Adinda mengenakan jaket hoodie milik Melda. Bagian bawahnya ia mengenakan selimut.
Agung terenyuh melihat kondisi Adinda saat ini. Siapapun yang melihat pasti akan merasa iba.
Kulitnya pucat, gemetaran. Mata bengkak dengan bagian bawah matanya memerah karena iritasi sampo yan masuk ke dalam mata. Bibirnya pucat dan tidak berhenti menggigil.
Takut serangan paniknya kambuh, gegas Agung menghampiri Adinda.
“Dinda gak apa-apa? Mau diambilkan oksigen?”
Adinda terkena serangan panik parah pasca penyerangan yang dilakukan oleh ibu tiri dan teman prianya. Yang menyebabkan dia tidak bisa bernafas.
Di sekolah ini, Agung menyediakan OxyCan, oksigen dalam kaleng di UKS untuk keadaan darurat. Sedangkan di mobil, selalu disediakan tabung oksigen untuk berjaga-jaga.
Adinda menggeleng lemah.
“Om Agung bau. Pak Man juga...” suara Adinda pelan.
“Tadi... sepertinya baju saya dan baju Pak Man terkena cairan dari baju kamu...” Agung membuka kemeja jeansnya.
Para murid perempuan bergumam melihat Agung mengenakan kaos slimfit warna abu-abu muda berleher V.
“Tunggu saya. Saya bersuci dulu.”
“Dinda langsung ke UKS ya..” Ibu Guru mengingatkan.
Baju basah Adinda sudah dimasukkan ke dalam kresek besar.
“Man, bajunya buka. Kena najis. Kamu pakai daleman kan?” Agung selesai berthoharoh mengingatkan Man.
Man mengangguk.
Sama seperti saat Agung membuka baju. Para murid perempuan bergumam. Tapi kali ini murid laki-laki pun ikut bergumam membaca kaos slimfit warna navy blue dengan sablonan nama perusahaan tempat Man bekerja. AMANSecure.
Beberapa murid yang kepo langsung mengetikkan nama perusahaan di gawainya masing-masing. Mencari di mesin pencari. Mereka berseru sambil menyebut nama Sanjaya Group.
Man selesai berthoharoh.
“Saya yang bawa Nona Adinda ke ruang UKS, A?”
“Biar saya saja. Adinda tidak mau dipanggul seperti karung lagi. Pusing, katanya...” Agung berusaha bercanda supaya Adinda berhenti gemetaran walau dipegangi oleh Zaskia dan Wiwit.
Saat melirik Adinda, Agung mencelos. Tubuh Adinda limbung. Agung yang berdiri tidak jauh dari Adinda langung menarik tubuhnya.
“Dinda... Put, kamu dengar saya, Put?” Agung khawatir luar biasa.
Dengan gerakan cepat, dia membopong tubuh Adinda.
“Kalian tunjukkan kepada saya, dimana letak UKS!”
Murid-murid laki-laki berlari terlebih dahulu.
Zaskia dan Wiwit berlari mengikuti Agung sambil menangis.
“Dinda... Put... Kamu masih bisa dengar saya kan?” Agung berlari dengan tubuh Adinda di lengannya.
Hoodie yang dikenakan Adinda untungnya terikat erat sehingga tidak terbuka.
Agung meletakkan tubuh Adinda di atas bed UKS. Nafas Adinda mulai tersengal.
“OxyCan?” pinta Agung.
Seorang murid perempuan memberikan OxyCan kepadanya. Agung membuka segel lalu memasang alat menutupi hidung Adinda.
“Din.. dengar saya? Hirup ya..” Agung menekan noozle perlahan.
Man datang setelah berlari. Berdiri di ambang pintu.
“Man, Ayah dan Bunda sudah datang belum? Ambilkan tabung oksigen dalam mobil.”
Man tidak menjawab. Dia langsung berlari meninggalkan ruang UKS.
Ibu Guru yang tadi membantu, sedikit menurunkan kain selimut yang menutupi perut Adinda. Dia mengoleskan petroleum gel pada kulit Adinda yang memerah.
Kulit perut Adinda yang memerah seperti distempel dengan pola tepi sol sepatu. Garis-garis vertikal dengan jarak agak lebar.
Agung melihat sekilas. Ia tahu, pasti akan berbekas nantinya. Dia berharap tidak timbul keloid di kulit yang terbakar.
“Gak apa-apa.. Tidak ada luka terbuka. Punggung Adinda yang diinjak oleh si pelaku penyiram dan anak perempuan itu juga tidak lecet. Hanya memar,” Bu Guru menutup kembali perut Adinda.
Agung mengangguk. Dia masih sesekali menekan noozle OxyCan.
“Din... bangun Din. Bunda sebentar lagi datang,” Agung menepuk-nepuk pipi Adinda pelan.
OxyCan-nya sudah kosong. Nafas Adinda masih tersengal.
“Coba pakai minyak kayu putih, tuangkan sedikit di tangan Pak Agung, lalu dekatkan ke hidung Adinda,” Bu Guru mengangsurkan botol minyak kayu putih, “Balurkan juga di telapak tangan Adinda supaya hangat."
