RUMAH SAKIT XX
“Langsung pulang loh nanti...” Agung mengingatkan Adinda.
“Iya Om..”
Mereka berempat masih berada di taman menikmati teh panas dan roti yang masih hangat dengan ditambahi olesan mentega dari peternakan Jones, New Zealand.
Terdengar bunyi troli yang mendekati mereka. Serentak keempatnya menoleh. Petugas makanan rumah sakit yang berseragam coklat dan pink tersenyum lebar ke arah mereka.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi...” Dia membuka tutup troli lalu meletakkan sarapan mereka di meja, “Pilihan tempat yang bagus buat sarapan. Mumpung udaranya enak.”
“Waduh.. kita jadi merepotkan Ibu ya?”
“Tidak. Ini bagian dari pelayanan kami. Pasien yang sudah agak baikan boleh kok sarapan di sini. Untuk itulah taman ini dibuat. Apa ya istilah jaman now-nya? Healing!” wanita itu terkekeh.
“Sekalian latihan gerak badan, Bu. Kalau di kamar bawaannya sakit melulu..” Raditya tersenyum.
“Ya silahkan. Dihabiskan ya supaya cepat sehat,” Ibu itu mengangguk dan berlalu dari mereka.
“Dinda udah makan tadi...” Adinda menatap piring di hadapannya dengan mata berbinar, misoa ayam kuah.
Karena pasiennya 2 orang maka makanan untuk keluarga pasien pun 2 porsi.
“Udah.. makan lagi aja,” Anton membuka plastik wrap pada piringnya.
“Ini menu yang direkomendasikan Disti loh...” Agung tertawa, “Sayang gak ada sambelnya.”
“Saya bawa, kok Om...” Adinda merogoh saku samping tas ranselnya, mengeluarkan sambal Lampung kemasan pouch kecil.
Semuanya tertawa melihat bawaannya Adinda.
“Awas loh kalau kamu makan sambal berlebihan...” Agung mengambil sambal pouch dari tangan Adinda.
“Nggak Om. Kalem aja... Saya kan gak kuat terlalu pedas. Gak seperti Om Agung...”
“Kalau Dinda gak kuat terlalu pedas, kenapa Dinda bawa sambal?” Raditya mengerutkan keningnya.
“Buat saat seperti ini, Pak. Makan kalau gak pedes kan kurang nikmat ya...”
Raditya mengangguk setuju.
“Selain bawa sambal, Dinda bawa apa lagi?” Anton mendadak kepo.
“Biasa Kak...merica bubuk, garam, gula, teh, kopi, krimer semua dalam kemasan imut, juga ada perlengkapan makan standar: sendok, garpu, sumpit,” jawaban berikutnya membuat semuanya melebarkan mata, “Ada mangkok dan gelas lipat juga, pisau buah kecil, gunting, staples, lakban, dll.”
“Ya Allah.. keluarin Din, yang kata kamu mangkok dan gelas lipat. Penasaran saya...” Raditya menyuapkan makanannya.
“Nih...” Adinda menyodorkan dompet plastik tebal berzipper.
“Apaan tuh?” Anton menoel-noel benda seperti piring plastik ukuran kecil dan benda seperti tatakan gelas. Keduanya berwarna fuschia cerah.
“Ini mangkuk lipat,” Adinda mengeluarkan benda yang seperti piring itu.
Menekannya ke bawah hingga muncul beruas-ruas yang saling mengunci berbunyi KLEP KLEP. Membentuk mangkuk. Begitu juga dengan gelas.
“Bocor gak, Din, saat dipakai makanan kuah panas?” Raditya menyentuhkan ujung telunjuknya ke mangkuk dan gelas diikuti oleh Anton.
“Nggak.”
“Saya jadi teringat dengan bathtub portable sewaktu Disti mau nikahan dulu...”
Adinda mengangguk.
“Iya bathtub portable juga seperti itu cara kerjanya. Saya juga ingin beli, Om. Tapi takut dimarahi Bunda...”
