Adinda langsung menyambar sandal jepit masjid. Berlari mengejar Manda dan Anya dengan penuh amarah.
Sampai di belokan, keduanya sudah lenyap. Matanya memicing, berusaha mencari sepatu yang ditendang Manda tadi.
Samar, terdengar suara kekehan dua remaja biang kerok itu. Mereka tengah melempar-lemparkan sepatunya. Menjadikan permainan lempar tangkap di dekat area atletik.
Kesabaran Adinda sudah setipis tisu sekarang. Meraih batu di tangan kanan dan kirinya secara serampangan.
Keduanya masih tertawa saat Adinda masih berjarak 10 langkah dari mereka.
Tanpa membuang waktu, Adinda melemparkan batu ke arah mereka dua kali berturut-turut dengan menggunakan tangan kanannya, tangan terkuatnya.
Lemparan pertama mengenai lengan Manda. Membuat sepatu yang tengah berada di tangannya terlepas. Terjatuh dan langsung di pungut oleh Anya.
Manda meringis memegangi lengan atasnya. Menatap nyalang pada Adinda.
Lemparan kedua ditujukan pada Anya. Sayangnya, batunya lebih kecil dan lebih ringan daripada batu yang pertama. Lemparannya luput dari sasaran.
Detik berikutnya, Adinda sudah menunduk mengambil batu dan bersiap melempar lagi dengan batu sebesar telapak tangannya.
Manda melebarkan mata. Anya yang membelakangi Adinda tidak menyadari Adinda sudah memegang batu lagi di belakangnya.
Manda menarik tangan Anya.
“Nya, kabur! Dia anggap kita, sasaran lempar jumroh!!" Manda menarik tangan Anya, berlari menjauh.
"Kalian memang setan! Wajib ditimpuk batu!!" teriak Adinda.
Manda dan Anya berbelok ke arah rumpun bambu di belakang lapangan atletik. Terengah-engah, keduanya berhenti di tengah ladang bambu, tempat Pak Udin biasa membakar sampah daun.
Adinda tidak menyukai tempat itu. Ia tidak pernah ke area belakang bambu-bambu ini. Entahlah, tempat ini menimbulkan kesan seram bagi dirinya.
Dia menghentikan larinya saat melihat Manda dan Anya berlari ke arah belakang bambu.
Adinda melihat kelebatan seragam mereka yang berlari di balik rumpun pohom bambu. Dia bisa mendengar mereka berbicara dengan berbisik keras. Seperti berdebat.
“Itu masih ada bara apinya..” suara Anya, “Jatuhkan saja sepatunya ke dalam sana!”
Terdengar benda yang dijatuhkan. Lalu terdengar suara tawa tertahan Manda.
“Puas Loh! Lengan gue sakit banget disambit batu oleh si sok suci itu. Biar sepatunya jadi arang!”
Adinda berjengit. Tidak terima sepatu berharganya dibakar. Dia berlari, menerjang ke arah kedua biang kerok itu.
“KURANG AJAR KALIAN!!”
Mereka langsung berlari kabur menghindari Adinda. Adinda berhenti berlari di tumpukan daun yang sudah berubah setengahnya menjadi abu. Sepatunya teronggok di bawah tumpukan daun.
Melihat tali sepatunya yang mulai terbakar. Ia menjerit sekuat tenaga.
“JAHAT KALIAN!” batu sebesar telapak tangan dilemparkan ke arah mereka berdua.
Dia tidak memperhatikan lagi apakah lemparannya kena atau tidak. Tapi ia mendengar suara BUGH dan seperti suara orang terjatuh. Ia tidak peduli.
Diaa langsung berjongkok di kumpulan daun kering berasap. Mencoba mengambil sepatunya yang tak terjangkau tangan.
“Pa... Maafin Dinda..” tangannya menyeka pipinya, meninggalkan jejak jelaga pada pipi.
Angin bertiup agak besar. Api yang tadinya berupa bara berubah menjadi kobaran. Panas. Tapi ia tidak ingin mundur.
Dia tidak menyadari ada 3 sosok berponco dan masker hitam berada di dekatnya. 2 orang memegang gawai, mengarahkan kamera gawai padanya.
Satu orang yang berada agak di belakang mereka membuka bungkusan plastik hitam.
Adinda tengah berusaha mengorek sepatunya dengan ranting. Sol depannya sudah meleleh.
“Pa.. ma’af. Ma’af Dinda tidak bisa menjaga kenang-kenangan terakhir dari Papa. Hadiah ulang tahun terakhir dari Papa...” Adinda terisak dengan bahu terguncang.
“Menangis Lu sekarang??!” sosok berpanco dan bermasker hitam sudah berada di belakang Adinda.
Sebelah kakinya menginjak punggung Adinda dengan keras. Adinda tersungkur. Tangannya yang berhasil meraih sepatunya, membawanya ke area perutnya.
Sepatu yang meleleh terhimpit perut dan tanah. Karet yang terbakar menempel di seragamnya. Ada rasa panas dan perih di kulit perutnya.
“Allah...” desis Adinda menahan sakit.
