Hans, Leon dan Mami sudah duluan pergi. Hans langsung ke Sanjaya Group. Tuan Alwin sudah menghubungi untuk meeting.
Leon dan Layla juga langsung ke Sanjaya Group. Leon diberi ruang kantor khusus untuknya selama ia berada di Bandung, begitu juga dengan Layla.
Sedangkan Mami langsung ke beberapa toko emas miliknya untuk mengontrol toko.
Di mobil Innova, ada Ayah, Bunda, Agung, Adinda dan Man. Driver sudah menyalakan mesin saat Rambut Shaggy berlari mendatangi mereka.
Nafasnya terengah. Di tangannya ada sebelah sepatu milik Adinda.
“Astaghfirullah...” gumam Man yang duduk di depan, “Kita melupakan dia, A Agung...”
Man meminta driver untuk memastikan mesin mobil. Man turun. Agung yang duduk di baris belakang bersama Adinda, beranjak turun.
Ayah, Bunda dan Adinda tetap di dalam mobil.
“Saya kira kamu sudah pulang,” Agung menatap Rambut Shaggy dengan tatapan bersalah.
“Ma’af lama Pak Agung,” dia menegakkan tubuhnya.
“Sepatu Nona Adinda, menyangkut di ranting pohon Akasia di dekat rumpun bambu belakang sekolah. Butuh waktu yang lama untuk bisa mengambilnya.”
“Jauh banget tendangannya...” gumam Agung.
“Kamu manjat pohon?” tanya Man.
“Tidak, Pak. Saya dan anak-anak timpukin dari bawah. Dahannya terlalu kecil untuk dinaiki, lagipula terlalu tinggi.”
“Gak ada sesuatu yang bisa dipakai sebagai galah?” Agung menatap heran pada wanita bertubuh jangkung kurus itu.”
“Tidak ada, Pak.”
Man menaikkan alisnya.
“Tapi kan kamu ada di rumpun bambu. Setidaknya bisa memakai bambu yang tumbuh di sana kan?”
“Ma’af Pak... Tadi tidak terpikirkan oleh saya.”
Man setengah mati menahan tawa.
“Ya sudah. Terimakasih banyak sudah menemukan sebelah sepatu Adinda,” Agung meraih saku celananya.
“Ma’af Pak... Tidak perlu repot-repot. Ibu Kantin sudah membekali saya banyak makanan termasuk mie bakso,” masih dengan gestur tegap siaga.
Gerakan Agung terhenti. Keterangan Rambut Shaggy membuatnya mengerutkan keningnya. Dengan wajah datar, Agung mengambil gawainya lalu menghubungi Raditya.
Rambut Shaggy menatap Agung dengan wajah melongo. Saat itulah, Man tidak mampu menahan tawanya.
“Bagaimana Ibu Kantin membekali kamu dengan banyak makanan?” tanya Man setelah tawanya mereda.
Wajah Man serius kali ini. Sedatar wajah Hans.
“Ibu Kantin, dia sayang banget sekali dengan Adinda. Dia mendengar peristiwa yang menimpa Adinda hari ini. Dia berterimakasih, saya sudah menemukan sepatunya.”
Man mengangguk.
Agung sudah selesai menelepon.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Agung, “Ada yang jemput kamu atau perlu saya panggilkan taksi online?”
“Ya, saya pulang sekarang, Pak. Tidak perlu memanggil taksi online untuk saya. Saya membawa motor.”
“Gorengan dan bakso dari Ibu Kantin, sudah kamu bawa?”
Rambut Shaggy tertawa malu.
“Sudah habis, Pak. Saya makan di tempat pada saat itu juga...”
Agung saling tatap dengan Man dengan alis terangkat sebelah. Man sedang menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa lagi.
“Pantas kamu lama sekali munculnya...”
“Bakso kalau sudah dingin, gak enak lagi rasanya, Pak. Lagipula mie-nya akan mengembang..”
“Ooh.. Berarti kamu sudah kenyang ya?”
“Sudah Pak,” gestur siap dan siaga Rambut Shaggy betul-betul membuat Agung jengah.
“Lain kali, tuntaskan dulu misi yang penting. Baru urusan perut,” Man menatap Rambut Shaggy dengan wajah dingin.