Adinda, sekeluarnya dari rumah sakit dulu usai dirawat inap pasca penyerangan dirinya oleh ibu tiri dan teman pria si ibu tirinya yang hendak menjual dirinya ke orang kedutaan Jerman, diasuh dan dirawat oleh Keluarga Gumilar, orangtua dari Agung dan Adisti.
Itu sebabnya Agung memutuskan untuk tinggal di apartemen agar terhindar dari fitnah dan omongan tetangga komplek.
Anton tertawa.
“Kenapa Bunda melarang?”
“Mubazir, katanya,” Adinda menyuap lagi.
Agung menggoyangkan telapak tangannya, “Gak.. gak usah beli. Nanti saja Om buatin di kamar mandi kita di rumah kita sendiri nanti.”
“Beneran, Om?” mata Adinda berbinar senang.
“Insyaa Allah. Sekarang Om lagi nabung ya buat beli rumah kita. By the way, kamu ingin tinggal di rumah atau apartemen?”
Anton dan Raditya saling pandang. Mengambil piring dari atas meja lalu duduk membelakangi mereka berdua.
“Gile bener... ini sih obrolan Calon Imam dan Calon Ma’mum. Kenapa kita dilibatkan sih?” Anton terkikik geli diikuti Raditya.
“Om, memangnya kita libatkan mereka?” Adinda tersenyum lebar ke arah Agung.
Dekik kecil di bawah matanya terlihat.
“Nggak. Nggak dilibatkan. Tapi sengaja di-sounding-kan. Supaya mupeng, gak jadi jomblo kelamaan...” Agung tertawa diikuti Adinda.
Anton dan Raditya mencibir kesal.
“Kita habis makan langsung balik ke kamar lagi ya. Nanti ada pemeriksaan rutin suster saat memberi obat pagi,” Raditya mengingatkan Agung.
Agung mengangguk.
“Dinda juga langsung berangkat deh.”
“Memang pengumuman jam berapa?” Agung menatap Adinda.
“Kalau pemberitahuan yang sampai di meja saya sih jam 11an,” Raditya mengelap mulutnya dengan tisu yang dari tas Adinda.
“Iya Pak Radit. Jam 11an.”
“Sebelum pengumuman, kalian ngapain?” Anton mengambil tisu juga.
“Pengumpulan seragam bekas pakai kita untuk didonasikan. Kecuali seragam putih abu, yang nanti masih dipakai saat ospek maba.”
“Bisa pulang jam 12?” Agung menaikkan sebelah alisnya.
Adinda menggeleng.
“Kan mau acara kenang-kenangan dengan teman-teman sekelas, Om. Tapi gak coret-coret di baju yang sedang dipakai kok. Saya bawa kerudung polos saja untuk dicorat-coret supaya bisa dipigurain..."
“Jam 1 harus pulang. Gak bisa ditawar-tawar lagi,” suara Agung terdengar tegas.
“Din, gak kemana-mana sendiri ya. Misal ke ruang guru, ke perpustakaan atau ke kamar mandi. Selalu ajak teman baik kamu ya,” Raditya menatap Adinda dengan serius.
Adinda mengangguk.
Agung menyentuh kepala dinda yang tertutup hijab putihnya. Kemudian mengelus pelan.
“Nurut ya. Demi kebaikan kamu. Kami cemas dengan keselamatan kamu.”
“Iya Om..”
“Sweet banget ya. Gak seperti Tom & Jerry lagi,” Anton menatap penuh iri pada mereka berdua.
“Nanti kita juga akan begitu pada waktunya,” seloroh Raditya sambil tertawa, “Optimis dong!”
Mereka berempat masuk lagi ke dalam gedung, menuju kamar. Raditya terlihat bugar. Agung juga.
Saat masuk ke dalam kamar, sudah ada Pak Ibnu yang sedang membereskan map-map berkas untuk diperiksa dan ditandatangani Raditya.
“Om, saya pamit ya..” Adinda berdiri di hadapan Agung sambil mendongak karena perbedaan tinggi badan.
“Gak nanti saja?” sungguh, rasanya Agung ingin menahan Adinda berlama-lama di sini daripada melihat Adinda ke sekolah hari ini.
