RUANG RAWAT INAP VVIP
RUMAH SAKIT XX
Agung baru sja melakukan video call dengan Adinda. Anton masuk membawa roti yang masih hangat dari bakery di lantai dasar.
“Bang, mentega oleh-oleh Disti dan Bang Bram disimpan di mana?” Anton mencari di laci kulkas.
“Di kulkas. Pintunya.”
Semalam, Adisti dan Bramasta langsung ke rumah sakit setibanya dari New Zealand. Bahkan Bramasta bercerita, Adisti minta pulang saat itu juga saat mendengar Agung tengah sakit dan dirawat. Juga saat mendengar hubungan Agung dan Adinda memburuk.
“Sarapan belum datang ya. Bang Radit mau roti mentega gak? Mentega homemade nih. Wangi banget...”
“Mau...” Raditya turun dari bednya.
“Kita makan di taman saja yuk. Sekalian gerak badan juga,” usul Agung.
“Lah, Abang kan masih diinfus...” Anton menatap heran pada Agung.
“Udah dilepas tadi oleh suster sewaktu Lu turun beli roti.”
“Berasa piknik ya,” Raditya terkekeh.
“Terus, nanti kalau dokter datang bagaimana?” Anton menatap keduanya bergantian.
Raditya mengibaskan telapak tangannya.
“Gak.. dokter gak datang sepagi ini...”
“OK. Kejunya saya iris saja ya. Nanti... kemarin lihat ada nampan, Disti simpan dimana ya?”
“Tekonya dibawa aja ya. Pakai paper cup saja minumnya biar praktis,” Agung mengambil paper cup di laci.
“Yuk...” Anton berdiri sambil membawa nampan dengan roti yang sudah dioles mentega juga ada beberapa irisan tipis keju.
Agung membawa teko listrik yang sudah diisi teh celup juga 3 buah paper cup. Dia menyambar roti isi dari dalam kotak roti. Sesampainya di luar, menyerahkannya pada penjaga yang berada di dekat pintu.
“Pak, kami ke taman dulu ya. Sumpek di kamar terus,” Agung tersenyum lebar.
Petugas tersebut mengangguk dan membalas senyum Agung.
“Terima kasih Pak Agung.”
Beberapa perawat yang berpapasan dengan mereka menggelengkan kepalanya melihat mereka bertiga.
“Para pasien istimewa, mau piknik ya?”
“Iya dong... Suster mau ikut?” Anton yang berada paling depan membalas celotehan mereka.
“Pengen sih. Tapi tugas memandikan pasien nih..." seorang perawat yang bermata sipit terkekeh kecil.
“Kami sih gak perlu dimandikan, Suster. Kami pasien mandiri, Mandi sendiri..” Raditya terkekeh kecil.
“Iya nih.. Padahal kami ikhlas loh!”
Mereka tertawa bersama.
Pintu kaca menuju taman terbuka otomatis. Mereka bertiga melangkah keluar.
“Ton, belok kiri. DI bawah pergola bunga pink saja. Ada meja dan bangku tamannya. Tempat gue nembak Adinda dulu...” Agung mengarahkan Anton.
Anton dan Raditya tertawa.
Gawai Agung berbunyi. Adinda.
“Assalamu’alaikum, Calon Ma’mum. Ada apa?” Jeda.
“Jam berapa ke sekolahnya?” Jeda.
“OK. Saya dan lainnya di taman ya. Di tempat kita dulu,” Agung tersenyum lebar.
Anton dan Raditya sibuk berciyeee-ciyeee.
“Iya. Hati-hati... Wa’alaikumussalam.”
Anton menyengir lebar.
“Gayanya kalau di telepon... Assalamu’alaikum Calon Ma’mum...” Anton terbahak diikuti Raditya.
“Tapi kalau ketemuan mendadak dua-duanya jaim. Berubah jadi kanebo kering,” Raditya terbahak lagi.
“Mereka berdua: Assalamu’alaikum Calon Ma’mum...Assalamu’alikum Calon Imam... Lah kita?” Anton memandang Raditya dengan wajah tengil, “Assalamu’alaikum Calon Mayit!”
“Dih! Calon Mayit!” Agung meringis.
“Ya iyalah. Kita semua kan Calon Mayit,” Anton tertawa lagi.
“Iya.. bener..” Raditya mengangguk-angguk sambil tertawa.
