Tak Terlihat

Aku duduk mematung di atas sajadah usai berdzikir selepas shalat dzuhur. Pikiranku terasa kacau. Asrama mewah yang seharusnya membuatku merasa nyaman belajar, malah membuatku merasa resah. Hobiku membaca komik dengan genre detektif malah mengantarkan kehidupan ku ke genre tersebut.

Tapi, apakah dugaan anak berumur enam belas tahun seperti ku benar?? Kalau pembunuhan yang di lakukan itu memang menggunakan es batu yang di hantamkan ke kepala dan tubuh? Atau bagaimana? Karena menurut ku, es batu yang merupakan barang bukti bisa menghilang dengan sendirinya karena perubahan bentuk. Jadi ia tak perlu bersusah payah menghilangkan barang bukti. Tapi tetap saja, cairan es bisa di jadikan bukti lainnya.

Terlebih ketika Kun mengatakan mengenai sarung tangan salju, seolah membenarkan spekulasi ku, atau sedang mengatakan kalau kami memiliki analisa yang sama. Entahlah, aku bukan detektif ataupun pihak kepolisian. Dan dugaan kami belum tentu benar. Kami hanya bocah ingusan yang sok main detektif-detektifan.

Aku beranjak sambil melipat sajadah, lalu mengambil remote untuk menyalakan televisi. Bukan sebagai hiburan, tapi supaya kamar ini tidak terlalu senyap.

"Menurut saksi mata, korban dan pelaku tidak saling mengenal dan tidak ada alibi apapun atas terjadinya kasus pembunuhan yang merenggut siswi SMA di asrama Nur Adn."

Aku yang awalnya tak tertarik dengan tontonan di televisi, seketika langsung menoleh saat mendengar nama Asrama ku di sebut.

"Kuat dugaan, korban mati di bunuh dengan cara di pukul dengan benda tumpul. Dari bengkak, beku dan membirunya otot di tubuh, tangan serta kaki, benda yang di gunakan bersifat dingin dan keras. Pihak kepolisian pun menemukan sarung tangan yang berceceran darah di kantin asrama. Sarung tangan tersebut di gunakan untuk memegang es batu sebelum di pecahkan. Menurut pihak polisi, bisa jadi alat yang di gunakan adalah bongkahan es batu yang padat dan keras."

"Dari rekaman CCTV pun, si pelaku terlihat menuju ke dapur kantin, lalu naik kembali ke lantai empat. Hanya saja, tidak bisa terlihat dengan jelas, benda apa yang ia bawa dari bawah."

Aku mengernyit mendengarnya. Ternyata pikiran ecek-ecek ku benar. Menurut praduga dan hasil rekaman CCTV, seperti itu cara membunuhnya. Tapi, kenapa mereka harus berspekulasi sendiri, seolah tak mendapatkan pelaku? Padahal mereka sudah menangkapnya, kan? Tanyakan saja langsung, bagaimana caranya membunuh dan apa motif yang melatarbelakanginya.

"Sementara itu, pelaku yang menewaskan siswi berinisial D itu telah meregang nyawa usai berusaha kabur keluar Asrama saat penangkapannya sedang di lakukan."

Apa??

Aku langsung terbelalak mendengarnya, bahkan aliran darahku terasa membeku saking tak percayanya dengan berita yang ku dengar ini. Pelaku yang ku kejar bersama Kun itu... Sudah mati??

"Menurut pemeriksaan polisi, pelaku mati secara tiba-tiba akibat serangan jantung ketika berusaha kabur. Ia terjatuh usai melompati pintu pagar pembatas asrama yang tinggi."

Aku mengerutkan dahi, duduk di ujung kasur dengan tubuh tegang sambil mencondongkan tubuh ke depan. Kakiku yang saling melebar, ku gunakan untuk meletakkan dua sikut tangan di atas lutut, lalu jemari ku bentuk segitiga dan ku letakkan ke depan mulut.

Aku berpikir keras usai mendengarnya. Kalau di bilang terjatuh, menurutku tidak. Aku berada tepat di depan matanya dan aku melihat bagaimana ia melompat. Jadi, itu tidak mungkin. Tapi, kalau dia memang ada riwayat sakit jantung, mungkin saja. Karena aku tak tau riwayat kesehatannya.

Yang membuatku bingung, ia menggelepar lalu menunjukkan kartu di tangannya saat terkapar. Sama seperti jasad perempuan yang kepalanya sudah berhamburan, kenapa ia yang sudah terkapar, masih bisa bergerak seolah ingin menunjukkan kartu itu juga.

Tapi aku tak perlu khawatir, pasti pihak kepolisian pun akan membahas dan menjelaskan mengenai dua jasad yang memegang kartu. Mereka pasti tak akan melewatkan hal itu sebagai barang bukti yang di tinggalkan oleh dua orang yang meninggal.

Dan kalau mereka butuh, aku bersedia menjadi saksi dari kartu yang ku dapatkan juga. Kartu aneh yang sama dengan milik mereka berdua.

"Untuk sementara, pihak keluarga dan beberapa kerabat dan teman korban serta pelaku akan di mintai keterangan. Sekian sekilas info. Terimakasih."

