Baru saja turun dari mobil, Zaskia, teman sebangkunya langsung merangkulnya dari belakang. Membuat Pak Ajat, Driver, dan Man yang duduk di depan terperanjat.
Man merunduk agar wajahnya tidak terlihat oleh teman Adinda. Selang 5 menit, Man turun dari mobil. Dia mengenakan kemeja polos lengan pendek warna abu-abu dengan celana kain. Saat berada di sekolah, dia kan menyaru sebagai wali murid atau calon wali murid yang akan mendaftar di sekolah Adinda.
Man mengedarkan padangannya di sekitar sekolahan. Sekolah Adinda merupakan sekolah swasta kelas menengah.
Dia sudah mengecek keadaan sosial ekonomi para orangtua siswa. Tidak ada yang menonjol, tidak ada yang menjadi pejabat publik ataupun anggota dewan bahkan pengusaha kelas kakap.
Man bisa berbaur tanpa dikenali di mana pun. Keberadaannya di lingkungan seperti ada dan tiada. Karena Man selalu tampil tidak menonjolkan diri.
Mengetahui latar belakang sosial ekonomi para orang tua siswa sangat penting untuk keperluan penyamaran Man. Dia harus bisa membaur dengan lingkungannya.
Dia bisa berpenampilan mahal, dari atas hingga sepatu adalah barang branded dan mewah, apabila dia masuk ke lingkungan elit. Dia bisa tampil bak seorang pangeran dengan tuxedo dan dasi kupu-kupu bila berada dalam pesta kelas atas. Bahkan dia bisa menjadi gembel kere dengan baju kotor dan robek, berwajah dekil juga bau, bila dia harus melakukan penyamaran di wilayah “keras”.
Sudut matanya menyadari dirinya tengah diamati. Dia berpura-pura berjalan ke arah gerbang dengan cepat.
Gerbang pagar mempunyai tembok yang agak menjorok ke dalam. Segera ia masuk ke dalam lekukan tembok. Matanya waspada melihat siapa saja yang masuk setelahnya.
Seorang gadis dengan rambut model Shaggy pendek mengenakan T shirt biru muda dan celana jeans masuk. Tapi kemudian berhenti seperti mencari seseorang. Dia berjalan lagi ke arah dalam sekolahan.
Man menggelengkan kepala. Petugas yang diminta Pak Raditya ternyata sangat amatir sekali. Sikap waspadanya terlalu terlihat dengan jelas.
Sekarang, gantian Man yang menguntitnya. Bahkan, dijarak yang sangat dekat pun, gadis itu tidak tahu tengah diikuti oleh dirinya.
Banyaknya siswa yang berkeliaran di luar kelas dengan atasan baju bebas, memudahkan Man dalam bergerak.
Gadis itu duduk di bangku beton yang sebenarnya pembatas lantai dengan tanah. Terlihat lelah. Man duduk di sebelahnya. Gadis itu menggeser duduknya.
“Menjaga paketnya Pak Raditya?” Man berbicara tanpa menoleh.
Gadis itu terlonjak saking kagetnya. Dia memegangi dadanya.
“Astaghfirullah...” matanya melebar menatap Man.
Man tertawa kecil. Dia berdiri meninggalkan gadis itu.
“Tunggu..!” Gadis itu mengejarnya, “Mas, kelasnya yang mana?”
Man berhenti berjalan karena hampir tertabrak siswa pria yang tengah saling mengejar. Gadis itu nyaris menabrak punggungnya.
Man tidak menjawab pertanyaannya. Mereka tidak saling kenal. Dan deskripsi job-nya seperti itu saat briefing via WA dengan Tuan Hans dan Pak Raditya.
Kelas Adinda ada di lantai dua. Kelasnya lebih tertib daripada kelas yang di bawah. Acara menyumbangkan seragam sudah selesai. Mereka sekarang sedang membubuhkan tanda tangan di kaos usang mereka seperti yang diminta oleh para guru.
Beberapa siswa laki-laki membawa kardus-kardus besar, tempat baju seragam yang sudah dikumpulkan ke ruang guru.
Man melihat Adinda tengah mengedarkan kain jilbab putihnya ke teman-temannya untuk ditandatangani. Sekali-kali mereka saling bercanda bahkan main fisik tapi sejauh ini masih terlihat wajar. Tidak ada yang membahayakan.
Man mengamati dari jauh. Sementara gadis dengan rambut Shaggy mengambil tempat duduk tepat menghadap pintu kelas. Beberapa kali gadis itu menguap karena bosan.
