PELANGGARAN!

Saat suasana sedang mencekam, Kun tiba-tiba saja memasukkan jari lelaki yang sedang menunjuknya ini ke dalam lubang hidung, membuat lelaki ini terkesiap lalu segera menarik tangannya dengan raut jijik.

"Makan tuh upil!! Belum di korek dari kemarin!" ujarnya santai, membuatku melirik heran. Bisa-bisanya ia melakukan hal seperti itu saat sedang serius.

"Pokoknya camkan itu baik-baik!" kecamnya sambil mengelap jari tangannya ke handuk.

"Halah!! Pikiknyi cimkin iti biik biik!!" Kun meledek sambil menggoyangkan pinggulnya. "Seperti yang punya kuasa saja di atas segalanya. Sama upil saja takut! Dasar ratu kutu!" balas Kun lagi.

Di antara perdebatan kami, Dara yang awalnya menatap dua orang ini dengan datar, tiba-tiba saja terbelalak. Ia melotot hingga kedua alisnya terangkat tinggi. Ketika sadar kalau ku pandangi, buru-buru ia mengerjap, sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Ia melirik, membalas tatapanku. Gadis ini mengalihkan bola matanya ke dahiku, ia menelan ludah dengan wajah pucat, dan tiba-tiba saja melongos dari hadapan kami begitu saja.

Jujur saja, gadis ini misterius dan membuatku penasaran. Kenapa wajahnya seperti itu? Seperti telah mengetahui sesuatu yang tentunya hanya ia seorang yang tau.

Waktu itu, sebelum tragedi yang terjadi pada Max, ia pun melakukan hal serupa. Dan perkataannya menjadi benar. Jadi, apakah tadi ia pun mendapatkan gambaran sesuatu??

"Oi!! Tunggu!" Seruku sambil menghadapkan tubuhku seluruhnya padanya, membuat gadis ini terhenti, lalu beberapa detik kemudian kembali melangkah. "Oi, lu gak denger apa?" panggilku lagi sambil mengejarnya. Dua orang tadi langsung menutup pintu kamar, sementara Kun melihat kami sambil berdiri di tempat.

Karena ia terus berjalan cepat sambil di hentakkan, aku langsung meletakkan tanganku di pucuk kepalanya, membuat langkahnya terhenti dan ia langsung berbalik sambil menepis tanganku.

"Mau ngapain sih?! Gue gak mau ngomong sama elu."

"Tapi gue mau." sahut ku acuh.

"Dih!! Beg* banget!! Sana jauh-jauh!"

"Emang kenapa sih? Gue kan cuma mau ngomong doang."

"Ya gue gak mau!" balasnya cepat.

Sejujurnya dia aneh. Kenapa juga dia seperti hendak menghindari ku? Memangnya aku kenapa??

"Perihal Maxim kemarin-"

"Diem, atau gue injek kaki lu!" ancamnya.

Aku melirik ke arah kakinya, mungil seperti itu. Mana sakit kalau di injak. "Bod* amat! Perihal Maxim kemar-"

Dugh!!

Ia benar-benar menginjak kakiku, membuatku terperanjat sambil langsung tertunduk. Sejujurnya ini tak sakit, tapi aku kaget saja karena tenaganya di luar prediksi ku.

"Rasain! Batu banget jadi orang!" ujarnya merasa menang.

Aku langsung menengadah dengan wajah datar. "Gak sakit sih. Jadi sekarang udah boleh ngomong sama elu, kan?" tanyaku tanpa menyerah, membuat gadis ini menoleh ke arah Kun.

"Saya juga mau berbicara sesuatu kepadamu. Dan sepertinya tujuan kami sama, jadi... Saya mengajaknya ikut serta kesini." ucap Kun sambil mendekati kami.

Gadis ini menghela napas sambil memutar bola matanya dengan malas. "Kita ngobrol di luar." ujarnya menyetujui.

.........

Di dekat sisi kiri dan kanan kantin, ada beberapa buah gazebo. Gadis ini memilih salah satunya dan duduk lesehan di sana sambil menatap kami berdua yang berada di belakangnya.

Sebenarnya pilihannya bagus sih, dia lebih memilih berbicara di luar dari pada nanti menimbulkan fitnah meskipun ada pamannya bersamaku.

Aku dan Kun duduk di dekatnya, sambil melihat wajah juteknya yang seolah tak mau memulai pembicaraan terlebih dahulu.

"Jadi begini.." aku dan Kun berbicara serentak, membuat gadis ini mengernyit dalam sambil menatap sinis kami berdua.

"Kamu saja." ucap Kun datar.

"Gue gak mau muluk-muluk sih, kemarin kan elu ketemu Max dan bilang kalau Max yang kehilangan kunci kamar, gak usah tidur di kamarnya malam itu. Lu gak ngasih tau alasannya apa, tapi entah ini kebetulan atau bukan.."