“Udah ah. Kasihan Pak Ajat nungguin di mobil...”
“Ya sudah,” Agung menatap lekat Adinda, “Baik-baik ya kamu. Patuh dengan Pak Man dan petugas polisi wanita yang mendampingi kamu. Jangan khawatir, mereka mendampingi kamu dalam jarak aman.”
“Iya Om...”
Agung menyentuh kepala Adinda dengan sayang.
“Pak Raditya, salim... Dinda pergi dulu,” Adinda mendekati Raditya yang duduk di sofa U.
“Kak Anton...” Adinda berdiri di depan pintu kamar mandi, “Dinda pergi dulu ya...”
Anton membuka pintu kamar mandi. Keluar dengan baju dan dandanan rapi dan wangi.
“Masyaa Allah... Kakaknya Dinda ganteng amat ya...” Adinda tertawa.
Agung yang hendak minum air putih mendadak menurunkan gelasnya. Menatap Adinda yang tengah memandangi Anton.
Anton tertawa sambil menatap ke arah Agung.
“Tuh... Calon Imam Dinda ngambek tuh...” Anton menunjuk ke arah Agung, “Marah lagi loh nanti. Diem-dieman lagi nanti kalian. Menggalau lagi deh kalian berdua.”
“Eh iya...” berlari kecil meninggalkan Anton ke arah Agung.
"Om.." Adinda tersenyum.
"Hmm..." Agung melanjutkan minumnya, menyembunyikan wajahnya di balik gelas.
"Issh, Om atuhlaaaaaah,” Adinda menggoyangkan lengan Agung.
“Om Agung marah ya ke saya?”
“Nggak...”
“Terus kenapa diam saja?”
“Gak apa-apa.”
“Calon Imam kalau lagi marah karena cemburu jadi kelihatan makin ganteng, deh...” rayuan Adinda membuat Raditya dan Anton saling pandang dan meringis.
“Kamu mau saya marah terus biar selalu ganteng di mata kamu?”
“Ya gak gitu juga kali, Om. Ma’af ya. Om Agung yang paling ganteng kok! Suer...”
Agung menaikkan kedua alisnya menatap Adinda.
“Calon Ma’mum sayang gak dengan Calon Imamnya?” Agung menatap lekat Adinda.
Di sofa U, Raditya menyandarkan kepala pada sandaran sofa sambil menutupi wajahnya dengan berkas. Anton telungkup di kursi sofa. Keduanya terkikik pelan.
“Sayang dong. Pakai banget,” Adinda tersenyum lebar sambil membuat jari love pada Agung.
Agung tertawa. Menyentuh kepala Adinda pelan.
“Iya... saya percaya kamu.”
“Saya pamit ya Om...” Adinda duduk dengan canggung, “Tapi gak usah salim ya. Asli, saya degdegan banget kalau bersentuhan langsung dengan Om Agung..”
“Mau saya pinjami sarung tangan proyek, Din? Supaya kalian bisa salim?” Anton berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, ekspresi wajahnya dibuat sedatar mungkin padahal dalam hati ngakak.
“Gak usah Kak. Soalnya sama aja. Om Agung juga gak berani bersentuhan langsung dengan saya, berasa kesetrum, katanya.”
Anton dan Raditya tidak dapat lagi menyembunyikan tawanya. Bahkan Pak Ibnu yang sedang menyeduh kopi di dapur ikut tertawa.
“Daaah semuanya, assalamu’alaikum. Wah.. Pak Ibnu sepatu baru ya Pak? Kinclong amat...” Adinda berlalu dari ruangan, masih terdengar suaranya saat berpamitan dengan penjaga di depan pintu kamar.
.
*bersambung*
Adinda ceria banget pagi ini. Keep be safe ya Din. Di sekolah ada yang berencana jahatin kamu..
Jangan lupa like dan minta update.
Pencet ❤+ juga dan beri penilaian bintang 5 untuk novel ini ya.
Love you!
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Tri Yoga Pratiwi
jangan sakiti Adinda lagi, kasihan... nanti trauma lagi
2023-11-29
1