“Lu, cewek yang paling sok suci di sekolahn. Sok jual mahal. Gak mau sama kita-kita, ternyata lebih memilih dengan om-om tajir! Munafik Lu!” orang itu menginjak Adinda lagi.
“Jadi sugar baby lu ya? Najis gue!” dia membuka tutup botol yang terbungkus kresek hitam.
Seketika udara yang sudah berbau asap menjadi berbau busuk.
“Nih gue tambahin lagi barang najis ke Lu. Supaya Daddy Sugar Lu gak mau lagi nyentuh Lu!!” dia menuangkan isi botol ke punggung dan kepala Adinda.
Tangan Adinda reflek melindungi telinga dan wajahnya.
“Gila Lu! Kenapa Lu siram sekarang? Kan seharusnya nanti kalau gue sama Manda udah puas mainin dia?!” suara Anya.
“Lu siam dia sekarang, gue sama Anya gak mau nyentuh dia. Jijik. Ah payah Lu, Fir! Gak sesuai kesepakatan!”
“Nih!” Anya menginjakkan kakinya pada punggung Adinda, “Sambitan Lu kena punggung gue sampai gue jatuh. Sekarang gue bales!”
“DINDA!” Agung berteriak berlari lalu menendang sosok berponco yang menghabiskan cairan dalam botol di atas kepala Adinda.
Man menendang dua sosok berponco hitam yang hendak kabur hingga terpental membentur bambu. Rambut Shaggy berlari mengejar Manda dan Anya.
“Lu kalau gak dapat mereka berdua, gue pastiin Lu dipecat!” ancam Man pada Rambut Shaggy.
Agung menghajar Si Penyiram dengan keras. Si Penyiram balas menyerang Agung dengan ganas.
“A Agung, Nona Dinda!” teriak Man, “Biar saya yang mengurus bajingan itu!”
“Urusan gue sama Lu belum kelar, Gung!!” Si Penyiram menatap nyalang pada Agung.
Agung menoleh.
“Lu kenal gue?” Agung yang tadinya sudah beranjak, lalu berbalik lagi.
“Gue kehilangan gigi depan gue gegara Lu! Samping toko donat.”
“Jadi Lu salah satu pelaku pelecehan pada Adinda? Bagus! GUE TAMBAHIN LAGI!”
Agung berlari ke arah pemuda berponco hitam itu. Lalu meloncat dengan kaki menyamping menjulur ke arah wajah Si Penyiram. Gerakannya cepat dan tak terbaca.
Sol sepatu Agung dengan telak mengenai mulut Si Penyiram. Bunyi berkeretak terdengar. Detik berikutnya Si Penyiram terhuyung ke samping dengan wajah terpalingkan terlebih dahulu.
Si Penyiram terjatuh di tanah tak bergerak dengan posisi tubuh menyamping. Dari mulutnya keluar da rah.
“A Agung!” Man berjongkok di dekat Adinda.
Agung berlari. Berdua dengan Man, membalikkan tubuh Adinda dengan hati-hati. Adinda masih melidungi kedua telinganya dengan tangannya. Mencegah agar cairan yang disiram tidak mengenai telinga dan wajahnya. Matanya terpejam rapat.
“Cairan apa yang disiramkan si Breng sek itu ke punggung dan kepala Dinda?” desis Agung sambil mengetatkan rahangnya.
Dalam hati dia berdo’a, semoga bukan cairan asam yang bisa mengiritasi kulit atau air keras yang bisa melelehkan kulit.
Zaskia, Wiwit dan Melda berlarian mendekat.
“A Agung, Dinda kenapa?” Zaskia berjongkok namun sedetik kemudian dia mundur lalu menjauh ke arah tumpukan daun yang tengah dibakar. Muntah-muntah.
“Kiya, Lu kenapa?”Wiwit menghampiri.
“Sumpah! Bau. Bau banget!” Zaskia melanjutkan muntahnya.
Mata Man memindai cepat sekitarannya. Di belakang tembok ada keran air yang disediakan untuk menyirami tanaman.
Sendirian, memanggul tubuh Adinda di pundaknya seperti memanggul karung, memindahkan Adinda ke dekat keran air.
“Panggil guru ke sini. Sebanyaknya. Bilang, Dinda diserang!” Agung menatap Melda dan juga siswa laki-laki yang ikut ke daerah belakang sekolah, “Ambilkan beberapa selimut dari UKS.”
Mereka mengangguk mengerti lalu segera berlari.
.
*bersambung*
🌺
Ternyata bukan sekedar sepatu bagi Adinda. Itu sebabnya Adinda begitu ngotot mengejar sepatunya.
🌺
Jangan lupa like dan minta update ya.
Beri penilaian bintang 5 karena novel ini masih sepi banget 🥴
Pencet ❤➕ bagi yang belum.
Love you more.. 😁
🌺
Utamakan baca Qur'an
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
it's me again
ramee ...
2024-01-15
1
Tri Yoga Pratiwi
Anak sma tapi kelakuan kayak gitu... sedih kadang liat pembulian disekolah sekarang ini 🥺
2023-12-05
1
Tri Yoga Pratiwi
berasa pergi haji pake lempar jumroh
2023-12-05
1