan kilas balik. Agung menyentuh meja tulisnya. Bersih. Tidak berdebu sama sekali.
Agung tersenyum. Dia harus berterimakasih kepada Bibi karena membersihkan kamarnya dengan baik.
Ada satu hal yang berbeda dalam kamarnya. Pigura di tembok terlihat sangat mencolok.
Tulisan tangan Adisti yang digambari bentuk hati mewarnai ungu dengan menggunakan spidol permanen di dinding kamarnya, diberi bingkai logam yang terlihat sangat Eropa klasik. Penuh ukuran rumit.
Agung mendekat, membaca tulisan tangan Adisti yang unik. Dia tahu siapa yang bersikeras memasang bingkai yang jelas-jelas terlihat sangat mahal itu. Kakak iparnya, Bramasta.
Tulisan tangan adiknya diperuntukkan dirinya, ditulis saat Adisti masih SMP.
“Kakak Terganteng Sedunia.”
Dengan huruf g kecil seperti semut yang sedang melambaikan antenanya. Huruf g kecil yang membuat Bramasta tergila-gila dengan adiknya.
Beberapa kali Agung memergoki, saat adik dan suaminya menginap di rumah, Bramasta naik ke kamar atas hanya untuk melihat tulisan tangan adiknya.
Kemudian dia akan menyentuhkan ujung telunjuknya ke arah huruf g kecil lalu senyum-senyum sendiri.
Sebahagia itu, seorang Bramasta Sanjaya, CEO B Group dan anak dari CEO Sanjaya Group saat melihat tulisan tangan Adisti. Agung terkekeh pelan.
Merasa penat, dia meregangkan tubuhnya. Kemudian membuka kaos yang sedang dipakainya. Khawatir terpercik atau kena najis dari baju Adinda.
Memeriksa kaos bekas pakainya dengan membaui. Tidak tercium aroma najis anjing dan babi yang dipakai anak-anak itu untuk mengerjai Adinda.
Menatap bayangan dirinya di cermin panjang di depan pintu lemari pakaian. Menyisir rambutnya dengan jemari.
Bagian tubuh sisi kanannya terlihat. Ada garis memanjang dengan lekuk dalam, masih berwarna pink di kulitnya.
Bekas operasi pengambilan peluru yang melintasi punggung kiri ke dada kanan. Pelurunya berbelok ke tepi tubuh kanan dekat punggungnya. Garis yang akan permanen menemani sisa hidupnya.
Pergerakan di ambang pintu yang terbuka membuatnya menoleh ke arah pintu. Sedetik kemudian, Agung membeku. Menatap dengan tatapan kaget.
Adinda berdiri mematung dengan mata melebar di ambang pintu. Memegangi mug yang berisi air putih dengan kedua tangannya. Tetapi air di dalam mug tampak bergoyang permukaannya.
Agung langsung menarik pintu lemari bajunya. Menyembunyikan tubuhnya ke balik pintu lemari. Kepalanya menunduk. Dahinya ditempelkan pada pintu lemari bagian dalam. Menarik nafas dalam beberapa kali lalu menghembuskan perlahan.
“Kamu...” suaranya bergetar, “Kamu ngapain di situ?”
“Eh?” Adinda mengerjap.
Tersadar dari rasa gugupnya. Adinda bergerak salah tingkah. Pipinya merah.
Gegas ia meletakkan mug di atas meja tulis Agung. Sayangnya, karena terlalu gugup, airnya tumpah saat dasar mug menyentuh atas meja.
“Yah tumpah!” Adinda berseru kaget.
Tidak ada tisu di atas meja. Inisiatif Adinda, dia menggunakan ujung jilbabnya untuk mengelap meja yang basah.
Agung melihat apa yang dilakukan Adinda dari balik pintu lemari.
“Kamu jorok ih!”
Adinda terlonjak kaget.
“Kirain Om Agung gak lihat...” Adinda terkekeh malu, “Gak ada tisu di kamar ini.”
Agung menempelkan lagi dahinya di belakang lemari. Tubuhnya masih bersembunyi di balik pintu lemari.
“Kamu...” Agung menelan salivanya, “Sudah berapa lama berdiri di sana?”
