Usai Kepala Sekolah memberi kata pengantar untuk mengumpulkan para orangtua ataupun wali murid pelaku siang ini, Pak Hasan membeberkan kronologi peristiwa.
“Latar belakang kejadian hari ini dikarenakan dendam pada Adinda pasca peristiwa gang belakang gerai donat. Mereka melakukan bullying yang mengarah kepada pelecehan se*sual.”
“Sedangkan latar belakang kejadian di gerai donat adalah karena Adinda menolak cinta dari ketua gank mereka, Ivan.”
Kinanti berdiri.
“Adik saya tidak mungkin jadi ketua gank. Adik saya anak yang baik di rumah dan teman-temannya juga banyak!”
Ivan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Merasa malu.
“Ma'af Mbak. Itu kenyataannya,” Pak Hasan menatap Kinanti dengan wajah prihatin.
“Kak.. Sudah Kak...” Ivan menarik tangan Kinanti untuk duduk.
“Gak bisa begitu, Van! Kamu adik kakak satu-satunya. Ini pasti fitnah. Kakak tidak mau kamu difitnah seperti itu.”
Kinanti menatap Kepala Sekolah.
“Pak Nurdin, ketua yayasan sekolah tahu akan hal ini? Mengingat Beliau adalah paman kami, pasti Beliau tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terkait keponakannya.”
Agung dan lainnya menatap sebal pada Kinanti. Hans berdecih. Ayah menggelengkan kepalanya.
“Kakak...” Ivan menunduk malu.
“Mbak, ma’af. Sekalipun Ivan adalah keponakan ketua yayasan, tapi bila nantinya Ivan terbukti bersalah, hubungannya sebagai keponakan pemilik yayasan tidak akan mengubah keputusan sekolah,” Kepala Sekolah berkata tegas.
Para Guru terlihat puas dengan ucapan kepala sekolah.
“Kak..ma’afin Ivan,” ia menjatuhkan dirinya ke lantai di depan Kinanti duduk, “Ivan memang pernah jadi ketua gank mereka. Tapi dulu.”
Kinanti terdiam. Matanya menatap nanar pada adiknya.
“Semenjak peristiwa gerai donat, semenjak Ivan berbicara dengan Bundanya Om Agung, Ivan meninggalkan mereka. Ivan tidak bergaul lagi dengan mereka.”
“Kamu??!” tangan Kinanti terangkat.
“Ma’af, Mbak. Masalah Anda dan Adik Anda, kalian selesaikan saja berdua. Saya akan meneruskan kronologi peristiwa hari ini supaya masalah ini cepat selesai.”
Pak Hasan melanjutkan lagi. Kali ini tanpa interupsi dari siapapun. Wali murid dan orang tua geram dengan kenakalan anak-anaknya yang menyiram Adinda dengan air najis.
“Kamu yang menyiramkannya?!” seorang bapak dengan perawakan tinggi besar menarik kerah baju Firman, si pelaku penyiraman.
“Sssaayyaa, saya cuma disuruh mengeksekusi Adinda, Yah..” Firman ketakutan.
“Ide siapa ini?” Ayah Firman mengguncangkan tubuhnya.
“Mereka...!” Firman menunjuk pada dua anak laki-laki lainnya, “Ricky dan Denis.”
Seorang ibu bertubuh gemuk langsung menjambak Kaos Sepultura.
“Bikin malu!” wajahnya terlihat gemas, “Anak perempuan baik-baik, berjilbab, kamu siram dengan air najis??!”
“Ky, kamu anak pertama kami tapi kelakuan kamu gak bisa dijadikan contoh untuk adik-adik kamu. Umur segini kamu sudah nyicipin perempuan??” Ibunya Ricky melepas alas kakinya untuk dipukulkan ke kepala anaknya.
Ricky terdiam. Tidak membantah dan tidak pula melawan. Dia hanya tertunduk. Malu.
“Kamu mau jadi pela cur? Baik. Kalau itu maumu. Tinggalkan rumah. Tinggalkan kami. Lupakan kalau kamu pernah jadi bagian dari kami. Kamu bukan keluarga kami lagi,” seorang bapak dengan suara bergetar menunjuk wajah Manda.
“Dari sejak SD kamu sudah kecentilan jadi anak. Gatal dengan laki-laki. Selalu caper dan tidak tahu malu berpakaian setengah telanjang di depan laki-laki. Ayah tidak menyangka kamu jadi seperti ini!” Ayahnya Manda yang murka mendadak mengangkat tangannya, hendak memukul anaknya.
Adinda mencengkeram lengan Agung.
“Om.. Dinda takut... Zaskia dan Wiwit juga pasti merasa ketakutan...” Adinda menunjuk kedua sahabatnya yang saling meremat jemari.
Agung menenangkan Adinda dengan mengelus punggungnya. Dia melemparkan senyum untuk menenangkan teman Adinda yang ketakutan.
“It’s OK. Kalian tidak perlu takut...”
Bapak Kepala Sekolah mengetuk meja dengan menggunakan asbak untuk menenangkan suasana.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon menahan diri. Kami para pendidik tidak ingin melihat bagaimana kalian memarahi anak-anak kalian di sini. Selesaikan di rumah masing-masing.”
Guru Olahraga ikut berbicara.
