Bunda menatap dengan tatapan bersungguh-sungguh.
“Saat kalian berbuat hal-hal yang tidak baik, terbersit dalam pikiran kalian tidak: sedang apa Ibu di rumah? Sedang apa Ayah di tempat kerja?”
Anya terisak. Manda berlinang air matanya. Firman menutupi wajahnya dengan punggung berguncang. Ricky dan Denis termangu dengan pipi basah.
Bunda berdiri di depan Manda dan Anya. Kemudian mencari bangku plastik.
Man yang tanggap, langsung mengambil bangku plastik tanpa sandaran di dekatnya untuk duduk Bunda.
“Terimakasih ya Nak Man...” Bunda tersenyum.
Memandang Manda dan Anya lalu membelai kepala mereka.
“Kalian anak-anak perempuan yang sangat dikasihi oleh ayah kalian. Seorang ayah akan menjadi cinta pertama anak perempuannya. Seorang anak perempuan akan menjadi curahan kasih sayang ayahnya menjadi princess bagi ayahnya. Bagaimana mungkin kalian menyeret ayah kalian ke neraka? Bukan saja ayah melainkan juga saudara laki-laki kalian?”
Keduanya mendongak kaget. Menatap tidak mengerti pada Bunda.
“Kalian muslim?”
Mereka berdua mengangguk.
“Dalam ajaran agama kita, tidak ada pelimpahan dosa dari perbuatan kita kepada orang lain. Tetapi ada perbuatan anak perempuan yang bisa menyeret ayah dan saudara laki-lakinya ke neraka. Yaitu apabila membiarkan kalian tidak menutup aurat saat sudah aqil baligh.”
“Bunda tidak bicara hanya tentang kain yang menutupi kepala saja. Hijab bukan tentang itu, bukan juga tentang baju panjang dan longgar. Tetapi hijab juga berarti membatasi pergaulan kalian dengan lawan jenis. Hijab juga tentang menjaga perilaku kalian.”
Bunda melanjutkan lagi.
“Yang berhak atas tubuh kalian itu bukan lelaki yang mengaku cinta pada kalian. Bukan lelaki yang sudah memberi kalian uang. Bukan lelaki yang sudah mengikat kalian dalam pertunangan. Tetapi lelaki yang sudah menyebut nama kalian dalam ijab kabul sambil menjabat tangan wali sah kalian. Lelaki yang disebut suami.”
“Bila kalian dihukum atas perbuatan kalian, terima saja sebagai konsekuensi perbuatan kalian. Jadi tidak boleh mendendam. Tidak perlu kalian merasa sakit hati, karena percayalah, orangtua kalian lebih sakit hatinya daripada kalian saat mengetahui kenakalan kalian.”
Bunda menatap para orangtua dan wali murid.
“Bapak dan Ibu, harap bijak saat menghukum mereka. Mengusir mereka dari rumah tidak akan menyelesaikan masalah malah akan membuat masalah baru. Terutama masalah sosial di masyarakat.”
Bunda masih menatap para orangtua dan wali murid.
“Walau bagaimana pun, mereka tetap darah daging kita, tanggungjawab dunia akhirat kita. Belum terlambat untuk menjadikan anak-anak kita sebagai tabungan amal menuju surga.”
Bunda berdiri lalu menepuk tangannya sekali. Anak-anak mendongak menatap Bunda.
“Sekarang kalian meminta ma’af kepada orangtua kalian. Meminta ma’af dengan sungguh-sungguh. Tetapkan dalam hati kalian untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Karena belum terlambat untuk berubah. Belum terlambat untuk bertaubat. Jangan lupa, minta ma’af juga kepada para guru.”
Bunda tersenyum. Lalu mengangguk ke arah para guru.
“Masyaa Allah... Bu Gumilar, nasehatnya luar biasa...” Pak Hasan mengangguk, “Pantas saja, anak-anaknya menjadi orang hebat semua karena orangtuanya pun luar biasa.”
“Alhamdulilah, tugas saya sudah terwakili oleh Bundanya Adinda,” kata Ibu Guru Agama, “Terimakasih banyak Bun...”
Anak-anak masih memeluk orangtuanya sambil menangis. Mudah-mudahan mereka benar-benar menyesali perbuatan mereka secara sungguh-sungguh dan bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.
Kinanti berdiri saat Bunda berjalan ke kursinya di samping Ayah.
“Ibu Gumilar, apa tidak ada nasehat yang bisa Ibu berikan kepada Ivan?”
Layla dan Mami menatap jengah. Agung yang tengah membalas chat langsung mendongak.
Adinda yang sebal langsung mencubit siku Agung.
“Apaan?” Agung meringis menggosok sikunya.
“Ada yang caper untuk diajak ngomong camer...” bisik Adinda sambil mencebik.
“Ngomong apaan sih? Saya gak ngerti...”
Adinda melengos.
Bunda tersenyum.
“Ivan?” Bunda menatap Ivan, “Saya rasa tidak perlu. Dia sering menghubungi saya, datang ke kajian saya atau ke kajian ayahnya Adinda.”
“Oh.. Ivan sering kontak dengan Ayah dan Bundanya Pak Agung?” mata Kinanti melebar dan berbinar.
“Mbaknya Ivan,” Bunda tersenyum pada Kinanti.
“Ya Bu? Nama saya Kinanti. Saya masih satu divisi dengan Pak Agung. Pak Agung ini pemimpin saya...” Kinanti tersenyum.