Adinda mematung. Menundukkan wajahnya sambil mengaitkan jemarinya.
“Se... jak... Om Agung meregangkan tubuh.”
Agung terbatuk, tersedak salivanya sendiri.
“Terus kamu diam saja?” Agung masih menyembunyikan wajah dan tubuhnya di belakang lemari.
“Saya kan kaget Om. Terpana...” Adinda membela diri.
Kepalanya mendongak menatap pintu lemari. Tapi orang yang diajak bicara masih bersembunyi di belakang pintu lemari.
“Terpana atau terpesona?” tanya Agung dari balik lemari sambil mengusap wajahnya.
“Dua-duanya Om!” Adinda spontan menjawab tetapi kemudian menutup mulutnya.
“Eh, gak gitu. Maksud saya, terpana kaget, Om!”
Agung mencibir dari balik lemari.
“Lagian, Om kok gak menutup pintunya sih? Kalau pintunya tertutup kan saya bakal mengetuk lebih dulu, Om...”
Agung merasa bodoh. Merutuki dirinya sendiri yang tidak menutup pintu. Hingga berujung kejadian memalukan seperti ini.
DUK.
Agung membenturkan keningnya perlahan di pintu lemari bagian dalam.
DUK.
Lagi.
DUK.
Lagi.
“Om Agung sedang apa?”
“Hmmm.”
DUK.
“Om?”
“Hmm.”
“Saya boleh lihat bekas operasinya?”
“Nope at all. Buat apa?”
“Boleh saya sentuh?”
DUK!
Suaranya lebih keras.
“Are you kidding me? Nanti saja kalau sudah halal,” Agung mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya dengan punggung tangannya.
DUK.
Tiba-tiba suhu kamar terasa gerah.
“Om? Ngapain?” Adinda terdengar mendekat.
“Din, berhenti.”
“Kenapa?”
“Karena saya belum pakai baju.”
Adinda mengernyit.
“Tapi kan di belakang Om Agung itu banyak baju. Dari tadi belum pakai baju? Kenapa? Nungguin dipakaikan oleh saya, Om?”
“Eh?” Agung tersadar.
Cepat diambilnya baju dari tumpukan lipatan T-shirt.
“Kamu mundur..”
“Iya.. Iya...” Adinda tersenyum lebar sambil menutupi mulutnya.
Agung menutup pintu lemari setelah memakai T-shirtnya. Rambutnya sedikit berantakan. Tapi Agung tidak peduli.
Pipinya terasa panas, matanya menunduk tidak berani menatap Adinda.
“Om gak apa-apa?”
“Hmm.”
“Om?”
“Iya...”
“Om?” Adinda menekuk lututnya untuk melihat wajah Agung, “Mukanya merah banget, Om...”
“Hisssh.”
Agung duduk di kursi, membelakangi Adinda. Dia meraih mug yang dibawa Adinda. Tangannya bergetar saat mengangkat mug, mendekatkan ke bibirnya.
“Om kok mendadak tremor begitu sih?” ucap Adinda tiba-tiba di belakang leher Agung.
Agung bisa merasakan hangatnya nafas Adinda di tengkuknya. Tiba-tiba pandangannya terasa tidak fokus. Ruangan sedikit berputar.
Sontak air yang ada di dalam mulut Agung menyembur keluar, membasahi meja dan beberapa buku yang dipajang di rak buku. Agung terbatuk-batuk hingga matanya berair.
“Eh, Om! Kenapa Om?”
“Kamu kenapa ngagetin saya sih? Kirain kamu udah keluar dari kamar...”
“Loh kan dari tadi saya di sini, Om...”
“Kamu gak ada kegiatan lain selain gangguin saya, Din?”
“Ish Om Agung mah...” Adinda menghentakkan kaki dengan kesal, “Saya kan cuma mau teman mengobrol saja. Dianggap menganggu, ya...” Adinda berbalik meninggalkan ruangan.
Agung menunduk. Di satu sisi merasa bersalah tapi di sisi lainnya merasa malu karena kejadian tadi.
Menghela nafas kasar. Lalu mulai membuka laci paling bawah di mejanya. Tempat dia menyimpan kanebo untuk mengelap barang-barang action figure koleksinya.