Man mengeluarkan gawainya. Mengirim pesan chat kepada Adinda.
Man_Nona, coba pergi ke kantin bersama teman Nona. Kasihan, orang yang dikirim Pak Radit terlihat mengantuk_
Adinda_Yang duduk menghadap pintu itu, ya Pak? Mencolok banget._
Man tertawa kecil. Bahkan Adinda bisa membongkar penyamaran gadis berambut Shaggy itu padahal banyak para wali murid yang hilir mudik ataupun duduk di bangku tembok.
Man_Sepertinya dia butuh kopi dan beberapa gorengan dengan rawit pedas supaya bisa bangun lagi otaknya..._
Adinda_Pak Man ada di mana sih? Kok gak kelihatan?_
Man_Pokoknya saya bisa melihat Nona dari jarak aman. Tetap bersama teman Nona ya.._
Adinda_Baik Pak..._
Tidak berapa lama, Adinda sudah mengajak dua orang temannya ke kantin. Gadis berambut Shaggy langsung berdiri mengikuti Adinda. Man menyaksikan itu semua dengan gelengan kepala.
Adinda berulang kali melihat ke arah wanita berkaus putih longgar bertuliskan ZANELLA di bagian depannya melalui pantulan kaca pigura menu di dinding di depannya.
Wanita itu tampak gelisah. Memesan segelas kopi panas namun matanya fokus pada punggungnya.
“Nda, tu cewek di belakang Lu kok nyeremin sih?” Zaskia yang duduk di hadapannya menyenggol tangan Adinda.
“Nyeremin bagaimana?” Adinda berpura-pura tidak tahu.
“Dia stalker ya? Dari tadi ngikutin kita semenjak depan kelas. Sekarang dia melototin Lu mulu...”
“Masa sih?” Adinda berdiri.
Pesanan mie bakso mereka belum datang.
“Gue samperin ya..” Adinda menggeser kursinya ke belakang.
"Aje gile! Nda..! Ih. Sarap Lu! Dah duduk ajalah!” Wiwit terdengar panik.
“Gak apa-apa. Gue penasaran aja. Dia mau ngapain ke kita. Kalian tenang aja di sini. Gue gak bakal kenapa-napa...” Adinda tersenyum lebar.
Adinda menghampiri wanita itu. Wanita itu sama paniknya dengan Wiwit saat dihampirinya.
“Assalamu’alaikum, Mbak. Saya Adinda..” Adinda duduk di hadapan wanita itu.
Saking paniknya, wanita itu tersedak rawit yang tengah digigitnya setelah menggigit tahu isi.
“Eh??!” Adinda melebarkan matanya panik melihat si wanita terbatuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya.
“Ma’af mengagetkan...” Adinda meraih botol air mineral di atas meja.
Membukanya lalu menyerahkannya kepada wanita yang masih terbatuk-batuk itu. Adinda bergerak ke punggung wanta itu, membantunya menepuk-nepuk punggungnya.
Setelah batuknya agak membaik, Adinda duduk lagi di hadapannya. Membiarkannya meminum air mineralnya dengan tenang.
Tampang wanita itu terlihat menyedihkan. Wajah merah, mata berair dan hidung beringus. Setengah mati Adinda menahan tawa melihat tampangnya.
“Saya tahu, Mbak bertugas di polsek setempat dan diperintahkan untuk mengawasi saya hari ini oleh Pak Raditya. Benar?” Adinda berkata dengan suara pelan sambil menyodorkan tisu.
Wanita itu mengangguk berkali-kali sambil menerima tisu dari Adinda.
“Ini tugas pertama Mbak?”
Wanita itu mengangguk lagi.
Adinda tersenyum.
“Mbak seharusnya tidak menatap ke arah saya terlalu sering. Juga tidak mengikuti saya dengan jarak yang terlalu rapat seperti tadi...” Adinda masih tersenyum.
“Mbak menakuti semua orang dengan tindakan Mbak. Teman-teman saya jadi takut. Bahkan Ibu Kantin saya perhatikan sudah beberapa kali tidak melepaskan pandangannya dari Mbak,” Adinda melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Ibu Kantin yang tengah memandang mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Cukup awasi saya tanpa harus menarik perhatian dan tidak menonjolkan diri. Jangan membuat lingkungan saya menjadi waspada dengan kehadiran Mbak. Gak usah gugup, OK?” Adinda menepuk-nepuk punggung tangannya wanita itu.