"Malam tadi Max di serang oleh seseorang, perutnya di tusuk pake gunting dan sekarang Maxim dalam masa penyembuhan." ujarku, membuat Dara terkesiap sambil sedikit menganga. Sementara Kun terlihat santai seolah tak terkejut mendengarnya. "Dan elu, elu tau kan kalau terjadi penyerangan ke Max semalam, dan kenapa elu gak memberikan bantuan?" tanyaku sambil menatap Kun.

Dara menatap pamannya dengan wajah takut, tapi aku tau gadis ini sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu.

"Karena saya tau, Maxim tak akan mudah mati." ujarnya, membuatku mengernyit bingung.

"Kenapa elu bisa berpikiran begitu? Kalau kemarin gue gak duplikatin kunci kamarnya, dan masuk buat nolongin, bisa aja Max mati kemarin." protesku dengan suara rendah.

Kun hanya memiringkan senyumnya. "Karena saya juga tau, kamu... pasti melakukan semua itu untuk membantunya. Jadi, untuk apa saya repot-repot membantu, tidak di gaji juga oleh Maxim." sahutnya cuek.

"Jadi, ternyata bener elu juga gak menganggap kalau omongan Dara, adalah omong kosong belaka?"

Kun terkesiap mendengar perkataan ku. Untuk sekelas seseorang yang tak memiliki kartu, seharusnya Kun juga akan menganggap ucapan Dara sebagai omong kosong belaka. Sebagaimana Max yang juga menganggap itu cuma omong kosong, meskipun ia memiliki kartu yang di berikan oleh si nenek.

Dari respon yang ia berikan, sekarang aku mencurigai kalau Kun.. Juga memiliki kartu, tapi ia hanya berpura-pura tidak tau. Untuk alasannya, aku juga tak mengerti. Soalnya waktu itu, ia juga melihat nenek itu. Jadi kecil kemungkinan, kalau ia tak memiliki kartu.

Yang jadi pertanyaan ku sekarang, kalau seandainya Kun dan Dara memiliki kartu, apakah kartu yang mereka miliki, sama seperti yang kami miliki?? Killer dan human? Atau, ada jenis kartu lain yang mereka dapatkan??

Untuk sekelas human dan killer pun susah untuk di telisik karakteristiknya, tetapi.. Dara ini seperti mengetahui sesuatu yang akan terjadi. Dan ia selalu menatap ke arah dahi ketika berbicara, entah itu merupakan kebiasaannya, atau mungkin... Ia bisa membaca sesuatu di dahi kami. Seperti membaca situasi buruk apa yang akan terjadi.

Lalu Kun?? Kartu apa yang sebenarnya ia miliki??

Daripada menduga-duga, lebih baik aku bahas perihal ini kepada mereka. Semakin terbuka dan kami tau peran masing-masing di kartu, akan semakin mudah kami saling bantu dan tolong menolong, kan? Terlebih kami juga bisa bertukar pikiran mengenai kematian killer yang tak wajar.

"Sekarang, kayaknya gue pengen berbicara sesuatu yang sedikit mustahil, tapi pasti kalian ketahui." baik Dara dan Kun menatap serius ke arahku. "Perihal kematian yang terjadi di asrama kita, kayaknya ada sangkut pautnya sama nenek yang ada didepan gerbang. Dan gue yakin, kalian juga pasti ketemu nenek itu, kan?" ujarku, membuat Dara terbelalak.

"Cukup!" serunya tiba-tiba, membuatku melirik dan mengacuhkan.

"Nenek aneh, yang memberikan kita sesuatu." lanjutku, tanpa mengindahkan perkataan Dara.

"Gue bilang cukup!" sentaknya lagi.

"Sebuah kartu yang bertuliskan peran masing-masing untuk drama yang di rancangnya. Siapa pembunuh itu, dan apa maksud dari drama pembunuhan yang ia buat." ujarku.

"Dalam permainan kartu yang mempertaruhkan nyawa ini, lebih baik kita hentikan dan temukan lalu tangkap dalang di belakangnya."

Nyuuuuuuut!!!

Tiba-tiba saja, kepala ku terasa berdenyut hebat. Aku tersentak dan mencengkeramnya sambil menggeram.

Ada apa ini?? Kepalaku nyeri sekali, aku sampai memejamkan mata dan tak bisa menahannya sama sekali. Kedua tanganku menyentuh lantai, tertopang dengan posisi kepalaku yang menunduk kebawah.

Tes...

Tes...

Cairan yang hangat dan kental menetes dari hidungku, membuatnya terasa perih seperti kemasukan air.

Aku perlahan membuka mata, melihat tetesan yang berwarna merah pekat. Ini... Darah??

Aku terdiam ketika sebuah suara aneh menggema di kepalaku dan membuatnya berdengung-dengung.

"Agam Suganda pemilik kartu dengan peran Human of.... Anda mendapatkan pelanggaran!"

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Teni Fajarwati

Teni Fajarwati

dasar Kun kun

2024-09-20

0

Teni Fajarwati

Teni Fajarwati

jadi inget Kun yang dulu🤭

2024-09-20

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

lanjut

2024-06-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!