Manda menunduk. Tangannya gemetar. Air matanya berlinangan.
“Lalu baru 2 hari Agung tersadar dari koma, Adinda terkena musibah. Dia dijual oleh ibu tirinya kepada orang Jerman seharga 200 juta. Malam itu, Adinda mengalami malam yang mengerikan dalam hidupnya.”
Adinda meremat lengan atas Agung.
“Om...” bisik Adinda.
Layla masih bercerita.
“Sssssh, tidak apa-apa. Jangan takut. Kamu selamat malam itu. Kami bisa membebaskan kamu dari sana tepat waktu... Kamu ingat?”
Adinda menggeleng.
“Saya hanya ingat sedikit. Saya terpojok di sudut kamar. Orang itu mendekati saya. Saya tidak mau melihatnya mendekati apalagi menyentuh saya,” Adinda berbisik, nafasnya mulai terengah, “Saat itu, saya hanya bisa mendengar dan melihat Om Agung saja...”
Agung mengelus punggung Adinda.
“Kamu baik-baik saja. Kamu gadis yang kuat...” hati Agung diliputi kecemasan, khawatir Adinda mengalami serangan panik lagi, “It’s OK. Kamu sudah melalui semua itu. Kak Layla hanya menceritakan apa yang sudah lewat. Kamu sekarang bersama saya, bersama kami...”
Mami menoleh.
“Din..? Are you fine?”
Mami memeluk Adinda.
“Mami di sini. Ada Om Agung juga. Ada Ayah dan Bunda. Ada abang-abang kamu juga di sini. Kamu aman...”
“Saya gak sendiri lagi...” Adinda seperti mensugesti dirinya sendiri.
“Dinda gak sendiri, ada kita semua...” Mami menepuk-nepuk punggung Adinda.
Mata Adinda basah.
“Saya gak sendiri lagi...”
“Calon ma'mum saya kuat loh orangnya...” Agung tersenyum menggoda, kemudian berkata pelan, “Itu yang bikin saya suka dan sayang banget ke dia...”
“Memangnya Om punya calon ma’mum yang lainnya?” mata Adinda memandang sebal pada Kinanti di ujung sana.
“Dih!” Agung menepuk-nepuk punggung tangan Adinda, “Kamu satu-satunya. Saya gak mau yang lainnya.”
“Kamu harus berdamai dengan masa lalu kamu supaya kamu tidak akan terpengaruh lagi apabila ada orang lain yang bercerita tentang kejadian itu,”
“Mengikhlaskan apa yang sudah terjadi karena Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik... “ Agung menatap Adinda, “Kamu mengerti?”
Adinda mengangguk.
Pada saat itu, Layla sudah selesai bercerita tentang Adinda.
“Manda dan Anya, bila kalian diberi kesempatan untuk menjadi Adinda, sanggup kalian untuk melalui semua kesulitan yang Adinda alami? Kuat hati kalian, untuk melihat autopsi mayat ayah kalian yang sudah terkubur selama seminggu?” Layla bertanya dengan mendekat ke arah Manda dan Anya.
Kedua remaja itu gemetaran. Keduanya menggeleng dengan tatapan takut.
“Orang-orang yang tidak tahu tentang Adinda, hanya menilai Adinda dari keadannya sekarang ini... Oooh gadis yang sangat beruntung, menjadi anak angkat dari beberapa keluarga terkenal, keluarga tajir...”
Layla menatap ketiga pria pelaku.
“Setelah kalian mendengar tentang kisah Adinda, apa yang kalian rasakan? Bangga bisa mendholiminya? Senang bisa mempermalukannya?”
Ketiganya menggeleng kuat-kuat dengan kepala tertunduk. Tubuh mereka gemetaran.
“Minta ma’af pada Adinda!” Layla menatap tegas pada mereka.
Dia kembali ke kursinya, di antara Mami dan Bunda.
Manda memeluk ayahnya, begitu pula Anya. Mereka berdua menangis sesunggukan.
“Dinda...” suara Denis bergetar.
Kepalanya mendongak menatap Adinda. Berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.
“Ma'af...”
“Din, ma’afin saya...”Ricky terisak keras, “Saya juga punya adik perempuan. Saya gak mau adik perempuan saya mengalami hal seperti yang kamu alami...”