“Tapi Pak..!” Rambut Shaggy hendak protes.
“Kami pergi. Kamu hati-hati di jalan. Terimakasih banyak atas bantuan kamu,” Agung berdiri dengan tidak nyaman, menatap Rambut Shaggy dengan tatapan yang sulit diartikan, “Omong-omong, setelah makan bakso atau apapun, seharusnya periksa dulu.”
“Maksud Bapak?” masih dengan gestur sigap dan tetap.
Agung yang hendak masuk ke dalam mobil
menjadi urung. Agung berbalik. Menghadap Rambut Shaggy.
“Ada yang nyangkut di gigi kamu. Entah itu daun seledri atau daun caysim...” Agung langsung masuk ke dalam mobil. Man menutup pintu.
Rambut Shaggy terdiam sambil memegangi bibirnya. Memandangi kaca jendela mobil di bagian penumpang belakang. Memeriksa giginya dengan pantulan kaca jendela.
“Ya Allah... Om! Itu si Mbaknya kenapa?” Adinda berseru kaget saat wajah Rambut Shaggy mendekat ke arahnya lalu memamerkan gigi-gigi depannya.
Agung yang baru saja duduk langsung menoleh ke jendela Adinda. Rambut Shaggy tengah mendekatkan wajahnya sambil meringis memeriksa giginya.
“Ih jorok...” Adinda terkikik membuat Bunda dan Ayah ikut menengok ke belakang.
Rambut Shaggy tengah mencungkil sayuran hijau yang menyempil di gigi dengan kukunya.
Semua yang dimobil tertawa. Agung menurunkan kaca jendela di samping Adinda. Rambut Shaggy masih tidak menyadarinya.
“Kamu sedang apa?” Agung mencondongkan tubuhnya ke arah jendela.
Adinda memiringkan tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan tubuh Agung.
Rambut Shaggy terlonjak. Matanya melebar dengan ekspresi aneh.
“Pak Agung, Nona Adinda..?” dia membungkukkan tubuhnya, “Ma'af...”
Mobil melaju.
“Om Agung ih jahara...” Adinda masih tertawa, “Kok ada ya petugas macam itu...”
“Bosnya menyepelekan Bang Radit ini sih... Diberi bantuan personel yang sama sekali tidak kompeten juga tidak bisa membaur,” Agung meluruskan kakinya ke samping.
“Yang penting, sepatu Dinda ketemu lagi...” Ayah tertawa. Bunda mengangguk mengiyakan.
“Ih, Om.. Sempit ini. Kakinya jangan di sini...” protes Adinda.
“ Bentar dulu. Saya capek banget. Pusing juga. Saya kan masih jadi pasien, Din.”
“Kak, mau langsung diantar ke rumah sakit?”
“Ke rumah aja Bun. Kakak kangen kamar Kakak. Kangen masakan rumah juga,” Agung mengambil boneka milik Adinda untuk dijadikan bantal.
Menyandarkan kepalanya ke kaca jendela lalu mencoba tidur dengan sebelah tangan menutupi matanya.
“Eh?” Agung membuka matanya saat terasa kakinya diangkat satu-satu lalu diletakkan di atas pangkuan Adinda.
“Dah... tidur saja Om. Saya kasihan lihat Om Agung. Makasih ya Om, sudah menyempatkan diri untuk ke sekolah saya. Menolong saya. Terimakasih hari ini sudah menjadi Power Ranger Hijau...”
Ayah dan Bunda terkekeh.
“Ma’af ya saya dan Pak Man telat menolong kamu. Kami kira kamu didampingi petugas wanita tadi.”
Agung menatap Adinda lekat.
“Saya dan Pak Man langsung panik saat dia muncul dengan raut wajahnya yang tidak bersalah. Bungkusan baslok di tangan kanannya dan bungkusan es teh di tangan kirinya.”
Man terkekeh di depan sana.
“Wah.. Gak profesional sekali ya...” Ayah menggeleng.
“Alasan dia baru muncul pada saat kita mau pulang juga bikin ngakak tapi kesel,” Agung menatap Adinda yang penasaran.
