...Happy Reading...
......................
...[14. Makan Malam yang Hangat]...
...----------------...
"Anak-anak, ayo makan !" Seru James dengan semangat.
Satu persatu anak-anak itu datang menghampiri, meninggalkan kegiatan masing-masing untuk sejenak.
"Bagaimana dengan Daisy ? Ia sudah terlihat baikan ?" Tanya James.
"Kakak dengan menungguinya di dalam, demamnya sudah cukup turun dari pada tadi siang." Jawab Adellia.
James menghela nafas lega, karena entah bagaimana pun Daisy mampu bertahan dalam kondisi yang seperti itu. Bahkan kemarin kondisinya sempat memburuk, demam tinggi dan tidak sadarkan diri.
"Syukurlah, nanti biar paman yang membawakan mereka makan." Ujar James.
Hari ini adalah hari 4 setelah kelompok Selena bergabung ke dalam Camp Helio yang di pimpin oleh Loyd, bersyukur Compervan yang mereka miliki cukup besar untuk menampung mereka.
Setelah berkeliling kesana ke mari mencari rumah sakit, akhirnya mereka menemukan sebuah apotek yang masih menyimpan beberapa obat-obatan yang masih utuh.
Daisy mulai membaik meskipun prosesnya lambat, tapi setidaknya kondisi kritisnya sudah lewat. Berterima kasihlah pada Richard, anak laki-laki itu yang telah merawatnya meski tanpa pengalaman dan tangan yang sering kali gemetar karena darah.
"Loy, aku tidak yakin apa kita akan membutuhkan satu compervan lagi atau tidak.." Ucap Helio sambil makan.
Loyd mengangguk-angguk setuju, meski tanpa di katakan langsung pun ia mengerti. Dulu saat pertama kali mereka melakukan perjalanan, ia tak pernah berpikir jika nanti dalam perjalanan akan ada orang yang bergabung.
"Apakah kita perlu pergi dengan dua mobil ?" Tanya Selena.
"Entahlah, pada awalnya aku tidak berpikir jika aku dan Loyd bisa melakukan perjalanan dengan banyak teman seperti ini." Ucap Helio.
"Jadi kalian awalnya bukan kelompok ?" Tanya Lilia kali ini.
"Itu, pada awalnya hanya aku dan Loyd. Lalu kami bertemu Richard dan Adellia di Wiella. Dan saat dalam perjalanan menuju ke Melk kami bertemu paman James.."
"Aku juga tidak tau jika aku ternyata masih memiliki harapan untuk hidup, bahkan berkat kalian aku bisa memakamkan anak ku di tempat yang sedikit layak di sungai Donau. Meski yang ku kubur hanya sepotong tangannya saja. " Ujar James sambil tersenyum. "Aku benar-benar bersyukur.."
"Eii, jika di pikirkan lagi. Semua pertemuan kita sangat melibatkan emosional.." Celetuk Adellia.
"Dulu saat Kak Helio menemukan ku, kondisiku dengan Richard sangat mengenaskan, kami sekarat karena kedinginan.."
Selena cukup terkejut dengan cerita James dan Adellia, kisah mereka tak kalah malangnya dengan dirinya yang bertemu dengan Merida dan Lilia.
"Lalu apa kalian juga satu kelompok atau bertemu dengan tak sengaja seperti kamu juga ?" Tanya Adellia dengan penuh penasaran.
Selena tersenyum kecil melihat gadis kecil itu bertanya dengan penuh keingintahuan itu.
"Aku dan Lilia adalah teman sekolah, jadi dari awal kami telah bersama. Apalagi saat pertama kali Corenna muncul, ayah dan ibu Lilia terinfeksi dan tewas tak lama setelahnya."
"Oh, aku turut berduka cita.." Gumam Adellia.
"Lalu saat pasukan bersenjata dari Ameurasia menghancurkan kota tempat tinggal kami, kami mulai berpindah-pindah tempat tinggal. Saat itulah kami bertemu dengan Merida."
Adellia menatap Merida yang lagi-lagi tak bersuara, selama 4 hari ini ia hanya mengeluarkan beberapa patah kata yang singkat. Merida lebih banyak duduk bengong sambil memeluk pedangnya.
Selena yang melihat tatapan Adellia yang terus memperhatikan Merida tersenyum kecil.
"Merida memang jarang berbicara, tapi sebenarnya dia sangat ramah dan perhatian."