“Kalau kita mencari ide siapa penyiraman air najis itu pasti tidak akan ada yang mengaku. Dan mereka memperolehnya darimana juga mereka pasti bungkam.”
Para guru mengangguk.
“Tapi yang jelas, penyiraman itu terbukti dilakukan mereka secara terencana karena tertangkap tangan dan ada rekaman video saat kejadian berlangsung. Juga bukti alat-alat permainan dewasa yang sangat tidak pantas mereka miliki apalagi dibawa ke sekolah untuk menjahati Adinda.”
Guru Olahraga memandang para orangtua dan wali murid.
“Mereka terbukti bersalah.”
Seorang guru perempuan berdiri.
“Tentang keterlibatan Ivan, saya bisa membuktikan, dia tidak terlibat. Selama seminggu ini,dia membantu saya diperpustakaan. Membantu pengembalian buku paket dan buku-buku lainnya di perpustakaan yang dipinjam para murid.”
“Nilai akademik Ivan juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Sepertinya memang Ivan tidak terlibat dalam kelompok mereka lagi,” walikelas Ivan menambahkan.
“Berarti Ivan tidak terlibat dalam peristiwa hari ini,” Pak Hasan memandang Ivan, “Kamu duduk di sana, dekat Zaskia dan Wiwit. Mbaknya silahkan pindah tempat duduk di dekat Ivan.”
Keduanya berpindah tempat duduk.
Pembicaraan dilanjutkan lagi tentang kegiatan terlarang mereka di top floor, atap sekolah. Juga foto-foto seronok di galeri gawai milik Manda dan Anya.
Merah padam wajah orang tua Manda dan Anya menahan marah dan malu. Mereka bahkan menangis melihat kelakuan anak mereka yang di luar nalar.
Saat Pak Hasan dan Guru Olahraga selesai menjelaskan kronologi dan temuan mereka di top floor, Bunda meminta ijin untuk berbicara pada para orangtua dan wali murid.
“Sebenarnya ini musibah bagi kita semua. Bagi para orangtua, bagi para guru juga bagi anak-anak. Kemajuan jaman semakin memudahkan kita untuk mengakses komunikasi, informasi bahkan hiburan dari handphone kita. Anak-anak, sudah ada yang dibekali dengan sikap hati-hati ada juga yang belum.”
Bunda memandangi mereka semua.
“Peran kita sebagai orangtua dan sebagai guru adalah selalu mengingatkan anak-anak agar selalu berhati-hati terutama di masa pencarian jati diri mereka. Beri mereka pengetahuan dan informasi tentang baik dan buruk, tentang benar dan salah juga tentang dampak baik dan buruknya. Jangan pernah bosan untuk mengingatkan anak-anak.”
Bunda menatap para orangtua.
“Selalu do’akan anak-anak kita dengan do’a yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim Alayhissalam: Rabbihabliminas shoolihiin lalu sebut nama anak kita berikut nasabnya setelah kita sholat.”
Bunda menatap para pelaku.
“Kalian tuh kenapa? Tolong gak usah playing victim sekarang dengan menyalahkan orangtua yang sibuk sehingga kalian kurang diperhatikan. Terlalu klise alasan seperti itu.”
Bunda mendekati mereka.
“Kalian dari semenjak kecil dibekali oleh orangtua dan para guru tentang adab, ilmu agama, ilmu moral. Seharusnya kalian sudah tahu tanggungjawab, mengerti untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, terhadap teman-temannya, terhadap keluarga, terhadap sekolah.”
Bunda berhenti sejenak lalu menepuk-nepuk pundak para anak laki-laki yang tertunduk lesu.
“Kenapa di usia baligh kalian, kalian masih tidak bisa bedakan yang benar dan salah? Apa yang salah dengan kalian? Kalian semua lulus kan?” Bunda bertanya pada anak-anak.
Kelimanya mengangguk.
“Itu artinya, kalian semua cerdas. Tidak ada yang salah dengan kemampuan otak kalian. Artinya, tindakan keseharian kalian, kenakalan kalian lebih dikarenakan oleh ini...” Bunda menepuk-nepuk dada Ricky.
“Tahu artinya?” Bunda menatap kelimanya.
Mereka menggeleng.
“Nafsu. Kalian lebih mengedepankan nafsu kalian. Ego kalian. Lebih mengedepankan kesenangan sesaat yang hanya sebentar tanpa berpikir bagaimana perasaan orang lain di sekeliling kalian.”
.
*bersambung*
🌺
Tuh, dengerin nasehat Bunda, ya.
Jangan-jangan dulu Bunda pernah jadi guru BK?
Kinanti, punya paman sebagai ketua yayasan sekolah, jadi merasa punya tameng pelindung. Katrok ah. Awas loh Gung, kalau kepincut modelan kek Kinanti. Author getok nanti.
🤭
🌺
Jangan lupa like dan minta update ya.
Yang belum pencet ❤➕ hayo buruan.
Btw, masa novel ini baru seorang yang beri ⭐5-nya? Nangis nih Author....
🤭😘
🌺
Utamakan baca Qur'an ya.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
sambit ma duren thor
2024-07-31
1
himawatidewi satyawira
sngt di luar nurul jg ya thor
2024-07-31
1
himawatidewi satyawira
ayoo mak tabok ma gagang pintu..yng kerasss
2024-07-31
1