"Kalian bantu balurkan minyak kayu putih di kaki Dinda ya," Bu Guru memerintahkan murid perempuan anggota PMR.
Man datang. Membawa koper biru kecil dan paper bag. Sebagai anggota Shadow Team, dia tahu tentang medis juga untuk pertolongan pertama.
“Itu apa?” Agung memandang paper bag saat Man membuka koper dan mulai memasang perlengkapannya.
"Baju ganti Nona Adinda, dari Bunda," Man memasang selang oksigen dibantu Agung lalu memutar kenop pengaturnya.
“Assalamu’alaikum..” suara Bunda terdengar di pintu.
Semua menjawab salam Bunda. Agung menyalimi Bunda. Lalu mengenalkan pada Bu Guru yang sudah membantu Adinda.
Bunda mengusap dahi Adinda dengan penuh kasih sayang sambil sesekali mencium pipinya. Adinda tersadar. Begitu membuka mata langsung memeluk Bunda. Menangis dalam pelukan Bunda.
Mami datang bersama Layla.
“Gung.. Dinda? Dinda bagaimana sekarang?” Mami bergegas masuk setelah mengucap salam.
“Dinda sudah....”
“Ya Allah, Dinda... Mami dikabari Indra, Mami langsung ke sini...” Mami memeluk Adinda, “Kamu gak apa-apa Nak? Kenapa kamu selalu dijahati mereka terus?”
“Dinda sabar ya Din. Allah Maha Tahu,” Layla mengelus punggung Adinda.
“Kak Layla sama siapa ke sini?” Agung membalur kaki Adinda dengan minyak kayu putih lagi.
“Sama Bang Leon. Eric, Kakak titipkan ke Adisti. Bram dan Indra sedang meeting tentang rancangan aplikasi kamu, Gung. Beneran kamu yang membangun software akuntansi sekeren itu?” Layla menatap Agung dengan sungguh-sungguh, “Kakak bangga banget ke kamu, Gung. Perusahaannya Bang Leon juga ingin pakai software buatan kamu.”
“Kalian bicara apa sih?” Bunda masih mengelus-elus punggung Adinda.
“Calon money maker baru nih Bun.. Anak sulungnya Bunda..” Layla menepuk-nepuk lengan Agung.
“It’s not all about money sih Kak. Saya cuma ingin bantu penyederhanaan sistem akuntansi dan transparansi, keakuratan dan kecepatan dalam sistem akuntasi yang sudah ada.”
“Wah Pak Agung hebat banget ya,” Bu Guru tersenyum pada Agung.
“Ah, nggak begitu Bu. Saya hanya mengembangkan ilmu yang saya kuasai..”
“Dinda ganti baju dulu yuk. Supaya kita bisa ke ruang guru,” Mami mengingatkan.
“Ada luka bakar di perut Adinda, Dinda bisa duduk? Ganti bajunya di tempat tidur saja ya?” Bu Guru memberi paper bag yang tadi dibawa oleh Man.
Agung meninggalkan ruangan, menutup pintunya. Murid-murid masih ada yang berkumpul di luar UKS, sebagian besar pasti berkumpul di ruang guru.
“Sudah, jangan menangis..” Agung tersenyum pada Zaskia dan Wiwit, “Adinda sudah tidak apa-apa.”
“Adinda memang selama ini sering dijahati oleh dua anak perempuan itu, A. Sebelumnya bertiga. Tapi yang satu entah keluar atau dikeluarkan dari sekolah karena rumornya...” Zaskia memelankan suaranya, “Hamil..”
Agung mengangkat sebelah alisnya.
Wiwit menyenggol lengan Zaskia.
“Dijahati bagaimana? Main fisik atau sekedar kata-kata?”
“Dua-duanya, A. Pernah sewaktu bareng aku, di kamar mandi, tiba-tiba Adinda didorong oleh mereka sampai membentur tembok atau pintu. Terus mereka mengata-ngatai Adinda dengan hal-hal yang buruk. Berusaha mempermalukan Adinda di depan murid-murid lainnya, terutama di depan adik kelas...”
“Adinda gak melawan?”
Zaskia menggeleng.
“Adinda pernah cerita kenapa dia gak balas perbuatan mereka?”
“Selain kalah jumlah, Adinda bilang gak mau bikin ribut, khawatir nama keluarga angkatnya tercoreng,” Wiwit menjawab sambil mengelap air matanya dengan tisu, “Kata Adinda, dia sudah cukup sering merepotkan dan membebani keluarga angkatnya yang sudah sangat baik kepadanya...”
.
*bersambung*
🌺
Adinda ternyata masih dibully oleh mantan anak buah Ivan. Kirain mereka sudah kapok.
Adinda menyimpan semuanya sendiri.
Kisah bagaimana penyerangan Adinda dan bullying di samping gerai donat ada di CEO Rescue Me ya...
🌺
Jangan lupa like dan minta update ya.
Weekend ini Author update 2 bab ya.
Jangan lupa ❤➕ dan ⭐5 bagi yang belum... 😁😎
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Tri Yoga Pratiwi
di penjarakan saja anak anak tukang bully itu
2023-12-09
1