Tangannya mulai bergerak mengelap mejanya juga buku-buku yang basah. Dari gawainya mengalun musik klasik.
Agung berbaring menatap plafon kamar. Alunan musik membuat matanya berat. Dia tertidur. Tubuhnya lelah pikirannya juga penat.
Lewat adzan Ashar, Agung terbangun. Usai sholat, Agung terpekur masih dengan posisi duduk tahiyat akhir.
Merasa bersalah pada Adinda, dia mengetuk pintu bertuliskan A2.
“Assalamu’alaikum, Din...”
Tidak ada jawaban. Pintu terbuka sedikit. Agung mengintip. Adinda tengah tertidur sambil memeluk sebelah sepatunya yang masih bagus. Sepatu yang terbakar bagian depannya diletakkan di atas meja tulisnya.
Ada rasa iba terselip di hatinya. Baru 17 tahun tapi cobaannya luar biasa. Agung mengetuk lebih keras.
“Din, ashar Din.. Bangun...”
“Hmm.”
“Jangan tidur lagi. Gak boleh tidur diwaktu Ashar...”
“Hmm.”
“Dinda...”
“Iya.”
“Ya sudah. Saya tinggal dulu ya. Kamu bangun terus sholat.”
“Hmm,” Adinda meliriknya dengan mata mengantuk.
Imut. Seperti wajah anak kecil baru bangun tidur. Dada Agung berdesir hangat.
Agung tertawa menuruni tangga. Ada Ayah yang baru pulang dari masjid. Bunda sedang membuat teh.
“Sudah segeran, Kak?”
“Alhamdulillah sudah Bun. Tadi tidur siang dulu sebentar.”
“Dinda mana?” tanya Ayah.
“Sudah Kakak bangunin, Yah.”
Mereka terlibat pembicaraan perihal software yang Agung bangun dan sudah diajukan ke B Group.
“Yang penting jangan sampai ada nepotisme dalam penerimaan software Kakak. Ayah gak suka anak-anak Ayah terlibat nepotisme.”
“Nggak, Yah. Kakak dan Adik tahu tentang aturan yang Ayah dan Bunda terapkan. Materi software Kakak diuji sebagaimana materi software yang diajukan ke B Group.”
“Hasilnya, bagaimana Kak?” Bunda menyodorkan piring kue pastel kepadanya.
“Kalau dari cerita Kak Layla seperti menggembirakan, Bun. Tinggal menunggu panggilan meeting dengan divisi software di B Group.”
Bunda mengangguk senang.
“Memangnya Kak Layla cerita apa saja?”
“Bunda saja yang cerita. Kakak mau ambil handphone Kakak di kamar...” Agung tersenyum lebar.
“Ingatin Dinda, sudah sholat belum..”
“OK..”
Agung menaiki tangga tanpa suara dengan kepala tertunduk. Begitu sampai di lantai atas, Agung mengangkat kepalanya saat mendengar suara Adinda yang terkesiap.
Agung menatap nanar Adinda yang salah tingkah dengan pipi merah. Adinda tidak bergerak di tempatnya. Tubuhnya dipepetkan ke dinding.
“Kamu kenapa cum....”
“Om Agung balik belakang!” Adinda cepat memotong kalimat Agung.
“Eh, iya. Ma’af,” Agung langsung membalikkan tubuhnya.
“Trust me, saya gak lihat apa-apa kok...”
“Bohong!” terdengar suara berlari dan pintu ditutup cepat.
Dengan perlahan, Agung membalikkan tubuhnya. Bernafas lega saat tidak melihat lagi Adinda di tempat tadi. Pintu bertuliskan A2 tertutup rapat.
Usai mengambil gawainya, dia berhenti di pintu kamar Adinda. Mengetuk pintunya dengan perlahan.
“Din... Sudah sholat?”
Tidak terdengar jawaban. Agung menelan salivanya dengan susah payah. Khawatir Adinda ngambek lagi.
“Din... Beneran deh saya gak lihat apa-apa...”
Tidak terdengar jawaban. Agung mendekatkan telinganya. Terdengar isakan pelan.
