Pelaku Tertangkap

Aku ternganga sesaat, mengedip pelan lalu menarik nafas dari mulutku. Ku katup bibirku dengan cepat, sebelum mulai berkata, "Jadi, elu juga ngeliat apa yang di lakuin cewek itu ke nenek? Tapi, waktu itu gue sama sekali gak ngeliat kehadiran elu disitu." ujarku bingung, membuat lelaki ini terlihat cuek sambil melirik kuku jarinya yang terpotong rapi.

"Tak terlihat bukan berarti tidak ada."

Aku mengernyit sambil melipat tangan ke dada. "Oke, kalau elu emang ada disitu, pertanyaan gue.. Ngapain lu disitu dan gak langsung masuk?" tanyaku. Apakah anak ini juga mendapatkan kartu dari nenek? Jadi dia sengaja berhenti untuk memeriksa apakah nenek memberikan kartu kepadanya saja, atau kepada orang lain juga?? Atau, karena ia tak mendapatkan kartu, makanya ia sengaja berhenti untuk melihatnya??

"Kenapa kamu ingin tau sekali?" balasnya ketus, dengan wajah tak terima.

"Ck, masalahnya.. Elu ini sedikit aneh. Elu sengaja nunggu cewek itu berdebat dengan nenek, dan kebetulannya lagi.. Cewek itu meninggal hari ini. Kayak.. lu tau sesuatu itu akan terjadi. Makanya elu nunggu disitu." serangku padanya, membuat anak ini melirikkan mata hijaunya ke atas sesaat.

"Sebenarnya... Waktu itu saya mau minta mie di dalam bungkusannya sama abang-abang kuli. Kelihatannya enak, saya tak pernah makan mie seperti itu. Biasanya pakai mangkuk. Tapi saya tak tau bagaimana cara memintanya." jawabnya, membuatku yang awalnya memasang wajah serius, langsung mendatarkan wajah. Serius dia ingin hal sesederhana itu??

"Ngomong-ngomong, kelihatannya kamu tak punya teman. Pasti karena kamu menyebalkan ya?" Ia menyipitkan mata sambil tersenyum menyebalkan.

"Lu lagi ngomongin diri sendiri ya?" balasku menahan tawa.

"Ya, memang saya sulit bergaul. Sebenarnya saya ini baru pindah dari Belanda. Bahasa Indonesia saya lumayan bagus, tapi terlalu baku. Lagipula, saya sudah duduk seharian di depan kamar, kenapa tidak ada orang yang memanggil saya ya?" gumamnya sambil bertekan dagu, seolah sedang berpikir dengan serius.

Jadi dia duduk di depan kamar berharap mendapat teman atau di sapa seseorang??

"Yah, kalau lu diam aja kayak gitu, orang-orang pada takut. Gue aja kaget liat lu duduk disitu." ujarku, membuatnya terbelalak dan berjalan kecil mendekati ku.

"Jadi saya harus bagaimana supaya bisa mendapatkan teman??" tanyanya, dengan dua tangan yang terkepal kuat di depan wajahnya.

Aku melengkungkan tubuhku kebelakang, berusaha menjaga jarak. "Yaudah, kalau mau temen... Sekarang kita temenan." ucapku, membuat matanya membulat besar.

"Wah? Semudah itu? Jangan-jangan ada maksud terselubung? Apa kamu mau uang saya?" duganya, hingga membuatku menyipitkan mata tanpa ekspresi.

"Lu udah pernah di tampol orang Indonesia belom?"

"Sudah tidak pernah, sejak masuk SD tidak pernah ngompol lagi di Indonesia." sahutnya dengan wajah polos. Aku jadi tidak bisa marah saat melihatnya, padahal kepalaku gatal sekali saking kesal berbicara dengannya. "Oh ya, apa kita boleh saling mengenal? Nama saya Adam.. Adam Suganda." tuturnya sambil tersenyum, membuatku terkejut karena ia punya nama yang hampir sama denganku.

"Lah, nama gue Agam Suganda. Kok mirip?"

Ia terlihat ikut terkejut mendengarnya. "Umurmu berapa? Pasti orang tuamu nyontek orang tua saya?"

"Kita seumuran!!" bentakku saking kesalnya.

"Adaaah, tekejut maak.." sambarnya sambil menyentuh dada. "Sepertinya saya suka dengan pemikiran mu tadi mengenai siswi yang mati. Ayo kita jadi teman sekarang." ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas seolah sedang bersemangat. Aku hanya diam tanpa ekspresi, yang pertama mengajak berteman kan aku? Apa ia tak menggubris ajakan ku tadi??

"Ngomong-ngomong, tentang mayat di sana tadi.. Bagaimana keadaannya? Saya malam tadi ketiduran disini, bangun-bangun sudah mendengar suara teriakan nyaring." lanjutnya lagi.

"Kenapa gak liat sendiri?" tanyaku singkat.

"Ya, karena saya tidak mau jalan ke sana." sahutnya, sama singkat. Kami berdua sama-sama diam sambil berpandangan. Kok aku jadi melihat diriku sendiri ketika bicara dengannya?? Kelihatannya sefrekuensi sih.

Di dalam keheningan, tiba-tiba saja suara speaker yang ada di tiap sudut ruangan terdengar. Kami berdua menoleh ke asal suara sambil mendongak ke atas.

"Perhatian perhatian.. Para murid asrama di persilakan untuk menyantap sarapan di kantin. Bagi pelajar baru di lantai empat, harap jangan melewati batas polisi. Para murid di harapkan untuk tidak cemas dan khawatir atas kejadian pembunuhan ini. Pihak kepolisian sedang menyelesaikan tugasnya dengan baik. Terimakasih..."

