Tumbal?

Aku punya alasan kenapa meyakini orang ini di bunuh, bukan bunuh diri. Alasannya sama seperti penemuan mayat pertama kali di depan lift. Dia tidak gantung diri, tidak minum racun, tidak mengiris nadi, dan lain sebagainya. Dia di bunuh, karena aku melihat kondisi tubuhnya saat mati.

Aku mematung di tempat, membiarkan ibu asrama berteriak ketakutan sambil buru-buru berlari ke belakangku. Sementara petugas keamanan yang berdiri paling depan, memalingkan wajahnya dengan muka yang membiru. Ia terus menahan mual.

Aku menilik dengan wajah biasa. Bukan karena aku psikopat, tapi karena aku sudah biasa menonton film pembunuhan dengan genre thriller serta menonton film detektif yang mayatnya tidak akan pernah di blur.

Lelaki yang sempat ku banting di kamar Maxim tadi mati dalam keadaan mengenaskan. Hancur sehancur-hancurnya. Ada bekas cipratan darah pada satu titik yang menyebar ke segala titik. Dan di sekeliling ruangan kamar, bertaburan potongan-potongan tubuh yang dalam keadaan terburai. Lengan, kaki, tubuh, semuanya terpisah satu sama lain. Jujur saja, ini mengerikan dan menggelikan.

Darahnya seperti mahakarya abstrak yang di buat dengan cara di siram-siram sembarang ke segala tempat. Aku bingung, bagaimana caranya ia di bunuh? Sebab, tubuhnya ini seperti meledekan dirinya sendiri. Bak korban pesawat jatuh, tapi.. ia tak sedang naik pesawat.

Tengah sibuk mengamati, aku mendorong pelan pintu kamar, membuatnya terbuka dengan lebar. Ketika aku melakukan itu, tiba-tiba saja sesuatu dari atas terjatuh tepat di hadapan kami. Terpental bagaikan sebuah bola lalu menggelinding menyentuh ujung sandalku.

Pluk!!

Aku menunduk, begitu pula dengan petugas keamanan dan ibu asrama. Ketika kami melihatnya bersama-sama, kami tersentak saat mendengar suara ibu Asrama berteriak kencang.

"kyaaaaaah!! Itu kepalanya!!" pekiknya ketakutan, dengan tubuh yang gemetaran. Ia menutup mulut, berusaha meredam suaranya agar tak membangunkan murid yang lain.

Aku terbelalak, saat melihat potongan kepala jatuh dari atas dan berada tepat di kakiku. Kepala lelaki tadi terputus dan wajahnya kini berhadapan denganku.

Deg!!

Jantungku terhantam, saat matanya yang terbelalak bertatapan denganku. Jujur, aku juga merasa takut karena ini kali pertama melihat mayat yang tubuhnya terputus-putus dengan kedua mataku secara langsung.

Aku memundurkan langkah dengan napas terengah. Mendengar gumaman takut ibu asrama secara berulang-ulang. Dalam kegelisahan ku, tanpa sengaja aku melihat potongan tangan si mayat yang berada di atas tempat tidur.

Lagi.. Mayat ini menggenggam kartu yang sama seperti milikku. Kartu yang ia sebut pada kami saat berada di kamar Maxim.

Aku hendak masuk ke dalam untuk melihat kartunya, tapi tiba-tiba saja kerah bagian belakangku di tarik seseorang. Aku menoleh sambil menghentikan langkah.

"Jangan masuk, dek. Nanti biar polisi yang meriksa." ujar petugas keamanan.

Aku terdiam sambil mengangguk. Melihat ibu asrama yang sudah melipir terlebih dahulu karena takut.

Dari posisi ku berdiri, aku melihat ibu asrama mengeluarkan sebatang rokok dan meletakkan ke mulutnya. Membakar ujungnya dengan korek lalu menyesap serta menghembuskan rokok ke udara.

Ternyata ibu asrama ini seorang perokok, sedikit kaget sih. Setelah beberapa kali menghembuskan asap, ia mulai mengambil ponsel, apa hendak menelpon pihak berwajib?

"Hallo, selamat malam. Saya Nadya, ibu asrama pemilik Nur Adn," Ia terhenti sesaat. "Iya, ada pembunuhan terjadi di asrama ini lagi. Saya harap kalian segera datang ya, karena keadaannya mengerikan banget." ia terdiam lagi, mendengar jawaban polisi. "Oke, saya tunggu secepatnya." lanjutnya sembari menutup telepon.

Kini pandangannya tertuju kepadaku. "Agam, sini." panggilnya. Dan aku segera datang menghampiri. "Kamu kembali ke kamar, ingat ya.. Jangan ngasih tau siapapun mengenai percobaan pembunuhan Maxim. Urusan mayat ini, biar jadi tanggungjawab ibu ke pihak keluarganya. Sebisa mungkin jangan sampai ada desas-desus mengenai pembunuhan ini. Ibu bakal nunggu polisi di depan gerbang, takut membangunkan anak-anak yang lain." lanjutnya.

