Richard

...Happy Reading...

...----------------...

...[20. Richard]...

...----------------...

Adellia menuruni tangga yang gelap dan sedikit lembab, pencahayaan dari lampu pijar kecil yang terpasang di dinding tak mampu membuat Adellia melihat jelas langkah kakinya sendiri.

Setelah membuka paksa pintu besi yang di gembok, Adellia tanpa ragu masuk dan mulai menjelajahi ruangan baru itu. Sesekali Adellia terbatuk-batuk saat mencium bau debu dan jamur bersatu menyerang hidungnya.

Adellia sedikit terkejut karena tangga yang ia turuni ternyata lumayan panjang, jadi bisa di simpulkan jika pintu besi tadi membawanya ke ruangan yang terletak jauh di dalam tanah di bawah rumah ini.

Cahaya di ruangan itu cukup minim, membuat Adellia harus meraba-raba dinding untuk menemukan saklar lampu. Beberapa lampu bahkan tidak lagi berfungsi, tapi itu sudah cukup untuknya dapat mengamati ruangan itu dengan lebih leluasa dari sebelumnya.

"Bukankah ini tidak buruk ? Untuk ukuran ruang bawah tanah, ini benar-benar bagus dan nyaman." Ucap Adellia saat tiba di ruangan yang cukup luas dengan desain seperti ruang keluarga dengan set sofa dan televisi.

"Aku harus segera memberitahu yang lain !"

Adellia bergegas kembali ke atas, dengan raut wajah riang dan bersenandung merdu.

......................

"Astaga, kemana bocah itu ?" Seru Serena dengan ekspresi panik yang sangat kentara.

"Coba lihat di halaman samping, tadi aku dan kak Helio melihatnya sedang mencuci karpet." Ujar Daisy.

Loyd segera berlari menuju halaman samping, namun tak ada tanda-tanda keberadaan mahkluk hidup di sana. Semua sudah sangat panik, mereka mencari ke seluruh ruangan di rumah itu namun nihil sosok Adellia tak nampak dimana pun.

"Bagaimana ? Ketemu ?" Tanya Jeremy pada Merida yang datang dari luar. Merida menggelengkan kepalanya, begitu pun yang lain.

"Harusnya aku lebih waspada dan memperhatikannya..." Ucap Serena dengan mata yang sudah sembab, ia merasa bersalah karena terakhir kali Adellia ada bersamanya.

"Maaf..." Ucap Lilian sambil menunduk.

Namun, tak di sangka. Saat suasana sedang kacau karena menghilangnya Adellia, tiba-tiba...

"Kakak ! Aku menemukan sesuatu !" Teriak Adellia dengan wajah gembira.

"Ada ruang bawah tanah yang sangat luar biasa !"

Dalam sekejap suasana yang penuh tangis dan kekhwatiran berubah hening, mereka saling menatap dengan Adellia yang muncul tiba-tiba di sana dengan wajah tak bersalahnya yang polos.

Adellia menatap 8 orang di sana dengan wajah bingung.

"Hei, ada apa ini ? Kenapa kak Serena dan kak Lili menangis ? Apa kita di serang monster ?!" Seru Adellia dengan panik.

"Pfffu.."

Helio menahan tawanya yang hampir meledak, rasa khawatirnya yang tadi muncul kini berganti dengan rasa geli saat menyadari mereka telah mengkhawatirkan sesuatu yang sia-sia.

Loyd menghela nafas lega. "Kami kira kamu menghilang. Jadi dengan panik kami semua mencari mu ke seluruh rumah."

Adellia menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku menemukan pintu besi di bawah tangga, dan penasaran ruangan apa di sana. Jadi aku memeriksanya, dan di luar dugaan itu adalah basemant bawah tanah yang luar biasa. " Ujar Adellia dengan semangat.

"Aku belum melihat semuanya, tapi sepertinya basemant itu lumayan besar."

Tiba-tiba bulu kuduk Loyd merinding, ia memiliki firasat buruk setelah mendengar hal itu.

"Baiklah kita periksa nanti saja. Ayo makan dulu." Ucap Jeremy sambil menggiring anak-anak muda itu menuju meja makan.