Usai mendongak, kami berdua kembali melirik satu sama lain saat suara pengumuman dari speaker telah menghilang.

"Wah! Jadi makannya di panggil? Menarik sekali!! Saya tak mau kehabisan makanan!!" pekik anak bernama Adam ini sambil berlari. Dia bahkan meninggalkan aku yang baru saja di ajaknya berteman ini.

Aku menyusul dari belakang, dan beberapa orang keluar dari kamar ketika mendengar pengumuman yang sama. Ketika melintasi TKP, ternyata jasadnya sudah di bawa pihak kepolisian. Tapi, aroma tak sedap masih saja tercium, karena linangan darahnya masih berceceran di lantai.

Ku rasa, sarapan kali ini akan sedikit menjijikan kalau membayangkan jasad tadi. Aku tak melihat peta ketika keluar dari lantai empat. Aku sudah menghafal jalannya kemarin.

"Hei, kenapa di genangan darah, ada genangan air juga?" tanya Adam dengan bisikan, membuatku meliriknya ke bawah, karena postur tubuhnya sangat mungil. Ternyata dia juga menotice apa yang ku pikirkan.

"Entahlah." singkatku.

Kami turun ke lantai paling bawah menggunakan tangga, karena lift digunakan untuk akses para penyidik.

Seingatku, kantin asrama ada di gedung satunya, letaknya di belakang gedung utama. Selain kami, kakak kelas pun sepertinya sudah lebih hafal dengan rutinitas ini. Mereka telah sampai lebih dulu ke kantin berukuran besar seperti resto hotel. Pintu kantinnya sebesar pintu auditorium. Ketika masuk, kami langsung di suguhkan pemandangan menyegarkan mata.

Kursi dan meja yang tertata rapi, hiasan artistik di beberapa sudut ruangan. Tanaman hias hidup serta kolam ikan yang mengalir di sekelilingnya. Yang lebih menarik, jendela berukuran besar memberikan ruang agar sinar matahari bisa masuk ke dalam tanpa membuat kami kepanasan.

Di setiap sudut ruangan, ada penjaga kantin yang bersiap di depan makanan untuk di berikan kepada kami. Konsepnya prasmanan. Si kecil Adam ini dengan gesit melihat posisi prasmanan yang masih sepi. Karena ia ngacir begitu saja, aku segera menyusulnya. Takut terinjak-injak.

"Yuk (Panggilan perempuan yang lebih tua di Bangka), mau piring!" pintanya dengan nada yang lucu.

Meja prasmanan yang satu ini memang sepi, karena para pekerjanya sedang sibuk mengecek pintu kulkas.

"Yuk! Piringnya!!" pinta Adam lagi, membuat mereka tersentak dan menyadari kehadiran kami.

"Oh, maaf.. Meja prasmanan ini di kosongin dulu. Nanti makanannya di pindah ke sana." tolak mereka, membuat Adam menggembungkan pipinya karena sebal.

Mau tidak mau, akhirnya kami mengantri di paling belakang. Adam terlihat mengomel tanpa suara yang jelas.

Tak lama berselang, tiba-tiba saja beberapa anggota kepolisian datang ke meja prasmanan yang sempat kami datangi. Beberapa di antara mereka menyebar sambil menodongkan senjata, membuat kami panik dan mematung di tempat.

"Kalian semua!! Letakkan tangan di kepala dan menunduk!!" pekik para polisi, membuatku segera melakukannya, sementara para perempuan melakukannya sambil berteriak.

Suasana mendadak gaduh. Suara ketakutan, tangis dan teriakan bercampur menjadi satu. Di antara keramaian, aku melirik satu tim polisi berjalan ke arah yang sama.

Tiba-tiba saja, mereka mendekap salah seorang dari kami, menariknya agar berdiri dan memiting tangannya kebelakang. Lelaki dengan postur tubuh sedang dan rambut sedikit ikal ini berusaha berontak, tapi ia tau itu hanyalah kesia-siaan belaka.

"Jangan melawan!! Anda kami tangkap!!" ucap seorang polisi yang memitingnya. Suasana mendadak hening, karena dengan cepat polisi bisa menangkap pelakunya. Tentu saja dengan bantuan kecanggihan teknologi, pasti mereka mengetahui pelakunya dari hasil rekaman CCTV.

"Ampun!! Ampuni saya pak! Saya cuma disuruh. Sumpah pak, saya cuma disuruh!!" pekiknya dengan histeris, membuatku mengernyitkan dahi.

"Jelasin itu di kantor polisi!!"

"Pak!! Tolong jangan tangkap saya, pak! Tolong pak! Saya cuma disuruh. Kalau enggak nurut, nanti saya yang bakalan mati pak, tolong lah pak!" rengeknya sambil menangis.

"Diam kamu! Cukup jelasin semuanya di kantor polisi!!" kecam para polisi sambil menyeretnya keluar.

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Ia bilang, cuma disuruh?? Dan dia juga di ancam?? Berarti, ada dalang di balik semua ini? Dan lelaki tadi, hanya bagian pengeksekusi??

Lalu, dalangnya siapa?? Apakah, si nenek yang waktu itu? Tapi, bagaimana bisa nenek-nenek mengancam seseorang yang lebih muda, lebih bertenaga dan lebih kuat dari dirinya? Sepertinya, ini mustahil.

Tengah sibuk berpikir, aku tersentak saat mendengar teriakan para pekerja kantin, ketika melihat pelaku yang di tangkap polisi, terlepas dan melarikan diri

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Teni Fajarwati

Teni Fajarwati

enggak keliatan woy,gimana mau negur😁

2024-09-19

0

Teni Fajarwati

Teni Fajarwati

Kun Kun🤣

2024-09-19

0

하시아

하시아

mana bisa gitu😭😭

2024-07-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!