“Apa Kak?” Bunda ikut penasaran.
“Setelah mendapatkan sepatunya yang nyangkut di atas pohon Akasia di belakang sekolah, dia ke kantin...” Agung mengernyit saat tangan Adinda memijati tulang keringnya.
“Terus?” Adinda menoleh.
“Dibekali Ibu Kantin gorengan banyak, katanya. Juga mie bakso...” Agung menjawab sambil meringis.
“Loh, dibekali kan artinya dibungkus untuk dibawa pulang?” Ayah menoleh pada Agung, “Harusnya gak pakai lama setelah menemukan sepatu Adinda langsung menyerahkannya kepada kita dong...”
“Harusnya begitu...” Agung meletakkan keningnya di belakang sandaran kepala kursi Bunda sambil terkekeh.
“Kata dia, mie bakso kalau sudah dingin gak enak dimakannya...” Agung melanjutkan lagi sambil terkekeh, “Gorengannya dihabiskan semua sambil mengobrol dengan Ibu Kantin...”
“Ya Allah... Naha nya aja pameget nu kitu... Reuwog_Kenapa ya ada perempuan seperti itu... Rakus_, ” Bunda tertawa diikuti semuanya.
Bahkan driver pun ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Sugan teh ancin da kuru_Kirain makannya sedikit karena kurus_...,” Ayah tertawa, “Kita tertipu oleh penampilan.”
Semua tertawa mendengar ucapan Ayah.
“Padahal tadi saat Dinda ke kantin, Dinda sudah traktir dia mie bakso, gorengan dan es jeruk. Lambungnya besar banget ya berarti...” Adinda terkekeh.
“Nona Adinda berbicara dengannya saat di kantin?” Man menatap Adinda lewat spion atas.
Adinda mengangguk.
“Zaskia dan Wiwit mencemaskan saya, Pak. Mereka merasa petugas wanita itu adalah penguntit. Tapi saya tidak membocorkan identitasnya kepada mereka.”
“Terus?” Man masih menatap spion atas.
“Saat saya selesai berbicara dengannya, saya bilang saja kalau dia itu salah satu penggemar channel yutub saya. Menanyakan tentang baking.”
“Mereka percaya?” Agung meringis lagi saat merasakan pijatan Adinda.
“Ya percaya sih. Kan langsung saya belokin, Om...” Adinda tersenyum lebar.
Dekik kecil di bawah matanya tampak. Agung sampai menoleh dua kali.
“Memangnya apa yang Nona bicarakan dengan petugas wanita itu?” Man menatap lewat spion atas lagi.
“Untuk menjaga jarak dari saya. Jangan terlalu dekat dan menempel saya. Karena Ibu Kantin pun mencurigainya. Bahkan sempat mau memanggil sekuriti sekolah...”
Ayah dan Bunda tertawa.
Man menatap Agung dari spion atas sambil menggelengkan kepalanya. Agung menyengir lebar.
“Katanya, ini tugas pertamanya untuk mengawal dan mengintai...” Adinda menyambung lagi.
“Yaa Salaam...” Man mengusap wajahnya, “Pak Radit pasti bakal mengawasi tempat kerja petugas wanita itu dengan kepala kantornya...”
Agung terkekeh.
“Kamu saja yang bikin laporan ke Bang Radit, Man.”
“Iya Kang. Nanti saya langsung ke rumah sakit setelah dari rumah Keluarga Gumilar.”
Agung mengangguk.
.
*bersambung*
🌺
Bodi ceking tapi makannya banyak. Ada?
Ada!
😁😁
Kalau Author?
Habis makan lotek/gado-gado disambung dengan mie ayam/mie bakso lalu diguyur es kelapa muda, termasuk reuwog alias rakus gak ya? 😜😁
🌺
Jangan lupa pencet like dan minta update ya.
Yang belum pencet ikon ❤➕ atuhlaaah buruan.
Yang belum beri ⭐ 5 juga, pliiiiis supaya novel ini bisa naik.
💐🙏🏼🙏🏼
🌺
Utamakan baca Qur'an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Tri Yoga Pratiwi
sayang banget apa sayang sekali Mbak? 😁
2023-12-21
1