Sekarang anggota kelompok sudah komplit, makan siang yang terlambat dan sempat tertunda tadi sudah berubah menjadi makan sore. Tapi, meskipun mereka pada akhirnya menyantap makanan yang sudah dingin, pancaran mata yang hangat dengan binar mata yang riang sudah cukup untuk menggantikannya.

......................

Adellia sibuk menggerutu dengan kedua lengan yang terangkat ke atas, setelah makan malam dan membersihkan diri Adellia tiba-tiba di tarik paksa oleh Richard dan berakhir berlutut di ruang tengah.

"Sepertinya aku harus lebih banyak memberimu nasihat bijak sebagai kakak." Ucap Richard dengan pandangan mata yang tajam.

Adellia menggembungkan pipinya dengan kesal, ia tidak tau jika saat ia memeriksa ruangan dari pintu besi itu semua orang menyangka dirinya menghilang.

Adellia sedikit kesal saat dirinya tiba-tiba di sidak dan harus mendengarkan ceramah kakaknya yang seperti tak ada habisnya.

Namun, saat melihat wajah Richard dengan mata yang sembab dan bengkak, Adellia merasa bersalah.

"Jangan menghilang seperti itu lagi, bagaimana jika aku tidak bisa menemukanmu dan kamu tidak bisa menemukan ku ? Kita hanya berdua, setelah ayah dan ibu... Bagaimana bisa aku kehilanganmu juga."

Agaknya Adellia lupa, keluarga satu-satunya yang tersisa di dunia yang telah hancur ini adalah Richard.

Adellia tiba-tiba memeluk Richard yang sedang berbicara panjang lebar, tentang bagaimana harusnya Adellia memberitahunya dulu sebelum pergi mengecek ruangan bawah tanah itu sendiri.

"Maaf..." Ucap Adellia dengan suara hampir seperti bisikan.

Adellia mengusap punggung Richard dengan lembut, melihat Richard yang seperti ini membuat Adellia merasa de javu. Dulu sekali pernah ada insiden yang membuat Richard bertingkah seperti ini juga.

Menceramahi dirinya untuk menutupi rasa gelisah dan khawatir.

Helio yang berdiri di tangga tersenyum kecil melihat adegan mengharukan dari sepasang saudara itu, ia sedari tadi telah mengamati kakak beradik itu waspada jika kondisi keduanya malah akan memburuk.

Helio berjalan mendekat ke arah Richard dan Adellia dengan senyum misterius.

"Astaga, sayang sekali. Harusnya tadi aku merekam bagaimana wajah kakak mu ini banjir air mata." Celetuk Helio sambil duduk di samping Richard.

Richard yang merasa tak terima Helio membahas hal memalukan saat dirinya menangis panik, segera membekap mulut pemuda itu dengan bantal. Namun, Adellia terlanjur mendengar apa yang di ucapkan Helio.

"Sungguh ?" Seru Adellia dengan antusiasme yang tinggi.

Tiba-tiba saja atmosfer langsung berubah, yang pada awalnya begitu melankolis dan penuh haru, berubah menjadi penuh tawa dan erangan kesal.

Helio mengangguk dan tersenyum puas, lalu berakhirlah Adellia berkomplot dengan Helio menggoda Richard habis-habisan. Helio menceritakan bagaimana Richard yang berlarian panik mencari Adellia mengelilingi rumah, lalu kembali dengan wajah berlinang air mata karena tak menemukan adiknya.

Meskipun terkesan cuek karena dia jarang berbicara, tapi nyatanya Richard sangat amat peduli pada Adellia. Itu terbukti pada saat Helio pertama kali menemukan mereka dalam kondisi hipotermia, kondisi Richard jauh lebih buruk karena ia memberikan mantel bulunya untuk Adellia.

"Sudah, jangan bahas lagi.." Gumam Richard dengan wajah tertekuk. Sepertinya ia ngambek.

Adellia tertawa lepas melihat bagaimana wajah Richard yang begitu memelas. Ia bahkan sampa menyeka air mata yang hampir menetes di ujung matanya, karena terlalu keras tertawa.

'Aku harus lebih peka dan perhatian. Bagaimana bisa membuat kakak ku kacau seperti itu lagi..'

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!