Wanita itu mengangguk.
“Ma’af Nona...”
Adinda mengangguk.
“Nona, terima kasih banyak...”
Adinda mengangguk lagi sambil tersenyum.
“Gak usah bayar, Mbak. Saya traktir. Sebagai permintaan ma’af saya sudah buat Mbak tersedak..” Adinda berkata dengan suara dikeraskan dan nada yang ceria.
Ibu Kantin menoleh ke arah Adinda lalu mengacungkan dua ibu jarinya.
Adinda kembali ke mejanya. Zaskia dan Wiwit langsung menodong dengan berbagai pertanyaan.
“Penggemar channel yutub gue. Dia sedang menunggui adiknya yang sekolah di sini. Karena merasa familiar dengan wajah gue, dia ngikuti gue hingga depan kelas. Cuma mau minta tips baking doang...” Adinda mengarang cerita.
Untung saja teman-temannya percaya. Dan langsung hanyut dalam perbincangan channel yutubnya.
Ibu Kantin datang mengantarkan pesanan mereka.
“Neng Dinda gak apa-apa? Aman kan? Hampir saja Ibu menghubungi sekuriti. Tingkahnya mencurigakan banget sih...”
“Aman Bu.. Cuma penggemar acara bikin kue saya..” Adinda tertawa.
“Syukurlah.. Ibu nonton juga acara bikin kuenya Neng Dinda. Keren, Neng...” Ibu Kantin berbalik lagi ke arah Adinda, “Neng, setelah lulus, tampil di acara bikin kuenya, masih pakai seragam putih abu?”
Adinda yang sedang menuangkan kecap mendadak terhenti. Lalu menoleh ke Ibu Kantin.
“Saya juga lagi bingung, Bu..”
“Tetap pakai baju putih abu saja, Neng. Soalnya sudah jadi ciri khasnya Neng Adinda...”
“Gitu ya?” Adinda seperti termenung.
bu Kantin mengangguk penuh semangat sambil mengepalkan tangannya.
“Neng Dinda pasti bisa!”
Adinda dan teman-temannya tertawa melihat tingkah Ibu Kantin.
.
Adinda berjalan dengan kedua temannya melintasi lapangan basket agar lebih cepat sampai di kelas. Seorang siswa laki-laki berlari-lari mendekati Adinda.
Man yang sedang duduk santai sambil mengamati dari bawah bayangan pohon langsung duduk tegak. Sikap waspadanya seketika muncul saat menyadari siapa yang mendekati Adinda.
IVAN.
Ivan yang menjadi ketua gank yang sering jadi biang kerok di sekolahan. Merasa aman karena pamannya adalah pemilik yayasan sekolah ini.
Ivan yang menembak Adinda tetapi ditolak. Yang membuat Adinda harus menerima perundungan yang mengarah pelecehan sek su al yang dilakukan oleh para anak buah Ivan diluar sepengetahuan Ivan.
Man ada di lokasi saat Tuan Hans menghukum mereka semua. Tidak dengan tangannya ataupun tangan Shadow Team. Tuan Hans cukup memainkan taktik devide et impera terhadap para remaja.
Dan tangan Sang Ketua lah yang menghukum para anak buahnya sendiri. Sebagai orang dewasa saja, dia bergidik ngeri dengan kekejaman Ivan menghukum anak buahnya. Ada bibit psikopat yang tersembunyi pada tubuh remaja itu.
Sekarang, Adinda berhadapan langsung dengan Sang Ketua. Kedua temannya tampak mundur ketakutan.
Man gegas melangkah ke arah Adinda dan dua temannya. Di saat seperti ini, kemana perginya si Rambut Shaggy itu?
.
*bersambung*
🌼
Rambut Shaggy kemana sih?
Giliran gak ada apa-apa, muncul dan berada dekat banget dengan Adinda. Giliran dibutuhkan malah menghilang!
🌼
Jangan lupa like dan minta update 😉
Om Agung dan Adinda lagi sedih nih, belum ada yang beri bintang lima buat mereka🤓
Jangan lupa subscribe ya 😁
🌼
Utamakan baca Qur'an ❤️
🌼
🌷♥️🖤🤍💚🌷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
lg nyariin scooby doo thor🤣🤣
2024-07-31
1
himawatidewi satyawira
🤣🤣🤣🤣
2024-07-31
1
himawatidewi satyawira
🤣🤣🤣🤣apalg sampe msk hidung berdin"..perihnyaaa
2024-07-31
1