Gadis itu sudah tiba di dekat Calvin. Ia tersenyum miring di balik topengnya kemudian pura-pura terjatuh dan mengenai Calvin.
"Arh" Indira berteriak pelan seolah-olah gadis itu kesakitan.
"Kau tidak apa?" Tanya Calvin pada Indira membantu ia duduk di sebelah pria itu.
"Saya tidak apa-apa, Tuan. Maaf jika saya sudah menganggu ketenangan, anda," Indira berbuat seolah dia merasa bersalah.
Calvin mengerut merasa tidak asing dengan suara gadis di balik topeng itu. Meski dia tidak begitu akrab dengan sahabat putrinya, tapi dia seperti merasa gadis di harapannya itu adalah sahabat putrinya.
"Anda terlihat hanya sendiri, Tuan." ucap Indira tersenyum di balik topeng.
"Hm, saya memang datang sendirian." Jawab Calvin tak begitu tertarik dengan gadis yang mengajaknya berbicara.
"Benarkah? Kebetulan saya juga sendiri. Ini saya ada membawa dua soda, kebetulan saya juga bingung ingin memberikan pada siapa. Bagaimana jika ini buat anda saja?" Indira akhirnya menjalankan aksinya yang dari awal sudah ia susun dengan rapih.
Calvin melirik sejenak ke arah soda yang berada di genggaman gadis itu. Tanpa berpikiran panjang ia mengambil soda dari tangan Indira dan langsung meneguknya hingga tuntas.
"Terima kasih." Ucap Indira tersenyum manis beredar dari hadapan Calvin.
Baru saja berapa saat gadis itu pergi dari hadapan Calvin, pria itu sudah mulai merasa kepanasan. Tampak Calvin mulai melonggarkan dasinya kemudian membuka kancing kemeja yang berada di balik jasnya.
Indira yang memperhatikan gerak-gerik Calvin dari kejauhan tersenyum miring saat rencananya berjalan dengan lancar.
Saatnya kehancuran keluarga mu, Gladis!. Batin Indira.
Calvin yang semakin tidak bisa mengontrol diri akhirnya berjalan menjauh dari keramaian. Tentu saja Indira mengikuti kemanapun langkah pria itu akan berjalan.
Tak di sangka Calvin menuju resepsionis dan memesan kamar yang kebetulan acara tersebut memang di adakan di sebuah hotel.
Setelah memesan kamar, Calvin langsung saja berjalan menuju lantai di mana berada nomor kamar pria itu.
Ting!
Saat lift terbuka, Calvin keluar dari lift dengan langkah yang mulai oleng dan penglihatan terasa kabur.
"Apa, anda membutuhkan bantuan?" Tanya Indira memegang lengan Calvin.
Pria itu tak menjawab, ia membiarkan gadis yang tak asing baginya membawanya masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan.
Tiba dalam kamar Calvin langsung mendorong tubuh Indira dan menghimpitnya ke dinding.
"Kau mencoba menjebak ku!" Tanya Calvin menarik topeng yang di pakai Indira.
Wajah cantik gadis itu terlihat utuh dengan lipstik terang berwarna maron menghiasi bibir indahnya. Tapi penglihatan Calvin sudah mulai tidak jelas dan hanya bisa melihat Indira samar-samar.
"Apa itu yang berada dalam pikiran, anda?" Tanya Indira memegang rahang Calvin.
"Apa kau tidak malu dengan apa yang sudah kau lakukan ini? Apa kau sebagai wanita begitu murahnya?" Tanya Calvin berusaha mengontrol diri yang begitu mendambakan sentuhan dari seorang wanita untuk memuaskan hasratnya yang sudah mulai di ubun-ubun.
Indra tersenyum kemudian membawa pergelangan tangan Calvin ke dadanya yang sudah terbuka.
"Bukankah kau menginginkan ini?" Ucap Indra sengaja meraba tubuh pria itu untuk membuat Calvin tidak berdaya di hadapannya.
Calvin memegang kasar dagu Indira, "Bukankah kau yang menginginkannya?" jawab Calvin.
"Kalau iya, kenapa? Kau ingin menolak ku?"
Menyeringai, "Tentu saja tidak, bukankah kau sudah mengantar tubuhmu dengan gratis? aku akan melayani keinginan hatimu."
Akhirnya Calvin hilang kendali dan menarik tubuh Indira ke atas ranjang langsung menyetubuhi gadis itu.
Dan ternyata Indira sudah bekerja sama dengan resepsionis tadi untuk mengantar Calvin ke dalam kamar yang sudah ia siapkan camera untuk merekam permainan panas keduanya di atas ranjang.
