Tenang Sebelum Badai

...Happy Reading...

......................

...[09. Tenang Sebelum Badai]...

...----------------...

"Kak Loyd ! Kak Loyd ! " Panggil Adellia berteriak memanggil Loyd yang sedang duduk santai memancing di pinggir sungai Donau.

"Kamu kenapa ?" Tanya Helio dengan mata bengkak, yang baru sepertinya baru bangun tidur.

"Ayo ikut denganku, ada hal yang aneh di sana !" Seru Adellia sambil berjongkok dengan nafas memburu.

Adellia berlari secepat mungkin setelah mendengar gumaman Richard tentang kondisi anjing yang sekarat itu. Richard menyuruhnya untuk membawa Loyd kesana, jika memang benar ada infeksi pada binatang itu akan sangat berbahaya.

"Apa yang terjadi ?!" Tanya Loyd sambil berlari mendekat.

"Apa Virus Corenna bisa menginfeksi binatang juga ?" Tanya Adellia dengan cemas.

"Aku tidak tau, karena semenjak pandemi terjadi aku belum melihat hewan yang mati karena infeksi, lagi pula pihak pemerintah juga tidak mengatakan virus itu bisa menginfeksi semua mahkluk hidup. Jadi kupikir bintang terinfeksi Corenna sangat kecil.." Ucap Loyd.

"Tapi Richard bilang anjing itu seperti terinfeksi. Ayo kita ke sana, paling tidak kita harus menyingkirkan anjing itu kan ?!"

Loyd mengangguk dan berpikir itu masuk akal.

"Oke kita kesana, Richard masih menunggu di tempat itu ?”

"Iya."

Loyd bersama Adellia pun bergerak menuju tempat kakak beradik itu menemukan anjing malang itu, setidaknya di sana Loyd memeriksa kondisi anjing itu dengan seksama.

Dulu sebelum terjadinya serangan dari Amerika, pihak pemerintah memberikan pengetahuan singkat tentang wabah itu. Mereka menyiarkannya di internet, agar semua orang bisa melihatnya.

Ciri-ciri dari orang yang terinfeksi, adalah sesak nafas, lalu kejang dan saat orang itu sekarat ia akan mengeluarkan darah dari hidungnya seperti mimisan.

Pemerintah juga menganjurkan untuk memakai penutup hidung dan mulut karena anggapan pertama virus itu menyebar dari udara, karena yang pertama kali terinfeksi akan merasa sesak nafas.

Tapi kemudian pihak dari Pusat penelitian membantah hal itu, karena menurut mereka itu justru mengalir bersama air yang terkontaminasi es mencair dari Benua Antartika.

Maka untuk pencegahan, Loyd menyuruh teman-temannya untuk memakai penutup wajah yang menutupi hampir satu kepala. Lalu saat hendak memasak, mereka harus memastikan air yang mereka gunakan benar benar mendidih.

Karena pengetahuan dasar hal itu mereka masih bisa bertahan hingga di paruh waktu kedua wabah menyebar.

...----------------...

"Ini bukan Corenna.." Ucap Loyd. "Kau tau Anturk. Itu bakteri yang hanya terjangkit pada hewan berkaki empat, khususnya sapi dan kambing. "

"Jadi ini tidak mengancam bagi kita ?" Tanya Richard masih merasa khawatir.

Loyd menggelengkan kepalanya. "Jika kamu tidak memakan daging dari hewan yang terjangkit, kamu tidak akan kena. Infeksi bisa dilakukan jika kamu memakannya, karena bakteri ini menyerang usus."

"Sepertinya ada hewan yang terjangkit Anturk di sekitar sini. Ini akan berbahaya jika kita terlalu lama disini." Ucap Loyd sambil berdiri dan melepas sarung tangannya.

"Selama ini kita sebisa mungkin tidak menetap terlalu lama di satu tempat, bukan karena tidak mau. Tapi karena sangat sulit mencari tempat yang bersih dari puing-puing dan mayat."

'Dan jika pun ada tempat yg bagus, ada kemungkinan juga kita akan menjadi mangsa buruan..' Lanjut Loyd dalam hati.

Pemikiran terakhirnya sengaja tak ia ucapkan, bukan karena kekhawatiran kosong semata. Dulu sebelum bencana muncul, Loyd adalah salah satu mahasiswa unggulan di universitas favorit Praza. Loyd memiliki segudang prestasi dan menjadi kebanggaan kampus karena kegeniusannya, ia memiliki intuisi dan deduksi yang tinggi, ia juga sangat peka.

Dari rentetan kejadian mengerikan ini, pemuda itu bisa menarik kesimpulan yang jauh ke depan hanya dari secuil bukti tak kasat mata sekalipun.

Setelah mengubur mayat anjing itu mereka kembali ke camp dan mulai membereskan barang-barang, jauh dari perkiraan ternyata mereka hanya bisa menetap selama 3 hari di sana.

"Padahal di sini sangat nyaman.." Keluh Helio sambil bertopang dagu di bangku samping kemudi.

"Pakai maskermu yang benar." Ucap Loyd saat melihat Helio yang tak memakai maskernya.

"Aku merasa sesak memakai masker full face itu seharian.."

"Kau mau aku mengubur mu di mana ?" Tanya Loyd yang di sambut wajah terkejut Helio.

Padahal Loyd berkata bukan dengan maksud sengaja, ia hanya khawatir. Tapi sepertinya itu efektif, Helio langsung memakai kembali maskernya.

"Lagian dari mana kamu bisa mendapatkan masker seperti ini, apa tidak ada yang biasa saja."

"Ini jauh lebih baik dari masker yang hanya menutupi hidung dan mulut mu."

"Kak Loyd tunggu kak !" Seru Adellia tiba-tiba.

Adellia menunjuk ke arah sebuah gang kecil, di sana seorang pria dengan pakaian kumal dan penuh darah duduk menyandar dengan putus asa.

Untuk beberapa saat Loyd menyuruh ketiga rekannya untuk tidak membuat pergerakan mencolok, Loyd memperhatikan sekeliling untuk memastikan tak ada ancaman yang membuat mereka dalam bahaya.

"Kalian berdua diam disini. Aku dan Helio akan melihatnya ke sana." Ucap Loyd.

Segera dua orang pemuda itu berjalan mendekati sosok pria yang sepertinya memang terluka itu.

Pria itu bergerak waspada dan melakukan postur siaga, sambil tangannya terus memeluk buntelan mencurigakan.

"Kami bukan orang jahat.." Ucap Loyd sambil mengangkat tangannya.

"Kami sedang lewat sebelum adik saja melihat bapak yang sepertinya sedang kesulitan di sini."

Loyd menunjuk mobil compervan tak jauh dari mereka, pria itu perlahan mulai bersikap lunak saat melihat Adellia yang melambaikan tangannya dari jendela mobil.

"Apa bapak perlu bantuan ? Kami bisa membagikan beberapa makanan dan minum." Ucap Helio.

"Kalian sedang apa disini ? Mau kemana ?" Tanya bapak itu, tak menghiraukan pertanyaan Helio ia justru balik bertanya dengan raut wajah yang khawatir.

"Kami hanya singgah sebentar di sini, tapi sepertinya kota ini juga sudah di tinggalkan." Ucap Loyd sambil berjongkok di dekat bapak itu.

"Berapa usia kalian ?" Tanya bapak itu lagi.

"Aku dan dia tahun ini 24 tahun, dan dua adik saja di sana baru berusia 18 tahun dan 15 tahun.."

Bapak tua terhenyak mendengar jawaban Loyd. "Cepatlah pergi dari sini !" Seru bapak itu sambil memegang pundak Loyd.

"Kalian akan dalam masalah besar jika bertemu dengan kelompok sesat di sini. Apalagi adikmu. "

"Apa maksudnya pak ? Kelompok sesat apa ya ?" Tanya Helio tak faham.

"Haish, itu kelompok dari orang-orang sesat. Mereka membuat kelompok dan membunuh orang, mereka mengklaim jika tindakan itu bisa membawa mereka menuju EDEN. Para pengungsi dari tempat ini semua di habisi oleh mereka, para orang dewasa di cuci otak untuk mengikuti faham mereka dan para anak kecil di bunuh untuk di jadikan persembahan."

Helio spontan meneguk air liurnya yang terasa seperti gumpalan batu.

"Jika seperti itu apa yang bapak lakukan di sini ?" Tanya Loyd waspada.

Bapak itu menunduk dalam, tangannya mengelus buntelan kain itu dengan gemetaran.

"Aku melarikan diri dari kelompok itu, pada awalnya aku di bawa oleh seorang kakek tua yang sudah menolong ku saat rudal jatuh dan menewaskan anak ku. Aku tak menyangka jika kakek itu adalah anggota aliran sesat. Aku melarikan diri dengan susah payah, dan saat sudah jauh.. " Bapak itu mengusap ke dua matanya yang basah, suaranya tersendat dan bergetar.

"Aku melihat tentara yang membawa senjata, ku pikir mereka adalah tim evakuasi tapi nyatanya mereka justru menembak ku. Aku bahkan terkejut aku masih bisa berlari menyelamatkan diri.. "

Bapak itu menatap wajah Loyd dengan serius. "Jadi nak, cepat menjauh dari sini. Tempat ini sudah menjadi zona merah, pergilah ke Selatan dengan menyusuri sungai."

Dor !

...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!