Hati Agung seperti ada yang menyiram air es. Lehernya tercekat.
[Why Din? Kamu tidak menceritakan semuanya kepada kami? ]
“Adinda sering bertemu Ivan?”
Keduanya menggeleng.
“Adinda selalu menghindar saat didekati Ivan ataupun saat ada Ivan.”
Agung mengangguk. Dia percaya, Adinda bisa menjaga pergaulan dengan baik.
Pintu UKS terbuka, Bunda melongokkan kepalanya ke luar.
“Kak, tolong bawa Dinda ke ruang guru..”
“Iya Bun..” lalu memandang ke 2 teman Adinda, “Kalian ikut ya ke ruang guru sebagai saksi.”
Keduanya mengangguk.
Agung menatap Adinda yang tengah duduk di tepi bed dengan kaki menjuntai. Selang oksigennya sudah dilepas.
Adinda mengenakan stelan training warna hijau sage dan kerudung instan warna putih. Kulitnya sudah tidak sepucat tadi. Cantik.
Agung menatapnya dengan dada berdebar. Adinda selalu cantik di matanya.
“Kamu sudah gak apa-apa?”
Adinda yang sedang menunduk menatap kakinya mendongak.
“Sepatu saya mana, Om?” mata Adinda terlihat kosong.
Agung memicingkan mata. Dia merasa deja vu dengan kondisi Adinda saat ini. Sama seperti pasca penyerangan yang dialaminya beberapa minggu yang lalu.
“Din..” Agung mendekat, membelai kepalanya, “Dinda, kamu dengar saya kan?”
“Sepatu saya, Om?”
“Put.. Puteri, kamu baik-baik saja kan?” Agung sengaja memanggil dengan nama sewaktu kecilnya agar Adinda bisa ditarik lagi kesadarannya.
Adinda terdiam.
Bunda dan Mami mendekat.
“Kenapa? Ada apa?”
Agung tidak menjawab. Dia meletakkan kepala Adinda di dadanya. Mengelus punggungnya.
“Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Kami akan menjaga kamu, Put.”
“Sepatu saya...”
“Saya akan belikan lagi..”
Adinda menggeleng.
“Kamu mau 10 pasang sepatu pun saya belikan...”
Adinda menggeleng lagi.
“Sepatu... saya... Papa..”
Bunda, Mami, Layla dan ibu Guru saling berpandangan bingung.
“Sepatu kamu yang terbakar pasti ada di ruang guru. Dijadikan barang bukti,” Agung membopong Adinda, “Kita ke ruang guru sekarang.”
Depan ruang guru dipadati murid-murid. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Terlebih ada bule juga di dalamnya. Leon Iskandardinata, CEO Iskandardinata Group yang berkedudukan di Singapura, suami Layla.
Tapi saat Agung datang sambil membopong Adinda, murid-murid menyingkir memberi jalan. Suasana semakin heboh.
Adinda didudukkan di sofa.
Hans langsung menghampiri Adinda.
“Din..” Hans menepuk punggung tangan Adinda, “Kamu baik-baik saja?”
“Sepatu Dinda, Bang..”
“Que lui est-il aarrivé_Apa yang terjadi dengannya_ ?” Leon menatap Layla.
“Qui sait. Plus tôt, il a posé des questions sur ses chaussures_Entahlah. Dari tadi dia menanyakan sepatunya_.”
“Chaussure_Sepatu_? alis Leon terangkat.
“Ini sepatu Dinda,” Agung menyodorkan sepatu yang ada di tangan Rambut Shaggy.
Adinda meraih cepat sepatu yang berada di tangan Agung. Membelainya dengan penuh rasa sayang. Mendekap di dadanya. Pipinya basah oleh air mata.
“Ma’afin Dinda, Pa. Dinda tidak bisa menjaga kenang-kenangan terakhir dari Papa. Hadiah ulang tahun Dinda. Kejutan untuk Dinda di pagi itu...”
Semuanya terdiam. Ruang guru sunyi. Mereka melihat Adinda yang bemonolog sendiri.
Ayah menatap Agung. Dengan gerakan kepalanya meminta Agung untuk menangani Adinda. Kata psikolog yang dulu menangani Adinda, hanya Agung yang bisa meraih Adinda untuk kembali sadar dari efek serangan paniknya.
“Put... Puteri. Om Agung di sini. Kamu dengar, Put? Ceritakan tentang sepatu ini. Kenapa kamu begitu menyayanginya..”
Adinda terdiam. Dia menatap Agung yang duduk berlutut di depan kursinya sambil memegangi bahunya.
"Sepatu ini, hadiah ulang tahun Dinda yang ke-17. Dinda gak nyangka pagi itu Papa memberi hadiah untuk ulang tahun yang sudah terlewat seminggu...”
“Bahkan pagi itu, di ruang makan, Papa sendiri yang memakaikan sepatu ini ke Dinda disertai banyak do’a dan harapan untuk Dinda. Kata Papa, anak gadis Papa sudah besar. Selalu hati-hati melangkah...”
Adinda menatap mata Agung. Seolah-olah hanya ia dan Agung yang berada di dalam ruangan itu. Mengobrol berdua.
“Andai Dinda tahu, pagi itu adalah pagi terakhir Dinda melihat Papa...”
Tangan Agung menangkup punggung tangan Adinda yang tengah memegang sepatu setengah hangus. Masih ada guntingan kain rok seragam abu-abunya di salah satu sisinya.
“Saya lihat sendiri, Om. Perempuan itu menyuguhkan kopi untuk Papa. Andai Dinda tahu kopi itu dibubuhi sianida...”