“Agung anak saya. Adinda juga anak saya. Tolong jangan ganggu mereka ya. Tidak baik mengganggu mereka yang sudah berkhitbah,” Bunda menatap serius tanpa senyum.
Senyum di wajah Kinanti lenyap. Bicaranya mendadak gagap.
“Ssayya.. ttidak..”
“Kakak, duduk,” suara Ivan tegas.
Ivan berdiri lalu membungkuk ke arah Bunda.
“Maafkan kakak saya Bun, Om Agung, Dinda...”
Layla dan Mami tersenyum lebar.
“Bahkan Bunda tidak memberi kesempatan kepada pelakor untuk masuk ke dalam Agung dan Adinda...” bisik Mami.
Layla mengangguk.
“Bunda hebat.”
Kepala sekolah tampak berunding dengan para guru. Lalu kemudian dia mendekati Ayah dan Bunda yang duduk berdekatan.
“Kami meminta kesediaan Bapak dan Ibu Gumilar untuk mengisi acara saat pesta perpisahan nanti...” Bapak Kepala Sekolah menatap Ayah dan Bunda bergantian.
Hans yang di sebelah Ayah tersenyum.
Ayah tampak terkejut.
“Memangnya acara apa?”
“Tadinya sih hanya acara hiburan dari adik-adik kelas kemudian acara bebas, tapi karena ada kejadian ini juga kami melihat kemampuan Ibu Gumilar dalam menasehati bukan saja kepada anak-anak yang bermasalah tetapi juga kepada para orang tua dan para guru sebagai pengajar. Kami jadi ingin mengadakan acara parenting di acara perpisahan nanti.”
“Memangnya acara perpisahan, para orangtua diundang juga? Biasanya hanya anak kelas 3 saja kan?” Layla bertanya.
“Rencananya kami akan mengundang para kedua orangtua siswa.”
“Kapan pak? Khawatir jadwalnya bentrok dengan jadwal kajian saya,” Bunda mengambil buku agenda kecilnya.
“3 minggu lagi, di Cipaganti Hall. Sabtu jam 9. Ini.... Mumpung kami belum cetak undangannya. Bagaimana Pak, Bu?” Bapak Kepala Sekolah bertanya dengan nada penuh harap.
“Kami berdua yang tampil atau Ibu saja?” tanya Ayah.
“Kami ingin Bapak dan Ibu Gumilar yang tampil sekaligus sebagai contoh orangtua yang telah berhasil mendidik anak-anak mereka menjadi orang yang sukses baik dalam duniawi maupun agamanya.”
“Waduh, berat banget sangkaan orang lain ke kita ya Bun...” Ayah memandang Bunda sambil tertawa.
“Ini dalam rangka darurat moral dan adab juga Pak dikalangan kita semua,” Kepala Sekolah memandang Ayah.
Ayah mengangguk-angguk mengerti.
“Kalau Ayah sih iyes. Tapi gak tahu dengan Bundanya anak-anak...”
Bunda tertawa. Kepala Sekolah juga.
“Insyaa Allah, Pak...” Bunda menjawab.
“Sepertinya para abangnya Adinda juga ingin ikut hadir nantinya Pak. Juga para orangtua Adinda. Diijinkan untuk hadir?” tanya Hans.
“Tentu saja boleh. Suatu kehormatan bagi sekolah, acara perpisahan nanti dikunjungi oleh orang-orang yang luar biasa...” wajah Bapak Kepala Sekolah terlihat sumringah.
Para guru yang ikut mendengar percakapan itupun ikut tersenyum senang.
“Kirimkan saja undangannya pada kami, Pak. Nanti asisten saya akan menghubungi Bapak, terkait kebutuhan acara nanti apa saja. Kami akan bantu keseluruhannya. Gedungnya sudah ada kan? Untuk yang lain-lainnya, insyaa Allah kami siap membantu,” Hans tersenyum.
Para guru bergumam heboh.
“Bang Leon bisa hadir nanti?” Hans menatap Leon.
“Insyaa Allah bisa. Mudah-mudahan tidak ada bentrok acara,” Leon tersenyum.
“Kosongkan jadwalnya, Bang. Adik bungsu kita nih lulus SMU...”
“Iya... Iya....” Leon tertawa diikuti Layla.
Suara tawa mereka terhenti oleh teriakan penuh amarah Manda yang berdiri dan menatap penuh kebencian pada Adinda.
“Kenapa semua orang membela Adinda?! Kenapa tidak ada seorang pun yang bertanya kepada saya kenapa saya jadi begini??!” Manda mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
“Kenapa semua orang begitu menyayangi Adinda? Kenapa dia selalu saja mendapat keberuntungan terus? Kenapa Allah begitu tidak adil pada saya??!”
“Manda! Diam kamu!” suara ayahnya membentak Manda, “Jangan bikin malu lagi!”
.
*bersambung*
🌺
Duh.. Manda kenapa lagi tuh ya? Memang dikenal sebagai queen of drama di sekolah. Lebay dan serba heboh kalau berurusan dengan dia. Playing victim banget khas Gen Z.
Kinanti juga.
Ah... Author salah sangka. Kukira cupu ternyata cepu... Eh! 😁🤭
🌺
Jangan lupa like dan minta update 😁
Yang belum pencet ❤➕ hayo buruan.
Btw, masa novel ini baru sedikit yang beri ⭐5-nya? Nangis nih Author....
🤭😘
🌺
Utamakan baca Qur'an ya.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
skak maatnbun..lngsng kicep,mingkem ndak bisa mang ap lg🤣🤣
2024-07-31
1