Aku tersentak sambil melirik tajam ke arah tv, beritanya hanya sampai disitu saja? Kenapa tidak membahas mengenai kartu misterius?? Bukankah sudah ada dua korban yang memegang benda tersebut, harusnya itu tidak bisa di abaikan.

Tok tok tok!!

Tengah serius menonton berita, pintu kamarku tiba-tiba saja di ketuk. Aku menoleh sebelum bertindak, memikirkan siapa yang kemungkinan akan datang.

Tok tok tok tok tok!!

Pintu di ketuk lebih keras, di sertai dengan perkataan "Saya dari pihak kepolisian!" Aku tersentak dan segera beranjak. Kenapa pihak kepolisian datang ke kamarku? Memangnya ada perlu apa denganku??

Aku menuju ke pintu dan langsung membukanya, ketika ku buka, aku di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang membawa dua bungkusan plastik mie di tangannya.

"Agaaam!! Saya ada mie!! Ayo masak di kamarmu!!" sentaknya sambil masuk tiba-tiba, melongos melewatiku begitu saja. Wajahnya sumringah dan tersenyum hingga kedua matanya menyipit.

Aku langsung menahan pucuk kepalanya, membuatnya yang bertubuh rendah terhenti dan berjalan di tempat, dengan ekspresi serupa yang tak ia ubah. "Ternyata elu? Ngapain ngaku-ngaku jadi polisi?" geramku.

Ia yang masih berjalan di tempat menyahut. "Soalnya kamu tak menyahut. Lagipula kenapa wajahmu pucat begitu saat membuka pintu, kamu takut ya di tangkap polisi?"

Aku memutar kepalanya, membuat tubuhnya ikut berputar menghadapku. Aku menunjuk ke arah pintu sambil berkata, "Keluar lagi, dan masuk sambil ngucapin assalamualaikum. Kalau enggak, jangan masuk ke dalam!"

Ia langsung merengek, "Yah.. Kan sudah terlanjur masuk."

"Keluar atau gue cat rambut elu pakai pilox kuning."

Ia meringis mendengarnya, "Iya iya! Cerewet sekali. Memangnya saya tai, mau di cat warna kuning. Dasar! rumput tetangga!" gerutunya sambil berjalan ke arah pintu.

"Kenapa rumput tetangga?" tanyaku bingung.

"Ya kalau saya tai, kamu rumput. Karena tai, selalu berada di atas rumput." ujarnya dengan wajah penuh kebanggaan.

"Tetep aja tai." sahutku.

Ia berdiri di depan pintu kamarku dengan dua tangan yang memegang Indomie, bersiap mengambil aba-aba untuk mengucap, "Assalamualaikum!!" ujarnya sambil menatapku.

Aku melipat tangan ke dada sambil membalas tatapannya. "Waalaikumussalam. Masuk." sahutku.

Kun langsung masuk dan melongos seperti sebelumnya. "Nah, sekarang ayo masak mie di dalam kemasan. Seperti Abang-abang kuli kemarin." pintanya, membuatku mengangkat kedua alis.

"Jadi.. Elu mau makan mie instan kayak abang-abang kemarin?" tanyaku tak percaya.

"Ya, saya mau mencobanya. Kira-kira rasanya bagaimana? Rasa plastik kah?"

Aku meringis menatapnya. Ku ambil dua bungkus mie di tangannya ketika melewati anak ini. "Sini biar gue yang masakin." ucapku.

Ia meringis, mengekoriku yang berjalan ke meja, tepatnya menuju kompor listrik. "Ngomong-ngomong berita asrama kita sudah masuk televisi." ujarnya berbasa-basi.

Aku mengisi panci dengan air sambil menyahut, "Ya, gue udah nonton tadi. Tapi, kok beritanya kurang ya. Seharusnya mereka nyelidikin mengenai kartu yang di pegang oleh korban dan pelaku. Siapa tau itu bisa di jadikan barang bukti."

Suasana kamar hening, dan aku tak mendengar Kun menyahut perkataan ku. Aku pun melirik ke arahnya, melihat wajahnya yang kebingungan.

"Kartu? Maksudmu?" tanyanya.

Aku pun diam. Dia memang tak melihat jasad si perempuan, tapi apa dia tak melihat nenek itu memberi si perempuan kartu? Dan apa dia juga tak melihat si pelaku memegang kartu?

"Lu liat kan tadi pagi, pelaku yang jatuh itu megang sebuah kartu di tangannya?"

Lagi-lagi Kun memberikan reaksi yang sama. "Kartu? Saya tak melihat apapun di kedua tangannya. Kartu apa yang kamu maksud?" tanyanya lagi, dengan alis yang berkerut.

Aku terdiam. Jelas sekali korban itu memegang kartu saat menggelepar, itu terlihat mencolok di depan kami. Dan aku rasa Kun pun melihatnya. Tapi, kenapa dia seolah tidak mengerti?

Atau jangan-jangan, dia memang tak bisa melihat kartu itu? Lalu kenapa aku bisa? Firasat ku, jadi sedikit buruk.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

daridulu suka ya mi goreng buatan Agam

2024-05-31

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

🤣🤣🤦🏻

2024-05-31

0

Anonymous

Anonymous

thor bikin cerita k.u.n dari awal donk sebelum d masukin ke lukisan itu

2024-05-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!