Aku tak menyahut, tapi mengikuti apa yang ia minta. Aku kembali ke kamar, dan di sana Maxim terdengar meringis kesakitan. Ku rasa perutnya pasti di jahit, tapi.. apa tak menggunakan anastesi?? Kenapa terdengar sakit??

Aku menyender di dinding depan kamarku, belum berani masuk dan membuka pintu. "Nah Max, jahitannya udah selesai. Sekitar tiga puluh menit lagi anastesinya menghilang. Minum obat ini jika rasa sakitnya datang lagi. Kalau udah di rasa sakitnya hilang, hentikan pemakaian. Kalau obat yang ini, terus minum sampai habis ya, biar lukanya cepat kering." ujar dokter kepadanya, sayup namun pelan tapi tetap terdengar di telingaku.

"Oke, dok. Terimakasih." sahut Max.

Tak lama berselang, mereka keluar dari kamarku. Aku yang menyenderkan tubuh ke dinding langsung berdiri tegap, tersenyum dan menundukkan kepala sebentar.

"Nak, dimana ibu Asrama kalian?" tanya mereka padaku.

"Ada di sana, dok." ucapku sambil menunjukan jariku seluruhnya ke satu arah. Mereka menoleh, lalu mengangguk. Karena dari tempat kami berdiri, ibu asrama bisa terlihat meski jauh.

"Terimakasih, ya." ucapnya sambil menatapku dari atas ke bawah. "Haha, dia kayak aku pas masih muda. Ganteng dan berkarisma." ujar si dokter pada para perawat di belakangnya.

Para perawat melirikku sambil tersenyum dan berbisik-bisik. "Ganteng, sayangnya masih berondong."

"Gak apa-apa berondong, kayaknya bisa bertanggungjawab."

"Iya kalau dia mau sama tante-tante. Haha.." lakar mereka sembari meninggalkan ku. Ada-ada saja bualannya.

Aku langsung masuk ke kamar, melihat Maxim berbaring di kasurku dengan keringat yang mengucur deras. Saat berpapasan denganku, buru-buru ia beranjak, seolah merasa segan padaku.

"Tiduran aja di sana. Jangan gerak dulu." sambarku sebelum ia melakukannya. Di luar dugaan, ia tak sok kuat dan malah menuruti perkataan ku.

"Thanks." ucapnya tiba-tiba, sambil menoleh ke arah lain.

"Hah?"

"Gue bilang thanks!! Budek lu ya?!" bentaknya, dan tiba-tiba terhenti sambil meringis sembari memegangi perutnya yang terbalut perban.

Sebenarnya aku dengar, hanya aku tak menyangka kalau ia akan berkata seperti itu. Soalnya ia terlihat sangat benci kepadaku. Aku berjalan masuk dan duduk di depan meja tv, ku arahkan tubuhku menghadapnya.

"Brengs*k banget tuh bocah!! Gimana? Dia udah ketemu apa belom?" kecamnya.

"Udah." singkatku.

Max langsung melirik ke arah pintu yang tertutup. "Mana? Mana dia? Biar gue tonjok sekalian mukanya!! Beraninya main belakang, lu udah apain dia tadi? Lu banting lagi, gak?!"

"Gak perlu."

"Kok gak perlu sih?! Lu gak liat dia itu mau ngebunuh?! Harusnya jangan kasih ampun!! Kalau lu lembut gitu, bisa-bisa elu di anggap banci tau!!" sergahnya lagi.

Yang menganggap aku banci kan cuma kau.

"Yaudah, tonjok aja dia di alam barzah. Biar malaikat Malik yang jadi jurinya." sahutku, membuat Max terdiam seketika.

"Alam barzah? Maksudnya?" Ia malah balik bertanya.

"Maksudnya, dia udah mati. Di dalam kamarnya sendiri."

Max terbelalak mendengarnya. "Mati?? Bunuh diri?! Brengsek banget!! Dasar pengecut!! Gak berani bertanggungjawab atas perbuatannya! Giliran mau di tangkap malah bunuh diri! Beg*!!" gerutunya sambil mengepalkan jari tangan.

"Sayangnya dia bukan bunuh diri." Max terdiam dan menatapku. "Dia di bunuh, dan tubuhnya kayak meledak. Badannya terburai, terus misah-misah. Hancur." jelasku singkat, membuat Max terenyak.

Max terdiam, cukup lama kami berdua terdiam. Ia melirikku, dan sepertinya aku tau apa yang ingin ia bahas.

"Asrama ini.. Sedikit aneh gak sih menurut lu?" ia meminta pendapatku. "Jangan-jangan, asrama ini makan tumbal lagi. Kalau di liat-liat juga, ibu Asramanya masih muda banget. Apa jangan-jangan..."

Aku mengerutkan dahi mendengarnya, menantikan ucapan Maxim selanjutnya.

"Ibu Asrama, bersekutu dengan setan. Dan kita.. adalah tumbalnya?"

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Teni Fajarwati

Teni Fajarwati

apa keluarga korban tidak ada yang protes y?🤔

2024-09-20

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

lanjut

2024-06-02

0

Ali B.U

Ali B.U

.next

2024-03-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!