Tanah Air
Seorang gadis sedang membujuk kedua orang tuanya terutama sang ayah yang menampakkan wajah datar tanpa ekspresi. Keinginannya sudah bulat untuk menjadi relawan di luar negeri.
Negara Carvalon tepatnya di kota Eldoria, di sana sedang terjadi wabah besar dan membutuhkan banyak relawan tenaga medis. Gadis cantik berusia 25 tahun dengan tinggi 167 cm, mata coklat dan warna rambut yang senada dengan bola matanya itu sedang memohon kepada ayahnya. Sudah seminggu ini ia membujuk tapi agaknya ayah gadis itu masih kukuh dengan keputusannya yang tidak memberi izin sang putri.
" Ibu, tolong Rose. Lusa Rose harus sudah berangkat. Kalau ayah tidak mengizinkan Rose juga tidak tenang untuk pergi," pinta Rose-- nama gadis itu.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafasnya. Menjadi relawan medis di negara tersebut sudah jadi keinginan sang putri ketika berita itu menyebar ke seluruh dunia. Tapi suaminya masih begitu sulit untuk mengizinkan putrinya pergi.
" Mas, biarkan Rose untuk berangkat. Lagi pula hanya satu bulan saja dia di sana. Bukankah ini akan menambah pengalamannya," bujuk wanita itu.
" Tapi ini negara jauh, bukan negara tetangga yang bisa dijangkau dalam hitungan waktu 1-5 jam," resah ayah dari Rose.
Mendengar ucapan sang ayah, Rose mendekat lalu memeluk pria yang selalu jadi pelindungnya itu.
" Ayah ku tercinta, bukankah dokter itu bekerja untuk kemanusiaan? Nah ini merupakan salah satu dari kemanusiaan itu. Ini adalah tugas yang mulia, boleh ya Yah. Rose mohon."
" Hais, bagaimana putriku begitu sudah dewasa. Perasaan baru kemarin aku menggendong mu dari ruang persalinan. Rose Yaslan Brown, kamu harus berjanji kepada ayah dan ibu untuk selalu baik-baik saja. Apa kamu mengerti?"
" Siap Ayah. Putrimu yang baik ini akan selalu menjaga diri."
Erlan Austin Brown, pria paruh baya itu menyerah dengan sang putri. Ia akhirnya setuju untuk melepas pergi Rose. Yasmin-- ibu dari Rose hanya tersenyum simpul melihat sang suami yang akhirnya luluh juga.
Rose Yaslan Brown, tumbuh menjadi dokter bedah yang hebat. Dibawah didikan Erlan dia juga mewarisi kemampuan mendiagnosa dengan cepat dan pastinya tepat. Maka dari itu kemampuan ini dibutuhkan di kota Eldoria. Kota yang terletak di utara, dimana masih dari bagian negara Carvalon itu saat ini sedang terisolasi karena sebuah wabah yang belum diketahui penyebabnya.
" Apakah semua sudah siap sayang," tanya Yasmin. Tidak dipungkiri dia pun khawatir dengan kepergian putrinya itu.
" Sudah bu, semua sudah siap. Besok tinggal berpamitan saja dan lusa berangkat."
" Kak, apakah kakak akan lama di sana?" Seorang anak ABG berusia 17 tahun itu masuk ke kamar Rose. Ryder Yaslan Brown, adik laki-laki dari Rose itu baru tahu mengani rencana kepergian sang kakak.
" Nggak, kakak paling cuma sebulan kok. Jaga ayah dan ibu selama aku pergi. Mengerti."
Ryden, mengangguk. Dia sangat menyayangi Rose. Sebenarnya Ryder tidak rela melepaskan kakak perempuannya itu, tapi kata sang ibu, itu adalah cita-cita kakak nya.
" Aah bentar, Ry punya sesuatu buat kakak."
Ryden kembali berlari keluar lalu mengambil sebuah kotak. Olehnya Rose dilarang membukanya kecuali dalam situasi terdesak.
" Apa ini?"
" Itu sebuah formula kak, tapi belum pernah aku uji. Formula itu berfungsi untuk melumpuhkan seseorang. Di negara orang kita tidak pernah tahu akan apa yang terjadi. Jadi aku harap kakak bisa jaga diri. Di dalam situ ada setidaknya 5 tabung kecil dan kakak bisa menggunakannya."
Rose tersenyum, dia lalu memeluk Ryden Meskipun usia Ryden sudah 17 tahun tapi bagi Rose Ryden tetaplah adik kecilnya.
Pemandangan itu di lihat Erlan dari depan kamar. Sebuah senyuman melengkung di bibirnya. Ia tahu putra keduanya itu lebih tertarik di dunia ilmuan ketimbang medis. Apapun itu Erlan akan mendukung keinginan putra putrinya.
Negara Carvalon, Kota Eldoria
Semua tampak sibuk mengevakuasi para pasien. Satu per satu pasien berdatangan. Gejala yang ditimbulkan rata-rata sama yakni tubuh memerah dan terasa panas seperti terbakar. Butuh beberapa air dingin juga es untuk meredakannya.
Presiden Graham Alvin hendak amsuk ke kota Eldoria untuk melihat kondisi para rakyatnya tapi oleh Perdana Mentri Osberth jelas ditentang.
" Anda tidak bisa kesana Pak Presiden. Kita tidak tahu apa penyebab wabah ini. Kami jelas tidak bisa mengambil resiko Anda nanti terkontaminasi. Percayakan pada saya untuk mengatasi ini," ujar PM Osberth.
Presiden Graham hanya tertunduk lemas. Dia merasa gagal sebagai kepala negara. Masalah kemarin belum selesai dan ternyata dia baru mengetahui salah satu kotanya terkena wabah seperti ini.
" Baiklah aku serahkan ini kepadamu. Aku harap akan ada jalan keluarnya segera. Bila perlu undang para ilmuan terkenal dari negara lain untuk meneliti kasus ini. Hal tersebut jelas tidak bisa dibiarkan terlalu lama," harap Presiden Graham
" Baik Pak Presiden, saya akan melakukan hal yang terbaik," jawab PM Osberth.
Presiden Graham beserta para pengawalnya meninggalkan perbatasan kota Eldoria. Seringai langsung terbit di bibir Osberth. Ia masuk ke dalam mobil dna ikut pergi dari perbatasan kota itu.
" Mengurusnya, cih! Biarkan saja mereka semu di kota itu mati. Bukannya itu bagus, kau akan dianggap sebagai pemimpin negara yang tidak becus."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒆𝒂𝒓𝒕𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒋𝒈 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒅𝒓 𝒂𝒏𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝑬𝒓𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒀𝒂𝒔𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒃𝒆𝒓𝒏𝒂𝒎𝒂 𝑹𝒐𝒔𝒆 🤗🤗 𝒋𝒖𝒋𝒖𝒓 𝒋𝒅 𝒌𝒂𝒏𝒈𝒆𝒏 𝒏𝒊𝒉 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑬𝒓𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒀𝒂𝒔𝒎𝒊𝒏𝒆 🤭🤭
2024-08-20
1
Deki Marsoni
eh alaaaah mas e pie iki.... negara mana iki🤭🤭
2024-02-10
2
Ika Surya Ningsih
dokter jenius erlann..
dan Yasmin.. LOVE You
2023-12-05
0