“Baru ingat kamu punya adik perempuan, Rick?” Wiwit menatap Ricky, “Kamu pernah mendorong Dinda di tangga kan? Kamu lari sembunyi saat Dinda jatuh!”
Agung memicingkan matanya. Tanpa sadar dia meremat lengan Adinda.
“Kamu, jatuh dari tangga sekolah dan tidak cerita ke saya?” Agung berbisik.
“Sudah lama, Om. Sebelum kita kenal...” Adinda menanggapinya dengan santai, “Sudah lewat itu sih. Papa juga tidak saya beritahu...”
Ricky menunduk sambil mengusap pipinya.
“Ma’af. Saya memang jahat ke Dinda. Jahat banget. Tolong ma'afkan saya, Din...”
Firman yang bertubuh paling besar tapi paling gemetaran seperti orang demam.
“Ma’af Din... Andai saya tahu..”
“Andai kamu tahu pun, yakin kamu gak akan melakukan semua itu kepada Dinda?” Zaskia bertanya pada Firman.
Firman menunduk.
“Sssebenarrrnya... Ssaaya suka Dinda sejak kelas 1...” Firman menatap Adinda sebentar kemudian menunduk lagi.
Salah satu alis Agung naik, matanya menatap Firman. Kemudian menatap Adinda yang sedang mengerutkan kening.
Di sebelahnya, wajah Ivan merah padam.
“Kalau suka sama seseorang itu dijaga orang tersebut bukannya diintimidasi, dibully...” Zaskia menatap tajam pada Firman.
“Kalau suka tuh dijaga, bukannya dirusak. Ini berlaku juga buat kamu, Manda dan Anya. Cinta sama cowok tuh dijaga tubuh kalian, bukannya malah diobral, boleh diapa-apain semau cowoknya,” Wiwit memandang Ivan, “Kamu juga, Van. Tampang doang yang cakep tapi kelakuan durjana. Ngobral kata cinta ke cewek supaya bisa kamu cicipi. Cewek tuh dijaga bukannya dirusak. Korban kamu tuh banyak, Van. Untung Dinda cerdas dan berani nolak kamu!”
Ivan menundukkan wajahnya.
“Mulut kamu tuh ya,” Kinanti menatap Wiwit tajam, “Butuh disambelin ??!”
Wiwit menatap Kinanti tanpa takut.
“Mata mbaknya yang harus disambelin. Sudah tahu Kak Agung itu tunangannya Adinda kok malah gak tahu malu berusaha caper ke Kak Agung dan Bundanya. Hellow harga diri, where are you?”
Agung tersenyum simpul. Adinda dan Layla menahan tawanya. Beberapa guru juga menahan tawanya. Hans dan Leon berusaha berwajah datar.
“Kamu ya..! Berani kamu sama saya??”
“Sudah.. Sudah...” Pak Hasan menengahi.
“Kamu tahu siapa saya??!” Kinanti berdiri sambil menunjuk Wiwit.
“Tahu. Mbak dan Ivan itu kan keponakannya Pak Nurdin, ketua yayasan sekolah kita. Terus, kenapa?” Wiwit balas menatap Kinanti.
Tangan Ivan menarik-narik kakaknya supaya duduk tapi ditepis keras.
“Mbaknya Ivan,” Zaskia berdiri, “Mbak gak malu bersikap seperti itu? Ada Kak Agung loh, bosnya Mbak. Juga ada Tuan Hans, bosnya Kak Agung...”
“Juga ada saya,” Mami mengacungkan telunjuknya, “Istri dari direktur keuangan yang membawahi divisinya Om Agungnya Adinda. Kedudukan suami saya, setara dengan kedudukan Tuan Hans.”
Layla tersenyum lebar menatap Kinanti.
“Juga ada saya loh. Anak tertua dari owner Sanjaya Group, Tuan Alwin Sanjaya.”
Kaki Kinanti mulai goyah. Lututnya gemetar.
“Saya.... Sssaayaa tidak bermaksud...”
“Senin kamu menghadap ke ruangan saya, sebelum jam kantor dimulai!” Hans memotong ucapan Kinanti dengan wajah dingin.
Kinanti terduduk. Air matanya meloncat.
“Tuan Hans, tolong jangan pecat saya...” suaranya gemetar saat memohon.
“Saya tidak akan berbicara di sini. Di sini kita sebagai tamu. Bersikaplah selayaknya tamu yang menghormati tuan rumahnya,” Hans menatap Kinanti tanpa senyum.