“Dinda menangis? Ma’af. Tadi saya bermaksud mengambil handphone di kamar.”
Agung meletakkan dahinya di daun pintu yang tertutup.
“Jalan yuk ke depan komplek. Dinda boleh jajan apa aja...” bujuk Agung.
Masih sunyi. Terdengar suara ingus disedot hidung.
“Lagian kamu... Masa dari kamar mandi ke kamar cuma pakai handuk doang...” Agung berkata pelan.
Pintu disentak kasar dari dalam membuat kening Agung terbentur daun pintu.
“Eh, Din..” Agung tidak siap dengan kehadiran Adinda yang tiba-tiba muncul di hadapannya, tubuhnya nyaris terjengkang.
“Om Agung tuh ya!” Adinda bertolak pinggang dengan mata melotot.
Agung menahan tubuhnya dengan memegang tembok di belakangnya agar tidak terjatuh.
“Kenapa gak langsung balik badan pas lihat Dinda tadi?”
“Saya kaget, terpana dan terpesona.”
Mata Adinda makin melotot.
“Eh, maksud saya, saya kaget dan terpana. Sama seperti kamu siang tadi...”
Nafas Adinda memburu saat menatap Agung. Mode emosi tingkat tinggi.
“Tapi saya gak lihat apa-apa kok, Din... Lagian kamu kenapa cuma pakai handuk? Biasanya kamu sudah berpakaian saat keluar dari kamar mandi.”
“Baju saya ketinggalan di kamar. Lagian, bukannya tadi Om Agung sudah pamitan?”
“Kapan?”
“Sewaktu bangunin saya tadi. Om bilang, Din, saya tinggal ya. Itukan sama dengan pamitan...”
“Saya tadi ke bawah, ngobrol sama Ayah dan Bunda. Saya gak merasa pamitan mau balik ke rumah sakit kok...”
“Tauk ah!” Adinda bersidekap sambil mengalihkan tatapannya dari Agung.
“Dah ah.. Jangan marah-marah mulu. Nanti imutnya hilang...,” Agung tersenyum tengil, “Sebenarnya kondisi kita sama, Din. Skor kita sama hari ini. Sama-sama malu. Iya kan?”
Adinda terdiam.
“Maksud Om Agung ngomong gak lihat apa-apa itu apa?” Adinda melirik Agung sebentar.
“Ng.. Anu..,” Agung menggaruk-garuk telinganya yang mendadak gatal, “Itu.. Maksudnya...”
“Ngomong yang jelas! Siang tadi hamm hemm hamm hemm mulu. Sekarang malah anu-anuan!”
“Dih! Galak amat Calon Ma'mum.”
“Biarin!”
“Tadi ya gitu... Saya gak lihat apa-apa. Cuma terlihat wajah kamu, handuk pink dan kaki kamu. Itu doang. Bahkan bahu kamu saja tertutup rambut basah kamu,” Agung menjawab dengan cepat, matanya tidak berani menatap Adinda.
“Beneran?”
“Hu umm,” Agung mengangguk.
Keduanya terdiam. Menyandar di tembok kamar masing-masing. Tidak berani saling tatap.
“Udah ah. Turun,” ajak Agung, “Ada paket besar buat kamu di ruang tengah.”
“Udah sampai, Om?” intonasi bicara Adinda tiba-tiba berubah menjadi mode ceria, “Alhamdulillah...”
Saat hendak menuruni tangga, keduanya tidak sengaja bersenggolan bahunya. Keduanya menoleh. Lalu cepat membuang muka.
“Awas loh jangan bilang-bilang Bunda!”
Keduanya menoleh kaget. Karena berbicara bersamaan, hal yang sama, pada saat yang sama.
.
*bersambung*
🌺
Fix, kalian berjodoh.
😁🤣🤣🤣🤣🤭
1 bab saja ya, tapi panjang banget.
Lebih dari 1750 kata.
Readers puas, Author lemas... 😩
Demi Readers, apa sih yang nggak?🥰
🌺
Jangan lupa like dan minta update ya.
Yang belum pencet ❤➕ atau belum beri ⭐5, pliiiis dong ah 😜
🌺
Utamakan baca Qur'an
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments