Pecah Belah

...Happy Reading...

......................

...[15. Pecah Belah]...

...----------------...

Pemerintah baru-baru ini kembali aktif bersuara, setelah hampir berbulan-bulan mereka tutup mulut, mata dan telinga pada kekacauan.

Akan tetapi, suara dari para petinggi pemerintahan itu tak sedikit pun membuat orang-orang simpati. Justru mereka mengecamnya, dengan berkata sebaiknya mereka enyah saja.

Hampir di setiap negara, hal serupa itu terjadi. Bahkan orang-orang yang sekarang sudah berhasil mencapai zona hijau dan tempat aman pun, melakukan protes. Belum lagi para korban yang tinggal di area berbahaya atau target pasukan mencoba memberontak tak ingin di evakuasi.

Hal itu karena kurangnya tanggung jawab dan pencegahan yang di lakukan kepala negara selalu pemimpin, dan sekarang negara dengan pemimpin pengecut seperti itu benar-benar membuat mengkhawatirkan.

Imbasnya rakyat di suatu negara itu merasa tak mempercayai pihak militer yang di gerakan oleh pemerintah.

Dan lagi sudah lama orang-orang kehilangan minatnya pada gadget, mereka terlalu sibuk untuk menyelamatkan diri dan bertahan hidup.

...----------------...

Helio menatap keluar jendela mobil dengan mata yang berbinar senang, meski sedikit sedikit berantakan tapi kota ini terlihat lebih baik dari pada kota-kota lain yang pernah mereka lewati.

"Wah ! Ku pikir semua negara telah musnah, aku sudah menenggelamkan rasa rindu ku pada gedung-gedung pencakar langit yang utuh dan masih kokoh itu." Pekik Helio sambil menunjuk-nunjuk ke sembarang arah.

"Kau benar, tapi rasanya tidak adil. Kenapa hanya kota dan negara kita yang hancur lebur.." Gumam Adellia dengan bibir cemberut sedih.

"Kau salah, kota ini akan segera hancur.." Ucap Loyd dengan dingin.

"Jadi setelah kita membeli beberapa kebutuhan kita di sini. Kita akan kembali melanjutkan perjalanan."

Saat ini Loyd dan rombongannya hampir setengah jalan untuk tiba di Switzerland.

Perjalanan panjang yang pada awalnya begitu sunyi, satu persatu rekan mulai bergabung di perjalanan. Dan setelah perjalanan yang melelahkan dengan berbagai kejadian menegangkan hingga mengharukan, mereka tiba di salah satu kota yang menjadi shelter darurat bagi para pengungsi yang kehilangan kotanya.

Loyd memarkirkan mobil compervannya di sudut kota yang lumayan tersembunyi, kemudian menyusul Helio dan yang lainnya yang sudah lebih dulu turun dan menikmati kota itu.

"Ku pikir kita tidak akan pernah melihat keramaian orang-orang seperti ini !" Seru Helio dengan semangat.

"Hei, hei pelankan suara mu kamu kak ! Kita jadi terlihat sangat kampungan.." Pekik Adellia sambil menarik kerah leher kaos yang di pakai Helio.

"Jadi apa yang kita butuhkan di sini ?" Tanya Merida sambil melihat-lihat sekeliling.

"Kita beli perban, alhokol, dan beberapa selimut tebal." Ucap Loyd.

"Apa ?! Kita beli ? Aku lebih suka menjarah seperti sebelumnya.." Ujar Adellia sambil cemberut.

"Astaga.." Gumam Richard dengan frustasi.

"Maaf, aku akan memperbaikinya nanti.."

Adellia semakin manyun mendengar perkataan dari kakaknya tersebut, kemudian tangannya menarik Helio dan segera pergi. Sepertinya ia sedang ngambek..

"Hei, hei jangan pergi sendiri !" Pekik Selena berlari mengejar.

Loyd berjalan belakangan, saat yang lainnya sibuk melihat-lihat tempat baru itu. Loyd memperhatikan sekitar dengan waspada, memang tidak invasi Ameurasia tidak bisa serta merta meratakan satu benua. Mereka menargetkan negara-negara yang maju, dan kota-kota yang ramai.

Kota Eugiene ini terletak di perbatasan antara kota Bellio dan Melk yang sebelumnya mereka lewati, kota ini ada di negara Sweeney.

Loyd bisa faham mengapa kota ini masih berdiri lumayan utuh, selain banyaknya pegunungan juga tidak terlalu ramai. Kota-kota di Sweeney akan ramai hanya pada hari-hati tertentu saja. Setaunya banyak orang dari kota ini yang memilih menetap di negara lain dan kembali ke sana hanya pada saat liburan.