Leon yang masih duduk di kursi plastik berdiri, hendak duduk di samping istrinya. Dia menggelengkan kepalanya.
“Wah... Ini berkembang jadi drama yang alurnya mengejutkan ya? Mengalahkan sinetron di TV cap Sapu Terbang,” Leon tertawa.
“Ma’af, Pak Leon... TV Cap Ikan Terbang...” seorang guru meralat ucapan Leon sambil terkekeh.
“Eh, sudah ganti cap stasiun TVnya?”
Ucapan Leon menurunkan tensi di ruangan guru. Semuanya tertawa.
Leon menatap para pelaku.
“Apa yang tadi saya sampaikan itu bukan berarti kalian harus jadi nakal dulu atau berantakan dulu untuk menjadi sukses ya. Akan lebih mudah bila hidup kita sudah tertata dari awal,” Leon berdiri, mengembalikan kursi plastik ke tepi.
“Yang bilang hidup lurus itu membosankan, salah besar. Justru dengan hidup lurus itu banyak tantangannya. Bagaimana kita harus istiqomah untuk tetap maju di tengah perilaku hedon ataupun kebuasan dunia bisnis,” Leon tersenyum.
“Ingat, tata ulang hidup kalian mulai dari sekarang. Bertekadlah untuk jadi lebih baik di kemudian hari. Ini berlaku juga untuk Anda, Nona Keponakannya Ketua Yayasan.”
Leon menatap semuanya sambil tersenyum.
Semua orang terkesima dengan ucapan Leon. Bahkan beberapa orang guru tanpa sadar berdiri dan memberikan standing applause.
Wajah Kinanti merah padam. Antara malu dan menyesal dengan tindakannya. Bayang-bayang surat pemecatan memenuhi benaknya.
“Masyaa Allah, kejadian hari ini ada hikmahnya. Sekolah kita kedatangan orang-orang hebat. Pak Leon, bersedia jadi motivator untuk anak-anak nanti saat kelulusan? ”
“Waduh...” Leon menyisir rambut dengan sebelah tangannya.
“Tampil duet dengan istrinya ya Pak. Sama hebatnya untuk memotivasi anak-anak untuk membangkitkan rasa percaya diri dan menggali potensi diri,” kata salah seorang guru yang diangguki oleh guru lainnya.
Leon memandang Layla.
“Not me. Abang saja. I'm too nervous to talk on the stage_Aku terlalu gugup untuk berbicara di atas panggung_,” Layla menggeleng.
“Mon Cher_Sayang_...” Leon berusaha membujuk.
Layla tetap menggeleng.
Leon menatap Ayah.
“Ayah, kumaha atuh_Ayah,bagaimana nih_?”
“Naon na_Apanya_?” Ayah bertanya balik.
“Upami Leon jadi motivator_Kalau Leon jadi motivator_...”
“Eta mah kumaha Jang Leon weh_Itu sih bagaimana Nak Leon saja_...” Bunda menjawab Leon.
Para guru melongo.
“Tiasa nyarios Sunda_Bisa berbahasa Sunda_?” tanya Bapak Kepala Sekolah.
“Sumuhun, Pak. Abdi mah 100% Nyunda. Ngan casingna hungkul nu bule mah_Iya, Pak.Saya 100% Sunda. Hanya casingnya saja yang bule_...” jawaban Leon membuat semua orang tertawa.
“Nu tadi... Pencak silat nya_Yang tadi itu..Pencak silat, ya_?” Guru Olahraga memandang Leon dengan tatapan kagum.
“Sumuhun, Pak. Ti usia balita, parantos dikenalkeun ka Pencak Silat ku Abah. Kaleresan, Abah ge kapungkurna sok ngajar silat_Iya Pak.Sejak balita,sudah dikenalkan ke pencak silat oleh Abah. Kebetulan, dulu Abah suka mengajar pencak silat_...”
.
*bersambung*
🌺
Gado-gado deh bahasanya... 😁🤭
Kinanti mendadak meriang?
🌺
Jangan lupa pencet like dan minta update 👍
Yang belum pencet ❤➕ atau belum beri penilaian ⭐ 5, ayo dong... Please.... 😉
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
melambung jauh terbang tinggi kejedot lg..
2024-07-31
1
himawatidewi satyawira
tuiing..bintang 7 muter dikepala kiranti
2024-07-31
1