"Aku puas! Aku puas bisa melihat mu tidak berdaya!" Bisik Indira di telinga Calvin setelah dua jam permainan panas mereka akhirnya pria itu jatuh di sampingnya dengan tubuh yang kelelahan dan langsung tertidur.
"Semua yang terjadi padamu ini, itu karena ulah picik dari putri mu yang sudah menghancurkan hidupku. Selamat menikmati tidur pulas mu, Jenderal Calvin Cakra!" Bisik Indira lagi kemudian berdiri dan memakai pakaiannya.
Ia tersenyum puas kemudian meletakkan satu rekaman permainan panasnya bersama pria itu. Ia juga tak lupa menyimpan sebuah nota yang bertuliskan.
Jika anda tidak ingin rekaman ini menjadi konsumsi publik yang akan menghancurkan nama baik, dan karir anda, maka itu lebih baik anda segera nikahi aku. Dan jika anda menolak, itu tidak masalah bagiku, karena kelemahan anda, ada padaku. Dan jangan salahkan aku, jika kau di pecat dengan cara tidak hormat dari jabatanmu.
Seperti di atas itulah pesanan yang Indira simpan beserta nomor ponselnya di atas meja rias.
Sedangkan Ajudan Wido sudah mencari kemana-mana tapi tetap tidak menemukan Jenderal Calvin yang menghilang tiba-tiba dari acara dansa.
"Mungkin Jenderal sudah kembali ke kediamannya." Gumam Ajudan Wido yang akhirnya memilih pulang karena ia juga sudah begitu lelah.
Iya, Calvin Cakra adalah seorang Jenderal yang berpangkat tinggi. Calvin Cakra masih memiliki seorang istri yakni ibu Gladis yang biasa di panggil Nyonya Zilva, tapi Nyonya Zilva terkenal dengan keangkuhannya saat di sekeliling orang-orang terdekatnya. Hanya publik yang menganggap Zilva adalah seorang istri dari seorang Jenderal yang baik hati dan pemurah.
Tentu saja itu semua yang hanya terlihat oleh publik. Nyatanya tak sesuai dengan kenyataan.
,,,
Sang surya masuk ke celah-celah tirai yang menutupi jendela dan menyinari mata seorang gadis yang tertidur pulas.
Saat merasa matanya seperti terkena sinaran matahari, akhirnya gadis itu terbangun dan meluruskan tulang-tulangnya sambil tersenyum bahagia karena tak lama lagi dia akan memulai hidup baru dengan cara masuk ke dalam keluarga Calvin Cakra untuk menghancur dan memporak-porandakan keluarga itu.
"Hari ini sangat berbeda dari biasanya. Aku merasa hari ini sepertinya sangat indah..." Gumam Indira masuk ke dalam kamar mandi dan menggosok giginya kemudian berkumur-kumur.
Selesai menggosok gigi dan sarapan serta bersiap-siap. Indira langsung berangkat pergi bekerja di salah satu Restoran milik temannya, ia juga bekerja sebagai Manajer di Restoran tersebut.
Di lain tempat, terlihat Gladis yang memeluk lengan suaminya.
"Sayang, makan siang nanti kita makan di luar yuk," ajak Gladis memeluk mesra sang suami.
"Tapi nanti aku ada rapat, sayang. Apa kau bisa pergi bersama Mommy saja?" Jawab Galih membuat Gladis cemberut.
"Tapi aku maunya makan sama kamu, Mas!" Ketus.
"Baiklah, itu tidak masalah. Nanti akan aku usahakan, ya sayang." Jawab Galih malas memperpanjang perdebatannya dengan Gladis yang manja dan suka membesar-besarkan masalah.
"Makasih, sayang." Gladis sangat bahagia dan mencium pipi Galih.
Kembali ke Restoran.
"Manager Indira, ada salah satu pelanggan kita yang ingin bertemu dengan, anda," ucap salah satu pelayan memberitahukan gadis itu.
"Mana orangnya?" Tanya Indira.
"Orangnya berada di ruang VIP."
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Indira langsung saja melangkah ke ruang VIP untuk bertemu dengan orang yang mencari keberadaannya.
Cklek
Saat membuka pintu, gadis itu langsung di suguhkan pemandangan dingin dari pria yang berada di dalam.
Bukannya takut, Indira malah tersenyum tipis melangkah elegan mendekati pria tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Ndut Nisa
kasian Galih buang istri yang baik untuk istri yang manja
2024-01-19
4
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
tunggu Gladis ya....kamu akan merasai kesakitan seperti mana yg kamu lakukan pd Indira....mungkin lebih dasyat lg
2023-12-18
1
Suyadi Yadi
blm update Thor 🙏🙏
2023-11-26
1