Saat sedang memperhatikan sekitar itu, Loyd mendengar beberapa informasi dari orang yang mengungsi ke sini.

"Ku dengar proyek tentang shelter raksasa di Messik telah gagal."

"Sungguh ? Ya syukurlah. Untuk apa juga kita di bawa ke sana, pasti akhirnya akan di suruh untuk mengangkat senjata dan berdiri di garis depan."

"Hah, jadi rumor itu memang benar ?"

"Iya, temanku yang sempat pergi ke shelter yang di dirikan pemerintah dan militer itu kabur dan mengatakan untuk jangan pernah ikut saat ada regu Evakuasi, mereka hanya membawa kita untuk di jadikan tameng manusia. Coba bayangkan kita yang amatir ini memegang senjata api seperti itu, tanpa sempat menarik pelatuknya kita sudah keburu kena tembak musuh."

"Astaga, benar-benar mengerikan."

Loyd diam-diam mendengarkan obrolan dari dua pria yang tengah duduk sambil meminum kopi itu, saat ini ia benar-benar butuh informasi untuk bisa memikirkan langkah selanjutnya.

Sistem demokrasi sudah jelas tak memiliki arti sekarang ini, apalagi kepala negara dan para petinggi negeri sudah tidak ada harga dirinya di mata rakyat.

Ada kemungkinan munculnya kelompok-kelompok radikal, yang mana akan membuat dunia yang sudah kacau ini tambah tak karuan.

...----------------...

"Dari mana saja kau ?!" Tanya Helio dengan raut wajah cemas dan berkerut.

Pasalnya, semenjak tadi dia dan Adellia pergi lebih dulu mereka terpisah. Bahkan saat dirinya kembali ke mobil pun bersama Selena dan Adel Loyd tak terlihat batang hitungnya.

"Paman James bilang kau belum kembali saat kami ke sini." Ujar Selena juga dengan raut wajah khawatir.

Loyd agaknya merasa canggung dengan reaksi khawatir mereka, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menjawab dengan gugup.

"Aku berkeliling sekalian mencari informasi juga.."

Helio melotot sambil berdecak. "Ack ! Hampir aku lupa !" Pekiknya dengan nyaring.

"Tadi saat kami berkeliling untuk perbekalan kita, aku tak sengaja mendengar bahwa katanya menteri pertahanan Ameurasia menjadi sekutu Russein, katanya mereka juga akan membantu orang-orang benua barat ini."

Loyd menggelengkan kepala. "Tidak. Kita tidak boleh percaya begitu saja pada kabar yang beredar saat ini. Kita harus waspada dan mencari tau apakah kabar itu benar atau hanya sebagai jebakan."

Selene mengangguk setuju. "Ku rasa Loyd benar, tadi aku juga sempat menguping pembicaraan di kedai minum, katanya pihak militer membuat sebuah pengumuman yang mengatakan jika ada orang atau warga biasa yang mau melakukan pelatihan militer singkat dan berdiri di garis depan, jika ia memiliki beban tanggung keluarga maka militer siap menjaminnya jika ia mati di medan perang."

"Itu sedikit menggiurkan dalam kondisi sekarang ini. " Ujar James sambil mengelus-elus janggut tipisnya.

"Di situasi seperti ini kita tidak boleh mempercayai orang sembarangan, terkadang luka itu muncul bukan dari musuh tapi dari orang yang justru paling kita percayai." Celetuk Helio dengan serius.

"Itu semua aku simpulkan setelah menonton banyak film genre action dan survive seperti zombie."

Loyd menghela nafas panjang, memandang Helio dengan tatapan yang jenuh dan lelah.

"Sudahlah kau diam saja. Ini pembicaraan orang-orang dewasa dengan pemikiran cerdas dan bijaksana." Ujarnya sambil menyentil dahi Helio.

Helio spontan mengerang kesal, tapi sebelum pria itu memulai perkelahian konyol dengan Loyd, Adellia dengan sigap menariknya menjauh.

Tersisa Loyd, Serena, James dan Merida. Setidaknya Loyd merasa ini tidak terlalu buruk, setelah mereka bergabung, dia tidak sendirian memikirkan rencana selanjutnya dan menyusun strategi perjalanan.

Abaikan untuk sisanya, Richard dan Adellia masih terlalu polos dan naif, Lilia dan Daisy terlalu penakut dan tak bisa banyak membantu pendapat, adapun Helio entahlah Loyd tidak bisa mengharapkan apapun dari sahabatnya itu.

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!