“Sepatu itu hadiah terakhir dari Papa, Om. Hadiah terakhir. Sepatu yang sangat berharga bagi saya. Sengaja saya pakai di hari pengumuman kelulusan, agar Papa bisa merasakan kelulusan saya. Agar Papa bisa tahu kalau anak satu-satunya sudah lulus sekolah...” Adinda menyeka pipinya dengan punggung tangannya.
Bunda dan Mami juga menyeka air matanya. Beberapa orang guru juga. Semua guru sudah mengetahui kisah Adinda sewaktu Ayah meminta penangguhan ujian praktek sekolah terkait kondisi Adinda yang belum pulih pasca penyerangan.
“Tanpa kamu beritahu, Papa dan Mama kamu tahu kalau sekarang adalah hari kelulusan kamu.”
Adinda menatap Agung.
“Tanpa kamu beritahu, Papa dan Mama kamu tahu bagaimana perasaan kamu. Kamu bahagia ataupun sedih. Kamu sehat ataupun sakit...”
“Beneran Om?”
“Atas ijin Allah,” Agung berpindah duduk di sofa samping Adinda, “Sekarang jangan sedih lagi. Jadi gadis yang kuat. Seperti harapan Papa Adang dan Mama Hartini. Seperti harapan Ayah dan Bunda, Daddy dan Mommy, Papi dan Mami juga para Abang dan Teteh kamu.”
“Jangan khawatir, kamu punya kita, Din..” Layla tersenyum.
“Sebelah sepatunya dimana?” Hans memandang bergantian antara Adinda dan Agung.
Agung menatap Adinda. Adinda menatap tajam pada Manda yang balas menatapnya dengan tersenyum miring mengejek.
Adinda berdiri, menghampiri Zaskia yang memegangi tasnya. Dia merogoh saku samping tasnya. Mengambil sesuatu yang di genggamnya. Sebelah tangannya memutar plastik penutupnya.
“Kamu tendang kemana sepatu saya? “ Adinda memandang ke bawah.
Manda dan Anya yang terduduk di lantai bungkam. Bahkan Manda melengos membuang muka.
Adinda menunduk, mendongakkan dagu Manda lalu menjejalkan ujung benda yang ada di genggamannya ke mulut Manda. Meremas bungkusan yang ada di genggamannya.
Mata Manda membeliak. Sorot matanya panik. Belum selesai paniknya, Adinda sudah beralih ke Anya.
Anya yang tidak siap, tersedak. Hingga apa yang dijejalkan Adinda keluar lewat hidungnya. Anya meringis pedih.
Manda terbatuk. Melepehkan apa yang dijelaskan di mulutnya. Sensasi panas dan terbakar dibibir dan lidah.
Aroma sambal menyeruak di ruang guru. Semua terperangah menatap Adinda. Sambal kemasan pouch yang pagi tadi dinikmati bersama saat sarapan di taman lantai 6 rumah sakit.
“Dinda...” Agung menghampiri Adinda, memegang kedua lengannya, “Apa yang kamu lakukan?”
“Sebentar, Om. Biar Dinda selesaikan apa yang belum selesai di depan para guru dan semuanya,” Adinda mencegah Agung untuk bicara dengan telapak tangannya.
Mata Adinda menatap Manda dan Anya yang kepedasan.
“Kalian berdua, sebelumnya bertiga bahkan berempat selalu mengeroyok saya di kamar mandi cewek. Tidak cukup mem-bully saya dengan kata-kata kotor dan hinaan tapi juga menyerang saya secara fisik. Brutal kalian! Beraninya keroyokan!”
“Saya gak pernah melaporkan perbuatan kalian. Tidak ke para guru ataupun ke keluarga saya. Karena saya merasa, saya bisa mengatasinya sendiri. Tetapi ternyata saya salah.”
“Perilaku kalian yang luar biasa jahat malah semakin menjadi. Bukan saya saja yang kalian jahati. Tapi juga ke adik-adik kelas yang tidak bersedia memberi kalian uang atau kuota data!”
“Dinda...” Agung mengingatkan.
Baru kali ini ia melihat sisi lain dari Adinda. Ini seperti letupan amarah yang sudah ditahan-tahan sejak lama. Agung membiarkan sejenak agar Adinda tidak menyimpan beban emosional yang bisa mempengaruhi psikisnya.
“Sebentar Om. Dinda tahu batasan Dinda..” menatap Agung.
Kembali menatap ke arah Manda, Anya dan Firman, si penyiram. Lalu menatap ke dua pelaku perekam.
“Apa saya pernah punya masalah dengan kalian sebelumnya? Gak pernah kan?”
“Kesalahan saya hanya satu, yaitu menolak cinta ketua gank kalian. Ivan!”
Ivan yang namanya disebut mendongakkan kepalanya.
“Tapi saya tidak terlibat lagi di gank itu, Din. Saya meninggalkan mereka.”
Adinda menoleh menatap Ivan tajam. Dia mendekati Ivan dengan jari telunjuknya mengarah ke wajah Ivan.
“Di rumah sakit, kamu berjanji pada saya, pada Om Agung, pada Bunda, bahwa kamu tidak akan membiarkan anak buah kamu untuk menyakiti saya. Tapi kenyataannya apa?!”
Adinda menunjuk Manda dan Anya.
“Hampir setiap minggu, saya dikeroyok mereka. Dipermalukan mereka di depan adik kelas!”
Matanya nyalang menatap Ivan.
“Dan hari ini apa? Saya jadi curiga, kamu ada di balik semua ini...!”
.
*bersambung*
🌺
Nah Loh Van... Author juga jadi curiga. Lu bilang keroknya, Van...
Sambelin semuanya, Din. Cabe Jalapeno atau Harbanero ?
🌺
Jangan lupa like dan minta update ya.
Weekend ini Author update 2 bab ya.
Jangan lupa ❤➕ dan ⭐5 bagi yang belum... 😁😎
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments