Man berjalan cepat, memotong jalan denga menginjak rerumputan pendek daripada lewat jalan paving blok yang dibuat berkelok.
Mendekati mereka, Man memperlambat langkahnya. Berusaha menajamkan pendengarannya.
“Din.. kamu sudah mengembalikan buku perpustakaan?" suara Ivan terdengar jelas
Adinda mengangguk.
“Din, Lu masih gak mau bicara dengan gue?” Ivan menatap Adinda.
“Gak ada yang harus kita bicarakan kan? Gue udah maafin Lu. Tinggal Lu-nya yang seharusnya mengerti kalau gue gak mau lagi berurusan dengan Lu,” Adinda mengalihkan tatapannya dari wajah Ivan, memindai sekitarnya. Mencari keberadaan anak buahnya.
“Gue sudah meninggalkan gank gue, Din. Gue sudah tidak pernah hang out bersama mereka lagi semenjak dinasehati oleh Bundanya Om Agung,” Ivan mengetahui Adinda tengah mencari keberadaan anak buahnya, “Lu gak perlu kawatir...”
Ivan mendekat. Zaskia dan Wiwit mundur, menyembunyikan diri di belakang Adinda.
“Apakah ini semua karena permintaan Om kamu itu? Calon suami kamu?” Ivan berdiri tegak, “Gue udah berubah, Din. Gue udah jadi anak baik sekarang. Gue udah gak gaul lagi dengan anak-anak gank.”
“Baguslah. Lu memang harus menata hidup Lu yang semat berantakan karena pergaulan Lu, Van,” Adinda berdiri dengan tidak sabar.
“Perasaan gue masih sama seperti dulu. Gue masih punya rasa dan harapan besar kepada Lu, Din. Ini mungkin jadi saat terakhir kita bisa bicara. Setelah perpisahan, kita mungkin gak akan ketemu untuk beberapa waktu...” Ivan berusaha meraih tangan Adinda.
“Ma’af, jangan sentuh tangan gue. Kita bukan mahrom,” Adinda mengibaskan tangannya, “Tentang perasaan Lu, itu masalah Lu. Gue juga punya perasaan sendiri yang gak bisa dipaksa dan diganggu gugat.”
“Gue bisa membuat Lu jauh lebih bahagia daripada Om Agung Lu, Din..”
“Jangan ganggu gue. Jangan cintai gue karena gue sudah ada yang punya,” Adinda mengacungkan jari manisnya, tempat cincin pertunangannya dengan Agung tersemat.
Ivan salah persepsi.
“Gue bisa belikan yang lebih bagus dan lebih mewah dari cincin itu, Din! Gue cinta Lu! Gue maunya cuma sama Lu!”
“Saat Lu bersama dayang-dayang Lu dulu, Lu juga berkata hal yang sama kan? Untuk membuat mereka bertekuk lutut dan mau ditiduri oleh Lu?” dagu Adinda terangkat.
“Nggak. Gue bilang seperti ini Cuma ke Lu doang, Din!”
“Dah lah, Van. Gue gak mau debat di bawah sinar matahari seperti ini. Gue mau ke kelas, sebentar lagi pengumuman kelulusan,” Adinda mengamit lengat Wiwit dan Zaskia yang sedari tadi hanya diam menonton.
Kemudian Adinda berhenti lalu berbalik menatap Ivan yang tengah menatapnya.
“By the way, gue dengar sendiri sewaktu Lu mengatakan itu kepada Manda sewaktu kita masih kelas 2. Kalian bicara di tangga, kebetulan gue ada di bawah tangga sedang membaca buku. Juga saat Lu mengatakan hal yang sama kepada Lisa. Di lapangan atletik. Gue sedang mengambil sepatu gue saat Lu tengah merayu Lisa.”
“Teruslah jadi orang baik Van kalau Lu memang mau berubah. Itu bagus buat Lu dan untuk keluarga Lu. Buat masa depan Lu,” Adinda tersenyum sambil mengangguk ke arah Ivan.
“Tapi ma’af. Om Agung dan gue sudah satu paket yang sudah digariskan oleh takdir. Secara kualitas, dia jauh... jauuuuuh lebih berharga dari Lu, Van,” Adinda menatap Ivan.