Selanjutnya sesi makan malam itu terus berlanjut dengan saling berbagi kisah tentang perjuangan mereka untuk bertahan hidup, bahkan Selena sampai meneteskan air mata saat ia bercerita tentang tragedi hari lalu, saat dirinya di kejar binatang mutan itu.
Pada awalnya Selena membuat kelompok yang seluruhnya beranggota wanita, dari yang tua hingga yang anak-anak. Setelah berminggu-minggu mereka terus berpindah-pindah tempat, karena di buru oleh pasukan militer Ameurasia dan juga di jadikan target sebagai persembahan oleh sekte sesat.
"Awalnya kami pergi dalam kelompok besar, ada sekitar 40 orang yang bergabung bersama kami. Tapi satu persatu tewas dalam perjalanan, entah karena luka yang memburuk atau di buru oleh pasukan Ameurasia dan sekte sesat." Ucap Lilia sambil menyeka air matanya.
"Lalu kami pun tiba di pinggir hutan pinus yang ada di sebelah Barat kota Bratislava, aku pernah beberapa kali ke sana sebelum bencana muncul. Hutan pinus itu menjadi objek wisata karena banyak rusa liar disana, tapi aku ingat rusa-rusa itu sangat ramah dan jinak.."
"Sudah pasti itu karena terjadi mutasi pada mereka, apalagi sebesar apapun rusa itu tak pernah ada rusa dengan tulang kaki yang hampir mencapai tiga meter seperti itu." Sahut Loyd.
Selena memandang serius ke arah Loyd, selama tiga hari ini ia terus memperhatikan pria itu, ia begitu tanggap dalam mengambil keputusan di saat terdesak, ia juga sangat rasional dan berkepala dingin.
Ia tau jika dirinya dan Loyd ternyata sebaya, dan itu menambah beban pada hatinya. Selena tau mungkin keinginannya ini sedikit tak tau malu, tapi ia tidak bisa terus memendamnya. Selena sudah membulatkan tekad untuk mengatakannya pada pria itu malam ini.
"Anu, Loyd.." Panggil Selena dengan gugup.
"Mungkin ini sangat tidak pantas, tapi aku pikir aku tidak akan punya kesempatan lagi." Ucap Selena dengan suara mulai bergetar.
"Tolong, bawa kami juga.."
Air mata yang di tahan sekuat tenaga oleh Selena, akhirnya tumpah.
"Aku tau kalian juga pasti kesulitan, tapi aku benar-benar tidak tau harus meminta pertolongan pada siapa. Banyak temanku yang mati dan puncaknya adalah kemarin, itu benar-benar menakutkan.." Ucap Selena dengan susah payah di sela-sela isak tangisnya.
Lilia yang memeluk Selena dan mengusap punggungnya, selama ini Selena ia pikir Selena begitu tangguh. Tapi sepertinya ia sudah mencapai batasnya, biasanya dia yang akan menjadi pelindung bagi yang lainnya, tapi semenjak saat ia mendapatkan pertolongan dari Loyd dan yang lainnya. Selena sadar jika dirinya sangat lemah, sangat takut, dan frustasi..
"Aku tidak tau.." Ucap Loyd.
Suasana tiba-tiba menjadi canggung, Helio melotot kaget mendengar ucapan Loyd. Begitupun Adellia dan James.
"Maaf.." Ucap Selena. Sepertinya gadis itu sudah benar-benar putus asa.
"Hei, Loy-" Seru Helio.
"Aku tidak tau. Seperti yang kamu tau, hewan dengan tiba-tiba bermutasi, belum lagi pasukan Ameurasia yang terus memburu orang-orang barat dan Laurasia, bahkan banyak sekte sesat yang menjadikan agama sebagai kedok untuk membunuh. Maka dari dengan itu, meski aku mampu bertahan hingga detik ini, aku juga tidak berhak menjanjikan keamanan pada nyawamu."
Semua termenung mendengar ucapan Loyd.
"Aku tidak bisa membawa mu jika kamu ingin bergabung dan menjadikan kelompok ku sebagai alat pelindung, tapi aku bisa mempertimbangkannya jika datang sebagai rekan kami." Ucap Loyd sebelum pergi.
Selena memandang punggung pria itu dengan senyuman haru, air matanya kembali keluar tapi bukan karena putus asa lagi. Ia menangis lega, karena setidaknya ia tidak akan mati sia-sia, akhirnya ia memiliki rumah untuk pulang dan teman yang menjadi rekan bertahan hidup di dunia yang sudah kacau ini.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments