Peran

Dara terkesiap, matanya terpaku pada darah yang menetes di lantai. Ia sedikit bangun dari duduknya, namun tubuhnya terlalu kaku untuk bergerak.

"Lu gak apa-apa?" tanyanya dengan raut khawatir. Berusaha menyentuhku tapi bingung untuk melakukannya.

Aku meringis, melirik Dara dengan tajam sambil menyeka hidungku dengan punggung tangan. Ia tak mengalihkan pandangan, masih menatapku dengan penuh arti. Dia terlihat panik.

Sementara di sisinya, aku melihat Kun.. Dia diam sambil tersenyum. Dia tersenyum saat melihatku seperti ini.

Sepertinya ada alasan lain yang membuatnya sengaja membawaku menemui Dara, dan sengaja membiarkan aku untuk berbicara terlebih dahulu, padahal ia pun ingin menyampaikan hal yang sama.

Atau.. Pergerakannya sebagaimana ketika kasus Maxim terjadi, dan kasus pembunuhan pertama terjadi. Kesimpulan ku adalah.. Anak ini mencari aman untuk dirinya sendiri.

Ketika semua orang mendekati jenazah gadis yang meninggal di lorong, hanya ia seorang yang tak ikut datang. Tapi aku yakin ia pun ikut mencerna apa yang telah terjadi, sebagaimana ia tau, bagaimana kondisi mayat itu terakhir kali.

Lalu, saat Max kehilangan kunci, ia tak ikut membantu. Dan saat Max di serang sampai terluka, ia tau. Tapi sekali lagi, ia tak ikut membantu.

Dan sekarang, ia melakukannya lagi. Ia tau aku pun mencari apa yang ia cari pada Dara. Dan ia, membiarkan aku sendiri yang melakukannya.

Sepertinya aku keliru jika terbod*hi dengan tingkah konyolnya, dan menganggap dia anak yang biasa-biasa saja.

Anak ini cerdas, dan ia mampu mempermainkan aku dalam permainannya. Ia menggerakkan aku seolah peran pengganti. Ia ikut masuk, tapi hanya aku yang berpotensi untuk terluka pertama kali. Lalu setelah itu, ia menyimpulkan dari apa yang ku alami.

Jadi, setelah hal ini terjadi padaku, ia telah bisa menyimpulkan sebagaimana aku pun tau. Dan yang paling menguntungkan dirinya, ia aman tanpa melakukan apapun.

Aku membalas senyuman Kun, menatapnya dengan datar namun tajam. "Jadi elu.. Numbalin gue?" sergahku, membuat Dara terkejut.

Ia melirikku, dan terlihat takut. Buru-buru di tariknya tangan Kun, dan di bawanya pergi dari hadapanku. Aku membiarkan mereka berlalu, karena aku butuh waktu sendiri untuk mengurai semua ini.

Jadi begitu?

Jadi seperti itu??

Sepertinya aku sedikit mengerti alur cerita dari drama ini ketika hal ini terjadi sendiri kepadaku.

Dan petunjuk yang paling mencolok adalah darah yang keluar dari hidung, seperti apa yang sudah terjadi juga kepada ku.

Pertama, saat Dara bertemu dengan Max dan mengatakan sesuatu,

Ia beralih, menatap bagian dahi Maxim. "Max, apa kunci kamar elu ilang?" tanyanya tiba-tiba, padahal tidak ada yang mengatakan ini padanya.

"Iya, lu nguping ya?" balas Maxim.

Namun ekspresi gadis ini tampak panik dan ketakutan. "Kalau udah dapet kunci duplikat, malam ini.. Jangan tidur di kamar elu." ujarnya tiba-tiba, dengan napas yang berderu.

"Kenapa emangnya?" sahut Max.

"Pokoknya jangan! Jangan pernah! Ini peringatan!" Ujarnya lagi, tapi tiba-tiba saja gadis ini meringis dan menyentuh kepalanya seolah kesakitan. Tanpa sengaja, aku melihat cairan merah keluar dari hidungnya. Buru-buru ia berlari menjauh, dan menurutku, gelagat gadis itu... Aneh dan mencurigakan.

Saat itu, ia mimisan usai memberikan kami clue.

Berikutnya, saat pelaku yang berniat membunuh Maxim di kamarnya,

Lelaki tadi terpaku, ia menelan ludah sambil berteriak ketakutan. "Gue gak tau apa-apa!! Gue cuma dapat perintah!! Kalau gak bunuh dia, gue yang bakalan mati!! Gue cuma disuruh!!" ujarnya.

"Maksud elu?"

"Gue punya kartu, kartu gue killer!!" ucapnya, membuat Max seketika terbelalak. "Dan dia, dia human!!" ia menunjuk Max.

Aku terdiam mendengar perkataannya. Dia membahas mengenai kartu?? Jadi, dia pun memilikinya? Dan yang ia punya, berbeda dengan milikku. Dia killer, sementara Max, kartunya sama denganku.

"Jadi, killer harus memangsa human. Kalau enggak, kami bakalan binasa!!" lanjutnya.

Dalam kebingungan kami, tiba-tiba saja lelaki ini mengerang kesakitan sambil menyentuh kepalanya, bersamaan dengan darah yang keluar dari hidungnya. Ia langsung beranjak dan menabrakkan dirinya ke tubuhku. Ia lari tunggang-langgang, bahkan seolah kesulitan mencari keberadaan pintu keluar, yang padahal sudah ku biarkan terbuka.

Waktu itu, lelaki itu juga mimisan usai membahas mengenai kartu secara detil.

Dan sekarang, aku juga mengalaminya ketika hendak membahas mengenai kartu dan pelaku utama pencipta Drama ini.

Artinya, si pemilik kartu, tidak ada yang boleh membahas mengenai kartu mereka pada orang lain. Kalau kami masih nekad melakukannya, makan kami akan di tegur dan mendapatkan pelanggaran.

Dan waktu itu, Dara tak membahas kartu, ia hanya memberikan kami petunjuk. Tapi ia juga mendapatkan pelanggaran, di tandai darah yang keluar pula dari hidungnya, usai merasakan sakit kepala hebat. Artinya, bukan hanya membahas mengenai kartu. Kami sendiri pun, tak boleh ikut campur jika ada seseorang yang di targetkan.

Dan di sini kemungkinan, pelaku mendapat bisikan sebagaimana yang ku dengar, ketika mereka hendak membunuh. Seperti sebuah misi yang harus di selesaikan. Misi gagal, maka pilihannya mati. Misi berhasil, maka kemungkinan tetap hidup. Yang tidak adil, ini hanya berlaku untuk killer, tidak untuk human seperti ku.

Killer mendapatkan perintah untuk membunuh human, tapi kami tak mendapatkan clue atau pemberitahuan untuk bertahan hidup karena menjadi target.

Jadi begitu??

Pantas saja saat ingin membahas mengenai kartu dan nenek, Dara menyuruhku untuk berhenti bicara. Bahkan ia sama sekali tak mau berbicara padaku, karena tau aku akan membahas mengenai hal tersebut.

Karena ia sudah mengalaminya sendiri, ia tak mau itu terjadi padaku. Sejujurnya dia baik, aku terkesima. Meski terlihat jutek dan tak perduli, tapi sebenarnya dia perduli.

Tapi, kenapa ada perbedaan antara pelanggaran yang di terima Dara dan yang di terima penikam Maxim??

Dara masih hidup, sementara penikam Maxim mati. Mungkin karena posisinya, killer itu gagal membunuh Maxim, dan dia juga menceritakan rahasia kartu kepada kami. Dia mendapatkan pelanggaran dan gagal menyelesaikan misi, kesalahannya ada dua, sementara aku dan Dara hanya melakukannya satu kali kesalahan.

Tapi, mereka berdua langsung berlari usai mimisan. Kenapa mereka melakukannya??

Aku terdiam sesaat. Kalau aku berada di posisi mereka, ketika mendapatkan teguran pelanggaran, maka hal pertama yang harus ku lihat adalah...

Kartu dari nenek??

Aku diam sesaat, lalu mengambil kartu yang ku kantongi. Ketika menatapnya, kartu tersebut lagi-lagi mengeluarkan asap. Aku meniupnya, dan sebuah tulisan kembali muncul di atas permukaan kertas.

Aku membacanya dengan seksama, tulisannya adalah... "Agam Suganda, pemilik kartu dengan peran Human of melakukan satu kali pelanggaran. Hukumannya adalah serangan fisik secara otomatis." gumamku sendiri.

Oh, jadi begitu. Kami mendapatkan pemberitahuan seperti ini dari kartu.

Ini tertulis aku melakukan pelanggaran satu kali. Artinya kartu ini menghitung pelanggaran yang ku lakukan. Apakah mungkin, pelanggaran yang kami lakukan ada batasannya?? Dan jika kami melakukannya secara terus menerus, maka apa yang akan terjadi nanti??

Apakah mungkin, kematian??

Tapi, ada berapa batas maximal dari pelanggaran ini??

Ini rumit, tapi setidaknya.. Aku sudah tau alur dari drama ini sendiri. Berarti saatnya, memainkan peranku dengan sebaik mungkin.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Teni Fajarwati

Teni Fajarwati

namanya juga Kun,ngga mau rugi

2024-09-20

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

keren...

2024-06-02

0

Laila Zayn

Laila Zayn

wow keren 😍 alur yang bagus dan baik..... 🥰

2024-04-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!