Adinda menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
“Ma’af, gue gak bisa balas perasaan Lu sesuai yang Lu mau,” Adinda kembali menggamit lengan kedua temannya untuk berlalu dari tengah lapangan basket.
“Adinda!” Ivan memanggilnya tapi Adinda tidak berhenti berjalan, “Gue bakal selalu menunggu Lu!"
"Bomat!" gumam Adinda yang di dengar oleh kedua temannya.
“Padahal dia ganteng banget loh, Nda!” Wiwit hampir tersandung batu di hadapannya.
“Bomat ah. Gue ingin yang masih ori saja. Yang menjaga hati dan tubuhnya cuma buat gue...” Adinda tertawa kecil membuat kedua temannya tertawa.
“Serius yang tadi Lu bilang tentang Manda dan Lisa?” Zaskia menatap Adinda.
Adinda mengangguk.
‘’Jadi benar dong rumor tentang Lisa. Dia dikeluarkan karena sedang tekdung,” bisik Wiwit keras, “Hasil kolaborasi dengan Ivan?”
“Meneketehe, Wit. Lagian bodo amat. Cewek bekas Ivan, boleh diapa-apain dengan para anggota gank lainnya.”
“Dih, murahan amat!” seru Zaskia dan Wiwit bersamaan.
“Makanya, kita sebagai cewek kudu bisa jaga diri. Jangan atas nama cinta terus mau-maunya dikadali cowok buat dirusak segelnya. Udah puas ngadalin, terus ditinggal pergi...”
Masih di lapangan, Man tersenyum lega. Apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.
Ivan tampak kusut wajahnya. Man menghentikan langkahnya.
“Ma’af Dek, kelas IPA 2.7 di mana ya?”
Ivan berhenti melangkah. Memandang sekilas pada Man lalu mengarahkan Man. Setelah Man berucap terima kasih Ivan meninggalkan dirinya dengan kepala tertunduk.
Man berbalik arah. Dia kembali ke kelas Adinda. Melirik ke arlojinya, 10.50, sebentar lagi waktu pengumuman.
Si Rambut Shaggy belum terlihat. Membuat Man semakin dongkol. Pengawasan dan pengawalan macam apa sih yang dilakukannya?
Gawainya berdering. Dari Agung. Dia menerimanya.
“Assalamu’alaikum, A Agung. Alhamdulillah aman, A.” Jeda.
“Baik A. Sesuai dengan yang dibicarakan pagi tadi.” Jeda.
“Tadi pagi, Nona Adinda bilang, setelah sholat dhuhur di masjid sekolah, baru Nona pulang. OK. Baik.”
“Tidak ada hal yang mengkhawatirkan terjadi. Hanya tadi, setelah dari kantin, Ivan mendekati Nona Adinda di lapangan basket.” Jeda.
Man menceritakan kejadiannya pada Agung juga ucapan Adinda. Man juga menceritakan tentang petugas wanita yang dikirim Raditya yang bekerja jauh di bawah standar.
Agung dalam perjalanan ke arah sekolah. Mereka berdua lega, tidak ada hal yang buruk terjadi pada Adinda.
Surat kelulusan dikirimkan secara online lewat email dan WA. Para murid berseru girang. Ada yang menangis, ada yang berpelukan, ada yang meloncat-loncat senang.
Guru Walikelas diserbu murid-murid. Ada yang merangkul, ada yang salim pada guru. Beragam tingkah laku murid membuat Man tersenyum menyaksikan itu semua dari tempatnya duduk.
Si Rambut Shaggy baru muncul. Wajahnya terlihat segar dengan make up yang lebih rapi.
Man mendecih.
[Dasar Woman !]
Walikelas mengingatkan siswanya untuk tidak melakukan konvoi di jalanan ataupun membuat corat-coret membuat kotor tembok-tembok rumah warga ataupun fasilitas umum.
Wali kelas berlalu meninggalkan murid-murid bertepatan dengan adzan Dhuhur dari masjid.
Murid-murid membawa tasnya. Ada yang masih bertahan di sekolah, ada yang langsung pulang, ada yang langsung menyerbu kantin.
Tapi kebanyakan murid-murid pergi ke lapangan basket. Acara spontanitas gabungan para murid. Acara seru-seruan.
Zaskia dan Wiwit sepertinya ngotot ingin ikut seru-seruan di lapangan basket. Mereka mengajak Adinda untuk ikut.
Adinda menggeleng.
“Gue harus cepat pulang. Ada barang endorse-an yang datang hari ini.”
“Lu udah mulai di-endorse, Nda?” Wiwit langsung berbalik ke arah Adinda.
Adinda mengangguk.
“Viewers dan subscribers gue makin banyak, Wit. Alhamdulillah, endorse-an pertama gue datang pas dihari kelulusan...”
Zaskia memeluk Adinda.
“Congrats ya Nda. Ikut senang punya sahabat yang sudah sukses...”
“Emangnya Lu di-endorse apaan?” Wiwit ikut memeluk Adinda.
“Panci tiga susun. Bisa buat bikin bolu yang dikukus...”
“Gue request dong, lu bikinin bakpao hello kitty..”
“Buatin yang doraemon juga...”
“Kenapa kalian gak ikutan muncul aja sebagai tamu. Tapi kelihatan wajah cuma sebentar saja ya...” Adinda tertawa.
Kedua temannya berseru girang.
“Kapan?”
“Nanti gue kontek kalian deh kalau udah siap bahan dan resepnya...”
Ketiganya menuju masjid untuk sholat dhuhur terlebih dahulu.
Man yang sudah berwudhu, didaulat untuk menjadi imam oleh para murid laki-laki. Man menatap ke jamaah wanita. Dia melihat Adinda sudah siap berdiri dengan mukenanya bersama teman-temannya. Tapi tidak ada si Rambut Shaggy.
Saat salam, sudut matanya melihat Agung yang tengah berdiri melanjutkan raka’at yang tertinggal karena masbuk.
Adinda tengah melipat mukenanya saat dirinya menyadari ada Agung di dalam masjid.
“Ada Om Agung...” bisiknya kepada kedua temannya yang tengah melipat mukena juga.
“Eh? Yang kemeja denim itu?” mata Zaskia melebar.
Adinda mengangguk.
“Pantes Lu bilang, kualitas Ivan kalah jauh dengan Om Agungnya Lu. Ini sih beda level. Eh, beneran Lu udah tunangan sama dia?”
Adinda merona sambil mengangguk.
“Nda..! Sepatu Lu,” Melda yang baru datang langsung menepuk keras pundak Adinda.
Adinda memutar tubuhnya sambil mengernyit.
“Sepatu gue kenapa?”
“Dijadiin bola oleh Manda dan Anya,” Melda mulai mengeluarkan mukena dari dalam tasnya, “Ditendang-tendang sampai ke dekat lapangan atletik.”
Sontak Adinda berdiri.
“Sialan!!” Adinda menatap Zaskia dan Wiwit, “Titip tas gue.”
Terburu-buru mengenakan kaos kakinya, Adinda langsung berlari keluar masjid. Dari kejauhan, Manda dan Anya tertawa-tawa sambil menendangi sepatunya.
Anya menoleh ke arahnya.
“Yang punyanya datang!” Anya menunduk mengambil sepatu yang ada di dekat kakinya.
Manda mendongak. Sepatu yang ada di depannya ditendangnya dengan kuat. Tendangannya melambung tinggi. Adinda tidak dapat melihat kemana arah jatuhnya sepatu karena terhalang tembok.
Manda menyeringai. Menatap nyalang padanya. Tangannya bertolak pinggang.
“APA LU LIHAT-LIHAT !!?”
Anya tertawa sambil mengacungkan sebelah sepatu.
Adinda dengan kalap mengejar mereka.
“Lari Nya!” Manda tertawa riang diikuti oleh Anya.
.
*bersambung*
Adinda, bela-belain ngejar sepatunya. Padahal Om Agung bisa beliin 10 pasang sepatu yang sama. Atau beli pakai duit celengannya sendiri bisa dapat beratus-ratus pasang sepatu.
🌺
Jangan lupa like dan minta update 😁
Yang belum subscribe, monggo.. Novel ini belum ada yang beri penilaian bintang 5, kasihan Babang Agung dan Adinda...🙄🤭
🌺
Utamakan baca Qur’an
🌺
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Tri Yoga Pratiwi
jebakan, gampang bgt terpancing
2023-12-03
1