“Tapi gak perlu disebut seperti itu atuhlah. Serem tahu...” Agung mencebik.
Anton dan Raditya tertawa lagi.
Matahari pagi itu masih malu-malu menampakkan diri. Udara di taman terasa segar dan teduh.
Agung menuang teh pada masing-masing gelas.
“Jarang-jarang ada gedung yang punya taman di atas seperti ini ya...” Raditya mengunyah rotinya, aroma mentega homemade peternakan dari New Zealand itu sungguh membuatnya menghidu berkali-kali. Rasa gurihnya bahkan bisa tercium dari aromanya.
“Taman ini memenangkan taman gantung terbaik di salah satu ajang perhelatan dunia arsitek internasional," Anton mengoles roti yang masih hangat, membuat mentega cepat lenyap dari pandangan mata dan menyebarkan aroma gurih mentega susu di udara pagi.
“Wah keren. Kita sarapan di taman terbaik versi para arsitek dunia...” Agung mengambil seiris keju.
Mengunyah bergantian antara roti dengan keju sambil mata memperhatikan kawanan burung-burung yang hinggap di dahan-dahan kecil pada pohon yang dipangkas bulat sempurna.
Kemudian menoleh pada Raditya.
“Sekarang Abang sudah kuat kakinya. Kemarin ke taman masih pakai kursi roda...”
“Eh iya. Bersama kalian, saya jadi merasa jauh lebih baik.”
“Mau latihan tubuh bagian atas, Bang? Saya ajari, mau?” Anton berdiri.
“Ciyus, Ton?” Agung ikut berdiri juga.
Anton mengangguk.
“Low impact exercise. Lebih difokuskan ke pernafasan. Ini sebenarnya latihan untuk para manula. Nainai yang mengajari. Orang awam menyebutnya: Senam Jantung.”
Raditya berdiri di belakang Anton, sejajar dengan Agung. Anton, yang rambutnya agak panjang, diikat sekedarnya dengan karet warna hitam.
Tanpa mereka sadari, Adinda yang sudah ada di sana, merekam sebagian kegiatan mereka. Lalu mengirimkannya kepada WAG Sendok Takar, WAG para wanitanya gank Kuping Merah dengan caption: Taichi Master.
*
07.15
SMU XXX
“Lu sudah siapin?” seorang remaja pria bercelana seragam abu-abu tapi atasannya mengenakan kaos oblong warna navy bertuliskan Sepultura.
“Sudah dong!” remaja pria lainnya yang jangkung memperlihatkan botol bekas air mineral yang berisi cairan dengan aroma menyengat, “Nih! Jirrr, baunya!”
Kaos Sepultura terbahak.
“Gue gak sabar ingin segera beraksi. Melihat Si Dinda disiram. Najis banget, sumpah! Gara-gara dia, gank kita jadi gak seperti dulu lagi!”
“Lu kan berhasil grepe-grepe to ketnya di gang belakang toko donat itu. Puas gak, Lu?” si Jangkung tertawa mengingat aksi mereka menggiring Adinda dari toko buku ke gang belakang gerai donat.
“Puas apanya? Grepe apaan? To ketnya dia tutupi terus pakai buku yang baru dibelinya. Bikin jengkel!”
“Iya sih. Gue yang pengen nyicipin bibirnya malah kena tampol tas belanjaannya. Bikin emosi!”
“Sebel gue dengan penolongnya. Siapa tuh? Agung? Puas banget lihat dia tertembak di depan The Ritz. Saat nonton tayangan rekaman CCTVnya, gue berucap, napa gak mati aja sih Lu??!”
Si Jangkung tertawa ngakak.
“Prince Zuko juga ikut campur. Kenapa sih anonymous bule ikut tayangin CCTV yang merekam kita ngerjain si Dinda? Sumpah gue gak tahu ada CCTV. Kalau tahu mah... udah gue ancurin dulu tuh kameranya!”
“Lu denger gosip gak? Katanya Agung kenal dengan si Prince Zuko ini. Makanya Prince Zuko awasi Agung terus...”
“Tapi untungnya wajah kita diblur ya. Aman kitanya!” kaos Sepultura terbahak keras.
Si Jangkung mengangguk.
“Siapa eksekutor cairan kuning keemasan itu?” telunjuknya menunjuk kresek hitam.
Kaos Sepultura menggeleng.
“Gue ogah!”
“Si Firman aja. Dia kan dendam banget dengan Si Agung. Gigi depannya ompong gegara dia.”
Kaos Sepultura mengangguk setuju.
“Heran, anak cewek blom ada yang muncul nih? Mereka mau kasih kejutan apa sih buat Dinda?”
“Gak tahu. Lagian juga si Dinda, semenjak ditolong si Agung itu, perubahannya terasa banget ya. Drastis! Anak yatim piatu mendadak jadi princess,” Si Jangkung berdiri untuk mengambil vape-nya dari saku celananya, “Biasa naik angkot, mendadak diantar jemput. Biasanya sih pakai Innova hitam tapi kadang pakai Vellfire putih...”
“Anak-anak cewek curiga, si Dinda ini Sugar Baby, piaraannya Sugar Daddy. Katanya sih konglomerat. Kaya banget!”
“Anjirrr! Mainnya sama om-om tua. Gak mau dia kalau main sama kita-kita? Memangnya dengan om-om tua bisa muasin dia?”
“Yang penting duit, Bro!” Kaos Sepultura menatap wajahnya di spion motornya, lalu memperbaiki rambutnya, “Main sama kita, dijamin puas, kita tahu tehnik dari tontonan bo kep, kita punya pengalaman karena sering praktek, durasi tentu menang di kita dong, secara stamina masih prima...”
Kaos Sepultura terkekeh bersama si Jangkung.
“Sayangnya, kita gak ada duitnya. Duit kita ngepas. Kalau lebih, cuma cukup buat beberapa kali hangout di luar. Duit memang bisa menutupi semuanya, Bro!”
“Eh, itu si Manda dan Anya datang...” Kaos Sepultura melambaikan tangannya ke arah mereka.
“Kalian bawa apa untuk Dinda?” Si Jangkung memandang penuh rasa ingin tahu pada tas mereka.
Manda dan Anya saling pandang. Lalu tertawa bersama.
“Lihat dong...” Si Jangkung menggoyang-goyangkan lengan Manda.
“Tuh... barang-barangnya di Anya, bukan di gue...”
Anya membuka tasnya sambil tertawa. Lalu membuka resleting tasnya, menyibak sedikit agar Si Jangkung dan Kaos Sepultura biasa mengintip isi tasnya.
Kedua remaja pria itu berseru kaget.
“Jirrrr!” Kaos Sepultura melebarkan matanya, “Kalian mau pesta or gy?!”
“Lu bawa berapa mainan dewasa, Nya?”
“Gak banyak, cuma 5..” Anya tertawa.
“Woiiy tutup tasnya. Gue jadi sa nge lihat yang kayak gituan..” Manda mengedipkan matanya pada Si Jangkung.
Si Jangkung menggeleng.
“Sori, Man. Gue lagi gak mood, gegara aroma kejutan buat Adinda...” Si Jangkung menunjuk kresek hitam yang tergantung di motornya.
Manda dan Anya terbahak.
“Sama gue aja, Man?” Kaos Sepultura tersenyum lebar sambil menaikturunkan alisnya.
Semenit kemudian, keduanya menghilang ke arah top floor gedung sekolah. Tempat yang bebas dari kamera CCTV, tempat anak-anak nakal hang out saat jam sekolah.
Di sana bebas: nobar bokep, mabar game online hingga judi online, merokok hingga nyi meng, bahkan esek-esek di bawah langit. Satu hal yang haram dilakukan di sana adalah berkelahi. Karena perkelahian akan memicu datangnya guru ke tempat itu.
.
*bersambung*
Anak jaman now gitu amat pergaulannya. Memang iya begitu?
Cek saja deh berita-berita tentang pergaulan anak jaman now.
Bahkan usia pelajar, ada yang sekabupaten ratusan siswinya mengajukan ijin khusus dari salah satu kementerian, karena statusnya yang sudah menikah dan dalam keadaan hamil.
Na’udzubillahi mindzaalik.
Author berusaha menyajikan konflik yang berbeda pada setiap novel. Supaya Readers gak bosan dan Author juga gak blenger 😁🤭
Jangan lupa like dan minta update.
Pencet ❤+ juga dan beri penilaian bintang 5 untuk novel ini ya.
🌹Utamakan baca Qur’an🌹
Love you!
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
sepur tua (kl diplesetin) 🤣🤣lama ndak dngr grup musik ini thor
2024-07-31
1
Tri Yoga Pratiwi
semoga adinda baik baik aja
2023-11-28
1